
Cahya terbangun saat hari sudah semakin siang, dia menggeliat dan melihat suaminya yang masih tertidur, Cahya melepaskan pelukan Devan dan bangun tetapi belum sempat dia turun dari ranjang nya, Devan sudah menarik tubuhnya kembali.
"Sudah saatnya bangun, bukankah kamu harus ke pembukaan cafe?"
"Tidak perlu, lebih baik aku dirumah saja dari pada pulang-pulang istriku diambil maling"
"Tidak perlu berlebihan, aku tidak secantik itu"
"Tidak semua pria tertarik hanya dengan kecantikan, apalagi kamu itu selalu berubah-ubah, kadang cantik, selalu terlihat manis, kadang juga imut, jadi tidak pernah bosan melihatmu, kamu itu paket komplit"
"Kamu pikir aku jamu?" ucap Cahya sambil tertawa
Devan langsung memeluk Cahya erat, Cahya juga membalas pelukan suaminya, hari ini Devan mengajak Cahya untuk kembali memeriksa kondisi rahim nya, apapun kondisinya sekarang, setelah pemeriksaan itu mereka akan kembali ke Indonesia.
"Aku lupa kalau masih harus menghadiri acara pernikahan Dena, kita pulang ke Indonesia kalau sudah selesai acara pernikahan Dena ya sayang" ujar Cahya pada suaminya, kemarin memang dia yang meminta untuk segera pulang ke Indonesia, kemarin dia lupa dengan acara pernikahan Dena.
"Apa kamu harus hadir?" tanya Devan
"Iya sayang tentu saja aku harus hadir, kalau tidak kasian Dena, lagipula tidak lama lagi acara nya" jawab Cahya lalu turun dari ranjang
"Aaaawwwhhh!" pekik Cahya, saat kakinya menapak di lantai dan melangkah, bagian bawah nya terasa linu, Cahya langsung duduk ditepi ranjang.
"Devan, apa kamu terus melakukan nya saat aku tidur? kenapa sangat linu"
"Iya, dan kamu terus mendesah dalam tidurmu"
"Kenapa kamu semakin gila?" ujar Cahya kesal
"Iya, aku tergila-gila padamu dari dulu dan selamanya" jawab Devan lalu menggendong istrinya ke kamar mandi.
"Kamu benar tidak akan ke cafe?" tanya Cahya saat mereka sedang sarapan
"Tidak perlu, aku akan memberikan sepenuhnya cafe itu untuk Renal, tadinya aku hanya meminta Renal untuk mengelola nya, tetapi aku berikan saja untuknya"
"Kenapa, bukankah kamu ingin memiliki cafe diluar negeri?"
"Tidak Ayy, aku akan terlalu sibuk, tidak ada habisnya untuk mengejar uang, sekarang aku hanya mau terus bersamamu, selama ini aku sudah cukup bekerja keras"
"Devan,, kalau aku tidak bisa mempunyai anak lagi bagaimana?" tanya Cahya
__ADS_1
"Pasti bisa Ayy"
"Seandainya Devan, ini seandainya saja, maksudnya kalau aku tidak bisa hamil lagi, apa yang akan kamu lakukan?"
"Ayy, kita bisa melakukan cara lain, misalnya kita adopsi anak"
"Tidak Devan, itu berarti bukan anak kamu, aku tau kamu mau anak dari darah mu sendiri"
"Ayy, setiap orang punya keinginan tetapi belum tentu harus terwujud, sudahlah Ayy jangan terlalu dipikirkan, habiskan sarapan mu"
"Apa kita bisa mencari rahim sewaan?"
"Ayy, jangan berlebihan dalam berfikir, aku hanya mau anak dari rahim mu"
"Aku tidak bisa Devan" Cahya mulai menangis, dia takut kalau dia benar-benar tidak akan bisa mengandung lagi, karena sudah terlalu lama tetapi dia masih belum sembuh juga.
Devan mendekati istrinya dan menenangkan nya,
"Seharusnya aku tidak kembali, dan membiarkan mu menikah dengan yang lain" Cahya semakin keras menangis
"Ayya, jaga bicaramu, kamu sudah terlalu berlebihan, kita sudah mempunyai anak, kita hanya perlu merawat Rafa dengan baik, sudah sayang tenanglah" Devan memeluk istrinya.
"Ayy, kamu kenapa masih terus melakukan hal itu? kamu beralasan melakukan itu karena takut bosan saat aku bekerja, sekarang aku sudah tidak bekerja, aku selalu dirumah bersamamu tetapi kamu malah sibuk dengan laptop mu" ujar Devan yang mulai kesal karena istrinya sibuk sendiri
"Sudah tanggung, aku selesaikan satu novel yang sedang aku selesaikan nanti aku akan berhenti" jawab Cahya.
"Ya sudah cepat selesaikan dan cepat berhenti, aku akan memeriksa semua pekerjaan ku dulu" Devan juga mulai membuka laptopnya untuk memeriksa semua usaha dan bisnisnya yang ada di Indonesia.
Cahya merasa capek lalu ingin beristirahat sebentar sebelum mempersiapkan untuk makan siang, Cahya ketiduran di sofa dan terbangun saat terdengar bunyi kompor dinyalakan.
"Kamu bikin apa?" tanya Cahya mendekati suaminya
"Ini, aku bikin telor ceplok, sudah lama aku tidak memakannya, apa kamu lelah?" tanya Devan melihat istrinya yang terlihat agak lemas
"Tidak, aku hanya merasa malas melakukan sesuatu" Cahya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya biar merasa lebih segar, Cahya kaget saat dia buang air kecil, ternyata dia kedatangan tamu bulanan, pantas saja dia sangat sensitif dan menjadi gampang menangis, tetapi kali ini rasanya tidak sakit, hanya linu saat tadi bangun pagi.
Cahya tidak mengatakan pada Devan kalau dia datang bulan, Cahya berganti baju karena yang tadi sedikit kotor terkena darah, dia memakai daster imutnya yang sudah lama tidak dia pakai, saat keluar kamar Cahya langsung tiduran di sofa dan tidak membantu suaminya menyiapkan makan siang.
Devan melihat istrinya yang sudah berganti baju, Devan langsung mendekati istrinya.
__ADS_1
"Ayy, aku tau kamu mau menunjukkan kalau kamu lebih enak dan menggoda dibanding makanan apapun di dunia ini, tetapi jangan lakukan sekarang sayang, bukankah kamu masih linu?"
"Maaf saja ya tuan Devan terhormat, pikiranku tidak sama denganmu, aku memakai daster ini karena lebih nyaman saat aku kedatangan tamu bulanan, jadi gampang untuk mengganti pembalut"
"Apa kamu bilang?" tanya Devan
"Yang mana, banyak yang aku bilang barusan" jawab cahya heran
"Kamu kedatangan tamu bulanan?" tanya Devan memastikan yang dijawab anggukan malas oleh Cahya lalu Cahya kembali tiduran di sofa bermalas-malasan, Devan lemas mendengar istrinya kedatangan tamu bulanan, dia lalu kedapur kembali dengan langkah gontai.
"Ini minum dulu sayang, biar perut kamu hangat" Devan menyodorkan gelas berisi air gula merah, dia barusan searching di google minuman yang baik saat wanita datang bulan.
"Terimakasih" Cahya langsung meminumnya dan langsung habis
"Sayang, bisakah membantu ku untuk membeli pembalut dan bihun kuah pedas" pinta Cahya
"Ayy, kenapa tidak memesan online saja, aku kan,,,," Devan tidak melanjutkan ucapan nya karena melihat wajah istrinya yang berubah tidak bersahabat mendengar ucapannya.
"Baiklah sayangku, aku akan membelinya sendiri, apa ada yang lain lagi yang ingin kamu makan, tapi sayang, aku sudah menyiapkan makan siang, bihunnya untuk besok ya" ucap Devan hati-hati, Cahya tidak menjawab dan kembali tiduran di sofa.
"Apa sakit sekali Ayy?" Devan ingat waktu itu Cahya mengatakan kalau dia kesakitan saat datang tamu bulanan.
"Tidak, aku hanya merasa malas saja, cepat belikan sayang ku, kenapa kamu masih diam disini?!" Cahya berubah menjadi sedikit galak dan tidak sabaran.
Devan membeli pesanan istrinya di minimarket terdekat, saat dia sedang memilih pembalut di etalase, Sari tiba-tiba datang dan langsung memeluknya erat dari belakang, Devan langsung menghempaskan tubuh Sari yang membuat tubuh Sari terpental kebelakang, tetapi Sari sudah tidak mempunyai harga diri lagi, bahkan ditempat umum seperti itu, Sari langsung kembali berjalan cepat mendekati Devan dan langsung mencium Devan, Devan lalu marah dan mendorong tubuh Sari ke tembok.
"Jangan sentuh aku, kamu sangat murahan!" teriak Devan dan langsung pergi meninggalkan Sari dengan geram.
Sari tersenyum, lalu mendekati Heri yang dari tadi bersembunyi di etalase sebelahnya sambil memegang ponsel, mereka tertawa bersama melihat hasil jepretan Heri, tidak butuh waktu lama foto itu sudah sampai di ponsel Cahya, Karena Heri mempunyai nomor ponsel Cahya.
Foto berpelukan, ciuman dan bahkan angle foto saat Devan mendorong Sari ke tembok yang terlihat dari belakang, membuat nya terlihat seperti Devan yang terus menciumi Sari.
Cahya lunglai dan menjatuhkan ponselnya berbarengan dengan kedatangan Devan,
"Ayy, ini semua pesanan mu, aku membelikan banyak sekali coklat" Devan meletakkan belanjaan nya dimeja tapi saat melihat istrinya, Cahya sudah berurai air mata yang membuat Devan kebingungan dan tanpa sengaja melihat ponsel Cahya yang terjatuh dalam kondisi masih memperlihatkan foto yang membuat Cahya shock, Devan mengambil ponsel itu agar melihat dengan jelas.
"Ayy, ini tidak seperti yang kamu lihat, sayang percayalah padaku" ucap Devan langsung memegang tangan Cahya.
Cahya terus mengeluarkan air matanya tapi tidak bersuara dan terus melihat kearah Devan.
__ADS_1