Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Puber Kedua


__ADS_3

"Aku tidak menyangka kalau istriku ternyata bisa berbuat seperti itu?" ujar Devan saat mereka menaiki lift untuk menuju apartemen mereka.


"Kenapa? apa sekarang kamu takut padaku?"


"Dari dulu aku selalu takut padamu, takut kamu tidak mencintaiku lagi"


"Tidak perlu menggombal, kita ada diumur yang sudah tidak pantas lagi melakukan hal seperti itu"


"Tidak juga, kamu masih muda, tahun ini baru 28 tahun, orang tidak akan percaya kalau kamu sudah mempunyai anak"


"Tidak usah berlebihan merayuku, pasti kamu mau bergadang lagi kan mengerjai ku?"


"Itu sudah pasti" jawab Devan mantap


Mereka sampai didepan apartemen mereka,


"Cahya" panggil seseorang, Cahya dan Devan menoleh kearah sumber suara.


"Heri? kenapa kamu ada disini?" tanya Cahya lalu mendekat ke arah Heri


"Kakak aku tinggal disini juga, aku akan menginap disini untuk beberapa hari karena rumah ku sedang direnovasi, kamu tinggal disini juga?" tanya Heri


"Iya, aku dan suamiku tinggal disini juga, oh iya,, kenalkan ini suami aku" ujar Cahya memperkenalkan suaminya pada Heri


"Sayang ayo masuk, sudah semakin malam dan semakin dingin diluar" ucap Devan sambil meraih pinggang istrinya yang masih saja berbasa-basi dengan rekan kerjanya.


"Aku masuk dulu ya" pamit Cahya pada Heri dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Heri.


Cahya langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan malam, Cahya heran karena tidak seperti biasanya, Devan hanya duduk diam di sofa, biasanya Devan akan membantu atau setidaknya mengganggunya.


Cahya merasa aneh dengan suaminya, tetapi dia tidak terlalu memikirkannya karena dia sibuk menyiapkan makan malam dan juga sambil video call dengan anaknya, mendengar suara anaknya, Devan baru mendekat dan ikut mengobrol, Rafa bercerita kalau dia sudah semakin pintar disekolah nya.


"Anak ayah sudah pasti pintar, sudah dulu ya Rafa sayang, mama sama ayah mau makan malam dulu" Devan menutup panggilan telepon itu, dia meletakkan ponsel istrinya dengan keras di meja, sampai membuat Cahya kaget.


"Devan, nanti rusak ponsel ak,, aaaahhhh" Cahya tidak melanjutkan ucapan nya karena Devan sudah mengangkatnya dan mendudukkannya di meja dapur tempatnya memotong sayuran.


Cahya meletakkan spatula yang dia pegang dan memegang kedua pipi suaminya dengan kedua tangannya,


"Ada apa sayang? kamu terlihat galau dan murung? apa kamu marah karena aku menampar wanita simpanan mu" ujar Cahya


"Jangan berbicara sembarangan Ayy, kalau kamu tidak menghalangiku tadi aku sudah,, eeeehhhmmm" Devan tidak melanjutkan ucapan nya karena istrinya sudah menciumnya.


"Sayang, tidak bisakah kalau kita cepat kembali ke Indonesia? aku takut pada wanita itu, dia pasti akan terus mengejar mu" ucap Cahya


Devan tersenyum lalu membelai rambut istrinya, sebenarnya dia sedang cemburu karena tadi Cahya terlihat akrab dengan rekan kerjanya, tetapi dia tidak menyangka akan keduluan istrinya yang sedang menunjukkan kecemburuan nya, Devan senang karena istrinya semakin terbuka padanya.


"Apa kamu cemburu?" tanya Devan


"Kenapa aku tidak cemburu? suamiku dengan sengaja memberikan kartu ATMnya pada wanita lain dengan mudahnya tanpa memikirkan perasaan istrinya, apa kamu mencoba menarik perhatian perempuan lain dengan kekayaanmu?"


"Bukan begitu sayang, saat itu dia terlihat kebingungan karena tidak mempunyai tempat tinggal, aku hanya mencoba membantunya"


"Kenapa sampai memberi nya sebuah kartu ATM, itukan sangat pribadi"

__ADS_1


"Aku tidak punya waktu memberi nya uang cas, lagipula aku ingin cepat pergi darinya, jadi aku hanya mencari cara tercepat"


"Sebanyak apa kartumu sampai kamu begitu mudah memberikan pada orang lain kecuali orang itu spesial"


"Ayy, apa aku sangat salah?"


"Tidak, kamu sangat benar"


"Sebenarnya itu kartu untuk biaya pembuatan cafe yang aku buka di Bank disini dan akan aku non aktifkan saat aku selesai membuka cafe, tadinya mau aku berikan untuk Renal sisanya, tetapi ternyata ada yang lebih membutuhkan, Sari juga bagus saat bekerja jadi hitung-hitung untuk pesangon nya karena tidak bekerja lagi padaku"


"Kamu sangat murah hati ya, bahkan dengan orang yang sudah menjebak mu, aku ragu kalau saat itu kamu kabur darinya, bagus juga ya kerja perempuan itu, hingga membuatmu menyakitiku malam itu"


"Ayy, maafkan aku karena tidak berfikir jauh sebelum membantunya, tapi kamu jangan berfikir yang aneh-aneh"


"Bagaimana bisa tidak aneh, sudah pasti aneh, dan perempuan itu sudah pasti berfikir yang lain juga, seorang pria memberinya kartu ATM, sudah pasti dia merasa spesial, kamu sendiri yang memberinya harapan" ujar Cahya


Devan tidak tau harus menjelaskan bagaimana lagi, mungkin kali ini dia memang salah, Devan lalu mengalihkan pembicaraan.


"Kalau ada pria lain yang lebih muda dari aku dan dia menyukai mu, apa kamu akan meninggalkan ku?" tanya Devan


"Pria muda?? emmm,,, kalau dia tampan, dan memberiku Black card, mungkin bisa aku pertimbangkan" jawab Cahya


"Aaayyyaaa!"


"Aaapppaaa sayang?" jawab Cahya menggoda Devan, sepertinya Cahya tau kalau suaminya juga sedang cemburu.


"Aku sudah memberimu kartu itu, tetapi itu juga jarang kamu pakai" ujar Devan


"Ayy, ini tidak benar, sudah jangan bercanda lagi, iya maaf aku salah, aku akan langsung menonaktifkan kartu itu secepatnya, sudah ya masalah ini selesai sampai sini, jangan ungkit lagi"


Cahya diam, walau dia tetap tidak bisa memahami jalan pikiran suaminya, tetapi tidak akan ada selesai nya kalau dia terus bertahan dengan ketidaksukaan nya dengan apa yang dilakukan Devan kali ini.


Cahya mencoba mengubur perasaan kesalnya pada suaminya tentang masalah ini, dia juga tidak mau terlalu berlarut-larut dengan masalah ini, mungkin kali ini pikirannya tidak sejalan dengan suaminya tetapi dia mencoba menerima alasan suaminya melakukan hal itu.


"Ayy, jawab dengan benar, apa yang akan kamu lakukan kalau ada pria lain yang menyukai mu?" tanya Devan lagi, dia sepertinya kepikiran dengan Heri sebagai rekan kerja Cahya.


"Siapapun pria di dunia ini tidak ada yang bisa menandingi suamiku tercinta, dia tampan, setia dan sangat hebat dalam hal apapun, tidak ada sedikitpun kekurangan dari pria milikku, coba katakan padaku, siapa yang bisa menandingi nya, apa tuan tampan yang didepan ku ini mau mencoba bertanding dengan suami ku?"


Devan tersenyum malu mendengarnya, Cahya jadi ikut tersenyum melihat tingkah suaminya.


"Turunkan aku" ucap Cahya lalu mengalungkan tangannya di belakang leher Devan.


Devan langsung menggendong istrinya, tapi dia tidak menurunkan nya dan membawanya ke sofa, Devan sebenarnya lapar jadi dia akan makan lebih dulu, makanan pembuka nya adalah istrinya.


"Sayang janji sekali saja ya, aku lapar" ujar Cahya yang tau apa yang akan suaminya lakukan.


"Tidak janji" jawab Devan yang langsung menyerang istrinya.


"Aaaaaaaahhhhh"


Sepertinya Cahya harus menahan rasa laparnya lebih lama.


Setelah pertempuran panjang yang selalu terjadi setiap hari karena rahim Cahya yang belum normal hingga membuat dia jarang kedatangan tamu bulanan, mereka lalu mandi dan makan malam.

__ADS_1


"Ayy, besok Grand opening cafe, kamu datang ya?"


"Aku tidak mau, akan sangat ramai dan aku tidak mengenal siapapun disana, lebih baik aku dirumah bekerja, lagipula ada tetangga ganteng yang menemaniku" Cahya lagi-lagi menggoda suaminya hingga suaminya itu kesal dan tidak mau meneruskan makannya.


"Lihat saja Ayy, malam ini aku akan membuatmu tidak bisa turun dari ranjang hingga besok pagi kamu tidak kuat bangun" batin Devan


Benar saja, Devan menumpahkan rasa cemburunya dengan terus menggempur istrinya, tidak peduli rintihan istrinya, bahkan saat istrinya sudah setengah sadar karena kelelahan dan mengantuk, Devan tetap tidak berhenti, pagi harinya mereka tidak kunjung bangun dan masih tidur berpelukan dengan tenangnya karena sama-sama kelelahan, untungnya sebelum tertidur, Devan sudah memberi kabar pada Renal kalau dia tidak akan datang.


"Cafe itu milikmu, lakukan sesukamu tetapi lakukan dengan benar, itu akan cukup membiayai hidupmu dan keluargamu, jadi kamu tidak perlu bekerja padaku lagi, mulai sekarang kamu sudah menjadi bos, kelola dengan baik dan benar" ujar Devan menelfon Renal


"Kenapa mas tidak datang?" tanya Renal


"Sudah jangan banyak bertanya, aku sedang berusaha keras membuat adik untuk Rafa jadi tidak punya banyak waktu luang" jawab Devan


Belum sempat Renal menjawab, telepon sudah dimatikan Devan.


"Kelakukan orang yang sedang puber kedua sungguh mengerikan" ujar Renal lalu meletakkan telepon nya dan kembali tidur, tadi dia ditelpon Devan saat sudah berada di alam mimpi.




POV Sari



"Kurang Ajar, lihat saja Cahya, aku akan segera merebut Devan, kamu pikir aku akan segampang itu menyerah" Sari memegangi pipinya yang memerah karena tamparan keras dari Cahya.



Sari mendatangi hakim yang sudah dia suguhkan apem miliknya tempo hari, dia harus mencari uang untuk melancarkan aksinya, walau hakim itu sudah tua tetapi bisa memberi nya uang.



Sari tertatih-tatih pulang ketempat tinggal nya, dia tidak menyangka kalau hakim itu akan membodohi nya, dia harus melayani juga kolega dari hakim itu.



Gaya hidup Sari sangat tinggi, perawatan wajah dan tubuhnya juga tidak murah, itulah yang membuatnya terlihat cantik dan mulus, untuk para kebanyakan lelaki, Sari adalah idaman karena terlihat sempurna.



"Tidak mungkin ada pria yang bisa menolak diriku, Devan hanya mencoba menarik ulur, aku yakin itu" ucap Sari penuh percaya diri sambil melihat pantulan wajah dan tubuhnya di cermin.



Sari mendatangi cafe Devan yang terlihat ramai karena sedang grand opening, tetapi tidak terlihat ada Cahya dan Devan disana, membuat Sari menuju apartemen yang ditinggali Devan.



"Sari" panggil Heri yang melihat kedatangan Sari yang berada didepan pintu apartemen Cahya


"Heri!!" Sari langsung mendekati Heri, ternyata mereka saling kenal.

__ADS_1


__ADS_2