Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Lamaran Panas


__ADS_3

"Kamu yakin dia tidak akan lari lagi" tanya bu Retno pada Devan


"Yakin ma, kali ini aku tidak akan membiarkan nya lari lagi dariku" jawab Devan


"Mama sebenarnya tau dari awal waktu dia ke Jogja, mama tau dia tinggal dimana, dan apapun yang dia lakukan mama tau"ibu Retno mulai menceritakan hal yang membuat Devan kaget


"Kenapa mama tidak bilang padaku, mama lihat aku menderita kan selama setahun aku kemarin di Jawa?"


"Mama ingin kamu berusaha sendiri, dan juga ingin tau sejauh apa kamu mencintai nya, mama juga memantau Cahya lewat orang suruhan mama, mama melihat kesungguhan kamu padanya saat dia pergi ke Bali, tapi saat itu mama pikir kamu masih akan berubah perasaan, tapi melihat kamu yang menemukan nya lagi dan masih bersamanya, dari sana mama mulai terus memantaunya, dan Cahya sangat pantas untukmu, dia selalu menjaga dirinya dari godaan, tapi Van, kamu mencari istri untuk menjadi penerus mama, dia akan memikul tanggung jawab besar nantinya di keluarga kita, banyak yang harus dia urus, apa kamu yakin dia sanggup?"


"Dia pasti sanggup, aku akan selalu disampingnya, dia sudah mandiri dari kecil, dia bisa mengerjakan semua sendiri, tapi ma, setelah menikah biarkan kami merantau dulu, entah disini atau di Bandung, aku akan mengikuti kemauan dia mau tinggal dimana, kami ingin pacaran dulu ma, tanpa harus dulu memikirkan tentang, perkebunan, peternakan, dan yang lain, apalagi Rumah Singgah kita" ujar Devan


"Ayahmu sering sakit, mau tidak mau kamu dan istrimu yang harus mengurus semua secepatnya, untuk rumah singgah, sudah pasti itu istrimu yang harus mengurusnya, sekarang mama masih bisa tapi kalau ayahmu sakit, mama harus focus mengurus ayahmu, kamu juga semakin tua Devan, kamu harus secepatnya menikah"


Devan tidak menjawab apapun lagi, untuk menikah sudah tentu dia sangat ingin, bahkan sejak lama dia sudah siap, tapi Cahya yang belum siap.



Devan menjemput Cahya pulang kuliah, dia membawa Cahya ke taman bunga yang pernah mereka datangi, dia ingin mencoba peruntungan nya mengenai suatu hal.



Mereka sudah sampai di taman itu lalu mereka duduk berdampingan,



"Ayy, apa kamu masih belum siap menikah?"


"Nanti setelah aku selesai kuliah"


"Mama ku datang karena memaksaku untuk menikah secepatnya, dia akan mencarikan aku jodoh kalau aku tidak cepat menikah juga"


"Ya sudah kamu menikah saja" ucap Cahya berusaha menahan perasaan nya


"Aku pikir kamu tidak mencintaiku, karena segampang itu kamu mengatakan itu" ucap Devan



Tiba-tiba Cahya mendekati Devan lalu dia mencium Devan, dia melepaskan ciuman itu dan tersenyum walau matanya mulai berkaca-kaca.


"Menikahlah, aku tidak yakin kapan aku siap, seperti yang di ucapkan tante semalam, sekarang aku alasan dengan kuliah, nanti aku akan cari alasan lain lagi, aku mencintaimu, aku bersungguh-sungguh sangat mencintaimu, bahkan saat aku lari darimu aku tidak menerima cinta lain, dan karena aku mencintaimu, kamu menikahlah secepatnya, aku tidak mau kamu tersiksa karena menungguku" Cahya tidak bisa lagi menahan air matanya, dia berusaha tersenyum ditengah tangisan nya dan sedikit menjauh dari Devan.



Devan tidak menyangka dengan jawaban Cahya, dia langsung mendekat ke Cahya dan langsung mencium nya, dia melepas ciuman itu tapi dia tetap menahan Cahya agar tetap melihatnya.

__ADS_1


"Aku sangat tersiksa menunggumu, tapi bukan kah aku mampu melewatinya selama ini, kedepan nya ayo kita lalui apapun bersama lagi, jangan lari dariku lagi, aku mohon"


"Bukankah kamu harus menikah, kamu ingin menjadikan ku apa kalau aku tidak boleh pergi?"


"Dasar Bodo\*,, aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali kamu"


"Lalu yang tadi kamu bilang?"


"Aku hanya ingin tau seberapa besar cintamu"


Cahya kesal dan langsung bangun dari duduknya bertumpu pada kedua lututnya dan memukuli Devan, tapi tangan nya lalu ditahan dan Devan menarik kedua tangan Cahya, hingga Cahya jatuh ke pangkuan nya, dia melingkarkan kedua tangan Cahya ke belakang lehernya, dia lalu mencium Cahya dengan penuh kelembutan.



Devan lalu mengantarkan Cahya pulang, dia juga memberitahu Cahya untuk tidak datang ke cafenya besok karena besok akan mengantar mamanya pulang dulu.



Devan bilang hanya satu hari tapi nyatanya sudah seminggu dia belum juga kembali, Cahya jadi berfikir yang bukan-bukan.


"Dia mungkin sedang melangsungkan pernikahan nya disana" Cahya sedih, tapi kalau memang itu kenyataannya, bukankah kemarin dia yang menyuruhnya, dia jadi kesal pada dirinya sendiri.


Hari itu dia dengan lesu pulang dari kuliahnya, Devan sudah menunggunya, Cahya kaget dan langsung mendekatinya,


"Kenapa ada disini? mau kenalin istrimu ya" Cahya celingukan mencari seseorang disekitar Devan dan juga didalam mobilnya


"Kamu bilang cuma sehari tapi seminggu, aku pikir kamu menikah beneran"


"Iya, aku akan menikah secepatnya, sekarang cepat masuk ke mobil"


"Tidak mau"


"Jangan buat keributan disini Ayy"


Cahya menurut lalu masuk kedalam mobil karena banyak yang memperhatikan mereka, Devan membawa Cahya ke rumahnya, Cahya sudah paham jalanan nya karena sudah dua kali kesana, saat sudah sampai seperti biasa dia ragu masuk tapi kali ini dia ragu bukan takut ke Devan.


"Apa didalam ada calon istrimu? jangan sekarang kalau mau kenalin ke aku, aku belum siap"


"Yang kamu siap apa? semua serba tidak siap, mana kata-kata keren kamu yang menyuruh ku menikah?"


Cahya manyun mendengarnya, dia lalu berusaha menata hatinya, dan berjalan mengikuti Devan, tidak terlihat ada siapapun di ruang tamu, Cahya lalu duduk di sofa.


"Tegang amat Ayy" ujar Devan


Cahya tidak menjawab karena memang dia tegang, Devan masuk ke kamar, Cahya mengatur nafasnya dan mengambil ponselnya untuk sekedar menutupi kecanggungan nya.

__ADS_1


Devan keluar dari kamar, Cahya memejamkan matanya sebentar lalu membuka matanya untuk bersiap akan apapun yang akan terjadi, dia menoleh ke Devan yang ternyata membawa buket bunga mawar, Devan mendekati Cahya dan memberikan bunga itu, Cahya refleks bangun dari duduknya


"Ayy, menikahlah denganku" Devan mengeluarkan kotak cincin, lalu memasangkan cincin itu dijari Cahya.


Cahya masih diam, Devan lalu mendekati Cahya, meletakkan bunga yang dipegang Cahya ke meja dan langsung mencium Cahya, pada awalnya ciuman itu sangat lembut tapi menjadi semakin panas.


Devan terus mencium Cahya sambil mendorong nya pelan menuju kamar, Cahya kaget saat memasuki pintu kamar, dia menyadari sesuatu dia berusaha keluar kamar tapi Devan lebih cepat, dia langsung menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Van, ini tidak benar, iya aku mau menikah dengan mu secepatnya tapi sekarang buka dulu pintunya"


Devan tidak menjawab apapun, dia memeluk Cahya dan membisikkan sesuatu,


"Aku mencintaimu, jangan takut, aku akan melakukan nya dengan lembut"


Cahya berontak mendengarnya, dia berusaha kabur tapi Devan langsung mengambil kunci pintu itu dan melemparnya ke atas lemari.


Devan seperti tidak peduli apapun lagi, dia langsung mencium Cahya dan mendorongnya ke kasur, sekuat apapun Cahya melawan dia tidak akan pernah bisa melawan Devan.


Cahya menjerit saat Devan memaksa memasukinya, itu sangat menyakitkan, Cahya menangis,, Devan mencium dan menggigit bibir Cahya agar Cahya sedikit melupakan rasa sakit di bagian bawahnya.


Devan terus melakukan yang dia impikan dari dulu dengan Cahya, dia lelaki normal, sungguh selama ini dia sangat tersiksa karena Cahya terus menolak dinikahinya, hari ini dia memaksa Cahya menerima segala nya, baik itu cinta atau tubuhnya.


Cahya masih terus menangis sambil memejamkan mata menahan sakit, Devan menciumi matanya dan seluruh wajah Cahya, Devan semakin mendekati ambang batasnya, dia lalu semakin mempercepat gerakan nya, Cahya semakin keras menangis, Devan menutup mulut Cahya dengan mulutnya, hingga akhirnya benih itu tertanam di rahim Cahya.


Devan memeluk Cahya erat, dia lalu mencium kening Cahya


"Aku tidak akan minta maaf, Karena aku sadar melakukan nya, terimakasih Ayy, aku mencintaimu"


Cahya sudah tidak bisa menangis lagi, dia hanya diam, dia benar-benar sudah habis kali ini, dia hanya diam saat Devan turun dari tubuhnya dan memeluknya.


Devan melihat darah berceceran, tapi dia tidak memperdulikan nya, dia menutup nya dengan selimut, tapi tentu dihatinya sangat bahagia, lalu mengambil selimut lain untuk menyelimuti Cahya, dia tau Cahya shock, jadi dia hanya menyelimuti dan memeluknya.


Devan tertidur tapi Cahya belum bisa tidur, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Devan, Dia berusaha bangun walau bagian bawahnya sangat sakit, Devan terbangun karena gerakan Cahya.


"Mau kemana Ayy, aku bantu kalau mau ke kamar mandi"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" Cahya sedikit berteriak mengucapkan nya


Tapi saat akan berjalan, sungguh sangat sakit, dia harus berjinjit, tapi Devan langsung menggendong nya dan membawanya ke dalam kamar mandi, dia lalu keluar dari sana, tapi sebelum pergi dia menggoda Cahya,


"Perlu aku bantu juga didalam" kata Devan jahil, Cahya tidak menjawab dan langsung menutup pintu dengan keras.


Devan tidak marah melihat Cahya seperti itu dia malah tersenyum, dia lalu melihat sprei nya yang banyak bercak darah, dia lalu menggantinya dengan cepat sebelum Cahya keluar dari kamar mandi, dia melipat sprei itu dan menyimpannya disebuah kotak.


Saat Cahya membuka pintu kamar mandi, dia langsung mendekatinya dan menggendong Cahya kembali ke kasur.

__ADS_1


"Istirahat dulu, aku akan membuat makanan sebentar"


__ADS_2