
Reza tidak juga kunjung keluar dari kamar nya padahal hari sudah semakin siang, biasanya dia sudah keluar kamar dan bersiap untuk berangkat bekerja, Dena khawatir padanya tetapi masih ragu untuk memeriksanya.
Tok tok tok tok
Dena memberanikan diri mengetuk pintu kamar Reza, lama tidak ada jawaban, sehingga Dena kembali mengetuk pintu,
"Reza, ini sudah siang, apa kamu tidak bekerja?" dan masih tidak ada jawaban, akhirnya Dena memberanikan diri untuk membuka pintu kamar.
"Reza, kamu kenapa?!!" Dena berteriak melihat Reza yang terkapar di lantai,
"Lepaskan!!" teriak Reza saat Dena memegang tangannya
"Kamu sangat panas sekali, tidurlah di atas kasur, aku akan mengambil handuk untuk mengompres mu, tunggu sebentar" Dena langsung bergegas keluar untuk mengambil handuk dan air hangat, saat dia kembali kedalam kamar Reza, terlihat Reza yang sedang merapikan kembali pigura foto Cahya dan segera merapikan lagi dimeja, Dena merasa sesak melihatnya, dia menjadi sangat emosi
"Apa yang kamu lakukan?! sadarlah Reza,,, Ayya sudah milik orang lain, dia bahagia di sana bersama suaminya, untuk apa kamu disini menderita?"
Reza tidak memperdulikan Dena, melihat itu Dena semakin emosi, Dena meletakkan baskom berisi air hangat yang dia bawa lalu mendekati Reza dan langsung mencium nya, Reza kaget dan mencoba untuk menolak, tangan Dena menuju meja yang penuh dengan foto Cahya itu, lalu dengan gerakan cepat Dena mengacak-acak kembali foto-foto itu dan melemparkannya ke sembarang arah, Reza sangat marah melihatnya, tetapi Dena tidak takut karena dia hanya ingin supaya Reza cepat sadar dan tidak berlarut dalam kesedihannya.
Dena kembali mencium Reza dengan liarnya, untuk masalah ini tentu Dena sudah pengalaman apalagi suaminya adalah bule, akal sehat Reza sedikit terpengaruh hingga dia membalas ciuman itu.
Dena melakukan ini semua untuk membantu penolongnya, karena kalau tidak ada Reza, entah apa yang terjadi padanya saat ini, mereka semakin terbawa perasaan bahkan Dena sudah membuka baju Reza, mereka berpandangan lalu kembali berciuman dengan penuh semangat dan gairah membara, mereka sudah sama-sama dewasa dan butuh hal itu.
"Rezzaaaa, teeerruusskkaann" rintih Dena saat Reza memasukkan keris pusaka nya yang selama ini dia jaga dan rawat untuk bisa memasuki kenikmatan bersama Cahya, tetapi ternyata semua tidak ada gunanya, karena Cahya menolaknya.
"Yayang, kamu sangat nikmat" Reza terus bergerak menirukan gerakan dalam film biru yang pernah dia tonton, Dena tersentak mendengar Reza menyebutkan nama Cahya
"Reza sadar,,,,!!" teriak Dena, lalu mendorong tubuh Reza yang belum mendapatkan puncaknya itu, Dena tertegun melihat keris pusaka Reza, karena tidak kalah besar dengan milik suaminya, pantas saja dia merasa sangat nikmat
"Aku bukan wanita murahan, aku melakukan ini sebagai tanda terima kasih atas bantuan mu padaku, aku hanya ingin supaya kamu melupakan Cahya, tetapi aku tidak akan melanjutkannya lagi kalau kamu malah menganggap diriku adalah Cahya, aku adalah Dena!" teriak Dena lalu berniat turun dari ranjang tetapi tubuhnya ditahan Reza
__ADS_1
"Maafkan aku" Reza mengucapkan itu lalu keluar dari kamar menuju kamar mandi, Dena merasa sangat malu karena kelakuan spontan yang barusan dia lakukan.
Mereka sudah berada di meja makan, terlihat sekali kecanggungan yang sedang terjadi diantara mereka, Reza lalu berusaha untuk memulai pembicaraan
"Terimakasih Dena atas niat baikmu, aku berangkat bekerja dulu, apa ada yang kamu butuhkan? aku akan membawanya saat pulang nanti"
"Tidak perlu, cepat kembali saja"
Jawaban Dena membuat Reza terkejut, itu seperti ucapan seorang istri pada suaminya yang akan berangkat bekerja, tetapi Reza tidak terlalu memikirkan dan segera berangkat.
"Apa yang terjadi pada wanita itu, kenapa begitu sangat liar, bukankah dia masih mempunyai suami, walau mereka sedang dalam permasalahan tetapi kenapa dia bisa seperti itu?" gumam Reza saat dia dalam perjalanannya ke tempat kerja.
Reza semakin tidak focus mengingat kejadian tadi pagi, tidak dipungkiri dia menginginkan hal itu, dia dulunya hanya berfikir melakukan nya bersama Cahya pujaan hati nya tetapi saat ini dia sudah sedikit mencicipi lubang Dena, pikirannya menjadi kacau
"Yayang,,, aku harus sadar kalau kamu tidak akan pernah bisa aku miliki, aku harus melanjutkan hidupku, apakah aku harus melakukannya supaya aku bisa melupakan dirimu?" Reza sangat galau tetapi kebutuhan biologis nya juga menggebu-gebu apalagi setelah tadi dia mencicipi, membuat nya ingin meneguknya sampai habis.
Reza langsung kembali ke rumah dan langsung mencari Dena, nafasnya sudah sangat memburu dan berat, Dena yang sedang merapikan pigura foto Cahya terlihat kaget melihat Reza yang sudah pulang dan ke kagetan nya tidak berhenti sampai disitu, Reza langsung menyerang nya, melucuti pakaian nya dan langsung menerkam Dena.
"Aaaarrrrgghhhh!!" mereka berteriak bersama saat puncak kenikmatan itu menghampiri mereka.
Dena masih berada dipelukan Reza, mereka saling memeluk setelah melewati perjalanan hasrat yang menggebu dan akhirnya sudah sampai pada tujuannya.
"Cepat lupakan lah Cahya, jangan terus menyakiti hatimu, aku melakukan ini mungkin karena aku juga butuh, aku tidak akan memungkiri hal itu, aku juga sedang berusaha melupakan suamiku, maafkan aku karena memanfaatkan dirimu,, terimakasih Reza" Dena lalu berniat bangun tapi ditahan oleh Reza
"Mari kita saling memanfaatkan" bisik Reza lalu kembali mengarungi dasar samudra bersama Dena, mereka saling mereguk manis nya cinta, dan saling berebut untuk memuaskan hasrat mereka, saling menutupi luka hati mereka masing-masing dengan kenikmatan yang sedang mereka rasakan.
Hari itu Reza seperti mendapatkan mainan baru, dia terus bermain dengan Dena, begitu pula Dena yang sudah mulai menikmati dan semakin menikmatinya, tetapi hatinya tiba-tiba terasa sakit saat Reza masih memanggil nama Cahya dalam desahannya
"Semua butuh waktu Dena, lagipula kenapa kamu egois padanya, kamu juga hanya memanfaatkan dirinya, kenapa kamu merasa harus sedih?" batin Dena dengan terus membelai dada Reza yang masih terus mengguncang bagian tubuh bawahnya.
__ADS_1
"Apa kamu belum pernah melakukan ini sebelum nya?" tanya Dena pada Reza yang masih sibuk dengan olahraga yang penuh rasa nikmat itu.
"Belum, apa kamu mau mentertawakan diri ku?" jawab Reza dan terus mempercepat gerakannya karena dia merasa akan kembali menyirami lahan basah milik Dena
"Kenapa aku harus mentertawakan dirimu yang sangat perkasa ini, kamu hanya belum berpengalaman, sekarang terlentang lah, aku akan mengajari mu sesuatu, setelah Reza terlentang dengan cepat Dena melahap milik Reza yang sudah terkulai karena baru menyemburnya, tetapi dengan ******* dan jilatan dari Dena membuat milik Reza kembali bangun dengan gagahnya
"Lakukan hal yang sama pada milikku" pinta Dena, lalu mereka melakukan posisi 69
Mereka lupa waktu dan lupa segalanya hingga Dena ingat dengan kehamilannya, selama ini kehamilannya tidak rewel dan masih seperti biasa tetapi di dalam tubuhnya pasti ada perubahan,
"Reza, sudahi dulu untuk saat ini, aku tidak mau janinku kenapa-napa" ucap Dena saat mereka ingin mencoba gaya lain dengan duduk dimeja
"Kita simpan untuk besok, turunkan aku dulu, ayo kita mandi" Dena mengalungkan tangannya pada leher Reza dan meminta di gendong.
Mereka lalu makan malam bersama dengan Reza yang memasak karena Dena tidak pandai memasak,
"Reza, kalau aku jatuh cinta padamu bagaimana?"
"Kamu yakin tidak akan kembali pada suamimu?"
"Sebelum acara resepsi pernikahan kami, saat aku ketahuan hamil ternyata dia ketahuan selingkuh dan tidur dengan wanita lain, aku sadar kalau dia tidak menginginkan bayi ini karena dia tidak mau repot dan masih ingin bebas, itulah kenapa aku memilih jalan ini, karena percuma hubungan itu dipertahankan" Dena mengingat momen saat dia mengetahui perselingkuhan suaminya
"Aku yang memaksanya menikahi ku, awalnya aku tidak tau alasan dia menuruti keinginan ku, tapi sekarang aku sadar kalau dia hanya ingin meniduri diriku, dia sangat penasaran padaku, tapi setelah rasa penasaran itu hilang, inilah yang terjadi" Dena tersenyum getir mengingat nasib pernikahannya yang hanya seumur jagung.
"Aku tidak mempunyai perasaan apapun padamu, maafkan aku" Reza menatap Dena
"Itulah yang sepertinya akan membuat diriku jatuh cinta padamu, kejujuran mu, kesetiaan mu, tanggung jawab mu, aku yakin aku pasti akan jatuh cinta padamu, aku tau kalau saat ini kamu masih belum bisa melupakan Ayya, tapi aku akan terus berusaha agar kamu melupakannya dan hanya tertuju padaku, aku akan mengeluarkan semua pesona dalam diriku, aku juga belum sepenuhnya melupakan suamiku, tapi lama kelamaan kita pasti akan melupakan perasaan kita pada mereka" ujar Dena sambil tersenyum penuh arti pada Reza.
"Untuk apa kita harus terus memikirkan nasib buruk kita? kehidupan terus berjalan jadi lebih baik kita menikmati dengan sebaik-baiknya, Ayya sudah bahagia bersama Devan, aku tau perjalanan cinta mereka dari saat SMK, Devan sangat mencintai Ayya dan selalu setia menunggunya, sudah jelas tidak ada lagi kesempatan untukmu, jadi demi kebahagiaan kalian berdua, lepaskan dia" pungkas Dena lalu menggenggam tangan Reza.
__ADS_1
"Rasa ini sangat dalam untuk Yayang, apakah aku sanggup melepaskan nya? aku masih tidak yakin" batin Reza, tapi dia tetap membalas genggaman tangan Dena.