
Cahya bersama anak dan suaminya pergi ke pantai, mereka asyik bermain ombak dan tidak menyadari ada banyak pasang mata yang terus memperhatikan mereka.
Saat Rafa sudah bosan bermain ombak, dia meminta untuk membeli minum, tapi belum juga mereka menuju tempat penjual minum, mereka dihadang oleh orang-orang yang dari kemarin mengawasi mereka, Devan langsung melindungi anak dan istrinya.
"Nona, mohon kerjasamanya, kami diutus tuan Maryanto untuk membawa nona padanya" ucap salah satu dari mereka.
Cahya terdiam, dia mengenal nama itu, tapi sejak kecil dia sudah tidak pernah bertemu lagi, dia merasa dibuang sedari kecil, jadi nama itu berangsur dia lupakan, bahkan untuk sekedar mengingat wajahnya saja sudah tidak ada di memori ingatannya.
"Ayy, bukan kah itu nama ayahmu?" tanya Devan
"Aku tidak mengenalnya, kalian salah orang, sekarang minggir!" teriak Cahya dari balik badan suaminya yang masih terus melindunginya, dia tidak menjawab pertanyaan suaminya itu.
Karena melihat istrinya tidak suka dengan mereka, tentu saja Devan marah dan mengusir mereka, untungnya mereka pergi, karena memang mereka tidak di izinkan menggunakan kekerasan untuk membawa Cahya.
Cahya menjadi murung karena kejadian tadi, dari kecil dia ditinggal merantau oleh ayahnya, saat SMP ayahnya juga meninggalkan mamanya yang di perantauan bersama, hingga membuat mamanya harus pulang kampung, dan sekarang ayahnya mencarinya.
Cahya tidak habis pikir, dia juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dan mencoba untuk tidak peduli, dia ditinggalkan dari kecil dan sekarang seenaknya ayahnya mau membawanya.
Devan memberikan Cahya minuman dingin, dia memperhatikan istrinya yang terus melamun bahkan tidak mendengarkan saat Rafa memanggilnya.
"Ayy, Rafa manggil" ucap Devan sambil mengelus rambut istrinya itu.
Cahya menoleh kaget dan langsung menggendong Rafa, Cahya mengajak Rafa bermain lagi di dekat pantai untuk melupakan tentang ayahnya yang kembali lagi.
Devan mengerti perasaan istrinya, dia tidak mengungkit masalah tadi lagi, bahkan saat acara pernikahan mereka dulu, ayah Cahya tidak diketahui keberadaan nya hingga harus menikah dengan wali hakim.
Mereka lalu beristirahat karena Rafa yang sudah kelelahan, mereka menginap di resort dekat pantai itu, setelah memandikan Rafa dan menyuapi makan malam, Cahya menidurkan Rafa tapi dia sendiri tidak bisa tidur.
Setelah Rafa tidur, Cahya mendekati suaminya yang duduk di teras sambil memeriksa semua pekerjaan nya, Cahya langsung duduk dipangkuan suaminya itu, memeluknya erat seolah mencari ketenangan, Devan lalu menyudahi pekerjaan nya dan membalas pelukan istrinya.
"Mau makan apa? atau kamu mau aku makan?" Devan mengajak bercanda sambil mencium kepala Cahya yang terlihat sedih itu.
"Kenapa dia datang, apa dia mau minta aku mendonorkan jantung, ginjal atau darahku?" Cahya mulai bercerita mengenai kegundahan hatinya.
"Jangan terlalu banyak pikiran, sekarang kamu adalah tanggung jawabku, aku tidak mengizinkan siapapun menyakitimu bahkan kalau itu ayahmu sendiri" Devan menenangkan istrinya dan mempererat pelukan mereka.
Cahya tidak banyak berbicara lagi, dia mengajak suaminya tidur, Cahya ingin tidur di pelukan suaminya, Devan menuruti kemauan istrinya, malam itu tidak seperti malam biasa nya yang selalu panas, malam itu dia hanya memeluk istrinya, mencoba membuat suasana hati istrinya lebih tenang.
Cahya sudah tertidur, Devan menyelimutinya dan kembali ke laptopnya menyelesaikan pekerjaan, selama ini Cafe dan perkebunan nya dia serahkan pada orang kepercayaannya setelah dia bertemu istrinya, dia hanya ingin selalu bersama anak dan istrinya, tapi dia tetap memantau dan selalu menerima laporan tentang semuanya.
__ADS_1
Saat Devan sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya dia kembali ke sisi istrinya, dan kembali memeluk istrinya itu, tapi tidak lama terdengar ketukan di pintu.
Devan membuka pintu, ada karyawan Resort itu yang memberikan nya sebuah surat untuk disampaikan pada istrinya.
Devan bimbang antara ingin membuka surat itu lebih dulu atau tidak, dia khawatir isinya akan membuat istrinya sakit tapi membuka lebih dulu juga tidak benar karena itu bukan miliknya.
Devan melihat ke arah istrinya yang tertidur lelap, Devan mengambil keputusan untuk membuka surat itu, dia hanya ingin tau apakah isinya akan menyakiti istrinya atau tidak, karena bagaimanapun Cahya sekarang adalah tanggung jawabnya.
Paginya setelah anak dan istrinya bangun, mereka mandi lalu sarapan, Devan memberikan surat itu pada istrinya, Cahya bertanya dari siapa karena dia yakin pasti Devan sudah membukanya.
"Dari ayahmu, beliau meminta bertemu di sini sebentar lagi" jawab Devan, yang membuat Cahya kaget dan ingin pergi dari sana, dia tidak mau bertemu ayahnya.
"Ayy tenang, ada aku disini, kamu harus tau apa yang ingin ayahmu sampaikan, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, takutnya itu hal yang sangat penting, aku akan menemanimu, kalau ada hal yang bisa menyakiti mu, aku akan melindungi mu" Devan berusaha membuat Cahya tenang dan menyuruhnya kembali duduk.
Lelaki itu tidak memaksa Cahya membalas uluran tangan nya,
"Apa kabar Ayya, kamu sudah dewasa, sangat cantik" sapa lelaki itu yang tidak lain adalah ayahnya.
Cahya masih tidak bergeming, dia masih memegang tangan suaminya, Rafa sedang asyik bermain perosotan di ruangan itu yang sengaja disiapkan resort itu agar tamu yang mempunyai anak kecil lebih betah.
Mereka lalu duduk, Devan memperkenalkan diri sebagai suami Cahya kepada ayah mertuanya itu.
__ADS_1
"Apa kamu seorang pengusaha?" tanya ayah Cahya
"Saya tidak menyebutnya begitu, saya hanya pegawai biasa" jawab Devan merendah.
"Cahya akan saya jodohkan dengan lelaki pengusaha sukses dan besar, pengusaha itu tidak mau dinikahkan dengan adik Cahya dan hanya mau dengan Cahya" ucap ayah Cahya yang membuat Devan dan Cahya kaget setengah mati.
"Kami sudah menikah secara sah!" Devan menjelaskan.
"Kalian bisa bercerai, aku akan memberikan uang yang banyak padamu, ceraikan Ayya secepatnya" tawar ayah Cahya pada Devan
Cahya tertawa mendengar ucapan ayahnya, dia lalu melihat ke arah ayahnya sinis, dan bangun menarik tangan suaminya mengajak pergi.
"Ayya, kamu harus menuruti ayahmu, itu kewajiban mu!" teriak ayah Cahya
"Ayah? anda bilang Ayah? ayah mana yang membuang anaknya dari kecil? bahkan saat bertemu apa anda peduli padaku? anda meminta saya melakukan kewajiban sebagai anak yang harus menuruti ayahnya tapi anda?, apa selama ini melakukan kewajiban anda sebagai seorang ayah!" teriak Cahya marah.
"Sekarang datang dengan semua omong kosong ini, apa anda tidak punya rasa malu? kalau anda tidak punya rasa sayang terhadapku setidaknya anda punya rasa malu, mulai sekarang tidak perlu datang lagi, aku sudah hidup bahagia tanpa anda!" tambah Cahya lalu pergi, mengambil anaknya dan menggendongnya menjauh dari tempat itu menuju kamar penginapan nya untuk cepat beres-beres meninggalkan tempat itu.
Devan membiarkan nya dulu, dia masih harus menjelaskan sesuatu pada ayah mertuanya itu.
"Jangan sakiti Ayya, sekarang dia adalah tanggung jawab saya, anda sudah tidak mempunyai hak atas Ayya" setelah mengucapkan itu Devan langsung menyusul istrinya.
__ADS_1
Didalam kamar terlihat Cahya yang sedang bersiap meninggalkan tempat itu, Devan mendekatinya dan memeluknya, dia tau istrinya shock, dan benar saja Cahya langsung menangis pelan di pelukan suaminya, dia dari tadi menahan tangisan dan perasaan nya agar tidak terlihat oleh Rafa.