
Cahya melepaskan pelukan itu, selain memang dia masih marah, tapi dia sadar dirumah itu ada mama nya, walau Devan sudah siap dengan segala konsekuensi nya tapi Cahya belum siap.
"Tolong jangan seperti ini, lepaskan aku, biarkan aku sendiri dulu" setelah mengatakan itu, Cahya langsung menuju kamarnya
Devan merasa kalau Cahya sudah berubah, dia sadar dia salah tapi perubahan Cahya sungguh sangat banyak, mungkin karena dia bukan anak sekolah lagi, dia sudah bekerja, jadi sudah pasti dia makin dewasa.
Karena dirasa tidak mungkin Cahya akan keluar kamarnya lagi, dia lalu berpamitan kepada mamanya Cahya,
"Aku pamit pulang dulu tante"
"Iya Van, hati-hati, kamu kapan kembali lagi ke Jawa?
"Belum pasti tan, urusan disana sudah selesai semua, jadi sekarang bisa sedikit istirahat dulu"
"Ya sudah, kamu kasih waktu ke Ayya, tidak mungkin dia langsung memaafkan mu, kamu bersabar"
" Iya tante, memang semua ini salahku, terimakasih tante sudah percaya padaku"
Devan lalu pulang ke apartemen nya, selama ini apartemen itu ditinggali orang suruhan nya, dulu adalah suruhan ayah nya untuk mengawasi Devan, setelah Devan tahu saat kejadian Wati memotretnya, akhirnya suruhan ayahnya itu dia beri tugas untuk mengawasi Cahya saat dia pulang ke Jawa.
Paginya Devan menjemput Cahya untuk mengantarkan ke tempat kerjanya, tapi ternyata sudah ada tukang ojek langganan Cahya dan Cahya pun sudah siap berangkat,
"Ayy, ayo berangkat sama aku"
Cahya tidak membalas apapun dia langsung naik ojek langganan nya, setiap marah memang Cahya selalu diam, dia selalu menahan perasaan nya.
Devan mengikuti ojek itu, biar dia tahu dimana Cahya bekerja, saat sampai ketempat kerjanya, ternyata ada Roni yang juga baru datang,
"Hai Cahya"sapa Roni
"Hai" jawab Cahya singkat sambil tersenyum, lalu mereka masuk bersama
"Apa itu pria yang mendekati Cahya? sepertinya dia anak orang kaya karena motornya sangat bagus untuk seukuran karyawan" pikir Devan
Hari itu dia bekerja seperti biasa hingga tiba-tiba Devan datang, pura-pura belanja di tempat itu, dan menanyakan banyak hal ke Cahya,
"Maaf mie di sebelah mana ya?"
"Kalau sabun di sebelah mana?"
__ADS_1
"Bihun di sebelah mana?"
ada saja yang Devan tanyakan padanya, hingga akhirnya Cahya kesal,
"Bisa tidak anda cari sendiri, berputar saja nanti pasti akan ketemu"
"Aku pikir kamu sudah tidak bisa ngomong, ternyata masih lancar, baik lah, aku akan mencari sendiri, aku tunggu pulang nya di depan" ucap Devan sambil berlalu, mencari barang yang dia mau atau entah cuma mau bermain-main saja.
Sekarang waktunya pulang dan pergantian shif, Cahya mulai bersiap untuk pulang, dia lupa atau memang masih tidak peduli dengan Devan jadi dia tetap naik ojek langganan nya, tapi dia tidak langsung pulang, dia mencari makanan dulu karena tadi mama nya berpesan saat pulang sambil membeli makanan.
"Maaf bapak, nanti berhenti didepan sebentar, mau beli makan dulu" ujar Cahya ke bapak sopir ojeknya
Cahya berhenti di sebuah RM Padang, dia membeli 3 bungkus, yang satu dia berikan pada sopir ojeknya.
Devan yang dari tadi mengikutinya menutup jalan jadi Cahya tidak bisa lewat,
"Ayy, ayo pulang bareng aku" bujuk Devan
Cahya yang sudah capek pulang kerja jadi terpancing emosi, tapi dia berusaha menahan nya,
"Tolong kepinggir kan mobil nya, menghalangi jalan orang lain"
"Siapa yang tidak marah kalau dihalangi jalan nya?"
"Baik, aku akan meminggirkan mobil nya tapi kamu masuk dulu ke mobil"
"Aku dari tadi sama bapak ojek, jangan mematikan rezeki orang lain"
Devan lalu mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang dan memberikan nya pada bapak ojek itu,
"Bapak jangan antar jemput dia dulu"
"Maaf, tidak boleh seperti ini, neng Cahya sudah baik selama ini pada saya" tolak sopir ojek itu sambil mengembalikan uang Devan
"Kamu pikir semua bisa selesai dengan uang?" ujar Cahya
"Sekarang cepat minggir atau aku panggil satpam?" tambahnya,
"Ayy, aku mohon sudah cukup, cepat masuk mobil"
__ADS_1
Karna terlalu banyak yang memperhatikan, akhirnya Cahya masuk mobil Devan juga,
"Maaf pak, ongkos malam ini nanti aku transfer seperti biasa ya, terimakasih pak" ujar Cahya sebelum masuk mobil.
Devan tetap memberikan uang yang tadi dan berharap ojek itu tidak mengantar jemput Cahya lagi.
"Ayy, kamu laper ya?" tanya Devan saat mereka sudah memulai perjalanan
"Bukan, itu buat mama"
"Kamu sudah makan?"
"Sudah"
"Kamu masih marah?"
"Tidak"
Devan menghentikan mobilnya, dan mulai mengajak Cahya berbicara serius,
"Ayy, maaf aku tidak cepat menghubungimu, aku hanya berfikir untuk cepat menyelesaikan masalah disana agar bisa kesini lagi dan bersama kamu terus, jadi sudah ya, jangan marah lagi" ucap Devan
"Banyak yang ingin aku tanyakan dan katakan tapi aku tidak tahu mana yang ingin aku katakan terlebih dulu, jadi aku hanya diam, mungkin aku bukan marah padamu, tapi aku kecewa" jawab Cahya
"Ayy, tolong jangan seperti ini"
"Lalu aku harus apa? kamu pikir aku akan teriak kesenangan, atau aku langsung memeluk melihat kedatangan mu? aku capek Van, seandainya kamu memberiku kabar aku tidak akan seperti ini, aku capek terus berpikir hal-hal buruk yang hanya bisa aku tebak-tebak karena aku tidak tahu kenyataannya!!"
"Sekarang aku ada disini, kamu tidak perlu khawatir lagi"
"Kamu pikir perasaan ku selama ini tidak penting? kamu hanya mau aku mengerti kamu tapi kamu tidak mau memahami perasaan ku"
"Maaf ayy, aku sungguh minta maaf"
Cahya menggigit bibir nya berusaha tidak menangis, saat Devan mulai mendekatinya untuk menenangkan nya, Cahya langsung berpaling,
"Ayo berangkat lagi, mama menunggu dirumah" ujar nya
Devan hanya bisa pasrah dan menurutinya, dia tidak bisa terlalu memaksa Cahya untuk saat ini.
__ADS_1