
"Apa dirumah ini tidak ada kayu manis?" tanya Cahya pada asisten yang bekerja di rumah Habib
"Tidak ada nona, apa perlu saya belikan?"
"Apa tidak merepotkan?" ucap Cahya berpura-pura, padahal dia sengaja makin mengulur waktu agar lebih lama berada di dapur, tapi dia juga sambil memberikan buah-buahan kepada Rafa agar dia tidak kelaparan.
Cahya ingin membuat bubur untuk Rafa, lalu Habib masuk ke dapur, dia tersenyum senang, mereka seperti sebuah keluarga, Habib lalu mendekati Cahya, saat dia berusaha lebih dekat, Cahya menoleh dan mengacungkan pengaduk bubur yang dia pegang.
"Santai sayang, aku tidak akan menyakiti mu, aku hanya ingin tau kamu memasak apa" ujar Habib sambil mengangkat kedua tangannya.
"Mama lagi main apa?" tanya Rafa melihat adegan itu
Mereka berdua menoleh, Cahya bingung mau menjelaskan apa, Habib lalu mendekati Rafa, Cahya waspada dan mengikutinya, Habib duduk di kursi sebelah Rafa,
"Mama dan ayah sedang bermain peran, mama menjadi super women yang menangkap ayah sebagai penjahat" jawab Habib
"Afa sudah punya ayah" ujar Rafa terlihat heran
"Mulai sekarang, aku adalah ayahmu, kamu mau kan? ayah akan membelikan lagi kamu lebih banyak mainan" ujar Habib
"Afa mau mainan yang banyak tapi Afa tidak mau ayah baru" jawab Rafa polos.
Terlihat Habib marah dengan perkataan Rafa, untung Cahya sudah ada dibelakang anaknya itu dan langsung menggendong nya.
Habib keluar dari sana, Cahya lega karena anaknya tidak mendapat masalah, dia meminta Rafa duduk diam dan memakan apelnya, sambil menunggu bubur matang.
Tidak lama kayu manis pesanan Cahya sudah datang, memasak bubur dengan api kecil agar lama matangnya, tapi tentu saja itu membuat curiga Habib yang kembali memeriksa ke dapur.
"Kenapa begitu lama?" tanya Habib
"Kayu manisnya biar meresap" jawab Cahya
__ADS_1
"Bisakah membuatkan aku nasi goreng seperti dulu, yang kamu pernah bikin?" pinta Habib
"Apa harus sekarang? bukankah asisten mu sudah memasak?" jawab Cahya
"Biarkan saja mereka yang memakan nya, aku ingin nasi goreng buatan mu"habib masih terus meminta dibuatkan nasi goreng
Cahya menurutinya, Habib senang melihatnya, setelah nasi goreng matang, mau tidak mau bubur Rafa pun disajikan karena tidak mungkin mengulur waktu lebih lama, karena nasi goreng yang dimasak terakhir saja sudah matang.
Cahya menyajikan nasi goreng buatan nya kepada Habib, lalu Cahya menyuapi Rafa.
"Kenapa kamu tidak makan?" tanya Habib
"Aku harus menyuapi Rafa dulu, setelah itu baru aku makan" jawab Cahya
Makan malam itu sudah selesai, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Devan, sementara Rafa sudah mengantuk tapi Cahya berusaha menahan nya, dia terus mengajak Rafa bermain.
"Ayya, sepertinya dia mengantuk" ucap Habib yang terus melihat Rafa menguap.
"Tidurkan saja di kamar nya, nanti kamu capek kalau terus menggendongnya" ujar Habib
Cahya menurut karena saat ini tidak ada cara lain, saat Habib memeriksa, ternyata Rafa belum tidur dan masih di kelonin Cahya, Habib lalu keluar lagi tidak mau mengganggu.
Habib sebenarnya lelaki yang sangat baik dan pengertian, seandainya Cahya tidak mengenal Devan lebih dulu, ada kemungkinan Cahya akan jatuh hati padanya, Habib dan Devan mempunyai banyak kesamaan, mereka terus berusaha mendapatkan cinta mereka, hanya saja untuk Habib saat ini jelas salah, karena yang dia kejar saat ini adalah istri orang.
Habib sangat menyayangi dan mencintai Cahya dengan tulus tapi hatinya belum bisa menerima kalau Cahya dimiliki oleh orang lain, padahal sejatinya cinta, tidak bisa dipaksakan.
Cahya tidak berani keluar kamar, tapi dia juga tidak berani tidur, hingga Habib kembali masuk kedalam kamar itu.
"Keluar Ayya, aku mau berbicara" ujar Habib
Cahya ragu, tapi dia tidak ingin membuat Habib marah, dia hanya bisa menurut lalu keluar dari kamar itu, terlihat Habib berdiri di ruang tamu, dengan memegang buket bunga mawar ditangan nya.
__ADS_1
Cahya seperti Dejavu, ini sama seperti saat Devan melamarnya dulu, saat Devan memaksa nya menerima cinta dan tubuhnya, Cahya merasa takut melihatnya, dia takut hal yang sama akan terulang, mungkin terlihat sama tapi jelas sangat berbeda karena Cahya tidak mempunyai perasaan terhadap Habib.
"Ayya, menikahlah denganku" ucap Habib
Sebelum Cahya bereaksi apapun, pintu rumah terbuka dengan paksa, terlihat disanalah Devan berdiri, Devan marah melihat adegan itu, dia langsung berlari menerjang Habib, Cahya menjerit kaget dan langsung menjauh.
Para ajudan Habib melawan para asisten Devan, terlihat Devan dan Habib yang juga masih bertarung, saat Devan sedikit lengah dan terdorong, Habib mengambil pisau lipat dari sakunya.
Cahya yang melihat itu langsung berlari ke arah Devan untuk melindungi nya dari serangan Habib hingga Cahya yang harus terluka, Devan dan Habib kaget melihat Cahya tersungkur.
Devan langsung focus pada Cahya begitu juga Habib yang terlihat shock melihat nya, mereka berebut ingin menggendong Cahya untuk dibawa ke Rumah Sakit, tapi Devan lebih cepat.
"Jangan sentuh istriku!" teriak Devan yang langsung berlari keluar untuk membawa Cahya agar segera mendapat pertolongan.
Habib ikut panik, dia tidak menyangka dia akan melukai Cahya, dia berteriak frustasi, lalu dia berlari dan menaiki motornya untuk menyusul Cahya.
Cahya langsung mendapat pertolongan, untung saja lukanya tidak terlalu dalam, Habib sampai disana dan langsung mendapat pukulan dari Devan tapi kali ini Habib tidak membalas.
"Kalau sampai terjadi apa-apa pada istriku, aku akan menghabisi mu!" teriak Devan
Mereka dilerai oleh orang sekitar dan juga satpam disana, Devan lalu teringat Rafa, dia menelepon asisten nya untuk membawa Rafa dari rumah Habib.
"Bawa Rafa dari sana langsung bawa ke semarang" perintah Devan.
Paginya Cahya belum juga siuman, kejadian itu belum dilaporkan ke polisi, Devan masih terlalu focus pada Cahya lagipula buat apa Habib dipenjara, dia akan tetap bisa keluar semaunya, lebih baik Devan yang akan memberi nya pelajaran kalau sampai terjadi apa-apa pada Cahya.
Habib dan Devan masih ada ditempat nya karena belum ada yang boleh menemui Cahya, hingga 2 hari setelah Cahya dirawat, dia siuman dan langsung mencari suaminya.
Devan mendekati nya, memegang tangan istri nya, terlihat Devan berkaca-kaca hampir menangis melihat istrinya, dia sangat lega karena akhirnya Cahya sadar.
"Sayang, aku ingin bertemu Habib" ucap Cahya pelan karena masih sangat lemas, sungguh permintaan Cahya yang membuat Devan kaget, Devan sudah pasti melarangnya.
__ADS_1
"Sebentar saja, aku mohon, kamu tetap boleh disini menemaniku" Devan tidak bisa lagi menolaknya, dia lalu keluar memanggil Habib.