
Devan memboyong istri dan anaknya ke Jogja setelah lebih sebulan tinggal dirumah orang tuanya, tadinya Rafa diminta untuk tinggal bersama kakek dan neneknya tapi Cahya tidak bisa berpisah lama dengan Rafa.
Mereka menuju rumah Devan, rumah penuh kenangan saat Devan memaksa Cahya menerima tubuhnya karena terlalu lelah menunggu kepastian dari Cahya waktu itu.
Disana hanya ada dua kamar, jadi tidak mungkin mencari baby sitter yang menginap, lagipula Cahya tidak mau sepenuhnya Rafa diasuh baby sitter, dia tetap ingin mengasuh anaknya dan menemani tumbuh kembang anaknya itu, dia hanya mencari baby sitter untuk siang hari.
Cahya mulai mendaftar lagi untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat terhenti, setiap pagi dia akan diantar Devan dan Rafa ke kampusnya.
Devan membawa Rafa pulang, dan terlihat baby sitter yang mereka cari sudah ada didepan rumah menunggu tuan rumah.
"Maaf tuan, saya baby sitter yang dipesan nyonya Cahya" ucap seorang ibu yang sudah terlihat setengah baya.
Devan lalu memperkenalkan Rafa, menjelaskan semua tugasnya, dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Semua normal saja dan hari terus berganti, Cahya terus semangat kuliah karena dia ingin cepat menyelesaikan kuliahnya agar saat Rafa memasuki sekolah PAUD atau TK dia sudah menyelesaikan study nya jadi tidak membutuhkan baby sitter lagi.
Hari itu yang datang bukan baby sitter biasa nya, yang datang adalah anaknya yang katanya di utus ibunya untuk menggantikan nya karena ibunya sedang sakit.
Sepertinya gelagat suster itu sudah terbaca oleh Devan, dari bajunya yang tidak biasa untuk seorang suster dan bahasanya yang terlalu dibuat-buat.
Selama Devan ditinggal Cahya, dia sudah menemui banyak wanita macam ini, wanita yang ingin menggodanya.
Siang itu Devan sedang bermain bersama Rafa saat tiba-tiba suster itu mendekati nya, pura-pura mengambil Rafa untuk tidur siang, suster itu dengan sengaja sedikit menggesekkan dadanya pada Devan, karena posisi Rafa ada dipangkuan Devan.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja" ucap suster itu dengan suara yang dibuat manja.
Devan tidak menjawab, dia hanya membiarkan Rafa diambil suster itu, lalu Devan masuk ke kamar untuk mandi dan berganti baju, dia merasa jijik, dia tidak lupa mengunci pintu kamarnya.
Setelah selesai mandi dia langsung keluar untuk memeriksa Rafa, dia lalu menuju kamar Rafa, Devan kaget saat terlihat suster itu semakin menurunkan belahan bajunya disebelah Rafa yang sudah tidur, pandangan nya penuh dengan godaan memandang Devan.
Devan memalingkan pandangan nya dan keluar rumah, membuka pintu rumah lebar-lebar.
"Begitu banyak polusi dirumah"ucapnya lirih
__ADS_1
Jam menunjukkan waktunya menjemput istrinya pulang kuliah, karena Rafa masih tidur dia lalu pergi begitu saja.
Didalam mobil Cahya masih terus sibuk mengerjakan tugas-tugas nya, Devan sebenarnya tidak mau Cahya kuliah lagi, tapi dia tidak sanggup menolak keinginan istri tersayang nya itu.
Sampai dirumah Cahya langsung mencuci tangan dan langsung mencari anaknya, terlihat Rafa yang baru bangun tidur, digendong oleh susternya dengan bajunya yang masih memperlihatkan dadanya.
Cahya heran melihatnya lalu bertanya,
"Kamu tidak kedinginan memakai baju seperti itu?"
"Tidak nyonya, disini tadi sangat panas" jawab suster itu, Cahya heran lalu melihat kearah Devan seolah bertanya,
"Barang murahan tidak bisa menempatkan cara berpakaian" jawab Devan asal lalu mencium istri dan anaknya, dan masuk ke kamar, dia malas melihat suster itu.
Terlihat suster yang kaget dengan ucapan Devan, dia tidak menyangka usahanya gagal total.
Dia tidak tau kalau Devan mengejar Cahya dengan susah payah dan itulah yang menjadi daya tarik Cahya selain memang Cahya manis dan imut, walau tidak secantik orang lain.
"Ya sudah Suster, kamu boleh pulang" ucap Cahya pada suster itu, karena memang setelah dia pulang, dia yang akan mengasuh dan menemani Rafa.
"Ayy, apa kamu tidak capek, kenapa tidak mencari asisten saja untuk memasak?"
"Tidak, aku masih bisa, itu sudah kewajiban ku, lagian aku mau Rafa hanya makan masakan ku kalau dirumah, entah ayahnya sudah makan apa saat aku tidak ada" ucapan Cahya seperti menyadari sesuatu melihat baju baby sitter nya Rafa tadi.
"Ayy, aku tidak mungkin mau makan sampah, kamu harus percaya padaku, kalau tidak pecat saja suster itu dan jangan biarkan datang lagi" ujar Devan yang tau maksud dari ucapan istrinya itu.
Cahya tidak menjawab lagi, dia keluar menuju dapur untuk memasak, Devan meminta Rafa untuk bermain sendiri sebentar.
Devan memeluk Cahya dari belakang, dia menciumi leher istrinya itu, seperti nya Cahya sudah biasa dengan kelakuan suaminya itu, tapi kali ini dia berbalik dan memandangi wajah suaminya itu.
Dengan berjinjit karena memang Cahya lebih pendek dari Devan, dia memegang kedua pipi suaminya itu,
"Maafkan aku, aku sempat mencurigai mu tadi, aku percaya padamu, tapi saat kamu benar melakukan hal diluar batas, kamu harus siap kehilangan aku dan Rafa" ucap Cahya
__ADS_1
"Tidak perlu anda mengancam ku nyonya, aku hanya bertekuk lutut padamu, dalam semua artian" jawab Devan sambil menggoda Cahya.
Devan meminta Cahya memecat suster itu, atau ibunya yang kembali lagi, kalau sakit kenapa selama ini tidak kembali bekerja, Devan meminta Cahya untuk menanyakan apa memang sakit beneran atau tidak, kalau sakit beneran, tidak perlu mengirim orang lain.
Cahya memeluk suaminya,
"Terimakasih sudah memberikan ku rasa aman, maaf aku belum bisa jadi istri sempurna untukmu" ucap Cahya lalu memeluk suami nya itu.
"Kamu tidak perlu menjadi sempurna, dari dulu yang aku mau hanya kamu, dan selama nya hanya harus kamu yang ada di sisiku" jawab Devan lalu mencium kepala istrinya yang ada di pelukan nya itu.
Paginya ternyata Cahya belum memecat suster itu, karena dia belum mendapatkan pengganti nya, saat suster itu datang, Cahya bersiap ke kampus nya, Rafa belum bangun jadi dia meminta kepada suster itu untuk memandikan dan memberi Rafa sarapan yang sudah dia siapkan.
Devan mengantar Cahya, dia bertanya kenapa tidak memecat suster itu,
"Aku belum dapat penggantinya, nomor ponsel ibunya juga tidak aktif, aku tidak punya cara lain, kamu juga kan harus bekerja" jawab Cahya
Devan yang dulu membuka Cafe untuk mencari Cahya dulu ternyata usahanya maju pesat, bahkan sudah membuka beberapa cabang, dan akhir-akhir ini sedang pembukaan cabang baru, jadi memang dia agak sibuk.
Setelah mengantar istrinya, Devan lalu menuju rumahnya, terlihat Rafa yang sudah mandi dan sudah makan, dia bermain bola didepan rumah, suster itu kaget karena melihat kedatangan Devan yang tiba-tiba, saat itu dia sedang berciuman dengan asisten rumah, tetangganya Devan.
Devan tidak memperdulikan, dia hanya langsung menuju anaknya, menggendongnya lalu membawanya masuk rumah.
"Tuan maafkan saya" ujar suster itu
"Kamu tidak melakukan kesalahan padaku tapi kesalahan mu sangat besar pada Rafa, kamu memperlihatkan tontonan yang tidak pantas untuk anak sekecil ini dan kamu melepas tanggung jawab mu dan membiarkan nya main sendirian, untuk apa kami menggaji mu selama ini, sekarang kamu pergi dari sini dan jangan kembali lagi, kalau ibumu masih mau bekerja, silahkan datang tapi kami tidak butuh pengganti yang tidak layak untuk mengasuh Rafa!"
Devan marah dan langsung mengusir suster itu, terlihat suster itu yang juga kesal, tapi dia tidak pergi malah masuk ke kamar Rafa
Rafa takut melihat ayahnya marah dia lalu menangis, tapi untung tidak lama karena Devan bisa menenangkan anaknya itu.
Sampai siang hari, suster itu tidak keluar kamar, dan Devan juga tidak mau mencarinya, hingga dia yang mengasuh dan menemani Rafa dari tadi yang membuatnya tidak bisa bekerja.
Waktu menjemput istrinya telah tiba, sudah tentu Devan tidak menunggu waktu lama untuk menjemput istrinya, tidak lupa Rafa dibawa.
__ADS_1
Tanpa dia sadari, suster itu telah merencanakan sesuatu disaat kepergian nya menjemput Cahya.