
"Haaacciimmn, hhhaaaccciiimmm"
Cahya terus bersin padahal dia tidak sedang flu, Devan lalu memberikan minum untuknya
"Sayang, sepertinya kamu sakit, apa kita undur saja kepulangan kita?" Devan memegang kening istrinya karena dikira istrinya demam
"Aku tidak apa-apa, tapi tidak tau kenapa tiba-tiba aku seperti ini, kata orang kalau seperti ini sedang ada yang memikirkan atau membicarakan" Cahya lalu menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya, mereka sedang berada di perjalanan menuju bandara
"Mitos saja kamu percaya, oh iya sayang, kita nantinya ke Semarang dulu atau ke Bandung?" tanya Devan sambil membenarkan anak rambut istrinya yang berantakan terbawa angin karena kaca jendela mobil sedikit terbuka.
"Aku sudah sangat rindu pada Rafa, kita langsung ke Semarang dulu saja, sekalian jemput Rafa, bukankah kita akan tinggal di Bandung?"
"Iya, untuk sementara kita tinggal di Bandung, sebenarnya mama meminta kita untuk menetap di Semarang tetapi aku ingin tinggal di Bandung dulu walau hanya sebentar, apa kamu ingat rumah yang aku beli bersamamu, waktu itu kamu langsung pergi meninggalkan ku untuk kuliah di Jogja setelah aku membelinya"
"Tentu saja aku ingat, kamu kan berduaan dengan seorang wanita disebuah cafe pinggir jalan, itu yang membuatku marah dan pergi"
"Kalau kamu marah kenapa tidak memarahi ku saja? tetapi kamu malah pergi seolah tidak perduli padaku" Devan cemberut mengingatnya
"Aku menyadari kalau aku sangat mencintaimu pada saat itu" Cahya tersenyum memandang ke arah suaminya yang terlihat tidak percaya, Cahya lalu memegang pipi suaminya,
"Saat itu kamu terus memintaku untuk segera menikah, tetapi aku belum bisa karena aku sangat takut, aku takut hidupku berakhir seperti mama Marliah, saat itu kamu sudah lebih dewasa jadi aku sadar pola pikir mu berbeda dari aku, lalu aku melepaskan dirimu supaya mencari wanita lain kalau kamu memang sudah tidak kuat lagi, aku sadar kamu lelaki dewasa dan aku tau kebutuhan mu tetapi saat itu aku masih takut, aku mengambil keputusan itu agar kamu bahagia, bukankah level cinta tertinggi adalah melihat orang yang kita cintai bahagia walau mungkin tidak bisa bersama" ujar Cahya lalu mencium pipi suaminya
"Tapi kamu selalu salah mengira dan yang kamu lakukan hanya berlandaskan dugaan-dugaan mu saja" Devan lalu mencubit pipi istrinya karena geregetan mengingat istrinya yang sering meninggalkan nya.
"Apa kamu pernah menyesal saat meninggalkan diriku?" tanya Devan penasaran
"Tentu saja selalu, aku selalu menangis mengingat dan merindukan dirimu, apa kamu tau apa yang menguatkan diriku?" Cahya lalu tersenyum penuh tanda tanya dan memainkan mata atasnya, yang membuat Devan semakin gemas dengan tingkah istrinya lalu menciumi wajah istrinya
"Aaaaaaaa lepas, coba tebak dulu" Cahya memegang kedua pipi suaminya agar menyudahi ciuman nya.
"Aku tidak tau, memangnya apa?" Devan menjadi penasaran, tetapi mobil sudah berhenti di bandara, membuat obrolan mereka harus terputus.
Didalam pesawat, mereka lupa akan obrolan mereka yang terputus tadi saat di mobil, perjalanan yang sangat panjang dengan 3 kali pemberhentian sungguh sangat melelahkan, setelah berjam-jam di perjalanan akhirnya mereka sampai di kota Semarang
__ADS_1
"Raaaffaaa!" teriak Cahya melihat anaknya yang sedang bermain bola di depan rumah
"Maaammaa" Cahya langsung menangkap Rafa yang berlari kearah nya dan langsung menggendong anaknya itu dan terus menciumi nya hingga membuat Rafa risih
"Mama iiihhh,,, sudah dong, geli banget,, Rafa sudah besar mama, jadi tidak boleh dicium terus, dimana adik bayinya ma? apa ada didalam koper?"
Mereka tertawa mendengar celotehan Rafa, sekarang gantian Devan yang menggendong Rafa, dan tetap saja hanya adik bayi yang ditanyakan nya
"Ayah, adik bayi mana? Rafa sudah menunggu sangat lama"
"Sabar ya jagoan ayah, nanti adik bayi akan segera datang supaya bisa bermain bersama Rafa"
"Tidak mau ayah, Rafa mau adik bayinya cewek jadi bisa Rafa jagain kalau ada yang jahat padanya, seperti adiknya Roland kan cewek namanya Celine, sangat cantik ayah, lalu Rafa memegang pipinya karena lucu, tapi Roland marah pada Rafa karena katanya Rafa jahat sudah mengganggu adiknya, padahal kan Rafa cuma gemas tidak mengganggunya" Rafa terus bercerita pada ayahnya.
"Rafa tidak boleh genit sama cewek, kenapa Rafa memegang pipinya Celine?" Devan bertanya dan menahan senyumnya mendengar anaknya bercerita
"Genit itu apa? Rafa hanya memegang pipinya karena dia sangat cantik dan lucu, ayah cepatlah bawa kesini adik bayinya, Rafa sudah tidak sabar" Rafa terus saja membicarakan tentang adik bayi, sepertinya dia kesepian karena di rumah sebesar itu tidak ada anak kecil lain.
"Rafa, main sama nenek dulu sekarang, biar ayah sama mama beristirahat, pasti ayah dan mama sangat capek setelah perjalanan jauh" Rafa lalu mendekati neneknya.
"Sayang,,," Cahya tidak meneruskan ucapannya, Devan tau apa yang dipikirkan oleh istrinya, Devan lalu membelai lembut rambut istrinya
"Jangan terlalu dipikirkan sayang, karena aku sangat yakin kalau adik Rafa akan segera hadir, kita harus terus mempercayai hal itu dan terus berusaha" Devan sambil tersenyum mengatakannya karena dia langsung menindih tubuh istrinya, Cahya membelai dada suaminya
"Sayang, apa kamu tidak lelah?" Devan bertanya tetapi tidak menerima jawaban karena dia langsung menggempur istrinya, selama hampir sehari semalam mereka diperjalanan, Devan sudah sangat kehausan, dia sangat kehausan kalau tidak minum susu alami milik istrinya
"Aku tidak bisa membayangkan kalau kita punya bayi lagi, sepertinya aku akan berebut dengannya setiap malam" bisik Devan sambil mengendus buah kembar istrinya
"Aaaccchhh" Devan sudah mengulum buah kembar itu dan memainkan lidahnya serta gigitan manja dari suaminya yang membuat Cahya merem melek dan terus mendesah.
"Sayang, bolehkah aku bekerja saat nanti kita tinggal di Bandung?" tanya Cahya yang sudah kembali berada dalam pelukan suaminya, mereka sudah menyelesaikan acara berkebun di atas kasur yang sangat menggairahkan itu.
"Kamu bilang kita akan membawa Rafa, lalu siapa yang nantinya akan merawat Rafa kalau kamu bekerja? sudahlah sayang, kamu jangan memikirkan tentang bekerja karena itu kewajiban ku, yang harus kamu lakukan hanya,,," Devan tidak bisa melanjutkan ucapannya karena mulutnya sudah ditutup Cahya menggunakan telapak tangannya.
__ADS_1
"Kira-kira kamu bisa bosan padaku tidak? karena pasti aku akan semakin tua, akan semakin kendor dan juga keriput, saat itu kamu masih ada di sisiku atau tidak?" setelah bertanya Cahya lalu menciumi dada suaminya dan sedikit menggigitnya pelan, membuat Devan kembali mendorong tubuh istrinya agar terlentang supaya dia bisa kembali menindihnya.
"Apa kamu pikir, aku tidak akan tua dan keriput? aku juga suatu saat akan seperti itu sayang, kalau aku balik pertanyaan itu untukmu, apa jawaban mu?" Devan membelai wajah istrinya,
"Kita akan menua bersama" Mereka tersenyum penuh kebahagiaan karena menjawab berbarengan dengan kata-kata yang sama.
Devan langsung melanjutkan olahraga nya di atas tubuh istrinya.
đđđđđđđđđđđđ
"Rafa, nanti ikut ke Bandung sama mama sama ayah, nanti Rafa sekolah di sana, di sana nanti Rafa bisa punya banyak teman baru" Cahya mulai merayu anaknya supaya mau ikut ke Bandung karena sepertinya Rafa terlihat sangat betah tinggal bersama kakek neneknya
"Tidak Ayya, biarkan Rafa tetap bersekolah di sini, kasian dia kalau harus kembali beradaptasi di lingkungan baru" ibu Retno yang menjawab membuat Cahya tidak bisa berkata apa-apa lagi, Cahya tidak menyadari suaminya bermain mata dengan mama mertua nya.
Flashback
"Mama, kalau nanti Ayya meminta Rafa untuk sekolah di Bandung, mama cegah ya"
"Tanpa kamu suruh juga memang tidak akan mama izinkan, tetapi kenapa kamu seperti ini? kenapa kamu tidak mau dekat dengan anakmu sendiri?"
"Bukan seperti itu ma, aku hanya berharap Ayya bisa rileks dulu supaya kondisi rahimnya cepat pulih, supaya dia tidak kecapean dan kelelahan ma"
"Lalu yang kamu lakukan padanya, apa kamu pikir dia tidak capek dan lelah" ibu Retno mencibir alasan Devan
"Tidak perlu banyak berbasa-basi, langsung saja katakan kalau kamu tidak mau diganggu, kamu belum dewasa padahal sudah tua, berkeinginan punya banyak anak tetapi tidak mau mengurus nya" tambah Bu Retno yang terus saja menggoda anaknya.
"Bukan seperti itu ma, baiklah aku akan membawanya kalau seperti itu"
__ADS_1
"Tidak Devan, mama cuma bercanda, biarkan Rafa disini ya bersama mama, kamu berusahalah lebih keras supaya Rafa cepat punya adik"
"Siap bos" ucap Devan tersenyum lebar karena rencananya berjalan mulus.