
Setelah seminggu di Bandung, Devan mengajak anak dan istrinya untuk ke Semarang, mengunjungi kedua orang tuanya Devan.
Berita kedatangan Cahya tentu menghebohkan karena mereka tau kalau Cahya menghilang, mereka tidak menyangka kalau Devan akan menemukan nya karena selama ini sudah dicari kemana-mana tidak ditemukan.
Untuk memperluas usahanya, Devan membeli perkebunan karet, selama Cahya menghilang selain terus mengerahkan orang-orang suruhan nya dia juga ikut mencari, selain itu yang dia lakukan hanya bekerja dan terus bekerja.
Bukan tidak ada yang mendekatinya, tentu banyak yang menginginkan Devan karena banyak yang mengira kalau Cahya tidak akan pernah kembali.
Lagipula siapa yang tidak menginginkan Devan, lelaki tampan, pengusaha sukses dan anak dari orang terpandang yang juga sangat sukses.
Sesampai disana, sudah tentu mereka melepas rindu dan ada Rafa yang menjadi pusat perhatian, Rafa kecil persis seperti ayahnya waktu kecil terlihat dari foto keluarga yang terpasang di dinding saat Devan dan adiknya masih kecil.
Kedatangan mereka membawa suka cita dan kebahagiaan, Rafa yang merupakan tuan muda kecil di rumah itu, mendapat kemewahan yang selama ini tidak bisa diberikan Cahya.
Untuk merayakan kembalinya Cahya dan putranya, keluarga Devan akan mengadakan syukuran sekaligus mengumumkan nama panjang Rafa, karena selama ini namanya hanya Rafa, tapi karena belum terdaftar di akte, jadi mereka masih bisa menambahkan nama panjang nya di akte nya nanti.
Rafa Putra Suseno, itu nama panjang nya.
"Rafa Putra Suseno, sini sama mama,, Rafa lupain mama ya?" ujar Cahya manyun karena Rafa asyik bermain bersama kakek dan neneknya.
"Kata nenek Afa tidak boleh ganggu mama sama ayah, katanya ayah kangen sama mama jadi Afa tidak boleh dekat mama dulu" jawab Rafa
Cahya melihat kearah ibu mertuanya yang mengedipkan mata padanya, Cahya tersenyum malu, sungguh dia mendapatkan mertua yang menyayanginya walau apapun yang sudah terjadi.
Devan mendekati Cahya dan tanpa malu langsung memeluk Cahya walau disana ada kedua orang tuanya, Cahya menjadi canggung dibuatnya dan berusaha melepaskan pelukan Devan.
"Tidak lama lagi pasti akan hadir adiknya Rafa, melahirkan lah banyak anak, biar rumah ini ramai, mama dengar kalian akan tinggal di Jogja,, biarkan Rafa disini bersama kami, kalian tinggal lah di Jogja, anggap itu bulan madu kalian yang tertunda" ujar mama Devan
"Tidak tante, kasian Rafa, dia masih terlalu kecil untuk jauh dari mamanya" jawab Cahya
"Kamu manggil tante, kamu tidak sadar aku ini mama mertua mu, jangan-jangan kamu masih memanggil nama pada suamimu?" ujar mama Devan yang dibalas anggukan oleh Devan sambil menunjuk kan ekspresi sedih.
"Maaf tante, maksud aku mama, aku belum terbiasa"
Mereka mengobrol santai dan bercanda, hingga tidak terasa sudah mulai sore, Cahya berniat memandikan anaknya tapi dilarang, karena neneknya yang ingin melakukan itu
__ADS_1
"Kamu istirahat saja, serahkan Rafa pada mama, maaf mama tidak mendampingi mu saat masa sulit mu waktu baru melahirkan, terimakasih telah melahirkan dan merawat cucu mama" ujar mama Devan lalu mengelus bahu Cahya.
Cahya sangat bahagia dan bersyukur, karena tidak ada yang menyalahkan atas kepergian nya selama ini.
Devan membawa Cahya ke kamarnya, disana foto yang dulu dia edit saat masih SMK, di cetak besar dan dipasang di dinding, dan tentu banyak foto-foto Cahya yang lain, sepertinya hiasan kamar itu hanya penuh foto Cahya.
Cahya mendorong Devan hingga terduduk di kasur, Cahya lalu duduk dipangkuan Devan, dia tersenyum lalu mencium Devan.
"Terimakasih suamiku" ucap Cahya
"Apa kamu bilang?" tanya Devan salah tingkah dipanggil begitu oleh Cahya walau dia beneran suaminya.
"Suamiku, cintaku, sayangku, hidupku,,, jangan menyesal ya, mulai sekarang aku akan terus menempel padamu walau kamu muak atau bosan" Cahya lalu membenamkan lagi wajahnya di dada Devan sambil menggerakkan wajahnya.
Devan tertawa dan mengacak rambut Cahya, tidak menyangka istrinya itu akan bertingkah imut di depan nya.
"Tidak perlu bertingkah imut, dari dulu aku sudah jatuh padamu dan tidak bisa bangkit lagi, kalau kamu bertingkah seperti ini, aku bisa memakan mu dan tidak membiarkan kamu keluar dari kamar selamanya" Devan gemas dan langsung membalik Cahya yang dari tadi dipangkuan nya dan merebahkan nya di kasur.
Sudah jelas apa yang terjadi berikutnya, Devan melakukan nya sampai menjelang malam, mereka lalu mandi dan bersiap untuk makan malam.
"Mama kenapa lama? Afa nunggu mama dari tadi, mama tidak pikirin Afa?" Rafa merajuk
"Sayangnya mama, maafkan mama ya" Cahya lalu menggendong anaknya itu
"Mama terus bermain bersama ayah, sampai lupa sama Afa" Rafa masih terus merajuk
"Tidak sayang, bukan begitu, bukan kah tadi Rafa sedang bermain bersama nenek?"
"Tapi Afa mau sama mama juga" Rafa memeluk mamanya erat.
Devan keluar kamar lalu mendekati anak dan istrinya, dia menanyakan apa yang terjadi, karena melihat Rafa memeluk erat mamanya.
"Ayah sudah ya main sama mama, gantian Afa juga mau main sama mama" ucap Rafa ke ayahnya
"Baik lah, kita bagi waktu mulai sekarang, Rafa main sama mama kalau siang, malamnya mama main sama ayah" jawab Devan yang langsung mendapat cubitan dari Cahya.
__ADS_1
Rafa yang belum mengerti maksud dari ayahnya hanya bisa mengangguk kan kepalanya.
Sementara ibu Retno hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Devan.
"Devan sangat mirip aku kan mah,, dia sangat menempel pada istrinya" bisik ayah Devan ke istrinya
"Tidak tau malu, sudah tua juga" jawab ibu Retno
Ibu Retno mengajak semua untuk makan malam, karena semua sudah disiapkan, beliau lalu mengambil kan makanan untuk suaminya, sementara Cahya hanya melihatnya, dia malu untuk melakukan hal yang sama untuk Devan.
Ini juga pertama kali dia makan bersama keluarga Devan, dia sedikit canggung hingga membuatnya melamun.
"Mama, Afa mau makan" Rafa membuyarkan lamunan Cahya
"Iya, sebentar mama ambilkan ya"
Cahya mengambilkan makanan untuk Rafa, lalu menyuapinya, saat dia menoleh ke Devan, terlihat suaminya itu tersenyum dan ingin menyuapinya.
Cahya menggeleng, selama ini dia hidup bersama Rafa jadi dia selalu mementingkan Rafa dulu disaat makan, setelah selesai menyuapi anaknya itu, dia baru makan.
"Ayya, apa kamu butuh pengasuh untuk Rafa" tanya ibu mertuanya
"Tidak ma terimakasih, aku mau mengurusnya sendiri untuk saat ini, mungkin nanti saat aku melanjutkan kuliah baru mencari baby sitter tapi hanya pas aku kuliah saja, selebihnya Rafa sama mama dan ayahnya"
"Kamu melakukan semua sendiri selama ini, pasti berat ya, mulai sekarang kamu bisa bersantai, biar kami membantu mengurus Rafa, sudah kamu makan dulu biar mama yang menyuapi Rafa" ujar mama mertuanya lagi.
"Ini sudah mau selesai ma,, mama selesaikan saja makan mama, aku sudah biasa makan setelah Rafa selesai"
Devan masih berusaha menyuapi istrinya yang sibuk menyuapi anaknya, tapi lama-lama dia kesal karena Cahya terus menolak.
"Kamu mau aku suapin pake mulut aku?" ucap Devan tidak memperdulikan keberadaan orang tuanya.
"Kelakuan nya seperti ABG yang jatuh cinta, dasar tidak kenal umur" ucap ayah Devan melihat kelakuan Devan.
Devan dan Cahya memang dari dulu tidak selalu bersama dan bisa dibilang hanya sebentar-sebentar berpacaran nya, dari Cahya yang dulu sering menghindar dari Devan, atau lari dan bahkan pernah diculik, jadi saat di dekat Cahya yang sekarang sudah menjadi istrinya, Devan terlihat seperti orang lagi kasmaran yang baru berpacaran.
__ADS_1
Acara syukuran sudah dilakukan, mengundang banyak tamu dan sanak saudara, acara itu berjalan lancar.