
"Sayang, maafkan aku" ucap Renal perlahan karena Siti terus mendiamkan dirinya dari tadi.
Tidak ada jawaban apapun dari istrinya sehingga membuat Renal semakin gelisah, Siti menyelesaikan makan malam itu lalu beranjak dari tempat duduknya, Renal mengikutinya setelah membayar.
"Sayang, aku sangat bersalah padamu, tolong maafkan aku" Renal terus berusaha untuk meminta maaf kepada Siti.
"Kenapa kamu mengajak wanita itu makan bersama di kantor mu? apa saja yang sudah kalian lakukan disana selain makan?" tanya Siti yang matanya sudah berkaca-kaca, dia hanya wanita biasa yang pasti akan berfikir buruk saat mengetahui bahwa pasangan mereka berada dalam ruangan tertutup bersama dengan wanita lain.
"Tidak sayang, tidak ada apapun yang terjadi pada kami" jawab Renal pelan tetapi ingatannya kembali pada saat Rere tidak sengaja menumpahkan makanan nya pada celana Renal, dengan meminta maaf Rere membersihkan celana Renal dengan sedikit meremas paha Renal.
Lalu ada ingatan di hari lain dimana tanpa sengaja Rere menumpahkan minuman nya di bajunya hingga Rere terlihat basah di dada nya dan terlihat bukit kembar Rere dibalik bajunya yang tanpa menggunakan kaos dalam.
Renal tersadar, dia hampir saja tergoda oleh Rere tanpa dia sadari.
"Apa kamu yakin? karena wanita itu terlalu berani padaku" ujar Siti tetap curiga, naluri seorang wanita yang berpredikat sebagai istri, tentu akan mempunyai naluri yang kuat dan bisa merasakan saat ada yang tidak beres dari suaminya.
"Sayang, maafkan aku, aku berjanji akan segera memecat dia"
"Luka di hatiku tidak akan langsung hilang hanya dengan itu, aku takut menjadi semakin tidak percaya pada dirimu, aku takut aku menjadi lebih posesif yang nantinya dapat membuat dirimu tertekan" Siti tidak kuasa menahan air matanya lagi.
"Maafkan aku sayang, karena membuat perasaan mu tidak nyaman, ini semua salahku, sekarang aku sudah menyadarinya, aku mohon maafkan diriku, aku berjanji tidak akan pernah mengulangi lagi hal itu, akan akan semakin menjaga diriku" Renal menghapus air mata istrinya.
"Kenapa kamu menyuruhnya mengganti wallpaper ponsel mu? apa wallpaper sebelumnya yang merupakan foto keluarga kecil kita sudah tidak ada artinya buatmu?"
"Tidak, aku tidak pernah menyuruhnya melakukan hal itu, aku berani bersumpah sayang, tolong percaya padaku" jawab Renal karena dia sendiri juga masih bingung kenapa ponselnya bisa berganti wallpaper.
Mereka pulang kerumah setelah Siti lebih tenang, karena dia tidak mau dilihat anak nya dalam kondisi yang tidak baik, walau anak nya masih bayi tetapi tetap saja, perasaan seorang ibu harus terjaga saat bersama bayi atau anak mereka, karena anak bisa menjadi korban kemarahan ibunya.
"Terimakasih suster" ucap Siti pada pengasuh bayi yang dia sewa selama tadi dia pergi, Siti lalu menggendong anaknya dan mengajaknya bermain dengan ceria.
"Kalau aku tidak cepat sadar, pasti tidak lama lagi aku tidak akan melihat lagi tawa bahagia dari anak dan Istriku" batin Renal, dia lalu bergabung bersama anak dan istrinya untuk bermain bersama dan bercanda dengan riang gembira.
Baby sudah tidur, Siti membersihkan diri nya sebelum tidur dan memakai baju haramnya, dia ingin mengingatkan pada suaminya pada malam pertama mereka.
"Aku menyerahkan tubuh dan hatiku dimalam itu, rasa sakit yang aku terima, aku masih mengingatnya sampai saat ini, lalu kenapa dengan begitu mudahnya kamu bisa melupakan semua itu?" ujar Siti yang sudah duduk mengangkang di pinggir ranjangnya.
Renal mendekat tapi saat dia akan menyusup kedalam gaun istrinya, tiba-tiba Siti menutup kembali kakinya, Renal tau istrinya masih marah padanya
"Sayang, maafkan aku, setelah ini hal seperti tadi tidak akan pernah terulang, aku berjanji" ucap Renal yakin lalu langsung menyergap istrinya.
"Renal dan Siti sudah kembali berbaikan lagi apa belum ya?" ucap Cahya yang sudah berada di atas ranjang dengan cantiknya dan mengenakan lingerie warna hitam yang membuat tubuhnya terlihat sangat sexy, dia mengirim pesan pada Siti sembari menunggu suaminya selesai mandi.
"Ayy?" panggil Devan takjub melihat pemandangan indah nan cantik didepan nya, Cahya melihat kearah Devan dengan senyum manisnya.
"Apa kamu benar Ayya istriku?" ujar Devan langsung berjalan cepat menuju istrinya, Devan memegangi kedua pipi Cahya dan terus memandangi wajah istrinya itu
"Kamu selalu membuat ku kagum dan tergila-gila padamu setiap saat" ucap Devan yang sudah tidak kuat lagi menahan diri, Devan tidak mengerti dengan pesona istrinya yang tidak pernah ada habisnya, Cahya selalu memberikan kejutan yang tidak dia sangka sebelumnya.
"Aaakkkhhhh saaayyaaang" rintih Cahya merasakan kenikmatan dari suaminya yang sedang asyik memainkan bagian bawah nya.
Malam terus berlalu tetapi Devan masih terus berolahraga diatas tubuh molek istrinya dan terlihat kulit sekujur tubuh sampai leher Cahya yang sekarang sudah berubah warna, menjadi penuh warna merah buatan Devan.
__ADS_1
"Saaayyaanngg, bisakah kamu berhenti, aku sangat mengantuk" pinta Cahya dengan matanya yang terpejam merasakan kenikmatan dari burung suaminya yang terus asyik bermain di sarangnya seolah tidak mau keluar dari sana.
"Tunggu sayangku, tahan sebentar lagi ya, aku tidak janji ini yang terakhir" ujar Devan tersenyum penuh kebahagiaan karena selalu bisa membuat istrinya merem melek.
"Aaahhhh saayyaanngg" \*\*\*\*\*\*\* demi \*\*\*\*\*\*\* lolos dari bibir manis Cahya.
Devan menyudahi kegiatan nya karena Cahya sudah terlihat mulai berpindah ke alam mimpi disaat pelepasan nya yang kesekian kalinya.
"Salah kamu sendiri selalu membuatku terpesona padamu" ucap Devan sambil terus menciumi istrinya, Devan lalu menyelimuti istrinya yang sudah tidak bergerak karena kelelahan dan sangat mengantuk.
"Terimakasih sayang" Devan kembali menciumi wajah Cahya, lalu memeluk tubuhnya dan ikut terbang ke alam mimpi.
Kring kring kring kring
Cahya terbangun karena mendengar suara ponsel nya, Devan juga terbangun dan menahan tubuh istrinya untuk diam dalam pelukannya.
"Sayang, lepas dulu,,, takut nya itu panggilan penting" Cahya menciumi dada suaminya, Devan lalu melepaskan pelukan nya, Cahya bergeser mengambil ponselnya di meja kecil disebelah ranjangnya, Cahya menahan selimut di dadanya.
"Iya Siti, ada apa?" sepagi ini Siti sudah menelfon nya membuat Cahya sedikit khawatir
"Ada apa Siti?" tanya Cahya lagi, Devan mendekati istrinya,
"Mas Renal sangat panas tadi malam, aku sampai kewalahan, mantap sekali mbak, ajaran mas Devan yang menyuruhnya 5 ronde benar-benar dia lakukan walau sekarang dia menjadi kelelahan dan masih tidur, biasanya dia hanya melakukan sekali tiap malam, mbak pasti sangat bahagia karena dari dulu merasakan kenikmatan seperti ini, aku tidak sabar untuk nanti malam" Siti bercerita dan curhat dengan blak-blakkan membuat Cahya yang mendengar nya menjadi malu sendiri, Devan juga mendengarkan tanpa sengaja karena dari tadi kepalanya ada dipangkuan Cahya
"Siti, kenapa hal seperti itu harus kamu ceritakan? sudah matikan telepon nya" ucap Cahya kesal karena kekhawatiran nya ternyata tidak ada gunanya.
"Hahaha" Devan tertawa melihat ekspresi malu dengan wajah yang memerah di wajah istrinya, Devan lalu mendorong istrinya sampai terlentang, dan kembali menyusup ke dalam gaun istrinya.
"Aaahhhhh sayang, suuuddaahhh" Cahya menggeliat nikmat karena merasakan lidah suaminya yang sudah bersarang di bagian intinya.
"Siti, kamu 5 ronde, sementara aku tidak pernah sanggup menghitung entah berapa kali aku mengejang karena ulah suami ku setiap kami berhubungan, aku tidak mengerti kekuatan apa yang ada dalam tubuh suamiku sehingga dia bisa seperti ini, bahkan saat ini, saat aku baru bangun setelah kelelahan karena ulahnya semalam, aku sudah kembali terus mengejang dibuat nya" batin Cahya membalas cerita Siti, tetapi dia tidak akan mungkin mampu mengucapkan nya secara langsung, Cahya hanya berkata dalam hati sambil terus terpejam dengan tangannya meremas bantal, merasakan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya.
"Ayy, hari ini ayo kita mengajak Baby jalan-jalan tanpa orang tuanya" ajak Devan pada Cahya yang sedang membuat kan kopi untuknya
"Ayo, sebenarnya aku sempat kepikiran seperti itu dari waktu itu, tapi apakah Siti akan mengizinkan?" ujar Cahya sambil memberikan secangkir kopi pada Devan.
Devan memegangi tangan Cahya yang memegang gelas kopi itu, dan tidak membiarkan nya lepas dari pegangan tangan nya.
"Sayang, jangan bercanda, aku lapar, aku akan membuat susu coklat dulu sebentar" ucap Cahya memelas, dia merasakan tubuhnya yang terasa remuk karena kelakuan suaminya itu, dengan susu coklat hangat setidaknya bisa menenangkan tubuhnya.
"Cium dulu" ucap Devan sudah memajukan bibirnya, Cahya mengecup bibir Devan, mereka berpandangan lalu saling tersenyum.
__ADS_1
Devan dan Cahya sudah selesai sarapan, mereka lalu bersiap untuk segera kerumahnya Siti untuk meminjam baby.
"Boleh saja, ambil saja bawa sesuka hati kalian, tapi ingat untuk selalu menjaga nya, aku sudah memandikan nya tadi" ujar Siti setelah membukakan pintu
"Renal mana?" tanya Devan
"Dia masih tertidur" ucap Siti terlihat malu-malu mengingat kenangan indahnya tadi malam, Siti malu membayangkan nya lalu berjalan menuju baby untuk menyiapkan keperluan nya saat dibawa Cahya nanti, supaya Cahya tidak terlalu kerepotan nantinya.
"Lemah sekali adikku itu, baru 5 ronde sudah tidak bisa bangun lagi, untung tadi malam aku tidak mengatakan jumlah yang setiap saat aku praktekkan pada istriku, kalau aku mengatakan dan dia mengikutinya, mungkin dia akan pingsan 7 hari 7 malam" batin Devan dengan kepercayaan diri yang tinggi, dan dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya sambil memandangi wajah istrinya yang juga sedang tersenyum geli melihat tingkah Siti yang sedang malu-malu.
Baby sudah siap dengan stroller nya dan baju ganti serta makanan dan camilan nya, Cahya dengan senang hati langsung menggendong baby dan meminta Devan membawa stroller nya.
Cceekklleekkk
Bunyi gagang pintu terdengar dan terbuka lah pintu kamar, mereka semua reflek menoleh, terlihat muka bantal Renal dengan rambut acak-acakan dan hanya memakai celana pendek
"Aaahhh" teriak Cahya lalu memalingkan wajahnya dan langsung keluar rumah
"Kenapa kalian ada disini!" teriak Renal kaget lalu menutupi badannya dengan kedua tangannya, Devan mendekati adiknya itu lalu berbisik
"Terus tingkatkan kemampuan mu, jangan lemah seperti ini, aku malu sebagai kakakmu" Devan lalu tersenyum meledek adiknya
"Apa maksud mas?! awas ya, aku laporkan pada mama kalau mas selalu menyiksa mbak Ayya" ujar Renal, Devan hanya mengangkat bahu dengan muka meledek ke arah Renal lalu langsung pergi menyusul istrinya yang sudah menunggunya di depan rumah.
"Hallo baby, hari ini main sama ayah Devan dan mama Ayya ya, tidak boleh rewel dan menangis" ucap Devan menyapa baby yang sedang tersenyum riang diajak mengobrol dan bermain oleh Cahya.
"Kenapa mereka menculik anak kita?" tanya Renal karena dia baru bangun jadi tidak tau apa yang terjadi.
"Biarkan saja mas, sepertinya mereka sudah sangat ingin mempunyai bayi lagi, semoga secepatnya mbak Ayya sembuh" ujar Siti prihatin, lalu melihat kearah suaminya
"Siti, kamu mau apa melihatku terus menerus seperti itu?" tanya Renal lalu kembali memegangi dadanya yang masih belum memakai baju dari tadi,
"Tadi malam kamu terus memanggil ku dengan panggilan sayang, kenapa sekarang kamu seperti ini lagi?" ucap Siti menutup pintu lalu berjalan semakin mendekati Renal yang terus berjalan mundur, hingga Renal terpojok di tembok.
"Kenapa sayang, apa kamu takut padaku?" tanya Siti menggoda suaminya lalu tangannya masuk kedalam celana suaminya.
"Ayo lakukan lagi, mumpung tidak ada yang mengganggu" ajak Siti lalu menarik suaminya menuju kembali ke kamar.
"Mas Devan, ajaran sesat apa yang kamu ajarkan padaku tadi malam? hingga membuat istriku menjadi seperti ini, tooollloonngggg aaaakkkuuu" Batin Renal yang sekarang sudah kembali diseret Siti masuk kedalam kamar.
__ADS_1