
Cahya mencari Reza kesana kemari tetapi tidak menemukan nya, lalu dia terduduk di lantai karena kelelahan, dari tadi Devan mengikutinya dari jauh, begitu juga Reza yang juga melihatnya.
"Yayang, apa kamu mencari ku?" Reza berjongkok di depan Cahya yang terduduk dan menundukkan kepalanya, Cahya melihat kearah Reza dan menangis
"Apa yang sudah kakak lakukan? jangan membuatku terlalu banyak berhutang padamu, bagaimana kalau aku tidak bisa membayarnya?"
"Yayang, aku melakukan itu bukan hanya untukmu, aku melakukan nya untuk diriku sendiri, kamu tau aku tidak pernah dianggap oleh warga desa, aku selalu dipandang sebelah mata, tetapi kamu dengan tulus tersenyum padaku, itulah yang membuatku selalu ingin didekat mu dan selalu melindungi dirimu, aku merasa menjadi orang yang berguna untuk orang lain, aku bahagia karena akhirnya ada yang membutuhkan ku" Reza mencoba menghapus air mata Cahya, tetapi Cahya menghindar, Reza sedikit kecewa tetapi tidak dia tunjukkan
"Harus bagaimana aku membalas semua kebaikan kakak dan pengorbanan kakak??" Cahya menatap wajah Reza, orang yang dia anggap sebagai kakaknya.
"Hiduplah denganku, kita tinggal dirumah yang pernah kamu impikan" permintaan Reza sungguh bagai petir disiang bolong, bagaimana mungkin bisa dikabulkan oleh Cahya yang sudah menikah dan hidup bahagia bersama suaminya
"Kakak, kamu tau aku sudah menikah, dan rumah yang aku katakan sebagai rumah yang aku inginkan adalah rumah suamiku" ucap Cahya yang terus melihat ke arah Reza, dia tidak mau memberi harapan palsu
"Yayang, kenapa kamu tidak bisa berfikir dengan benar, untuk apa kamu hidup dengan nya? dia sudah menyakitimu"
"Tidak kak, Devan tidak pernah menyakiti ku"
"Apa kamu bodoh? sekarang ini kamu dirumah sakit, lalu apa yang membuat mu ada disini? kamu boleh terlalu cinta padanya, tapi jangan mau dibodohi"
"Tidak kak, Devan tidak seperti itu" Cahya terus mencoba menjelaskan pada Reza kalau yang Reza tuduhkan pada Devan, semua hanya salah paham.
"Aku salah dimananya? coba katakan padaku dimana dia saat kamu kesulitan mencari tempat tinggal, dimana dia saat kamu kesulitan dan bahkan hampir celaka? dan kalau memang dia mencintai mu, dimana dia saat kamu melahirkan??!" Reza sudah emosi karena Cahya masih tidak mendengarkan nya
"Aku yang meninggalkan nya kak, bukan salah dia" Cahya menangis karena mengingat lagi kenangan pahit yang dia lalui.
"Dia tidak mencari mu, itu karena dia tidak menginginkan dirimu, kamu harus sadar itu Yayang!"
__ADS_1
Dibalik tembok, Devan mengepalkan tangannya mendengar apa yang dikatakan Reza, karena dia sungguh sudah berusaha sangat keras untuk mencari Cahya.
"Kamu jangan menjadi budak cinta untuknya, kamu harus sadar!!" Reza terus berusaha membujuk Cahya agar mau ikut dengannya
"Sekarang ayo kita tinggalkan negara ini, mulai sekarang aku akan membuat hidupmu bahagia dan tanpa air mata"
"Maaf kak, aku benar-benar tidak bisa melakukan hal itu, tolong beri tau aku cara lain untuk membalas semua kebaikan kakak, karena untuk ikut dengan kakak aku tidak bisa" Cahya memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya didepan wajahnya, Reza terus memandangi wajah Cahya dan mencoba mencium nya
Cahya berteriak menolak,
"Tidak kakak, jangan seperti ini,, aaahhhh" Cahya terus menghalangi wajahnya dengan tangan nya saat Reza terus berusaha untuk menciumnya, Devan kaget karena mendengar teriakkan istrinya dan langsung berlari menolongnya
"Aku mohon jangan paksa Ayya, aku tau begitu besar pengorbanan mu untuknya, aku sangat berhutang padamu, aku akan memberikan segalanya untukmu, kalau kamu meminta semua hartaku, aku akan memberikan kan nya, tapi aku mohon jangan memaksa Ayya"
"Aku tidak butuh harta mu!" teriak Reza lalu memukul Devan, Cahya berteriak kaget dan memeriksa suaminya, Reza menarik tangan Cahya, membuat Devan marah dan mendorong Reza menjauhkannya dari Istrinya.
"Jangan konyol dengan permintaan aneh yang kamu inginkan, kalau itu istri kamu dan ada yang ingin merebut nya, apa kamu akan membiarkan nya?!" teriak Devan
"Aku datang karena ingin bertemu dengan mu, jangan takut padaku, aku masih Reza yang dulu, tidak bisakah kamu ikut dengan ku, tidak bisakah kita seperti dulu? aku ingin bertemu anak itu, anak yang sudah aku anggap anak aku sendiri" ujar Reza pelan, hatinya sakit karena dia pikir Cahya masih seperti dulu, Cahya yang butuh perlindungan, tetapi sekarang Cahya sudah mempunyai pelindungnya.
Dia sengaja tidak memberi tau pada Cahya dan melarang keluarga nya menceritakan kejadian yang sebenarnya, karena saat itu Cahya sudah hamil besar, Reza tidak mau membebani pikiran Cahya, dia hanya berharap saat keluar dari penjara, dia bisa bersatu dengan Cahya, tetapi kenyataannya, saat dia kembali, Cahya sudah lama tidak ada disana.
"Berbahagialah, carilah aku kalau kamu tidak bahagia, rumahku selalu terbuka untukmu" ujar Reza pelan.
Cahya melihat kearah Reza dengan tatapan sendu, dia sungguh tidak tahu kalau orang yang dia anggap sebagai kakaknya ternyata menyimpan perasaan padanya.
"Maafkan aku kak" Cahya menangis, Reza mengulurkan tangannya seperti ingin menghapus air mata Cahya, tapi tangannya tidak sampai
__ADS_1
"Jangan menangis, kamu terlihat sangat imut kalau menangis, nanti aku tidak bisa melepaskan dirimu" ucap Reza lalu melambaikan tangannya,
"Selamat Tinggal Yayang, jangan sampai terluka lagi" Reza langsung pergi tidak mau kalau sampai Cahya melihatnya menangis.
Cahya sedih melihatnya, bagaimanapun ada ikatan antara mereka, ikatan rasa sayang, karena Cahya menganggap Reza seperti kakaknya, Cahya lalu menangis tersedu, hatinya sangat sakit, dia telah menyakiti orang yang dulu selalu melindungi dan menjaganya.
Tetapi keinginan Reza sudah pasti tidak bisa dilakukan olehnya, Cahya sudah kembali bersama suami yang sangat dia cintai, Devan memeluk Cahya dan membelai rambutnya, mencoba menenangkan.
Reza akhirnya juga menangis, hatinya sangat sakit, orang yang dia harapkan ternyata tidak bisa bersamanya.
"Cowok kok nangis" ucap seorang wanita pada Reza, tetapi Reza tidak memperdulikan nya
"Kamu mau coklat? lihatlah aku punya banyak, dulu sahabat ku sangat menyukai coklat ini" wanita itu memberikan satu bungkus coklat dan langsung menyimpan nya ditangan Reza, perempuan itu lalu duduk disebelah Reza.
"Apapun masalahmu, kamu pasti kuat, kamu pria tampan, apa yang bisa kamu khawatirkan, sungguh aku ingin sekali menjadi seorang pria" wanita itu terdengar menghela nafas, membuat Reza menoleh padanya.
"Siapa namamu?" tanya Reza
"Kenapa kamu harus tau namaku? kita baru bertemu, belum tentu kita bertemu lagi" jawab wanita itu lalu memakan coklatnya
"Supaya aku tau, siapa wanita lancang yang sudah berani mengganggu ku"
"Kamu ini pendendam sekali, berbaik hatilah sedikit padaku, sebentar lagi aku harus kehilangan sesuatu yang bahkan belum aku lihat" wanita itu terlihat menghela nafas
"Seandainya ada orang yang bisa membawaku pergi dari sini, aku pasti akan sangat bahagia sekali" wanita itu terus tersenyum tetapi terlihat sekali kalau wanita itu sedang menutupi kesedihan yang sangat besar.
"Namaku Reza, kamu juga pasti wanita kuat, mau pergi bersama dengan ku? aku mempunyai rumah yang aku persiapkan untuk orang yang aku cintai dan aku ingin hidup bersamanya selamanya, tetapi dia menolak diriku, aku tidak tau rumah itu akan aku apakan, apa kamu mau tinggal disana? aku akan menemanimu, seperti nya terdengar bagus, dua hati yang terluka tinggal bersama disebuah rumah untuk saling menyembuhkan" ujar Reza mengulurkan tangannya
__ADS_1
"Aku sedang mengandung, tetapi suamiku tidak mau janin ini dan memaksaku untuk mengaborsi nya, kalau tidak dia akan menceraikan ku, bahkan resepsi pernikahan kami belum terlaksana, tetapi kenapa harus seperti ini, namaku adalah Dena" mereka lalu berjabat tangan.
"Aku tidak akan memaksamu, pikirkanlah sendiri, kamu lebih memilih suamimu atau janin yang ada dikandunganmu, kalau kamu ingin ikut bersamaku, besok aku berangkat jam 10, aku tunggu disana, semoga apapun pilihanmu, kamu tidak akan menyesal di kemudian hari, aku pergi dulu, terimakasih atas coklatnya" ujar Reza lalu pergi dari sana.