
Cahya masih ngambek di perjalanan itu, Devan yang mengajaknya makan siang di luar juga ditolak
Saat sampai di rumah, Cahya langsung merapikan belanjaan dan di simpan di tempatnya masing-masing
"Ayy, siang ini mau makan apa?"
"Aku mau bikin bihun pedas"
"Bikin buat aku juga ya?"
"Iya nanti sebentar, aku mau rapihkan belanjaan dulu"
"Ayy, kapan kamu lulus?"
"Ini semester terakhir, kira-kira 4 atau 5 bulan lagi ujian"
"Kamu sudah siap?"
"Iya harus lah, kan itu kewajiban aku"
"Sesudah kelulusan mau langsung kerja atau kuliah atau mau langsung nikah sama aku?"
Cahya tidak menjawab gombalan Devan, dia sibuk mengurusi belanjaan nya tadi dan memasuk kan nya ke kulkas dan ke lemari, hingga tanpa sadar Devan sudah ada di belakangnya dan tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Ayo kita menikah secepatnya Ayy, aku sudah tidak tahan lagi" ucapnya sambil mempererat pelukannya, Cahya berusaha melepaskan nya, tapi itu mustahil berhasil walau dia terus berusaha, jadi dia hanya diam.
"Kamu mau kan?"wajah Devan semakin mendekati leher Cahya
"Aku masih sekolah" karena tak kuasa melepas pelukan itu, Cahya hanya bisa memejamkan matanya saat nafas Devan terasa di lehernya, mereka belum pernah sedekat ini
"Bukan kah hanya tinggal sebentar lagi, aku benar-benar tidak sanggup lagi" Devan terus semakin mendekat kan bibir nya ke leher Cahya
"Aku mencintaimu!" tiba-tiba Cahya berteriak
"Apa?"
Karena kaget Devan agak mengendurkan pelukan nya, Lalu Cahya berbalik dan memeluk Devan
__ADS_1
"Aku mencintaimu" ucap Cahya sambil terus memeluk Devan, dia malu untuk menunjuk kan wajahnya, jadi dia terus menyembunyikan wajahnya di dada Devan.
Devan jadi gemas, dia yang hampir dikuasai nafsu akhirnya bisa mengendalikan nya lagi, karena ucapan cinta dari Cahya, Devan semakin mempererat pelukan mereka.
"Jadi mulai sekarang kamu sepenuhnya milik ku?" tanya Devan
Cahya mengangguk di dalam pelukan Devan
Cahya berusaha melepas pelukan itu, karena dia sudah sangat lapar
"Aku lapar, mau bikin makan dulu"
Devan lalu melepaskan nya,
Dengan cepat Cahya berbalik lagi menghadap lemari, sungguh dia sangat malu dengan kejadian barusan.
"Jangan lupa bikin buat aku juga, kalau tidak kamu nanti yang aku makan" bisik Devan ditelinga Cahya
Devan tidak menunggu jawaban Cahya, dan langsung keluar dari dapur dan masuk kamarnya, dia harus mendingin kan diri dulu dengan mandi air dingin,barusan dia sangat panas.
Saat keluar dia langsung ke dapur lagi dan melihat Cahya yang sedang menyiapkan sendok dan sumpit untuk mereka makan, masakan sudah matang, dan belanjaan sudah rapih semua pada tempatnya.
"Iya, kalau tidak aku bisa gila"
"Kenapa?"
"Tadi sangat kegerahan"
"Ya sudah makan dulu" Cahya tidak bertanya lebih lanjut
"Ayy, kamu suka banget sama bihun ya?"
Cahya hanya menjawab dengan anggukan.
Mereka selesai makan, seperti tadi pagi Devan tidak mengizinkan Cahya untuk beres-beres, dia menyuruh Cahya untuk nonton TV di ruang tamu.
"Sudah, kamu tunggu saja disana, biar aku yang membereskan meja, kamu pasti capek, sudah membereskan belanjaan dan masak juga"
__ADS_1
Cahya menurut lalu keluar dari dapur karena memang dia merasa sangat capek, dia duduk di sofa, dan seperti biasa dia akan menyetel TV tapi tidak menontonnya, dia memainkan ponsel nya
Ada pesan masuk dari Dena
"Ayya, yang tadi beneran sepupu kamu apa bukan?"
"Bukan"
"Benar dugaan ku pasti dia mantan kamu kan?"
"Bukan"
"Terus apa nya kamu?"
"Kita baru jadian"
"Wah, kamu colong start ya, aku baru mau maju"
"Coba saja kalau berani"
"idih takut, ada yang marah"
Saat Cahya masih sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba Devan sudah duduk disebelahnya, Cahya bergeser untuk memberikan ruang pada Devan tapi Devan terus mendekat kepadanya, dan menarik Cahya ke pelukan nya.
"Devan, menjauh lah, takut mama pulang"
Tapi Devan malah tiduran dan meletakkan kepalanya di pangkuan Cahya
Cahya malu dan menutupi mata Devan yang memandanginya dengan tangan nya
"Tidak usah malu" kata Devan
Lalu Devan bangun, Cahya makin menggeser duduknya dan meraih bantal untuk menutupi wajahnya, tapi Devan tetap mendekat dan langsung merebut bantal itu dan meletakkan nya di bawah, dia sendiri semakin mendekat ke Cahya
Saat dia melihat Cahya yang memejamkan matanya ketakutan, dia sedikit kecewa,
"Ayy, masuk lah ke kamarmu dan kunci pintunya, nanti kamu turun lagi saat tante sudah pulang"
__ADS_1
Tentu saja Cahya langsung berlari tak lupa membawa ponselnya.
"Ini tidak akan berhasil saat aku di dekatnya, aku pasti tidak bisa menahan nya" batin Devan