
Reza & Dena
đđđđđđđđđđ
"Dena, aku mau berangkat bekerja, apa ada yang kamu butuhkan? nanti aku akan membawanya saat pulang"
"Bisakah kamu membawaku berbelanja kebutuhan dapur? karena tidak mungkin kamu yang membelinya, kamu cukup mengantarkan ku saja"
"Baiklah tunggu aku pulang, kamu beristirahat lah"
Dena mengantarkan Reza sampai depan pintu, Dena lalu mulai melihat kembali kondisi sekitar rumah itu, tetangga yang berjauhan, Dena lalu memasuki sebuah ruangan, dia sangat kaget karena kamar itu terlihat seperti kamar seorang anak, Dena heran karena Reza belum memiliki anak atau bahkan istri.
Hiasan kamarnya sangat sederhana tetapi rapi dan sangat nyaman, dengan banyak mainan robot dan segala pernak pernik khas anak laki-laki, ada ranjang mungil yang di desain seperti sebuah mobil balap yang di atasnya tertulis nama dengan ukiran yang sangat mewah, RAFA,, itulah yang tertulis di atas ranjang mungil untuk anak-anak.
"Siapa Rafa? apa itu nama anak yang akan dia berikan pada anaknya nanti? tetapi ini aneh karena ini terlihat sudah benar-benar di siapkan untuk anak yang sudah lahir" Dena terus melihat kamar itu, hingga sesuatu membuat nya kaget
"Ayya? ini foto Ayya, kenapa ada disini?"
Foto itu memperlihatkan Cahya yang sedang berdiri di depan pohon mawar, terlihat perut Cahya membuncit, foto itu sepertinya diambil secara diam-diam, karena Cahya tidak menghadap pada kamera.
"Benarkah ini Cahya? tapi untuk apa dia ada disini? mungkin hanya mirip saja" batin Dena, lalu keluar dari kamar itu dan keluar rumah untuk mencari udara segar.
Seperti desa pada umumnya, suasananya sangat tenang dengan udara yang masih sangat sejuk, Dena berjalan-jalan di sekitar rumah itu, lalu cepat kembali lagi karena takut kesasar, sesampainya di dalam rumah, Dena hanya bisa terus menonton televisi atau memainkan ponselnya untuk sekedar mengisi kejenuhan.
"Dena, Dena!!"
Reza sudah pulang dari pekerjaannya, disaat Dena ketiduran di sofa karena menonton televisi.
"Kenapa kamu sudah pulang lagi, inikan masih siang?"
"Ini sudah sore, lihat saja itu jam di dinding"
Dena lalu bangun karena ternyata memang sudah sore, dia langsung dengan cepat bangun dan bersiap.
Mereka sampai disebuah pasar tradisional yang menjual banyak aneka sayuran dan sembako, terlihat Dena yang ragu untuk memasuki tempat itu,
"Ayo cepat, nanti keburu malam" ujar Reza lalu dengan cepat masuk kedalam pasar tradisional itu, Dena hanya bisa mengikuti.
"Apa kamu selalu belanja disini? apa di daerah sini tidak ada supermarket?" tanya Dena pada Reza yang berhenti disebuah toko sembako
"Ada tapi jauh" jawab Reza singkat
Flashback
"Kakak, kita mau apa kesini?"
"Bukankah tadi kamu bilang mau belanja?"
__ADS_1
"Aku mau beli sayuran, kenapa ke supermarket? di sini pasti mahal-mahal, lebih baik kita ke pasar"
"Kamu tidak perlu memikirkan tentang masalah itu, nanti aku yang akan membayar semuanya"
"Aku tidak mau kakak, aku mau ke pasar, lagi pula di sana lebih banyak pilihan"
Reza lalu mengikuti kemauan Cahya dan mengantarkan nya ke pasar, Cahya sangat antusias didalam pasar apalagi harganya yang sangat murah, Cahya memborong banyak sayuran
"Istrinya masih terlihat kecil dan imut, tapi pintar berbelanja, apa kalian pengantin baru?" tanya salah satu pedagang
"Iya" jawab Reza lalu tersenyum jahil melihat kearah Cahya
"Buk,,,," Cahya tidak melanjutkan ucapannya karena pandangan matanya teralihkan oleh toko yang menjual banyak sekali bakso mentah, Cahya langsung berlari mendekati,
"Yayang jangan berlari!" Reza langsung mengejar Cahya
"Lihat kak, banyak sekali bakso, aku mau bikin yang pedas, apa kakak mau aku buatkan?"
Reza mengangguk sambil tersenyum senang, mereka lalu segera kembali setelah selesai berbelanja
"Kakak seperti biasa tunggu disini sebentar, nanti setelah selesai akan aku bawa keluar baksonya"
"Aku hanya membantu membawa masuk kedalam semua belanjaan, ini berat Yayang" pinta Reza
"Tidak kak, aku bisa membawanya sedikit demi sedikit, sudah sana kakak tunggu dulu di kursi itu"
Reza tidak pernah di izinkan masuk kedalam rumah tempat tinggal Cahya karena Cahya tidak mau terjadi fitnah.
"Taaarraaa,,, sudah matang,, bakso pedas ala chef Cahya!" Cahya membawa nampan berisi dua mangkuk berisi bakso yang aromanya harum membuat Reza tidak sabar untuk segera mencoba nya.
"Kamu sangat pintar memasak, belajar dari mana?" tanya Reza di sela mengunyah
"Aku hanya terbiasa, dari kecil aku sudah mandiri"
"Kamu sangat pas untuk dijadikan istri" canda Reza yang membuat Cahya terdiam karena mengingat Devan, Reza sadar dia telah salah bercanda, dia mencoba cara lain supaya Cahya tidak sedih lagi
"Aaaauuuuwwww, perut aku sakit" Reza berteriak dan memegangi perutnya
"Kakak kenapa? aku juga makan tapi aku tidak kenapa-napa" Cahya panik lalu mendekati Reza, tetapi saat Reza tanpa sengaja memegang tangan Cahya membuat Cahya kembali mundur, Reza sadar lalu tertawa agar tidak terjadi kecanggungan
"Hahaha, kamu tertipu"
"Kakak ini, aku sangat panik, bagaimana kalau bayiku lahir prematur karena kaget"
"Maaf Yayang, aku cuma bercanda, aku hanya mau minta tambah, aku akan mengambilnya sendiri ya kedalam, nanti kamu capek kalau bolak balik"
"Tidak kakak, tidak boleh, sini mangkuk nya biar aku ambilkan lagi, memang kakak tidak takut apa, disini banyak CCTV berjalan, saat kita tidak bisa menjaga diri, mereka bisa langsung menangkap kita" Cahya berkata pelan lalu cepat masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan bakso lagi untuk Reza
__ADS_1
"Tidak masalah Yayang, mau digerebek atau apapun itu, asal aku bisa selalu bersamamu, kesederhanaan mu, ceriamu, dan kamu yang selalu menjaga diri, membuat ku sangat kagum padamu, entah sejak kapan perasaan ini,,,, Yayang,, sepertinya aku menyukaimu" batin Reza dengan terus memperhatikan Cahya yang masuk kedalam rumah
Flashback End
đđđđđđđđđđđđ
"Disini lebih banyak pilihan sayuran dan yang lainnya" Reza lalu mulai memilih apa saja yang dia butuhkan.
"Dia bukan Yayang, aku harus sadar itu" batin Reza melihat kearah Dena yang sedang sibuk memilih bumbu-bumbu instan supaya mudah dalam memasak.
Sesampainya di rumah, Dena lalu memasak tetapi masakan nya gosong, Reza hanya diam dan memakannya walau akhirnya dia tersedak, Reza lalu membuat mie instan ala Cahya dengan banyak toping cabai dan sayuran
"Waahh, kamu pintar memasak ternyata" Dena takjub melihatnya, untung saja Reza membuat dua mangkuk
"Ini sangat nikmat dan segar, seperti nya aku pernah makan yang seperti ini, dulu sahabat ku selalu menjadi Chef setiap ada acara kumpul-kumpul atau camping, karena masakan nya sangat enak, nama sahabatku itu adalah Cahya" ucap Dena bercerita sekaligus memancing reaksi Reza, Dena hanya penasaran dengan foto yang ada dikamar yang tadi dia lihat, apa itu Cahya yang dia kenal atau bukan.
Reza menatap Dena,
"Makan yang benar dan jangan terlalu banyak berbicara"
Dena kaget dengan reaksi Reza, itu tandanya foto itu bukan Cahya atau Reza mencoba melupakan Cahya, batin Dena terus bertanya-tanya.
"Dena, mari hidup di sini bersama tetapi jangan mencampuri urusan kita masing-masing" apa yang dikatakan Reza membuat Dena terdiam karena dia hanya ingin tau saja, karena kalau itu benar adalah Cahya, tentu saja Reza tidak ada kesempatan sama sekali, karena dia tahu betul bagaimana setia nya Cahya dan begitu besarnya cinta Devan untuk Cahya.
"Maaf, aku hanya ingin tau saja, apa benar kalau wanita yang kamu cintai adalah Cahya?"
"Kamu mungkin sudah membaca nama itu tertulis atau terukir di dalam rumah ini, tetapi tidak ada urusannya dengan dirimu" Reza bangun dari duduknya, tetapi Dena terus berusaha mencari tahu,
"Aku tidak hanya melihat namanya, tetapi aku benar mengenal seseorang yang bernama Cahya" Dena lalu membuka ponselnya dan berusaha mencari sesuatu, setelah itu dia menunjukkan pada Reza
"Apa ini Cahya yang sama atau berbeda?" tanya Dena sambil memperlihatkan foto Cahya yang sedang bermain basket saat sekolah dulu, Reza langsung mengambil ponsel Dena dan terus melihat foto-foto Cahya yang ada di ponselnya Dena, Reza meneteskan air matanya lalu menyerahkan kembali ponsel Dena dan dia langsung masuk kedalam kamar nya.
"Apa yang terjadi? berarti benar kalau yang dicintai nya adalah Cahya sahabatku?" gumam Dena melihat punggung Reza yang berjalan lunglai ke kamarnya.
Reza memasuki kamar nya, ada ukiran nama Cahya di atas ranjang tempat tidurnya, dan banyak pigura dengan foto Cahya di atas meja.
Reza menahan dan memegangi dadanya yang terasa sangat berat, matanya mulai memanas, Reza tiba-tiba berteriak dan mengobrak-abrik meja yang penuh dengan foto Cahya itu, Dena mendengar dari luar tetapi tidak berani mendekati Reza untuk menghiburnya
"Tentu saja sampai kapanpun kamu tidak akan ada kesempatan Reza kalau yang kamu cintai adalah Cahya sahabatku, lebih baik kamu marah sekarang supaya kamu cepat move on darinya"
Dena hanya mencoba membantu agar Reza melupakan cintanya kalau itu memang Cahya sahabatnya, tetapi kalau bukan Cahya sahabatnya, pada awalnya dia mau membantu Reza mendapatkan nya.
__ADS_1
"Apa yang dulu kamu lakukan Ayya? jasa besar apa yang kamu lakukan sehingga dua pria yang sangat bertanggung jawab tergila-gila padamu?" Dena memandangi foto Cahya di ponselnya.