
"Apa? jadwal dimajukan" ucap Devan, dia sedang berbicara di ponselnya, entah siapa yang menghubunginya, Cahya hanya menoleh sekilas, karena dia sedang mengetik di laptopnya.
"Siapa?" tanya Cahya
"Renal, kemarin bilang hari ini siang untuk bertemu klien yang akan ikut membuat menu di cafe tapi katanya dipercepat karena kokinya ada keperluan nanti siang, kamu tidak apa-apa aku tinggal?"
"Tidak apa-apa, kemarin juga aku sendiri, tapi nanti siang aku mau ke kantor, ada undangan, boleh ya?"
"Jangan Ayy, tunggu aku kalau mau pergi nanti aku antarkan, tapi jangan pergi sendirian"
"Aku bisa sayang, nanti aku minta ditemani Dena"
"Sayang kamu mau nurut tidak sama aku?!"
"Ini pertemuan pertama, masa iya aku sudah tidak hadir?'
"Ayy, sebenarnya untuk apa kamu bekerja? aku sudah memberikan segalanya, kalau kamu bosan ayo ikut aku"
Cahya menggeleng, lalu memberi kabar pada rekan kerjanya yang kemarin mengundangnya untuk izin tidak bisa hadir, dan berjanji akan secepatnya mengirimkan pekerjaan nya setelah selesai.
"Istriku memang sangat pintar, ingat ya, jangan terlalu lelah mengetik, harus sering istirahat" ujar Devan lalu bersiap mengambil tas kerjanya.
Cahya mengantar sampai ke pintu, lalu kembali masuk setelah Devan berangkat.
Dia kembali mengerjakan tugasnya nya sebagai editor naskah novel online, saat itu dia sedang mereview novel dengan judul Rosy Sanders, novel itu membuat nya sangat terlarut dalam ceritanya yang bagus dan bisa membuat pembacanya merasakan emosi yang kuat, novel yang bagus dengan cerita yang menarik tentu saja langsung lulus review tanpa banyak adegan yang harus diperbaiki.
Cahya menyelesaikan pekerjaan nya, tanpa terasa hari sudah semakin siang, dia harus memasak untuk makan siang.
Kring kring kring
"Ada apa Dena?" tanya Cahya mengangkat teleponnya
__ADS_1
"Suami kamu kemarin marah tidak?
"Tidak, kan kamu sendiri tidak bersama pacarmu"
"Aku besok sepertinya kembali ke Bandung, tapi cuma sebentar, orang tua James sudah setuju dengan hubungan kami, jadi kami ingin segera melangsungkan pernikahan"
"Syukurlah aku ikut senang, dimana kalian melangsungkan pernikahan?" tanya Cahya penasaran, karena kalau di Bandung akan besar kemungkinan dia tidak bisa hadir.
"Dibandung hanya akadnya, nanti resepsinya disini, jadi kamu harus datang menjadi Bridesmaids aku ya" pinta Dena
"Aku pasti mau, asal dapat izin dari bos besar, aku akan berusaha membujuknya dari sekarang, memang rencananya kapan resepsinya?"
"Bulan depan, kamu bersiap dulu ya, besok aku berangkat tidak pamitan lagi ya, nanti mau dibawakan apa kalau aku kembali kesini?" tanya Dena
"Tidak perlu, cukup kamu kembali kesini dengan selamat" jawab Cahya, mereka lalu menyudahi panggilan telepon itu, Cahya lalu menuju dapur untuk segera memasak.
Hari itu dia memasak ayam panggang dan sayur sawi putih kesukaan Devan, dia juga membuat jus kesukaan nya, setiap hari Cahya diharuskan memakan buah-buahan atau sayur-sayuran, karena sedang malas memakan buah, dia lalu membuat nya menjadi jus.
Sudah lewat makan siang tapi Devan belum juga pulang, Cahya berusaha menelepon suaminya tapi tidak diangkat walau panggilan itu tersambung, Cahya lalu menyimpan semua makanan kedalam lemari, dia sendiri hanya minum jusnya.
"Mbak, apa mas Devan sudah pulang?"
"Belum, ada apa Siti?"
"Tidak, aku cuma bertanya soalnya mas Renal juga belum pulang"
"Sepertinya mereka masih sibuk, kita tunggu saja dulu, kalau kamu bosan main kesini saja, lagipula kamu belum pernah kesini"
"Iya mbak, nanti aku kesana kalau mas Renal tidak kunjung pulang, aku bosan dirumah, menulis juga tidak konsentrasi, jadi malas ngetik" ujar Siti berkeluh kesah
"Iya sudah, main kesini saja kalau begitu, aku tunggu"
__ADS_1
Cahya lalu tiduran sambil memainkan ponselnya setelah telepon dari Siti terputus, Cahya lalu menelepon Rafa, yang ternyata baru pulang sekolah.
"Mama, Rafa sangat senang disekolah dapat banyak teman baru, mama sudah sembuh?" tanya Rafa
"Mama tidak sakit sayang"
"Kata nenek mama sakit dan sedang berobat biar cepat sembuh agar Rafa cepat punya adik, mama cepat sehat ya, agar Rafa cepat punya adik bayi"ujar Rafa bercerita, Cahya tidak bisa menjawab apapun, dia hanya mengangguk, setelah lama menelfon mereka menyudahi panggilan telepon itu.
Cahya sangat merindukan anaknya, padahal baru berapa hari mereka berpisah tapi karena memang selama ini Cahya tidak pernah berjauhan dengan anaknya, dia merasa ini sangat berat, hanya saja dia harus kuat, karena dia berkewajiban mengikuti suaminya.
Cahya terus melihat jam tapi Devan tidak kunjung pulang, bahkan hari sudah menjelang sore, Cahya lalu mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Ting tong ting tong
Terdengar bunyi bel pintu, tapi itu tidak mungkin Devan karena kalau Devan tidak mungkin membunyikan bel karena hafal kode pintu masuk, Cahya melihat lewat lubang pintu, ternyata yang datang Siti.
Cahya membukakan pintu dan langsung mengajak Siti dan anaknya masuk, Cahya langsung menggendong dan bermain bersama anaknya Siti yang sangat menggemaskan.
"Sebenarnya ada apa ya mbak? tidak biasanya mas Renal tidak bisa dihubungi" Siti mulai bercerita
"Mungkin mereka sibuk, dan ditempat itu tidak ada sinyal, karena Devan juga tidak bisa dihubungi" jawab Cahya mencoba menenangkan, padahal hatinya juga merasa cemas.
Hari sudah menjelang malam tapi Devan dan Renal belum juga pulang dan masih tidak bisa dihubungi, mereka menjadi semakin khawatir, lalu tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi, Cahya bingung siapa lagi yang datang karena Siti sudah datang dan Dena tidak mungkin datang karena sedang persiapan untuk pulang ke Bandung.
Cahya melihat lewat lubang pintu, terlihat Devan yang dipapah Renal, Cahya langsung membuka pintu dan membantu memapah Devan.
Belum sempat Cahya dan Siti menanyakan yang terjadi, Devan menarik Cahya masuk kedalam kamar, tanpa malu walau diluar kamar ada adiknya, Devan langsung menggauli istrinya saat itu juga.
Cahya kesakitan karena Devan sangat kasar padanya, dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Devan hanya terus menggagahinya, Cahya menangis menahan sakit di bagian bawah nya, tapi Devan masih terus seperti kesetanan.
Diluar Siti bertanya pada Renal tentang apa yang terjadi, tapi Renal karena masih sangat panik, belum bisa dengan jelas menceritakan kejadian yang mereka alami, Renal terlihat khawatir pada kakaknya terlebih sekarang pada kakak iparnya.
__ADS_1
Setelah hampir 3 jam Devan menyudahi aksinya dengan nafas yang sangat berat, akhirnya dia kembali normal setelah pelepasan nya, Devan turun dari tubuh istrinya, lalu memeluk istrinya dan terus meminta maaf, Cahya masih menangis kesakitan karena kali ini Devan sangat kasar, biasanya durasi mereka berhubungan bahkan kadang lebih lama, tapi biasanya Devan selalu penuh kelembutan dan memberi jeda waktu istirahat pada istrinya.
Devan berniat membawa istrinya ke rumah sakit tapi Cahya menolak, dia hanya meminta obat penahan sakit, tidak lama setelah meminum obat, Cahya tertidur karena efek obat dan juga karena tubuhnya kelelahan.