
Pagi itu Cahya memulai hari seperti biasa karena dia merasa sudah sehat, dia memendam rasa sakit hatinya, dari kecil dia selalu sakit hati, bagi nya ini hal biasa,
Dia sudah tidak melihat koper Devan lagi,
"Sudah jangan sedih Ayya, kenapa kamu harus menangis untuk orang seperti itu" batin Cahya.
Dia menuju ke dapur dan membuat sarapan seperti biasa, lalu Devan keluar dari kamarnya, ternyata dia belum jadi pergi, dia mau menunggu Cahya tidak marah lagi.
"Kamu lagi apa Ayy, aku bantu ya" tanya Devan
Cahya menoleh tapi tidak menjawab
"Kenapa dia masih disini" pikir Cahya
Cahya tidak memperdulikan nya dan melanjut kan apa yang sedang dia kerjakan, lalu mama nya juga sudah bangun,
"Kamu sudah bangun Ayy,, kamu memang mau sekolah? bener kamu sudah sehat, nanti kamu pingsan lagi"
"Iya ma aku mau sekolah, aku tidak akan kenapa-kenapa lagi"
"Jangan paksakan Ayy, ujian kan masih berapa bulan lagi"
"Tapi sudah mulai sibuk dan banyak tugas, takutnya terlalu banyak ketinggalan"
"Kalau kamu merasa tidak kuat, kamu izin pulang dulu saja nanti, jangan memaksakan tubuh kamu"
"Iya ma, aku siap-siap dulu ya ma, sarapan mama ada di meja"
Cahya keluar dapur tanpa memperdulikan Devan, tapi Devan yang mulai tidak mengerti kesalahan apa yang dia perbuat sampai Cahya seperti itu, dia mengikuti Cahya,
"Jangan ikuti aku!"
"Kamu kenapa? aku salah apa?"
"Salahmu karena masih terus ada disini, sekarang kamu pergi dan jangan ganggu aku lagi"
Cahya berlari menaiki tangga, Devan mengejarnya, saat sampai depan pintu kamar, Devan menarik tangan Cahya dan langsung mencium nya, Cahya memberontak dan menggigit nya,
Cahya menangis dengan perlakuan Devan,
"Jangan sentuh aku, disana kamu bisa bersama yang lain dan dengan ku kamu seperti ini!?"
"Ayy, apa maksud kamu? di sana di mana? dan dengan siapa maksud kamu?"
__ADS_1
"Dasar munafik, pergi dari sini"
Cahya langsung masuk ke kamarnya, dia menangis sebelum akhirnya menguatkan diri untuk bersiap sekolah.
Cahya memesan ojek online, saat dia turun kebawah, langsung pamit ke mama nya dan pergi sekolah.
"Devan, kamu kalau mau pindah, tidak apa-apa, lebih baik secepatnya karena para tetangga sepertinya mulai bergosip, kasian Cahya"
"Iya tante, aku akan pergi hari ini, tapi sepertinya Ayya masih marah"
"Tidak apa-apa, kamu masih bisa main kesini lain kali"
Siang itu Cahya pulang sekolah lebih cepat karena jam pelajaran terakhir kosong, dia sudah sampai di luar sekolah lalu dia didatangi Wawan di depan sekolahnya itu,Cahya kaget dan mau berlari tapi tidak jadi dia lakukan, buat apa dia lari, selama ini dia lari karena takut Wawan akan mencelakai Devan tapi sekarang Devan sudah menghianatinya.
"Jangan takut Cahya"
"Aku tidak takut"
"Kenapa kabur dariku waktu itu?"
"Siapa yang tidak akan kabur kalau dalam posisi ku waktu itu, aku belum cukup mengenalmu tapi kamu sudah mengajak ku pergi main jauh berdua"
"Iya maaf"
"Tidak apa-apa, semua sudah berlalu, sejak kapan kamu di Bandung, apa kamu bareng Wati?"
"Apa kalian tidak sekolah?"
"Wati minta izin seminggu, kalau aku memang tidak sekolah lagi"
"Kenapa?"
"Ada sedikit masalah"
"Kamu masih bandel kayak dulu ya?"
"Begitulah"
"Wan, aku pulang dulu ya, takut mama aku nyariin"
"Aku boleh main ke rumah kamu tidak?"
"Nanti lain kali ya, bye?
__ADS_1
"Bye, Cahya"
Wawan tidak memaksanya, dia mendekati Cahya dengan cara lembut seperti saran Wati.
đđđđđđđđđđđđ
Pov Devan
Devan di datangi Wati di rumah Cahya, Wati tau kalau siang Cahya sekolah dan mama Cahya kerja jadi cuma ada Devan
"Mau apa kamu kesini?"
"Tentu saja menemui mu"
"Kita tidak ada urusan, cepat keluar dari sini"
"Jangan munafik kamu, sekarang lagi tidak ada orang lain lagi kan?" kata Wati sambil terus mendekati Devan
"Menjauh lah!! kamu memang cewek tapi kalau kamu sudah keterlaluan, aku bisa kasar"
"Tidak apa-apa aku suka permainan kasar"
"Kamu memang perempuan gila"
Wati melihat kedatangan Cahya, dia dengan sengaja memeluk Devan dan belum sempat Devan melepaskan diri, Cahya melihat hal itu dan Devan pun melihat Cahya,
Cahya bersikap biasa dan tidak memperdulikan, dia berjalan menuju pintu masuk rumah,
"Lakukan dimanapun kalian suka, tapi jangan dirumah ku" ucap Cahya sambil masuk ke rumah
"Ayy, ini tidak seperti yang kamu lihat, dia tiba-tiba datang"
Cahya merasa capek dengan semuanya, dia masuk ke kamar tamu yang selama ini ditempatin Devan, mengeluarkan koper nya, dan menyuruh nya pergi sekarang juga.
"Bawa semua barang mu, bukankah dari kemarin kamu ingin pergi, apa yang kamu tunggu?"
"Ayy, bukan begini caranya"
"Lalu apa dan bagaimana? sudah lah pergi saja"
"Ayy apa kamu tidak mencintaiku lagi?"
"Kamu membicarakan Cinta? keluar dengan cintamu sekarang juga!" Cahya benar-benar marah dan langsung membawa koper itu keluar.
__ADS_1
Diluar terlihat Wati tersenyum penuh kemenangan, Cahya hanya tersenyum pahit melihatnya dan kembali masuk ke dalam rumah.
Devan masih terus berusaha menjelaskan tapi Cahya sudah tidak mau mendengar apapun lagi dan langsung menutup pintu rumah.