Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
3 Miliar


__ADS_3

Saat mencoba turun dari ranjang, tangan Cahya ditahan Devan,


"Ada apa sayang? cepat cerita padaku, aku tidak mau kalau kamu akan seperti biasanya, menahan perasaanmu, berfikir sesukamu, lalu pergi meninggalkan ku, aku mohon Ayy, jangan seperti itu lagi" ucap Devan lalu menarik tangan Cahya dan membuat istrinya itu terjatuh diatas tubuhnya.


Saat ada masalah Cahya selalu seperti itu, Devan sudah sangat paham, kali ini dia tidak mau sampai hal itu terulang lagi, Devan memeluk istrinya erat, seolah memohon pada istrinya untuk tidak melakukan hal seperti yang sudah-sudah.


"Apa kamu bosan padaku?" tanya Cahya pelan


"Apa maksudmu?" jawab Devan yang tidak mengerti maksud dari pertanyaan istrinya, dia memegang wajah Cahya dengan kedua tangan nya agar Cahya memandang ke arah nya.


Cahya menggeleng, dia malu untuk berterus terang pada suaminya tentang apa yang dia rasakan, tetapi Devan terus memaksanya bercerita, Devan menggelitik perut istrinya.


"Cepat katakan, aku tidak akan membiarkan mu turun dari ranjang ini sebelum kamu katakan pada ku apa yang kamu pikirkan tadi" ancam Devan, saat ini dia tidak lagi menggelitik perut istrinya, tapi sudah menindih tubuh istrinya itu, Devan menyusup kebagian bawah istrinya, dia mau meyakinkan dirinya kalau istrinya sudah benar sembuh, Devan tersenyum melihat milik istrinya sudah seperti sedia kala, dia langsung melahapnya.


"Aaaahhhhh" Cahya mendesah dengan perlakuan Devan yang tiba-tiba, reflek tangan nya memegang kepala Devan dan meremas lembut rambut suaminya.


Devan terus bermain disana, menjilati dan dengan lihai memainkan nya dengan kedua jarinya, Cahya terus mendesah.


"Sayang, aku tidak kuat lagi,, aakkhhhhh!" jerit Cahya yang bagaikan melodi indah ditelinga Devan.


"Cepat katakan yang tadi kamu pikirkan, atau aku akan melakukan nya lagi" ujar Devan


"Lakukan saja" tantang Cahya


"Apa?! kamu sudah berani menantang ku Ayy, baiklah,, aku akan membuatmu tidak bisa turun dari ranjang ini"


Cahya bahagia, ternyata bukan Devan bosan padanya tapi tadi malam Devan tidak minta tambah karena takut dia belum benar-benar sembuh.


Detik dan menit terus berganti berubah menjadi jam berganti jam, Devan terus menggoyang istrinya, dia melakukan nya dengan lembut dan penuh kasih sayang, tubuh Devan sangat fit dan bugar karena sering berolahraga, saat dulu Cahya lari darinya Devan sering mengalihkan hasratnya dengan bekerja tetapi saat tidak ada pekerjaan, Devan akan berolahraga, saat ini olahraga nya adalah terus menerus menggoyang istrinya


"Sayang sudah, aaahhhh aahhhh aaahhhh" Cahya terus mendesah dan mengatur nafasnya, akhirnya dia menyerah setelah Devan terus membuatnya kejang penuh kenikmatan.


"Katakan dulu apa yang kamu pikirkan tadi" ujar Devan yang juga mengatur nafasnya.


"Iiiiyyaaa, lepas dulu sayang"


"Ini nanggung, tunggu sebentar lagi" Devan lalu bergerak semakin cepat, dia lalu ambruk diatas tubuh istrinya, Devan memeluk erat tubuh istrinya, pelepasan nya selalu nikmat.


Devan sudah turun dari tubuh istrinya, dia lalu mengambil minuman botol dan memberikan pada istrinya, setelah istrinya selesai minum, Devan juga minum dari botol yang sama.

__ADS_1


Devan kembali ke ranjang dan duduk disebelah istrinya yang sedang bersandar pada tembok ranjang, Devan meraih istrinya dan membawa kepala Cahya kedalam dekapannya.


"Ayy, apa kamu menikmati sentuhan ku?" tanya Devan, Cahya tidak menjawab karena malu, tapi Devan butuh jawaban, dia lalu memegangi wajah istrinya dengan kedua tangannya.


"Jawab sayang" ujar Devan lagi, Cahya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang memerah karena malu, Devan bahagia melihatnya, karena dia tidak mau kalau hanya dia yang menikmati nya saja.


"Sekarang katakan apa yang tadi kamu pikirkan?" tanya Devan lagi, dia terus penasaran karena tidak mau Cahya memendam perasaannya seorang diri.


"Tidak sayang, sudah ya, tidak perlu lagi aku ceritakan, karena aku sudah tau jawabannya" jawab Cahya, Devan langsung mendorong istrinya lagi dan menindihnya


"Aku tadi bilang apa? perlu aku ulangi lagi? baiklah mungkin kamu lupa istriku sayang" ujar Devan lalu menuju leher istrinya, dia sebenarnya bingung karena leher istrinya sudah penuh dengan tanda yang dia buat tadi, bahkan sampai ke buah kembar istrinya sudah penuh dengan tanda merah buatan nya.


"Aku tidak akan membiarkan mu turun dari ranjang kalau kamu tidak mau bercerita" Devan mengendus leher istrinya, membuat Cahya merasa geli


"Iya, iya sayang, lepaskan aku dulu" pinta Cahya


Devan lalu tiduran disebelah istrinya dan membenarkan rambut istrinya yang acak-acakan,


"Aku takut kamu bosan padaku" ucap Cahya.


"Aku tidak mungkin bosan sayang, hanya tubuhmu yang akan aku sentuh, kamu butuh pembuktian apa lagi sayang? aku kesakitan menahan hasrat itu saat aku minum obat perangsang yang diberikan wanita gila itu tempo hari, kalau aku mau melakukan dengan yang lain, aku tidak akan menahannya sampai kepadamu, apa kamu tau, menahan hal itu sangat menyakitkan"


"Sayang, ayo kita mandi, ini sudah sangat siang, kita bahkan tidak sarapan, aku lapar" ucap Cahya.


Devan langsung menuruti kemauan Cahya, dan langsung menggendong istrinya ke kamar mandi untuk mandi bersama.




POV Renal



"Apa masih tidak bisa dihubungi?" tanya Siti pada suaminya dan mendapat jawaban anggukan dari Renal


"Mas Devan, cepat angkatlah telepon nya, ini sangat penting" ujar renal terlihat panik


"Apa kita ke apartemen nya saja mas? mereka itu seperti pengantin baru, tidak mungkin sempat melihat ponsel" usul Siti pada suaminya

__ADS_1



Dengan cepat Renal menuju apartemen kakaknya, dia melarang istrinya ikut, karena akan repot kalau membawa baby, Renal terus memegang sebuah amplop besar, entah apa isi didalamnya hingga membuatnya sangat panik.



Renal langsung memencet bel pintu, agak lama sampai pintu itu terbuka, Renal langsung masuk dengan tergesa.


"Ada apa Renal, kenapa kamu datang kesini?" tanya Devan heran karena Renal tidak menyapanya dan langsung berjalan masuk kedalam apartemen.



"Mas, kita dituntut uang yang sangat besar oleh koki Reynold yang awalnya akan bekerja sama dengan kita"


"Maksud kamu apa? bukankah kita yang dirugikan, lalu kenapa dia yang menuntut kita?"


"Aku juga tidak tau apa yang terjadi, seperti nya Sari melakukan sesuatu yang membuat koki Reynold melakukan hal ini"



"Ada apa sayang, siapa yang datang?" terdengar suara Cahya dari dalam kamar.


"Ayy, diam ditempatmu, ini yang datang Renal!" teriak Devan, Cahya menurut dan menutup pintu kamar lagipula setelah mandi dia belum memakai baju dan hanya menggenakan jubah mandi.



"Mereka menuntut berapa?" tanya Devan


"3 miliar rupiah"


"Aappaaa?!


Devan kaget karena jumlahnya terlalu banyak, bahkan biaya pembukaan cafe mereka saja tidak sebanyak itu.


"Mereka menuntut pasal apa?" tanya Devan


"Mangkir dari kerjasama"


"Tidak masuk akal, kita cari pengacara terbaik untuk melawan mereka" ucap Devan geram.

__ADS_1


__ADS_2