
Cahya hari itu masih tidak masuk kerja karena dia masih merasa capek, seperti biasa dia selalu melihat bunga-bunga dan menyiramnya, untungnya kali ini tanaman nya tidak rusak atau layu.
Setelah selesai dia duduk di kursi teras, lalu memainkan ponselnya, ada banyak pesan Devan yang sengaja tidak dia baca, dia masih merasa sakit dihatinya, tapi dia berusaha melupakan Devan, itu untuk kebaikan Devan, karena akan sangat lama kalau harus menunggunya selesai kuliah.
Cahya memandangi foto Devan di ponselnya, dan hal itu dilihat mama nya,
"Kangen ya?"
"Tidak ma, tidak sengaja tertekan gambar nya" Cahya mengelak
"Kalau kangen bilang saja ayya, kamu itu cantik jadi harus percaya diri, Devan juga sangat mencintai kamu, mama tidak tau apa yang terjadi dan ada masalah apa, tapi mama lihat, Devan itu sangat mencintaimu"
"Itu cuma perasaan mama"jawab Cahya
Cahya enggan menceritakan Devan yang bersama perempuan lain di sebuah cafe, walau Devan beralasan dia sengaja untuk memancing kecemburuan nya, tapi tetap saja dia tidak suka melihatnya, dan tetap saja itu menyakitinya.
"Apapun masalah kalian, cepat selesaikan dan jangan dibiarkan, nanti masalahnya akan semakin membesar"
"Tidak ada masalah apapun ma, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa"
"Jangan bicara seperti itu ayya, kasihan Devan"
"Iya ma, aku juga kasihan sama dia, dia sudah sangat ingin menikah tapi aku belum siap, dan kalau menunggu aku lulus kuliah, tentu akan sangat lama, makanya aku melepaskan nya"
"Mama tidak menyangka, anak mama sudah dewasa, bahkan cara berfikir nya lebih dewasa dari mama"
"Sudah ma, jangan membicarakan dia lagi, mama tidak mau aku sedih kan, besok aku terakhir kerja ma, lalu aku akan berangkat ke Jogja"
"Kenapa terlalu cepat? bukan kah masih lama semester baru?"
"Aku pengen buru-buru cari suasana baru ma, disana aku bisa sambil cari kerja dulu juga, syukur-syukur kalau aku bisa kuliah sambil kerja"
__ADS_1
"Jangan ayya, nanti kamu kecapean, sudah kamu focus kuliah saja"
Devan datang, saat Cahya baru masuk ke rumah, lalu disuruh masuk oleh mama Cahya
"Ayya nya ada tan?"
"Ada, masuk saja dulu, mungkin dia di dapur"
Devan masuk kedalam, dan terdengar suara Cahya yang bernyanyi di dapur, dia tidak ke dapur tapi duduk di ruang tamu.
"Ayya, bikin minum ada tamu" ucap mamanya
"Siapa ma? minum apa?"
"Bebas apa saja, yang dingin ya"
Cahya lalu membuat minuman jus untuk tamu nya, karna sekalian dia mau juga, dia sisakan didalam blender untuknya dan langsung meminumnya,
"Bawa kesini ayya!"
Saat dia keluar membawa minuman nya, dia kaget karena yang datang Devan, dia mau putar balik ke dapur tapi terlanjur terlihat
"Ayya mau kemana, bawa kesini minuman nya" kata mama nya
Cahya hanya bisa menurut, dia sebenarnya canggung karena Devan terus melihat ke arahnya, setelah meletakkan minuman nya, dia mau kembali ke dapur tapi dilarang mamanya dan disuruh duduk.
"Aku sudah bikin minuman ma, aku mau minum dulu di dapur"
"Bawa kesini kan bisa Ayya, kalian bisa sambil mengobrol"
"Tidak ada lagi yang mau di omongin ma, semua sudah selesai,,"
__ADS_1
"Iya kan Van?" Ucap Cahya memberanikan diri melihat ke arah Devan
Devan menggeleng dan menatap nya tajam.
"Sudah kamu duduk sini, mama mau ke kamar dulu"
Cahya lalu duduk dan dia bersikap biasa, dia menganggap Devan seolah teman nya
"Aku merindukan mu ayy" Devan memulai pembicaraan
Cahya menggigit bibirnya dan tidak menjawab, Cahya lalu menanyakan hal lain
"Ada perlu apa, kita sudah selesai, aku mohon jangan mengucapkan hal yang diluar batas"
"Apa aku menyetujui nya? aku tidak pernah bilang kamu boleh melepaskan ku"
Devan dengan gerakan cepat mendekati Cahya, dan langsung mencium nya, Cahya langsung mendorongnya, dia menangis karena Devan terus seperti itu setiap ada masalah, Devan mengusap air mata Cahya dan langsung menciumi mata itu, lalu memeluk Cahya yang masih terus menangis
"Maaf Ayy,, aku tidak akan pernah melepaskan mu dan aku tidak mengizinkan kamu melepas ku, aku tidak bisa tanpamu, maaf kalau aku terlalu membebani mu, aku tidak akan pernah melakukan hal konyol lagi seperti kemarin"
"Tolong lepaskan aku dari hidupmu, jangan menungguku lagi"
"Tidak akan pernah Ayy, aku akan menunggumu sampai kapan pun"
Cahya lalu mengatakan, menunggunya membutuhkan waktu yang lama, sementara Devan sudah ingin cepat menikah
"Jadi menikahlah dengan siapapun yang kamu sukai" ucap Cahya
"Aku hanya menyukai mu, jadi aku hanya akan menikah dengan mu"jawab Devan
Cahya melepaskan pelukan Devan, dia lalu mengatakan kalau dia akan kuliah di Jogja
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kejarlah cita-cita mu, aku akan menunggumu"