Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Bab 43. Akhir Cinta Wawan


__ADS_3

"Hai Cahya" sapa seseorang saat sore itu dia pulang sekolah, ternyata Wawan menunggunya di depan sekolahnya


"Iya, ada perlu sama aku?"


"Bisa kita berbicara sebentar?"


"Boleh, sebentar saja ya, sudah sore takut di cari mama"


"Kamu beneran pacaran sama Devan?"


"Iya, kami baru jadian"


"Waktu itu kamu bilang tidak"


"Memang waktu itu belum"


"Kamu bahagia?"


"Iya"


"Apa benar tidak ada kesempatan untuk ku lagi?"


Wawan sangat menyedihkan, dia yang dari kecil banyak musuhnya, menjadikan dia pribadi yang keras.


Dia menyukai Cahya dari dulu, tapi karena cara dia mendekatinya salah, Cahya malah takut padanya.


"Aku pernah bilang, kalau kamu memang sudah punya pacar, aku tidak akan menganggu mu"


"Maaf kan aku Wan"


"Bisakah kamu menemaniku makan? ini akan menjadi yang pertama dan terakhir, karna yang pertama waktu itu kamu kabur"


"Ayo, tapi yang dekat sini ya, dan sebentar saja"

__ADS_1


Cahya dan Wawan lalu mencari tempat makan, sudah pasti di dekat sana ada Wati yang sengaja memantau mereka, kalau hanya memotret mereka lagi makan, dia rasa tidak akan berhasil seperti terakhir kali, dia harus bergerak cepat karna besok harus kembali ke Jawa.


Tidak dia sangka ternyata Devan juga datang ke tempat itu, terlihat Devan mendekati Cahya, karna tidak terdengar apa yang mereka bicarakan, Wati lalu lebih mendekat.


"Aku bilang jemput aku, bukan sekarang,, aku belum makan"


"Aku juga mau makan" jawab Devan agak ketus, tidak biasanya dia begitu, sepertinya dia cemburu


"Wan, maaf aku memanggil Devan, karena aku tidak mau ada salah paham"


"Kalau dulu kamu jujur sudah punya pacar, aku tidak akan menganggu mu, tapi kamu tidak jujur"


"Maaf, tapi waktu itu, aku memang belum jadian sama Devan"


"Cahya, aku pergi dulu, aku tadinya ingin membuat kenangan dengan makan dengan mu, tapi kamu malah membawanya"


Wawan pergi, dia tidak mau merasakan sakit melihat Cahya bersama pria lain, dia menyerah karna Cahya sendiri sudah mengakui nya, berarti dia sudah menetapkan pilihan nya jadi dia tidak bisa apa-apa lagi, dia tidak mau memaksakan cinta nya, karna saat dia memaksakan cintanya dia malah kehilangan nya.


Wati emosi mendengarnya, dia pikir hanya Wawan yang bisa menghancurkan hubungan Cahya dan Devan tapi Wawan malah menyerah.


"Sudah cukup, uang ku habis tinggal di kota besar ini, tapi untuk mencari pekerjaan sangat sulit, kamu lihat sendiri,, Devan sudah mapan jadi dia yang lebih pantas untuk Cahya"


"Kenapa kamu jadi lemah begini, mana keberanian mu dulu?"


"Aku dulu terlalu ingin memilikinya tapi aku kehilangan nya, sekarang ini aku sudah melihat, kalau aku tidak punya kesempatan"


"Dasar pengecut"


"Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas pikiran ku masih waras, aku sudah cukup bahagia bisa melihatnya lagi dan mengetahui dia baik-baik saja, apalagi tadi aku mengajak nya makan dan dia memberi tahu ke Devan berarti dia sangat menghargai Devan, jadi jelas sudah tidak ada kesempatan untuk ku lagi"


Wati kesal karena semua rencananya gagal, sekarang orang yang dia harapkan untuk membantu malah menyerah juga, dia jadi gelap mata, dia lalu mempunyai ide yang sangat berbahaya.


Saat Cahya dan Devan selesai makan dan akan pulang, tiba-tiba ada yang memanggil mereka, itu adalah senior Cahya,

__ADS_1


"Cahya, kamu bisa mengikuti pertandingan minggu depan?"


"Sepertinya bisa kak, aku sudah makin sehat"


"Jaga pola makan dan terus berlatih ya, besok jersey baru akan di bagikan"


"Baik kak, terimakasih"


Cahya dan Devan keluar tapi tiba-tiba ada segerombolan preman yang mengganggu mereka dan mulai menggoda Cahya, Devan kesal melihat nya, dan langsung memukul preman yang menggoda Cahya, terjadilah perkelahian itu.


Lalu Wati datang mendekati Cahya dan langsung menamparnya, Cahya kaget dan teriak tapi dia langsung membalasnya,


"Kamu pikir aku takut? aku bukan ayya yang dulu yang selalu kamu hina, aku tau kamu itu bungklon dari dulu, selalu berubah, tapi aku kasihan sama mama kamu, beliau selalu menitip kan kamu ke aku, tapi kamu terus-menerus menyakitiku, sudah cukup Wati, hentikan kegilaan mu!"


Wati kaget tidak menyangka, karena dia pikir Cahya itu lemah, dia pikir Cahya akan menangis diam-diam seperti biasanya tapi dia sekarang berubah,


Wati yang terlanjur kesal ke Cahya dia malah mencekik Cahya saat mendengar ucapan Cahya,


Devan menolongnya nya dengan menarik Wati dan melemparnya, lalu langsung memeriksa Cahya


"Ayy, kamu tidak apa-apa?" tanya Devan sambil memeriksa leher Cahya


"Cahya hanya menggeleng"


Devan melindungi Cahya dibelakang nya, preman-preman itu belum pergi dan Wati juga sudah bangun lagi saat tadi dilempar Devan


"Kalian semua dibayar perempuan gila ini?!" teriak Devan,


"Kalau iya, aku bayar kalian 3 kali lipat, tapi sekarang menyingkir dulu dari sini"


Para preman itu berbisik-bisik dan akhirnya mereka mulau menyingkir seperti ucapan Devan.


Wati bingung harus bagaimana lagi, lalu dia pergi juga dari sana dengan perasaan kesal.

__ADS_1


Devan kembali memeriksa Cahya, tapi Cahya bilang untuk mengurus dulu preman-preman itu, setelah semua selesai, Devan mengantar Cahya pulang.


__ADS_2