Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Perhiasan Yang Bercahaya


__ADS_3

"Ayo temui Sari" kata Devan siang itu


"Tidak, sudah tidak perlu lagi" jawab Cahya singkat tanpa menjelaskan alasan nya.


Cahya menyibukkan diri dengan pekerjaannya mengedit naskah novel online seperti biasa, Devan kesal melihatnya karena sejak kedatangan Sari menemui Cahya membuat istrinya itu seperti es batu, sangat dingin.


Cahya tidak menolak sentuhannya tetapi rasanya berbeda bagi Devan, karena istrinya hanya diam seolah tidak ada jiwa atau perasaan, ditanya menjawab dengan kaku tapi kalau tidak ditanya istrinya akan diam saja, tidak seperti biasanya yang ceria dan sering bernyanyi atau bersenandung.


"Ok Ayy, iya,, maaf aku salah, sudah ya jangan seperti ini terus" ucap Devan, tapi Cahya tetap diam tidak menanggapi apapun dan terus focus pada laptopnya, Devan semakin geram dan langsung merebut laptop istrinya dan menyimpannya, tapi tetap sama saja karena Cahya tidak bereaksi apapun dan hanya diam tidak merengek seperti biasa saat Devan jahil.


Cahya bangun dari duduknya lalu berjalan menuju dapur, suasana terasa mencekam bagi Devan melihat istrinya yang terus mengacuhkan dirinya, Devan bisa membujuk nya kalau istrinya ngambek atau marah tapi kalau seperti ini, Devan tidak tau harus berbuat apa.


Kring kring kring


"Iya hallo Her, ada apa? aku sudah menyelesaikan semuanya yang kemarin, tinggal yang hari ini sedikit lagi"


"Besok bisa datang ke restoran XZ, akan ada pertemuan sesama editor?" tanya Heri


"Iya tentu saja, bye"


Cahya meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan mempersiapkan makan siang, Devan mendekati istrinya dan memeluknya, tidak ada penolakan khas Cahya saat dipeluk dikala sibuk, Cahya benar-benar seperti robot yang tidak punya perasaan.


"Ayy, sudah cukup!" teriak Devan marah, dia semakin tidak mengerti apa yang harus dia lakukan, Devan lalu menelepon seseorang


"Cari wanita itu dan bawa ke restoran diseberang cafe kita, hubungi aku secepatnya kalau sudah ditemukan"


Cahya sudah berjanji pada dirinya kalau dia tidak akan pernah lari lagi dari Devan tapi dia hanya wanita biasa, rasa sakit hatinya dia tahan dan membentengi dirinya dalam diam nya.

__ADS_1


Malam harinya Devan dihubungi oleh orang suruhannya kalau dia sudah menemukan Sari, Devan mengajak Cahya untuk menemuinya agar Sari menjelaskan semua pada Cahya tetapi Cahya tidak mau.


"Ayy, wanita itu akan menjelaskan semuanya" ajak Devan tetapi Cahya tidak mau dan terus menggeleng saat diajak, akhirnya Devan berangkat sendiri, Cahya menangis sendirian setelah kepergian Devan.


"Aku sudah tidak mau menemui nya tetapi Devan terus ingin menemuinya, apa yang ingin mereka lakukan sebenarnya malam-malam seperti ini" batin Cahya dan menghapus air matanya.


Cahya tipe yang sangat keras kepala, dia selalu menyimpulkan sesuatu sendiri tanpa mau mendengarkan penjelasan orang lain.


Devan menemui Sari dan memberikan ATM itu padanya lagi, karena Devan sudah memberikan jadi tidak mau kembali


"Anggap itu sebagai uang pesangon mu Karena selama ini kita bekerja sama, dan jangan ganggu istriku lagi" ucap Devan


"Istrimu sangat lucu ya, dia terlihat polos tetapi sangat menakutkan, aku mendatangi nya secara baik-baik, sebab menghargai dan menghormatinya, aku merasa tidak nyaman menggunakan uang suaminya, tetapi dia malah marah padaku dan memukuli diriku, padahal kamu hanya berniat baik padaku" ujar Sari mencoba berbohong


"Maaf, apa anda membutuhkan uang?" tanya Devan pada pelayan restoran itu yang sedang menyajikan welcome drink padanya, pelayan itu mengangguk, Devan lalu memberikan kartu ATM yang sebelumnya akan dia berikan kembali pada Sari


"Entah masih ada berapa isi didalamnya, gunakan secara baik-baik, bill pesanan meja ini, ambil dari sana" ucap Devan pada pelayan restoran itu lalu memberikan nomor pin dari kartu tersebut, setelahnya dia meminta untuk pelayan itu menjauh dulu.


"Istriku adalah permata bagi diriku, dia perhiasan yang selalu bercahaya untukku, lalu kamu pikir aku tidak melakukan penjagaan dengan harta berhargaku itu? ingat untuk tidak mendekati istriku lagi, kalau kamu menyakiti nya lagi, aku akan menghabisi mu" ancam Devan lalu pergi dari sana.


Sari terdiam tidak menyangka kalau Devan begitu menyayangi istrinya, tetapi karena hal itu membuatnya semakin ingin mendapatkan nya.


Devan pulang dan mendapati istrinya tertidur di sofa, tersisa sedikit butiran air matanya, Devan merasakan sakit dihatinya karena istrinya masih selalu menahan perasaannya sendiri tanpa mau bercerita atau mengungkapkan nya kalau tidak dipaksa lebih dulu.


"Apakah masa kecilmu sangat berat Ayy, apa tidak ada yang bisa mendengarkan dirimu saat itu, hingga membuatmu menjadi seperti ini?" batin Devan lalu mengusap air mata istrinya.


Devan sadar kalau pola pikir istrinya berbeda dari orang lain, karena kehidupan masa kecilnya yang berbeda, Cahya ditinggalkan ayahnya, tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya saat kecil, bahkan harus mandiri sedari kecil, hinaan karena fisiknya, semua hal itu Cahya pendam sendiri, sampai sekarang dia menjadi pribadi yang seperti ini.

__ADS_1


Devan memahami istrinya, sikap dan sifat nya serta pola pikirnya, sepertinya Devan hanya harus bersabar sampai istrinya mau bercerita tentang perasaannya.


Devan tidak membangunkan istrinya atau menggendong nya seperti biasa kedalam kamar, Devan menemani istrinya, dan tidur dibawah sofa dimana Cahya tertidur.


Saat tengah malam Cahya terbangun, dia pikir suaminya belum pulang karena tidak membangunkan nya atau memindahkan nya ke kamar, begitulah Cahya, dia selalu berfikiran negatif sendiri, padahal kali ini Devan tidak memindahkan nya karena takut istrinya terbangun seperti biasanya.


Cahya menangis, masih tidak menyadari kalau Devan ada dibawahnya, Devan kaget dan terbangun mendengar suara tangisan dan langsung duduk memeriksa istrinya, Cahya yang sedang menangis kaget melihat Devan dan langsung terdiam, entah kaget karena takut atau karena malu, bayangkan saja ada orang tiba-tiba muncul didepan mata saat tengah malam, kalau Devan memakai baju putih pasti Cahya sudah menjerit ketakutan.


"Kenapa diam? teruskan saja menangis" ujar Devan tersenyum melihat istrinya, Devan senang karena istrinya menumpahkan perasaannya


"Aku pernah bilang, menangis lah saat kamu sedih, sekarang juga begitu, menangis saja Ayy, dan marahlah kalau kamu kesal atau kecewa, jangan selalu memendam perasaan mu sendiri" ujar Devan.


Cahya mengerjabkan matanya, Devan lalu mendekati istrinya dan mencoba menghapus air mata istrinya tetapi tangannya ditepis Cahya, bukan kesal atau marah Devan tertawa melihat reaksi istrinya.


Daripada Cahya menerima sentuhan nya tetapi tanpa perasaan, lebih baik dia ditolak seperti itu karena Devan bisa memaksa istrinya setelahnya.


"Ahaha, kamu sudah kembali sayang" ucap Devan terus mencoba memegang istrinya, penolakan Cahya kali ini berarti dia sudah membuka hatinya, kalau sudah seperti itu akan mudah bagi Devan untuk memberi penjelasan pada istrinya, Cahya tidak menyadari kalau suaminya sudah sangat memahaminya.


Devan mencoba menggendong istrinya ke kamar tetapi Cahya tidak mau, penolakan Cahya adalah percikan api untuk Devan, karena Devan malah akan terus memaksanya.


Devan berhasil membawa istrinya kedalam kamar, Devan langsung memeluk erat istrinya, Devan lalu kembali menjelaskan semua, Cahya mendengarkan didalam pelukan Devan, malam itu istrinya sudah kembali seperti semula, Devan menjadi bersemangat.


"Ayy, tambah lagi ya sekali saja, aku merindukan mu" ucap Devan setelah menyembur istrinya, melihat Cahya menggeleng, Devan malah senang, tapi dia tidak memperdulikan penolakan istrinya dan terus melakukan keinginannya lagi dan lagi, sudah beberapa hari ini istrinya hanya diam tanpa menolak atau menunjukkan respon apapun terhadapnya.



__ADS_1


"Sialan, ternyata disini dipasang CCTV" ucap Sari pelan saat memeriksa pintu apartemen tempat tinggal Devan dan Cahya malam itu setelah Devan pergi meninggalkan nya di restoran, Sari lalu membuntuti nya.


"Aku harus melakukan cara lain untuk memisahkan mereka" batin Sari lalu pergi dari sana.


__ADS_2