
Cahya masih berada dalam pelukan suaminya, dia lalu berusaha bangun karena takut ketiduran disana, dia harus tidur bersama Rafa karena takut nanti mencari mamanya dan menangis di tengah malam.
"Nanti dulu" ucap Devan mempererat pelukan nya
"Aku ngantuk, takutnya nanti ketiduran disini" jawab Cahya
Devan mengelus perut istrinya, dia ingin mempunyai anak lagi.
"Apa belum ada tanda-tanda Ayy" ucap Devan yang kini sudah berpindah tempat dan sedang menciumi perut istrinya.
Cahya bingung tidak tau harus menjawab apa, selama ini dia masih meng konsumsi pil KB nya, dia tidak ingin kuliahnya terganggu lagi.
Karena tidak mendapat jawaban, dan malah terlihat istrinya yang melamun, Devan kembali menindih istrinya dan langsung menciumnya.
Cahya sudah kelelahan, dia meminta suaminya berhenti.
"Uuuuddaahhhh" ucap Cahya terbata-bata, dia sedikit merintih karena suami nya itu sudah kembali mengulum buah dadanya, dari tadi dia belum memakai baju lagi.
"Aku akan bekerja keras, cepatlah mengandung, aku ingin anak perempuan yang manis sepertimu"ujar Devan.
Dia kembali menggagahi istrinya, dan Cahya tidak bisa menolak, dia tidak mau suaminya kecewa, dia memang lelah tapi juga menikmati sentuhan suaminya.
Setelah tengah malah saat Cahya sudah benar-benar lemas, Devan menyudahi urusan nya dengan istri nya itu, Cahya memakai bajunya dengan sedikit memejamkan mata, karena sudah sangat mengantuk, Devan lalu menggendong istrinya itu ke kamar Rafa.
Malam itu mereka tidur bersama di kamar Rafa.
đđđđđđđđđđđđđ
Pagi itu Cahya bangun lebih pagi dan membuat sarapan seperti biasa sebelum kuliah, karena dia pikir sudah tidak ada lagi yang akan mengasuh Rafa, dia lalu memandikan Rafa dan memberinya sarapan.
Setelah semua beres, suami dan anaknya sudah sarapan, dia lalu bersiap kuliah yang seperti biasa diantar suaminya.
__ADS_1
Diperjalanan itu, Rafa terlihat sedikit rewel entah kenapa tidak seperti biasanya, saat di cek ternyata badan Rafa panas, sepertinya dia demam.
Perjalanan yang tadinya akan mengantar Cahya kuliah, berubah menjadi ke Rumah Sakit, karena tidak mungkin Cahya tetap kuliah kalau melihat kondisi anaknya.
Setelah diperiksa sepertinya Rafa terkena flu, dokter hanya meresepkan obat, setelah mereka menebus obatnya di Apotik, mereka langsung membawa Rafa untuk beristirahat di rumah.
Cahya dengan telaten mengurus anaknya, obat Rafa yang tadi dari Apotik dia masukkan ke dalam tas nya, saat itu karena dia posisi menggendong Rafa untuk membujuknya agar mau minum obat, dia meminta suaminya untuk mengambilkan obat di dalam tasnya itu.
Devan memeriksa tas istrinya untuk mengambil obat Rafa, tapi ada hal yang membuatnya sangat marah saat melihat isi dalam tas istrinya, dia melihat dengan tatapan kecewa kepada istrinya, tapi karena saat itu Rafa sakit, dia mengurungkan niat untuk membicarakan hal itu pada istrinya.
Devan memberikan obat Rafa pada istrinya, untung akhirnya Rafa mau minum obat, setelah minum obat tidak lama Rafa tertidur, setelah menidurkan Rafa, Cahya lalu melihat laptopnya untuk mengerjakan tugas, karena dia izin tidak masuk kelas dia meminta tugas secara online.
Sementara Devan masih membiarkan istrinya, dia juga memeriksa laporan tentang semua pekerjaan nya di laptopnya, sesekali dia melihat ke arah istrinya, sepertinya istrinya itu belum sadar kalau dia telah mengetahui rahasianya.
Hingga menjelang siang, Cahya terlihat menutup laptopnya, dia lalu menyiapkan makan siang untuk dia dan suaminya, setelah makan selesai dia menanyakan dimana tasnya kepada suaminya karena tadi suaminya itu yang menyimpan nya setelah mengambil obat Rafa.
"Ada dikamar" jawab Devan singkat
Dia tidak menyadari ada pandangan tajam yang tertuju padanya, saat itu dia berusaha mencari pil KB nya di dalam tas nya, tapi saat dia terus membongkar tasnya tetap saja tidak dia temukan.
"Apa ini yang kamu cari"
Sungguh suara yang terdengar seperti ingin membunuhnya, sebuah suara yang membuatnya ketakutan, Cahya hanya bisa menoleh gugup.
Devan mendekati Cahya, dia menghancurkan pil KB itu di depan Cahya, dengan tatapan tajam dia langsung mendorong istrinya ke kasur, pandangan itu tidak pernah dilihat Cahya.
Pandangan Devan selalu penuh cinta kepadanya tapi kali ini, pandangan nya seperti seseorang yang ingin menerkam musuhnya.
Cahya tidak berani berbicara apapun karena dia sadar dia sudah ketahuan, tapi dia berusaha membela diri,
"Devan maaf, aku tidak berniat apapun, aku bukan tidak mau hamil lagi, tapi,,, aaahhhhh!" Cahya berteriak dan tidak bisa melanjutkan pembelaan nya.
__ADS_1
Devan sudah menarik bajunya dengan kasarnya, dia menggagahi istrinya penuh penyiksaan, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
Rafa terbangun dan menangis, Devan menyudahi kegiatan nya, dia memakai baju dan bersiap keluar tapi dengan pandangan masih penuh kemarahan dia melihat ke arah istrinya.
"Diam disini jangan berani keluar" ucap Devan pada istrinya yang meringis kesakitan di bagian bawahnya karena di gempur suaminya sedikit kasar karena sedang marah.
"Devan, aku mau keluar, kasian Rafa" ucap Cahya tapi suaminya itu tidak memperdulikan, dia keluar kamar lalu menguncinya dari luar.
Terdengar Rafa yang sudah diam di tenangkan ayahnya, waktu sudah mendekati sore tapi Cahya tidak bisa keluar kamar karena pintu terkunci, Devan memberitahu pada Rafa kalau mama nya sakit jadi harus beristirahat di kamar.
Walau dalam keadaan marah, Devan bisa menutupinya di depan anaknya, dia dengan telaten mengurus Rafa, untungnya demam Rafa sudah turun, waktu mendekati malam, Devan masih menemani Rafa karena anaknya itu belum tidur.
Didalam kamar Cahya merasa lapar karena belum makan malam, tapi untuk sekedar mengetuk pintu dia tidak berani, dia sadar dia salah, dia tau kalau suaminya sangat marah padanya.
Setelah Rafa tidur, Devan masuk kamar membawa makanan, dia menyuruh istrinya untuk makan, dia sendiri masuk ke kamar mandi, dia dari tadi belum sempat mandi karena mengurus Rafa.
Devan tidak langsung memakai baju saat selesai mandi, dia hanya melilitkan handuk di pinggangnya, lalu mendekati istrinya yang terlihat sudah menyelesaikan makan nya, dia langsung mematikan lampu kamar.
"Devan, aku mau melihat Rafa" ujar Cahya
Tidak ada jawaban apapun, terlihat Devan yang bersiap tidur atau entah tiduran karena dia tidak juga memakai bajunya.
"Jangan pernah berani keluar kamar tanpa izinku!" terdengar suara Devan yang membuat Cahya mengurungkan niatnya yang ingin turun dari ranjangnya.
Cahya terdiam, bahkan untuk melihat suaminya, dia tidak berani, dia lalu menggeser sedikit tubuhnya agar tidak jatuh karena dia sudah hampir turun dari ranjangnya tadi.
Devan kembali menyerangnya, melakukan penyatuan lagi dan lagi, tidak memperdulikan istrinya yang minta berhenti karena sangat kewalahan dalam kungkungan suaminya.
"Devvaannnn,, ssaakkiitttt" terdengar rintihan Cahya bercampur mengiba saat suaminya itu terus memompanya, Devan memeluk Cahya erat setelah dia menyembur istrinya berulang kali.
Devan lama memeluk istrinya itu, dia lalu turun dari tubuh istrinya, dan langsung memeluk istrinya itu, terdengar isak tangis, walaupun pelan tapi Cahya bisa mendengarnya.
__ADS_1