
Devan terus berusaha mengetuk pintu, dan dia masih menunggu disana
"Apa yang kamu lihat dari dia, lihat saja, dia tidak mempercayaimu, itu berarti dia tidak mencintaimu" kata Wati memprovokasi
"Tutup mulut mu"
"Van, ada apa ini? kamu jadi berangkat sekarang?" mama Cahya yang sudah pulang kerja heran karena ada mereka diteras rumah.
"Cahya salah paham, dia melihatku bersama wanita gila ini lalu dia marah"
"Wati, kamu disini?"
"Aku ingin menemui Cahya tapi dia malah salah paham, maafkan aku ya tan" jawab Wati tanpa merasa bersalah
"Tante akan berusaha bicara pada Cahya, kalian boleh tunggu atau pergi dari sini"
"Apa maksud tante, apa tante juga tidak percaya padaku?" tanya Devan
"Tante tidak mau anak tante terluka, tante pernah bilang jangan menyakitinya kan?"
"Kalau memang aku berniat jahat, aku tidak mungkin melakukan nya disini, pokok nya aku tidak akan pergi sebelum memberi penjelasan padanya tante"
"Tunggu disini, tante masuk dulu"
Mama Cahya membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa, menutup pintu lagi dan langsung menemui anaknya
"Ayy, ini mama"
"Ada apa ma?"
"Ada masalah apa?"
"Tidak ada apa-apa ma"
"Menangis lah Ayya, kalau memang kamu mau menangis, kenapa kamu selalu terlihat tegar, kenapa kamu tidak pernah menangis di depan mama, mama tau mama pernah meninggalkan mu, tapi mama sekarang disini Ayya, kamu bisa bercerita pada mama, kamu bisa menangis di pangkuan mama, jangan selalu kamu pendam sendiri"
Akhirnya tangis Cahya pecah
"Mama"
"Iya, cerita sama mama"
"Devan ma, dia selingkuh"
"Dengan Wati?"
Cahya hanya mengangguk
__ADS_1
"Kamu yakin tidak salah paham?"
"Tidak ma, Wati sendiri yang cerita padaku kemarin, dia menunjuk kan bukti foto mereka berpelukan di depan hotel, dan kali ini di depan rumah aku sendiri ma, mereka melakukan itu lagi"
"Kamu yakin kamu tidak salah paham?"
"Tidak ma, tadi juga terlihat jelas"
"Kamu tenang dulu ya, sekarang mama turun dulu, Devan masih nunggu di depan"
"Dia mau apa lagi ma, suruh pergi dari sini"
Mama Cahya lalu menemui Devan,
"Van, seperti nya Ayya tidak mau bertemu kamu lagi, kamu pergi dari sini, dan jangan pernah temui dan ganggu dia lagi"
"Tante, ini cuma salah paham"
"Maaf ya Van, Ayya anak tante, dia biasanya kuat, tapi melihat dia menangis, itu pasti sangat sakit buat dia"
"Tante dengarkan aku dulu"
"Sudah Van, maaf permisi"
Mama Cahya langsung menutup pintu.
Devan sangat marah pada Wati
"Aku mau kamu, dan aku mau menghancurkan cinta nya Cahya, sekarang aku sudah berhasil, kamu lihat sendiri kan, aku bisa menghancurkan nya, dan kamu disini sekarang bersamaku"
"Kamu pikir aku sudi bersamamu"
"Terserah saja, lagi pula kamu sudah di usir dari sini, dan Ayya sudah mencampakkan mu, kamu bisa apa lagi?"
Devan tidak berkata apa-apa lagi, tapi dia memegang ponsel nya, dan dengan tersenyum, dia memutar rekaman barusan dan mengirim ke Cahya.
"Kamu lihat?!,, aku tidak seperti yang kamu pikir, aku lebih pintar darimu"
Wati berusaha merebut ponsel itu tapi tentu saja tidak bisa, lagi pula pesan itu sudah terkirim.
"Kamu tunggu saja ya, aku tidak akan menyerah" ucap Wati lalu pergi dari sana.
Devan kembali mengetuk pintu rumah, tapi tetap tidak ada yang membuka kan,, akhirnya dia duduk di depan pintu, tidak lama ada yang membuka pintu, terlihat Cahya menangis, Devan lalu memeluknya,
"Ayy, maafin aku ya"
Cahya makin keras menangis, dia yang terus menahan tangisan nya di depan Devan akhirnya tidak kuat lagi, dia menangis sambil mengucapkan maaf karena tidak mempercayainya
__ADS_1
"Maaf" hanya kata itu yang Cahya katakan
"Sudah Ayy, semua nya sudah lewat, besok lagi kamu harus percaya padaku"
"Bagaimana aku bisa percaya, kalau aku melihat mu bersama Wati berpelukan di depan hotel?" Cahya masih tetap saja cemburu
"Dimana?"
"Aku melihat fotonya di ponsel Wati, dia memperlihatkan nya padaku kemarin, jadi aku pikir, saat tadi malam kamu mau pergi, itu karena kamu mau bersamanya"
"Ayy, kalau suatu saat ada apa-apa, kamu cerita dan tanya langsung padaku, aku kemarin mencari hotel untuk aku tinggali sementara, aku tidak tahu kalau dia ada disana"
Cahya mengangguk, lalu mama Cahya keluar kamar, mereka langsung kaget dan melepaskan pelukan.
"Kalian berdua duduk kesini" perintah mama Cahya
mereka lalu duduk bersama,
"Semua sudah beres?" tanya mama Cahya
"Sudah tante" jawab Devan, sementara Cahya hanya mengangguk
"Tidak baik kalian berpelukan begitu di depan pintu, kalau ada tetangga yang melihat bagaimana?"
"Maaf tante" jawab Devan
"Ayy, aku memang mau pergi dari sini tapi bukan untuk tinggal bersama orang lain, aku tidak mau kamu jadi gunjingan para tetangga kalau aku terus disini, kecuali kita menikah, ayo kita menikah"
"Devan, ini bukan waktunya bercanda" mama cahya yang menjawab
"Maaf tan, aku sangat lega karena salah paham ini sudah selesai,,, oh iya tante, aku pamit dulu"
"Iya, hati-hati"
Devan lalu keluar diantar Cahya,
"Ayy, aku berangkat dulu ya"
"Tadi siang aku bertemu Wawan"
"Dimana?"
"Di depan sekolah, waktu aku pulang dia sudah ada disana"
"Kamu tidak kenapa-napa kan?"
"Tidak"
__ADS_1
"Anak pintar, terus cerita kalau ada apa-apa ya, jangan di pendam sendiri, kamu harus hati-hati, dia pasti akan terus menemui mu, tapi kamu tenang saja, aku akan melindungi mu"
Devan lalu berangkat menuju apartemen yang sudah dia cari tadi siang, dia tidak jadi menginap di hotel karena sepertinya dia akan lama di Bandung, dia juga akan berusaha mencari pekerjaan di Bandung.