
Cahya membuka matanya, dia tersenyum melihat suaminya yang masih tidur lelap, Cahya bergerak perlahan menuju kamar mandi, saat Cahya menutup pintu kamar mandi, dia dikagetkan dengan Devan yang tiba-tiba muncul dan langsung ikut masuk.
"Sayang, kamu mengagetkanku,, bukannya barusan kamu masih terlelap, apa karena aku berisik? maafkan aku" Ucap Cahya lalu mencium suaminya sekilas
"Sayang, bisakah kamu keluar, aku mau mandi dulu" Cahya tersenyum lalu mendorong suaminya untuk keluar dari kamar mandi, tetapi Devan terus memandangi nya walaupun tanpa mengucapkan sepatah katapun
"Ada apa sayang? apa kamu mau mandi terlebih dahulu?" tanya Cahya, Devan terus melihat kearah istrinya tetapi masih diam,
"Jangan menakutiku, kamu kenapa?" Cahya memegang kedua tangan suaminya
"Aku hanya kaget saat bangun kamu tidak disebelah ku lagi" ucap Devan lalu memeluk tubuh istrinya erat, Devan masih memikirkan tentang Reza.
"Sayang, aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu lagi, aku bukan Ayya yang dulu, sekarang aku sudah menyadari semua kesalahanku, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi" Cahya mengelus punggung Devan, Cahya lalu dengan mode genitnya mengajak Devan untuk mandi bareng yang tentu saja tidak mungkin Devan tolak.
Mereka berciuman dibawah shower seperti berciuman dibawah hujan, Devan belum berani meminta jatah nya karena takut menyakiti Cahya lagi,
"Lakukan sayang, aku merindukan sentuhan mu" bisik Cahya pada suaminya yang gelisah setelah ciuman mereka selesai
"Tidak Ayy,,, tidak apa-apa, aku bisa mengatasi nya, selesaikan saja dulu mandi mu, aku akan segera menyusul" jawab Devan terus berada dibawah shower dan menggantinya dengan air dingin
"Aku merindukan sentuhan mu" bisik Cahya manja
"Aku terbiasa dengan itu setiap malam dan setiap saat, lalu kenapa tadi malam tidak menyentuh ku, apa kamu,,,?? aaakkkhh" Cahya tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Devan sudah menariknya ke pelukannya dan langsung melucuti pakaiannya
"Aaakkhhhhh, aahhhhhh ssaayyyaaang" Cahya terus merintih dengan sentuhan suaminya, mereka pasti sangat bersih karena mandi begitu lama, setelah mandi yang panas itu mereka lalu bersiap untuk sarapan dan berencana untuk pergi ke rumah Renal untuk berpamitan karena mereka akan segera kembali ke Indonesia.
"Ayy, tidak sakit kan?" tanya Devan saat mereka diperjalanan menuju ke rumah Renal
__ADS_1
"Sakit kenapa? kamu jangan seperti ini sayang, seperti biasanya saja, kalau seperti ini nantinya akan membuatmu menjadi segan padaku, aku tidak mau seperti itu karena itu bisa membuat hubungan kita renggang, bersikaplah seperti biasanya saja, maafkan aku yang kemarin begitu lemah, tapi percayalah padaku kalau aku tidak selalu lemah seperti itu" Cahya menjelaskan dengan menggenggam tangan suaminya,
Devan senang mendengarnya karena Cahya benar-benar sudah berubah, tidak lagi selalu memendam perasaannya, dan juga terlihat lebih dewasa.
"Baby sayang, sampai berjumpa lagi lain waktu, jangan lupakan mama Ayya ya" Cahya menciumi baby yang sekarang dia timang-timang di pangkuannya
"Mbak yakin mau kembali hari ini? kenapa tidak lebih lama lagi disini?" Siti terlihat sedih karena tidak ada lagi teman atau kakak yang bisa menemaninya.
"Kami sudah terlalu lama disini, rencana awal memang hanya sampai selesai pembukaan cafe, jadi sekarang memang sudah waktunya" Devan yang menjawab sambil memperhatikan istrinya yang terlihat sangat senang bermain dengan baby.
Mereka lalu segera kembali ke hotel untuk beres-beres dan bersiap untuk keberangkatan mereka, Siti tidak mengantarkan karena baby sedikit rewel karena itu waktu tidur siangnya.
"Sayang, apakah kamu tidak ingin membawaku ke dokter lagi untuk memeriksa kondisiku saat ini?" Cahya bertanya pelan saat mereka sudah selesai mengemasi barang-barang mereka
"Apa kamu ingin? kalau kamu menginginkannya ayo aku temani, tetapi menurutku lebih baik tidak perlu, mari kita tunggu dengan sabar kedatangannya nanti, yang penting kita terus berusaha" Devan lalu mencium Cahya
POV Reza & Dena
Mereka telah sampai di rumah Reza, rumah yang dia impikan untuk ditinggali bersama Cahya, Reza menghela nafasnya seolah mencari kekuatan untuk bisa memasuki rumah itu tanpa orang yang diharapkan nya bisa bersama-sama memasukinya.
Dena tau apa yang dirasakan oleh Reza, dia sengaja mengajak Reza mengobrol ringan sebelum masuk rumah,
"Rumah ini sangat indah, terlihat manis dan imut dengan banyak bunga-bunga, aku jadi ingat sahabatku, dia sangat menyukai pohon mawar, tidak hanya bunganya saja, dia pernah bilang sangat menyukai pohon mawar yang berduri, itu seperti lambang wanita kuat yang menjaga kecantikan bunganya" ujar Dena sambil mencium salah satu bunga mawar yang sedang mekar
__ADS_1
Flashback
"Aku ingin menanam banyak bunga mawar, terimakasih kak" Cahya tersenyum ceria mengambil bibit pohon mawar yang diberikan oleh Reza
"Kenapa kamu menyukai pohon mawar, kebanyakan perempuan lain hanya suka bunganya"
"Aku sangat suka pohon mawar, terlihat rapuh tetapi dia mempunyai kekuatan dengan durinya untuk melindungi keindahan bunga nya, aku ingin menjadi kuat dan mempunyai kekuatan supaya aku bisa melindungi diriku sendiri, supaya kakak tidak kerepotan karena harus selalu menjagaku" Cahya tersenyum dengan imutnya, kala itu dia sedang hamil jadi pipinya lebih cubby yang membuatnya terlihat lebih imut.
"Aku tidak keberatan kalau harus menjaga dan melindungi mu seumur hidupku" jawab Reza bersungguh-sungguh, tetapi Cahya hanya menganggapnya bercanda
"Kakak jangan bercanda, sebentar lagi pasti kakak akan menikah, lalu mempunyai anak, jadi tidak akan ada waktu untukku, tapi kak Reza tidak perlu khawatir, karena mulai sekarang aku akan berubah seperti pohon mawar yang mempunyai kekuatan untuk melindungi diriku" ujar Cahya riang lalu mulai menanam pohon itu di teras rumah tempat dia tinggal.
Flashback End
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Za, Reza,,, !"
Panggil Dena karena Reza terus melamun, Reza lalu menoleh dan mengusap wajahnya untuk menghilangkan kenangan yang tiba-tiba terlintas di pikirannya.
"Ayo masuk saja, semoga kamu nyaman tinggal disini, kamu pasti anak kota, jadi tidak terbiasa hidup di daerah terpencil seperti ini, kalau kamu merasa tidak betah, kamu bisa langsung memberitahukan kepadaku, aku akan segera mengantarmu ke kota terdekat supaya kamu bisa kembali ke rumah mu"
Setelah mengucapkan itu, mereka langsung masuk ke dalam rumah, terlihat sangat rapi walaupun belum banyak perabotan yang terlihat, Dena tersenyum senang karena dia merasa sangat tenang dan nyaman dengan udara yang sangat segar khas dari sebuah pedesaan.
"Aku tidak mempunyai rumah untuk pulang, ibuku meninggal lalu ayahku menikah lagi dan tidak lagi memperdulikan diriku, lalu aku menikah, aku sangat senang karena aku pikir akhirnya aku mempunyai tempat untuk pulang yang disebut rumah, ternyata di sana juga bukan rumahku, terimakasih Reza karena sudah membawaku kesini" ucap Dena pada Reza yang sedang duduk di sofa, untuk sesaat mereka berpandangan, lalu mereka tersenyum, seolah saling menguatkan.
__ADS_1
"Hay wanita pujaan hati Reza, aku tidak tau harus senang atau sedih, aku sedih karena Reza begitu terluka karena dirimu, tetapi seandainya kamu disini, sudah pasti aku tidak akan pernah ada disini, jadi untuk saat ini, aku ucapkan banyak terima kasih untukmu, dimana pun kamu berada" batin Dena sambil terus melihat kondisi sekitar rumah itu.