Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Lamaran Resmi


__ADS_3

Sudah 3 hari Cahya dirumah Devan, dan dia hanya makan, tidur dan melayani Devan di kasur, mereka sudah seperti pengantin baru, Devan juga tidak pernah ke cafenya dan hanya dirumah bersama Cahya.


Hari itu sudah sore, Cahya tiduran di sofa sambil memainkan ponselnya, dia berkirim pesan sama Tuti, lalu Devan mendekatinya, mengangkat kaki Cahya dan memangku nya.


"Serius banget Ayy, siapa itu?"


"Aku berkirim pesan sama tuti"


"Masih sakit tidak?" Devan mengucapkan itu sambil memegang bagian bawah Cahya, tentu saja Cahya kaget dan melepaskan pegangan Devan dari bagian itunya.


"Aku sudah merasakan nya, tidak perlu malu, ini hanya milikku"


"Devan, malam ini jangan lakukan itu lagi ya, biarkan aku pulih dulu"


"Tidak mau, pokoknya aku harus melakukan nya, kamu akan sembuh karena terbiasa"


"Devan, aku bisa hamil kalau terus begitu, apalagi kamu melakukan nya tanpa pengaman"


"Memang itu tujuan ku" ujar Devan lalu mengelus perut Cahya.


"Sehat ya anak ayah, jangan nakal dan jangan merepotkan mama, kalau butuh apapun bilang ke ayah" Devan berbicara sambil melihat perut Cahya dan terus mengelusnya.


Cahya tidak membalas apapun dia hanya berkata ingin ke Bandung, Devan mengizinkan nya dan akan mengantar besok sore setelah dia membelikan baju untuk Cahya.


Malam itu terlewati seperti biasa, Devan yang terus memaksa Cahya menerima semua perasaan dan tubuhnya.


Pagi telah tiba, dan rutinitas mereka tetap sama, siangnya Devan pergi membeli baju untuk Cahya, setelahnya mereka lalu bersiap untuk ke Bandung.


Saat akan memasuki mobil, ada tetangga yang menyapa Devan


"Istrinya cantik sekali, kenapa tidak dikenalkan pada tetangga, mentang-mentang pengantin baru, terus saja didalam kamar"


"Iya ibu, maaf,, nanti lagi akan saya perkenalkan secara langsung dengan semua tetangga disini, sambil berkumpul di rumah makan-makan, kami pamit dulu ya, istri saya pengen ke Bandung, sepertinya ngidam ketemu mamanya"


"Terus digempur sepertinya langsung jadi ni,, Nak Devan bisa saja, ya sudah sana, hati-hati"


Cahya hanya mengangguk dan tersenyum pada tetangga Devan itu karena dia tidak atau belum mengenalnya.


Saat didalam mobil, Cahya bertanya heran,


"Kok ibu yang tadi menyebut aku istrimu?"


"Memang kamu istriku kan? hanya nunggu sah sebentar lagi"


"Dasar gil*,,, urutan nya salah" gerutu Cahya

__ADS_1


Devan tidak menjawab lagi dan focus menyetir, perjalanan masih panjang jadi mereka berhenti di sebuah rest area, saat turun dari mobil, ada sekumpulan cowok yang memperhatikan Cahya.


Sekarang Cahya makin cantik dan tubuhnya sudah mulai terbentuk karena sentuhan Devan selama ini, dia menjadi terlihat sexy dan montok, Devan langsung merangkul Cahya dan pergi dari sana, dia tidak mau mencari keributan, tapi dia melindungi Cahya dari pandangan mereka.


"Duduk dulu, aku akan memesan makanan, dan ini pakai jaket aku"


"Gerah Devan" ucap Cahya


"Pokoknya pake!" ujar Devan


Cahya lalu memakai jaket itu karena Devan terlihat serius.


Tidak lama Devan datang lagi membawa boba kesukaan Cahya, tapi makanan nya belum siap, nanti baru diantar pelayan, sambil menunggu, Devan terus memperhatikan Cahya yang memang terlihat semakin cantik, terlihat sangat matang dan ranum kalau ibarat buah.


"Ada apa" tanya Cahya yang menyadari Devan terus memandangnya.


Devan menggeleng


"Untung kamu sudah milikku sepenuhnya" ucap Devan,


Cahya tidak mengerti maksudnya, jadi dia hanya diam dan kembali meminum boba nya, tidak lama makanan juga datang, setelah mereka makan, mereka melanjutkan perjalanan ke Bandung.


Sudah sangat malam saat mereka sampai ke Bandung, setelah melepas rindu sebentar dengan mamanya, Cahya langsung ke atas menuju kamarnya, Devan tanpa sadar mengikutinya.


Devan kaget lalu menyadarinya, Cahya yang mendengarnya hanya bisa tersenyum, dia menoleh ke arah Devan seperti mengejek menggodanya, Devan pasrah dan masuk ke kamar yang biasa dia tempati di rumah Cahya ini.


Devan tidak bisa tidur, tentu saja karena beberapa malam ini dia selalu minta jatah sebelum tidur, sekarang dia hanya memeluk guling.


Devan mengirim pesan pada Cahya


"Ayy, aku tidak bisa tidur"


Cahya hanya membalas dengan emoticon tertawa


"Awas ya, saat besok tante bekerja, aku akan melakukan nya dua kali lipat dari biasanya"


Cahya tidak menjawab lagi, sepertinya dia ketiduran karena capek setelah perjalanan jauh.


Pagi telah tiba, Cahya menggunakan daster imut nya dan terlihat sangat feminim dengan lekukan tubuhnya yang sempurna dan rambut yang diurai basah karena habis keramas.


Devan tidak kuat melihatnya, apalagi semalam dia benar-benar tidak bisa tidur, tapi dia harus menahan nya karena mama Cahya belum berangkat kerja.


Sebelum mama Cahya berangkat, Devan sempat membicarakan hal serius.


Dan tidak butuh waktu lama setelah mama Cahya berangkat, Devan langsung mendekati Cahya yang sedang cuci piring di dapur bekas tadi mereka sarapan.

__ADS_1


"Ayy, ayo aku sudah tidak kuat lagi, kenapa kamu menggodaku dengan berpakaian seperti ini?" ujar Devan sambil memeluk Cahya


Cahya menyelesaikan mencuci piring, mengelap tangan nya langsung berbalik menghadap Devan.


"Siapa yang menggoda mu, aku selalu seperti ini kalau dirumah, Devan,,, bisa tidak kita jangan melakukan nya lagi sebelum pernikahan kita?"


"Aku janji kali ini saja sebelum pernikahan kita, aku mohon" rengek Devan


Cahya tidak tega atau dia juga ingin, karena tidak munafik dia juga menikmati setiap sentuhan Devan.


Mereka melakukan itu lagi dikamar Cahya, dan benar, Devan melakukan berulang kali karena tadi malam dia tidak dapat jatah.


Cahya sangat kecapean,


"Kamu tadi janji sekali, tapi buktinya" ucap Cahya masih mengatur nafasnya setelah mereka sampai puncak beberapa kali.


"Iya sekali tapi beberapa ronde, hukuman buat kamu karena tadi malam kamu mengejekku dan tidak memberiku jatah sampai aku tidak bisa tidur" ujar Devan sambil tertawa gemas melihat Cahya, dia lalu menciumi wajah Cahya dan berlama-lama di bibirnya.


"Sebentar lagi akan ada yang datang mengantar kan baju lamaran kita dan mendekor rumah ini, kita akan melangsungkan lamaran disini besok, orang tuaku dan keluarga kakek kamu sedang dalam perjalanan kemari"


Cahya kaget mendengarnya karena Devan tidak membicarakan hal ini.


"Kenapa kamu tidak bilang dulu? dan kenapa secepat ini?"


"Kamu mau perut kamu semakin membesar dulu baru kita menikah?"


"Kamu yakin banget kalau aku sudah hamil"


"Kamu meremehkan aku ya Ayy? sepertinya kamu mau lagi? baiklah" tanpa menunggu jawaban Cahya, Devan langsung menyerang Cahya lagi.



Mereka mandi setelah pagi yang panas itu, tidak lama datang rombongan Wedding organizer dan mulai mendekor rumah.



Sore hari mama Cahya pulang, tapi belum selesai proses dekor, baru menjelang malam semua selesai, rombongan keluarga kakek Cahya juga sudah sampai, tapi rombongan keluarga Devan langsung ke rumah Devan.


Devan lalu pamit pulang dulu ke rumahnya yang di Bandung yang dulu dia beli saat Cahya baru kabur kuliah ke Jogja, disana keluarganya sudah sampai dan menunggu.



Pagi itu keluarga Cahya sudah bersiap dan menunggu kedatangan keluarga Devan, Cahya berdandan natural dan menggunakan kebaya simple, tapi sangat terpancar kecantikan nya.


Keluarga Devan tidak lama datang, dengan membawa banyak seserahan, acara hari itu berjalan lancar.

__ADS_1


__ADS_2