Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Bab 8. Saingan datang


__ADS_3

Saat menunggu ojek online, tiba-tiba ada teman nya Devan yang mendekatinya dan bertanya,


"Mau kemana Cahya?


"Aku mau pulang"


"Kenapa tidak minta anterin ke pacar kamu?"


"Pacar apanya, aku tidak punya?"


"Kamu sudah pacaran sama Devan kan?"


"Pacar apa, kita saja baru ketemu lagi"


"Kamu mending aku anterin, dari pada naik ojek"


"Tidak usah makasih, aku sudah pesen jadi tidak bisa dibatalin"


Tidak lama kemudian datang lah ojek online pesanan Cahya, jadi rumah kakeknya susah dijangkau motor kalau yang belum biasa, jadi dia harus turun kebawah ke jalan yang lebih besar.


"Duluan ya" pamit Cahya


"Iya" jawab singkat teman Devan yang entah siapa namanya


Perjalanan ke warung bakso tidak terlalu jauh, sekitar 20 menit, saat sampai disana masih sepi, mungkin karna belum waktunya makan siang


"Ibu, mau bakso satu, pake bihun, satu lagi mie ayam pake bakso"


cahya cukup paham, adiknya sangat suka mie ayam jadi langsung dia pesan kan,


"Minum nya es jeruk satu, teh manis satu bu, terimakasih"


Cahya langsung memesan baru mencari tempat duduk .

__ADS_1


Sambil menunggu pesanan, Cahya memainkan ponselnya walau tidak ada sinyal, dia hanya melihat-lihat dan seperti biasa selfi, jadi di desanya memang sudah dipasang tower jaringan tapi katanya gagal jadi masih berusaha diperbaiki.


Tidak lama kemudian pesanan mereka datang, tapi tidak lama ada yang menghampiri mereka


"Cahya, ternyata kamu disini juga? coba tahu gitu kan tadi bareng"


teman Devan yang tadi ternyata ada juga disitu, dia juga memesan bakso dan tanpa bertanya dia duduk di depan cahya, duduk satu meja bersama.


Tidak mungkin cahya langsung menolak atau melarang kalau sudah begitu.


"Mas Devan" teriak giat tiba2 melihat ke pintu masuk warung, dia langsung berjalan menghampiri Devan,


Lalu Devan mendekat dan langsung duduk disebelah cahya


"Kamu disini juga Rendra? kalau tidak salah tadi malam kamu bilang mau kerumah nenek mu?!" kata Devan bertanya dengan menatap tajam ke arah teman nya yang ternyata bernama Rendra.


"Nanti aku kesana setelah makan dulu di sini, tidak menyangka ternyata ada Cahya juga" jawab Rendra


Tanpa menyadari akan adanya suatu peperangan yang akan segera datang, Cahya makan bakso dengan tenang nya, dia tak peduli dan tidak memperhatikan, memang dia belum makan dari pagi, cuma minum kopi, jadi memang dia pengen makan di sini.


Karena masih mengunyah Cahya tidak menjawab hanya menggeleng,


"Beneran? kamu kayak lagi ke laparan"


"Tidak usah, aku memang tadi kelaparan memang sengaja belum makan, mau makan di sini, tapi tidak sebanyak itu juga makan aku"


"Tapi kamu dulu doyan makan, sampai makanan aku juga kamu makan, kamu dulu kan gembul banget, pipinya gembul,


"Aku tidak inget semua hal itu, jadi tidak perlu diungkit terus"


"Van, Cahya,,, aku duluan ya" tiba-tiba Rendra pamit,


"Iya, hati-hati ya" jawab Cahya

__ADS_1


sementara Devan hanya mengangguk malas


"Apaan sih kamu, sama temen kok jutek gitu, dia baik tau tidak, tadi juga nawarin nganter aku, tapi aku keburu sudah pesen ojek online jadi ya aku tidak enak batalin nya juga" kata Cahya sambil tersenyum


"Kalau belum pesen, kamu mau dianter?"


"Ya tidak lah, aku kan belum kenal dia, gila saja"


"Temen apa yang mau menikung gitu?" gumam Devan


"Menikung gimana maksudnya?"


"Tidak, kamu sudah selesai makan nya?"


"Sudah, nanti tunggu dulu Giat, belum beres dia"


"Sudah ini mau kemana?"


"Mau pulang lah, mau kemana lagi memang nya"


"Ayo, kita main dulu ke pantai"


"Tidak, aku mau ke pantai nanti hari minggu bareng temen aku"


"Pantai mana?"


"Tidak tahu, temen aku yang ngajak, aku ngikut saja"


"Banyakan, atau berdua?"


"Apaan sih kamu, kepo banget, owh iya kenapa kamu ada di sini? apa mau kerumah nenek kamu juga?" tanya Cahya sambil tersenyum.


Devan terdiam, mengingat tadi dia menunggu ditempat janjian nya bersama Giat, ternyata ditunggu lama tidak ada juga, akhirnya dia ke rumah kakek Cahya untuk menjemput takutnya belum berangkat dari rumah, tapi ternyata sudah dan diberitahu kakek Cahya kalau Cahya bakal kesini, yang dia tidak menyangka, ternyata dia melihat teman nya ada disini juga.

__ADS_1


"Tidak, tidak usah bercanda, dan tidak usah senyum-senyum"


Cahya makin tersenyum lebar, entah kenapa sekarang dia sudah nyaman mengobrol bersama Devan.


__ADS_2