Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Dena


__ADS_3

Devan dan Cahya bersiap ke rumah sakit diantar Renal, setelah mengantar Renal langsung pergi lagi untuk mensurvey lokasi cafe yang akan mereka buka, Devan akan menyusul segera setelah menemani Cahya memeriksakan kondisi rahimnya.


Cahya terlihat tegang saat menunggu antrian, dia terus memegang tangan Devan, tidak lama namanya dipanggil setelah melalui berbagai macam pemeriksaan, ternyata rahim Cahya belum sembuh total.


Cahya masih sering telat datang bulan, bahkan kadang lama tidak datang bulan, kalau sedang datang bulan maka Cahya akan merasa sangat kesakitan, mereka diminta bersabar dan pola makan Cahya harus benar-benar diperhatikan dan dijaga.


Cahya terlihat kecewa, dia bahkan tidak berani memandang suaminya, dia berfikir suaminya pasti akan sangat kecewa padanya


"Ayy, lihat aku?"ucap Devan menghentikan langkahnya saat menuju keluar rumah sakit, Devan menghapus air mata Cahya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Jangan sedih, aku akan selalu di sisimu, kalau kita terus berusaha kamu pasti akan segera sembuh, jangan putus asa"ujar Devan, dia juga sedih tapi dia menutupinya, dia tidak mau Cahya semakin sedih dan tertekan.


Devan tidak jadi menyusul Renal, hari ini dia akan terus menemani istrinya, mereka mencari apartemen untuk mereka tinggal selama di Kanada, karena tidak nyaman kalau terus menumpang di rumah Renal, lagipula mereka tidak mau mengganggu Renal dan istrinya.


Setelah mendapat apartemen yang mereka kehendaki, mereka langsung mengambil koper mereka dari rumah Renal untuk dibawa ke apartemen mereka, ternyata dirumah hanya ada Siti dan anaknya karena Renal belum pulang.


"Mbak, sini mbak lihat, kata pengantar yang mbak buat langsung direview sama editor, dia bilang sangat bagus dan kalau mbak mau, mbak bisa bekerja di kantor editor, kerjaan nya tidak berat mbak dan tidak harus selalu ke kantor, bisa dikerjakan dirumah" ujar Siti


Cahya melihat ke arah Devan yang terlihat menggelengkan kepalanya, tapi Cahya merasa ini kesempatan bagus, dia bisa bekerja untuk mengisi waktunya.


"Boleh ya, aku akan sangat bosan kalau hanya berdiam, lagipula kata dokter bukan kah aku tidak boleh stress" ujar Cahya sambil tersenyum sangat manis kearah Devan, senyum yang kalau dibandingkan dengan gula tentu saja tetap lebih manis gula.


"Tidak sayang, nanti kamu kecapean" Devan masih terus melarang


"Tidak akan capek sayang, menulis itu hanya duduk dan kalau capek duduk aku bisa sambil tiduran, karena dikerjakan dirumah dan hanya sesekali ke kantor"Cahya masih terus membujuk suaminya

__ADS_1


"Tapi janji kalau capek kamu harus berhenti"ujar Devan yang akhirnya hanya bisa menyetujui kemauan istrinya, Cahya mengangguk senang lalu memeluk suaminya, setelah berpamitan dan meminta nomor ponsel editor yang mengajak Cahya bekerja, Devan lalu mengajak Cahya segera ke apartemen mereka.


Cahya sangat senang karena dia akhirnya mempunyai kegiatan, mereka ingat untuk menelepon Rafa, setelah mengobrol dan melepas rindu, Cahya mengajak Devan untuk berbelanja karena kulkas mereka masih kosong.


Mereka berbelanja di sebuah supermarket didekat apartemen, Devan membeli banyak sekali buah-buahan dan sayur-sayuran, dia ingat kata dokter kalau Cahya harus makan sehat.


"Kamu pikir aku kambing? tidak segitunya juga sayang, kamu terlalu berlebihan, memang kamu juga makannya sayur? kenapa sebanyak ini?" tanya Cahya heran karena Devan tidak mengambil yang lain kecuali buah dan sayur.


"Ayo ambil daging juga" jawab devan tidak memperdulikan keheranan istrinya.


"Apapun yang kamu makan, itu juga yang aku makan, kamu tenang saja, aku tidak akan makan junkfood enak-enakan sendiri dan hanya melihat kamu makan sayur dan buah, kita berjuang bersama ya sayang" ujar Devan tersenyum pada istrinya


"Tapi aku mau sosis" ujar Cahya


"Boleh seminggu sekali ya, es cream, kopi dan mie instan juga boleh seminggu sekali"


"Tidak boleh, yang kamu makan itu bihun instan dan itu tidak terlalu berbeda dengan mie instan"


"Tapi enak" ujar Cahya memelas


"Aku yang akan bikin kamu enak tiap malam"ujar Devan sambil memainkan matanya, Cahya melengos malas mendengarnya, mereka membicarakan makanan tapi Devan langsung keluar topik.


Devan tertawa melihat ekspresi wajah Cahya, dia sengaja berbicara keluar topik agar Cahya tidak terus membicarakan makanan, Devan hanya berkeinginan supaya rahim Cahya cepat pulih dan segera mengandung anaknya lagi.


Setelah selesai berbelanja mereka berhenti di sebuah restoran untuk makan malam, dan Devan memesankan salad untuk Cahya, tapi tidak disangka Cahya menyukainya, Devan pikir Cahya akan marah karena tadi di supermarket Cahya seperti tidak menyukai sayuran.

__ADS_1


"Aku bukan tidak suka sayur, tapi yang kamu beli tadi terlalu banyak, kalau sayur disimpan terlalu lama nantinya tidak segar lagi, lagipula supermarket nya dekat dari tempat tinggal kita, bisa seminggu sekali kita kesana tanpa harus nyetok banyak-banyak" ujar Cahya yang melihat suaminya seperti heran karena dia lahap memakan salad nya.


Mereka menyelesaikan makan malam mereka, lalu segera kembali ke apartemen, hingga tiba-tiba ada yang mengenali Cahya dan menyapanya.


"Ayya!!" panggil seseorang dengan kerasnya


"Dena!" teriak Cahya melihat orang yang memanggilnya, mereka berteriak kegirangan karena sudah lama tidak bertemu.


"Kamu sama siapa?" tanya Cahya pada Dena


"Kenalkan ini pacar aku" ujar Dena menunjuk pria yang bersama nya, saat Cahya ingin menyambut uluran tangan dari pacar Dena, keduluan Devan yang lebih cepat mengulurkan tangannya pada pacar Dena.


"Masih ya say, protektif nya tidak bisa hilang" bisik Dena pada Cahya.


Cahya hanya mengangguk, mereka lalu dengan antusias mengobrol sampai lupa dengan pasangan mereka masing-masing yang hanya berdiri diam menunggu para cewek mengobrol.


Cahya lalu memberikan alamat apartemen nya pada Dena supaya mereka bisa bertemu lagi.


"Kamu masih lama di sini?" tanya Dena


"Sepertinya iya, masih belum bisa dipastikan, jangan lupa mampir ya kapan-kapan kalau ada waktu luang" jawab Cahya, mereka lalu berpisah untuk pergi ke tujuan masing-masing karena terlihat para pria mereka sudah mulai keluar tanduknya.


"Kenapa kamu kasih alamat kita sembarangan ayy, tidak boleh seperti itu walaupun dia temanmu, ini di negara orang apalagi kamu baru bertemu lagi dengan temanmu itu, aku tidak suka melihat pacarnya" ujar Devan saat mereka sudah sampai di apartemen dan sedang menata semua belanjaan tadi.


"Maaf, aku tidak berfikir jauh, aku sangat senang bertemu lagi dengan nya, maaf kan aku" ucap Cahya yang menyadari kesalahan nya.

__ADS_1


"Semua sudah terjadi, mulai sekarang kamu hanya harus berhati-hati untuk membukakan pintu pada siapapun, lihat dulu siapa yang datang baru membuka pintu, jangan mudah percaya pada orang lain" Devan menasehati Cahya, karena dia besok harus mulai bekerja jadi tidak bisa terus memantau dan menjaga istrinya, karena tidak mungkin juga terus mengajak Cahya untuk selalu ikut menemaninya bekerja.


__ADS_2