
Cukup lama Cahya terdiam kaget karena mendengar kondisinya, dia hanya bisa menangis, Devan menelfon dan mencarinya panik, Cahya berusaha menahan tangisan nya dan hanya bilang dia bosan di rumah sakit jadi berjalan-jalan keluar sebentar.
Cahya segera kembali ke rumah sakit tempat dia dirawat selama ini, dia melihat suaminya dari kejauhan yang menunggunya di depan rumah sakit, suaminya itu terlihat panik karena dia tidak ada di ruangan nya saat Devan kembali tadi.
"Dia menginginkan punya banyak anak, sementara kondisiku sekarang seperti ini, apa yang harus aku lakukan?" batin Cahya, tak terasa air matanya kembali menetes, Devan melihat keberadaannya membuat Cahya langsung menghapus air matanya, Devan berlari mendekati Cahya.
"Kamu dari mana saja, jangan membuatku panik, kalau mau apa-apa bilang padaku!"Devan berteriak karena panik, dia takut Cahya akan meninggalkannya lagi.
Mereka kembali ke ruangan Cahya, terlihat Cahya yang sepertinya sangat malas masuk keruangan itu lagi, Devan sangat menyadarinya tapi dia masih berharap istrinya masih mau dirawat disana lebih lama lagi.
"Aku mau pulang, aku merasa sangat sesak disini" Cahya kembali memohon pada suaminya
Devan hanya bisa menurutinya daripada Cahya nantinya kabur lagi, bahkan dokter juga menganjurkan untuk rawat jalan saja, yang terpenting jaga perasaan dan makanannya saja.
Mereka sudah kembali sampai rumah, Cahya langsung tiduran di sofa, dia lalu meminta pada Devan untuk menjenguk Rafa, dia sangat kangen karena sudah lama tidak bertemu secara langsung.
Devan menuruti keinginan Cahya, besok harinya mereka berangkat, setelah lama diperjalanan siang nya mereka sampai, Cahya sangat bahagia bertemu anaknya, mereka melepaskan rindu.
"Mama sudah sembuh?" tanya Rafa
Cahya mengangguk dan terus menciumi Rafa, ada pikiran yang terus berkecamuk di hatinya, dia ragu sesaat akan suatu hal.
"Ayya, kamu istirahat dulu ya, tadi perjalanan nya pasti melelahkan" ujar ibu Retno, Cahya menurut dia lalu tidur siang bersama anaknya.
"Devan, coba hubungi istrimu, dia sudah beberapa jam pergi bersama Rafa, mereka pamit ke taman untuk bermain tapi ini sudah sangat lama, dicari di taman dekat komplek sini tidak ada, entah mereka ke taman mana, ponselnya menyambung tapi tidak diangkat" ucap ibu Retno panik siang itu.
Cahya sudah beberapa hari ada dirumah mertuanya, hari itu Devan menemani ayahnya ke perkebunan mereka, jadi tidak tau kalau istri dan anaknya pergi ke taman.
Devan langsung menuju rumah karena dia juga tidak berhasil menghubungi Cahya, setelah ibu retno menjelaskan segalanya, Devan lalu ke kamar untuk memeriksa sambil terus mencoba menghubungi istrinya, tapi betapa kagetnya dia karena ternyata ponsel Cahya ada diatas meja disebelah ranjang mereka.
__ADS_1
Devan mendekati ponsel itu, dan yang membuatnya bertambah kaget, cincin pernikahan Cahya ada disebelah ponsel itu, Devan langsung berlari keluar.
"Cari Ayya sekarang juga!" teriaknya pada semua asisten yang ada dirumah itu
"Ada apa Devan" tanya ibu Retno yang kaget dengan teriakan anaknya itu.
"Ayya kabur lagi ma, sepertinya dia sudah tau dengan kondisinya" jawab Devan yang masih terlihat sangat panik itu, Devan lalu memeriksa ponsel Cahya, benar saja, foto rekam medis itu ada disana.
Pencarian dilakukan tapi sudah beberapa hari Cahya dan Rafa masih belum ditemukan, Devan memandangi foto mereka bertiga,
"Ayy, kenapa kamu selalu seperti ini" gumam Devan sedih.
"Suamiku sayang, maafkan aku yang terus mengecewakan mu, maaf aku membawa Rafa, aku takut hanya dia anak ku satu-satunya, jadi aku membawanya.
Kamu menginginkan banyak anak, sementara kondisiku sekarang seperti ini, tidak tau bisa sembuh dan memberi mu banyak anak seperti yang kamu mau atau tidak, aku kembali melepas mu, mulai sekarang lakukan apa yang membuatmu bahagia.
Aku bukan wanita kuat, aku tidak akan sanggup melihatmu bersama yang lain jadi aku memilih pergi, kalau aku bertahan terus disamping mu, sama saja aku menzalimi mu, karena aku tidak bisa memberi mu anak lagi.
Maafkan aku memilih jalan ini, berbahagialah mulai sekarang, simpan lah nama ku dan Rafa di hati mu tapi jangan karena kami masa depan mu terhenti.
Kamu adalah Cahaya ku, cahaya yang selalu menerangi ku, sebenarnya aku takut lari lagi darimu, aku takut akan kegelapan karena kamu tidak disamping ku lagi.
Maka dari itu aku membawa Rafa untuk menemaniku, tolong maafkan aku" pungkas Cahya dalam file yang dia simpan di ponselnya, file yang dia anggap sebagai surat ucapan perpisahan.
Devan menangis membaca itu, dia berteriak frustasi hingga membuat ibu Retno ikut menangis melihat anaknya yang seperti itu, sebagai seorang ibu dia tidak tega melihat Devan terus ditinggal lari Cahya, orang yang sangat dicintai anaknya itu, tetapi kalau dicarikan jodoh atau istri yang lain yang bahkan lebih segalanya dari Cahya tetap saja Devan selalu menolak.
__ADS_1
POV Cahya
"Rafa, besok mulai sekolah, mama akan mengantar Rafa, jadi jangan menangis ya disekolah?" ujar Cahya pada anaknya.
Mereka tinggal disebuah desa dipinggir pantai, Cahya mencoba melamar sebagai guru TK ditempat Rafa akan bersekolah, dan untungnya sedang ada lowongan karena ada salah satu guru yang mengundurkan diri karena akan menikah dan akan tinggal bersama suaminya di kota.
Rafa sering menanyakan tentang ayah dan kakek neneknya, tapi Cahya selalu menjawab kalau ayahnya sibuk bekerja.
Rafa anak yang pintar, dia cepat berbaur dan langsung mendapat teman baru, walau Cahya menjadi guru disana tapi dia tidak mengajar dikelas Rafa, Cahya yang sebenarnya tidak gampang bergaul dan juga pendiam memberanikan diri untuk menjadi guru disana agar bisa selalu memantau Rafa.
Tak terasa Rafa sudah menyelesaikan sekolah TK nya dan akan melanjutkan ke SD yang sekolahnya masih ada disekitaran komplek sekolah TK itu.
"Besok acara perpisahan sekolah akan diadakan jalan-jalan,, hoorreeee" kata guru Rafa, tentu saja semua murid sangat senang tak terkecuali Rafa.
Sudah dua tahun Cahya dan Rafa tinggal di desa itu, dan tidak pernah bermain jauh, paling hanya disekitaran desa itu jadi tentu saja Rafa sangat excited, mereka berencana ke sebuah perkebunan untuk melakukan outbound untuk anak-anak.
Cahya dan Rafa bersiap untuk ikut acara itu, perkebunan itu sangat ramai, karena saat itu memang weekend, acara segera dimulai, Cahya sebagai guru sekaligus wali murid serasa mempunyai tugas double tapi dia sangat bahagia karena melihat Rafa yang sangat menikmati acara itu.
Dia tidak sadar ada mata yang mengenalinya dan memotret nya saat sedang bernyanyi bersama Rafa dan murid yang lain.
__ADS_1