
Saat Cahya keluar dari sekolahnya dia di datangi Wati
"Hai Ayya"
"Wati, kenapa kamu ada disini?"
"Aku mencari mu, sudah sejak lama kamu menghilang dan tidak ada kabar, kok kamu tega tidak memberi kabar?"
"Kenapa aku harus memberi kabar padamu, kamu pasti akan memberi tahu Wawan"
"Kenapa kamu kabur dari Wawan"
"Aku tidak mencintainya, untuk apa aku bersamanya?"
"Ayya, kamu benar kan pacaran sama Devan?"
"Iya, tapi itu belum lama ini, saat di Jawa aku memang belum pacaran"
"Kenapa kamu pacaran sama orang seperti itu, lebih baik kamu sama Wawan"
"Maksud kamu apa?"
"Aku sudah disini beberapa hari, waktu itu juga aku ke rumah mu tapi Devan bilang kamu sakit dan tidak memberi tau kedatangan ku"
"Kapan kamu kerumah?"
"Kemarin malam, dan apa kamu tau kenapa kamu tidak diberi tau kedatangan ku? dia menyembunyikan ku, dia tidak mau kamu tau hubungan aku dengan dia"
"Apa maksud kamu, sudahlah Wati sepertinya kamu kurang sehat, aku mau pulang dulu"
"Aku punya bukti"
Lalu Wati memperlihat kan fotonya saat dia memeluk Devan, Cahya sangat kaget, dia tidak paham apa yang terjadi
"Ini maksudnya apa? sejak kapan kalian,,"
Cahya tidak sanggup melanjutkan perkataan nya
"Aku datang untuk mencari mu, karena aku mengkhawatirkan mu, tapi dia malah membawaku ke hotel itu, dia mengatakan sudah lama menyukaiku"
Cahya tidak mau mempercayai hal itu tapi bukti itu sangat jelas, dia berlari masuk kembali ke sekolahnya, dan menuju lapangan lalu bermain basket.
Dia terus bermain, saat di tanya Dena dia tidak menjawab apapun, dia terus bermain basket hingga akhirnya dia kecapean dan pingsan.
Cahya dibawa ke ruang UKS, mama nya tidak lama datang menjemput karena dikabari gurunya, langsung menuju ke UKS tapi Cahya masih pingsan,
"Bapak guru, kenapa Cahya dibiarkan berlatih basket, dia baru sembuh"
"Maaf ibu, Cahya sendiri yang tiba-tiba datang dan langsung bermain basket, sebelum nya juga dia sempat minta izin untuk tidak latihan"jawab guru itu yang juga sebenarnya heran dengan yang dilakukan Cahya.
"Ayya, kamu kenapa? kamu kan baru sembuh kenapa kamu sudah bermain basket?" kata mama nya saat melihat Cahya sudah siuman
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa ma" Cahya tidak menangis, padahal dia ingin, dia hanya merasakan sakit di hatinya, dia lalu mengajak mama nya untuk pulang.
"Ma, ayo pulang aku sudah bisa jalan"
"Benar kamu sudah bisa jalan? mau mama panggilkan Devan?"
"Tidak perlu ma"
Cahya dan mama nya sudah sampai kerumah, dan koper Devan sudah terlihat di depan kamarnya, semakin yakin di pikiran nya kalau Devan pasti mau tinggal bersama Wati.
Saat itu Devan di dapur sedang menyiapkan makan untuk Cahya pulang sekolah, Cahya langsung naik ke kamarnya tanpa bertanya apapun ke Devan,
Lalu mama Cahya menemui Devan di dapur,
"Van, kamu bilang mau menjaga Ayya, dia pingsan di sekolah apa kamu tau?"
"Pingsan? baik tan aku akan menjemput nya"
"Tidak perlu, barusan sudah tante jemput, dia sudah masuk ke kamarnya"
"Aku akan melihatnya dulu tan"
Devan lalu menuju kamar Cahya, saat dia mau membuka pintu, ternyata pintu itu terkunci lalu dia mengetuk nya
"Ayy, buka pintunya,, kamu kenapa?"Cahya membuka pintu, lalu dia keluar dan langsung berniat menuju kamar mandi
"Ayy, kamu kenapa, katanya tadi kamu pingsan?
Devan merasa ada yang aneh dengan Cahya, tapi dia tidak memaksanya untuk bercerita sekarang, dia akan bertanya nanti sekalian pamit.
Lama ditunggu, Cahya tak kunjung turun padahal sudah semakin malam
"Ayya belum turun juga Van?, apa dia sakit lagi ya"
mama Cahya lalu ke atas untuk memeriksa
"Ayy, kamu sudah tidur, kenapa tidak turun? ayo makan dulu"
"Aku belum lapar ma"
"Ayo turun terus minum vitamin, itu Devan mau pamitan"
"Tidak usah pamitan suruh pergi saja, tidak kembali lagi juga tidak apa-apa"
"Kamu kenapa lagi? kalian berantem?"
"Tidak ma"
"Kalau kamu tidak turun, nanti dia pasti ke atas"
"Ya sudah sebentar lagi aku turun"
__ADS_1
"Ayya nya mana tan?" tanya Devan karena tidak melihat Cahya ikut turun
"Sebentar lagi dia turun"
Cahya turun dan langsung ke dapur tanpa menoleh ke Devan,
"Mama, aku mau bikin mie instan ya"
"Aku sudah siapin makanan ayy, kamu jangan makan mie instan" Devan yang menjawab
Tapi Cahya tidak memperdulikan nya, dia tetap membuat mie instan
"Ayy, kamu kenapa? kamu lagi sakit jangan makan mie"
Cahya tetap diam, hingga mama nya ikut ke dapur
"Ayy, jangan begitu, ini Devan sudah susah-susah siapin makanan"
Cahya masih diam, tapi saat Devan mematikan kompor yang cahya nyalakan untuk masak mie instan, akhirnya Cahya tidak kuat menahan amarahnya.
"Jangan suka mengatur ku, terserah aku mau makan apa, aku juga tidak minta disiapkan makanan ke kamu? kamu katanya mau pergi dari sini? pergi saja sekarang dan jangan kembali lagi!!" Cahya menumpahkan semua amarahnya dan langsung berjalan kembali ke kamarnya
Mama nya bingung kenapa Cahya marah hanya karena hal itu, begitu pula Devan yang langsung mengikuti Cahya yang akan menuju kamarnya, lalu dia memegang tangan Cahya,
"Ayy, kamu kenapa?"
"Lepaskan!!" ucap Cahya marah
"Kamu kenapa? cuma tidak boleh makan mie saja kamu marah kayak gini?"
"Benar, kamu baru tau kalau aku pemarah?"
"Ayy, kamu masih sakit, tadi juga kamu pingsan, kamu harus jaga pola makan kamu"
"Sudah tidak usah pedulikan aku, kamu pergi saja secepat nya dari sini, dan jangan pernah kembali lagi"
Cahya langsung masuk ke kamarnya dan menguncinya, setelah dari siang dia hanya menahan nya akhirnya sekarang dia menangis.
Devan mengetuk pintu,
"Ayy, buka pintunya, jelasin sebenarnya ada apa?
Cahya tidak menjawab akhirnya dia turun ke bawah,
Mama Cahya yang khawatir menunggu dibawah tangga,
"Sebenarnya ada apa, apa kalian bertengkar?"
"Tidak tan, tadi saat aku mengantarnya sekolah masih seperti biasanya"
"Tante belum pernah melihat dia semarah ini, ini tidak mungkin kalau cuma karena mie"
__ADS_1
Devan tidak menjawab lagi, dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.