Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Operasi Caesar


__ADS_3

"Ayy, apa hari ini mau kerumahnya mama?"


"Tidak, mama bilang hari ini ada acara arisan jadi sepertinya tidak ada di rumah"


"Ayy,,,, caesar ya?" Devan masih terus berusaha untuk membujuk istrinya, keadaan pinggul istrinya yang kecil sementara bayi yang sudah membesar bahkan beratnya. sudah lebih dari saat Rafa saat sudah lahir, nantinya Cahya bisa sangat kesulitan.


"Aku takut" Cahya memegangi tangan suaminya, mereka sedang menonton film di televisi.


"Tidak Ayy, kamu jangan takut, aku akan selalu di sampingmu, kata dokter juga operasi caesar itu tidak menakutkan, lagi pula ini bukan karena kamu tidak mampu untuk melahirkan secara normal, tetapi ini keadaan yang membolehkan untuk kamu dioperasi"


"Aku bisa waktu melahirkan Rafa, jadi sekarang ini aku juga pasti bisa" Cahya memegang erat lengan suaminya seolah menghilangkan rasa takut dan khawatir yang sedang dia rasakan.


"Sayang, dengarkan aku baik-baik,, aku tau kalau kamu bisa, tetapi kondisinya berbeda Ayy, aku tidak mau kamu mengalami kesulitan"


"Aku tidak mau, kasihan bayi kita,, kalau Caesar dia akan mempunyai antibodi yang rendah dan gampang terkena penyakit" Cahya masih saja tidak mau dan berusaha untuk tetap bisa melahirkan secara normal.

__ADS_1


"Kita akan selalu menjaga nya Ayy, kamu jangan memikirkan tentang hal yang lain, yang harus kamu pikirkan itu diri kamu terlebih dahulu"


"Tidak bisa, tetap saja anakku lebih penting dari apapun termasuk diriku sendiri apapun alasannya" Cahya mulai menangis dan memeluk erat tubuh Devan.


Devan ikut menangis dalam diamnya dan terus mendekap erat Cahya, dia sungguh tidak mau istrinya mengalami kesulitan apalagi sampai terjadi hal yang tidak dia harapkan, karena dokter juga sudah menganjurkan untuk operasi caesar.


Cahya masih terus menangis di dalam pelukan Devan, dia lalu kembali meminta maaf, Devan membelai rambut istrinya untuk menenangkan hati Cahya, Devan bahkan sudah meminta tolong pada mertuanya dan juga pada ibu Retno tetapi Cahya masih terus pada pendiriannya untuk melahirkan secara normal.


"Ayy, aku lebih menginginkan dirimu kalau harus memilih, bukan maksudku tidak menginginkan bayi ini tetapi kalau itu membuat ku harus melihat dirimu menderita, aku tidak mau,, jadi aku mohon Ayy,, ikutilah apa yang dianjurkan dokter" Devan tidak bisa menahan air matanya lalu memegangi kedua pipi Cahya agar istrinya melihat wajahnya, supaya istrinya itu melihat kesungguhan hatinya, Devan berharap istrinya tau betapa berharganya dirinya untuknya, tapi Cahya masih saja menolak, dia menggeleng kan kepalanya lalu kembali memeluk suaminya.




"Apa kalian mau mengeroyok diriku?" tanya Cahya

__ADS_1


"Iya,, kamu memang sangat pintar sekali,, kita semua hanya ingin kamu tahu dan sadar kalau kamu begitu dicintai dan disayangi semua orang di sekitarmu,, jadi kamu juga harus lebih menyayangi dirimu sendiri"


"Tapi bukan berarti kalau aku memilih lahiran secara normal lalu aku pasti mat,,,, eeeeehhmmmm"


Devan membungkam mulut istrinya yang sudah terlalu kelewatan berbicara, Devan marah dan setelah melepaskan ciumannya, dia memandangi wajah istrinya dengan tatapan matanya yang penuh amarah, lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi, dia menangis di sana, dia tidak mau terlihat lemah didepan istrinya, dia juga tidak bisa memaksa istrinya untuk mengikuti keinginannya.



Cahya kaget melihat kemarahan suaminya, tetapi dia sungguh takut kalau harus melakukan operasi caesar, Cahya mengetuk pintu kamar mandi tetapi Devan masih diam tidak menjawab atau membuka pintu kamar mandi.



Cahya lalu menunggu di atas ranjang sambil tiduran dengan terus melihat kearah pintu kamar mandi,


"Maafkan aku yang lemah ini sayang, maaf karena aku selalu merepotkan dirimu dan selalu membuatmu khawatir, tapi aku benar-benar takut kalau harus operasi caesar, banyak yang aku takutkan tetapi kalau melihatmu seperti ini, apakah aku harus melakukan operasi caesar?" batin Cahya sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2