
Terdengar bunyi pintu yang dipaksa dibuka, hingga akhirnya terbukalah pintu besar itu, dan terlihat Devan yang walaupun sudah berdarah-darah tapi masih terus berusaha menyelamatkan Cahya.
Saat tadi Devan akan dibawa pergi dari sana, datang bala bantuan dari ayahnya yang lebih banyak dan membawa senjata lengkap.
Ajudan diluar sudah dikalahkan semua, saat itu terlihat Cahya yang sedang menyuapi makan Habib, tentu saja Habib marah karena waktunya diganggu lagi
"Apa lagi, kenapa kamu terus mengganggu kami, kami bahagia tanpamu!" teriak Habib
Terlihat Cahya menggeleng, seolah meminta Devan untuk tidak mendekat, dia memperlihat kan tangan nya yang dipasang alat.
Habib juga memperlihatkan tangan nya, lalu dia tertawa
"Hahaha,,, aku dan Ayya adalah satu jiwa, kalau dia menjauh atau pergi dari ku, kami akan meledak bersama, begitu besar cintaku padanya, hingga sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan nya!"
Nenek Habib keluar dari kamarnya dengan memegang senjata
"Siapa yang berani mengusik cucuku!" ucapnya sambil mengarahkan senjatanya pada Devan
"Tidak nenek! kalau sampai nenek melukainya aku akan menjauh dari Habib" teriak Cahya lalu berdiri dan bersiap untuk berjalan pergi
"Ayy, diam ditempat!" teriak Devan
Cahya berhenti dan melihat ke arah Devan, sudah hampir menangis dan gemetaran.
Ternyata ayah Devan juga datang kesana, lalu berjalan ke sisi Devan
"Wah, wah, wah,, nyonya Wicaksono, masih gila seperti dulu,, tapi kegilaan mu tidak akan aku biarkan, apalagi membuat anakku terluka, dan berani menyembunyikan calon istrinya" ucap ayah Devan
__ADS_1
"Tuan Suseno!" terlihat nenek Habib kaget melihatnya
"Dulu memaksa kakak ku untuk menjadi menantu mu, hingga kakak ku melarikan diri dan tertabrak mobil, sekarang tragedi yang sama akan kau lakukan terhadap calon menantuku, tidak akan aku biarkan kali ini?!"
"Jangan gegabah tuan Suseno, anak mu lah yang mengganggu cucuku, bahkan dia sudah mengandung bayi cucuku!" teriak nenek Habib
"Tidak nenek, ini bayi Devan, aku sudah bilang berulang kali!" teriak Cahya
Ayah Devan kaget mendengarnya, lalu melihat ke arah Devan
"Apa yang terjadi? kamu sudah menghamilinya? kenapa kamu sangat ceroboh" ayah Devan memukul Devan
"Kenapa kamu harus seperti Papamu ini, tidak sabaran sekali, kapan kamu melakukan nya?"
"Papa,, jangan bercanda!" teriak Devan
"Seharusnya dari kemarin aku sudah melenyapkan bayi itu,, Ayya,,, apa yang kamu banggakan dari lelaki seperti dia yang tidak menghargai mu? dia menyentuhmu bahkan sebelum pernikahan, aku yang selalu menjagamu bahkan tidak sanggup menyentuhmu, akulah yang lebih mencintaimu, sekarang tinggalkan lelaki laknat itu dan datang lah padaku!" teriak Habib pada Cahya
"Benar-benar cucu nenek" ucap ayah Devan
Habib marah mendengarnya dan langsung mengarahkan tembakan ke arah Devan dan ayahnya, untung mereka bisa menghindar, baku tembak tidak terhindarkan, Habib dilindungi ajudan nya, begitu pula Cahya.
Hingga akhirnya ajudan Habib juga terpojok tapi saat ada yang mendekati Habib dan ingin menyerangnya, Cahya melindunginya, Habib kaget melihat Cahya yang berusaha melindunginya.
Cahya tersenyum pada Habib, dan mendorong kursi roda Habib menjauh dari perkelahian itu, orang yang berusaha melukai Habib tentu tidak bisa berbuat banyak, karena diberi peringatan untuk tidak melukai Cahya.
Semua ajudan Habib sudah dikalahkan dalam waktu yang tidak lama, hanya tinggal Habib dan neneknya yang tersisa, tentu saja mereka tidak mungkin mengalahkan nenek-nenek, mereka hanya melucuti senjatanya, dan Habib yang dilindungi oleh Cahya jadi tidak ada yang berani menyerang nya.
__ADS_1
Cahya memegang tangan Habib dan mulai mengajaknya berbicara.
"Habib, terimakasih atas semuanya, kamu yang membantuku dari awal kita bertemu, kamu yang selalu menjagaku dan melindungi ku, aku mungkin tidak akan bertahan di kota ini tanpa bantuan mu, tapi,, untuk perasaan,,, itu sungguh tidak bisa dipaksakan, aku sudah mencintai Devan, jauh sebelum aku bertemu dengan mu"
"Maaf kamu terluka seperti ini karena aku, tapi Habib,, kamu harus melepaskan ku, aku yakin kamu akan secepatnya menemukan orang yang sangat mencintaimu"
"Tidak,, aku tidak akan pernah melepaskan mu!" teriak Habib sambil berusaha menarik tangan Cahya untuk memeluknya, Cahya berontak lalu Devan melepaskan pegangan tangan Habib dan menghalangi Cahya dari Habib, untuk membawa pergi belum bisa karena tangan Cahya masih ada bom yang harus berdekatan dengan bom yang ada di tangan Habib.
"Lepaskanlah Ayya, aku yang akan menjaganya dan melindunginya mulai sekarang, terimakasih karena selama ini kamu telah menjaganya" ujar Devan pada Habib
"Aku melakukan itu bukan untukmu, dan kamu berani menyerang ku disaat aku terluka, apa kamu tidak merasa malu" ucap Habib
"Kenapa aku malu? kamu yang sudah mengusikku terlebih dulu, lagipula aku tidak melukaimu, sekarang lepaskan bom Ayya"
"Aku tidak tau cara melepas nya, kalau pun tau aku tidak akan melepaskan nya!"
Devan lalu menghubungi detektif yang selama ini membantunya, meminta untuk datang dan membawa ahli bom
Tidak lama bom itu bisa dilepaskan, saat Devan ingin membawa Cahya keluar dari sana, Cahya menoleh pada Habib dan mendekatinya
"Kamu adalah salah satu cahaya dalam hidupku, kamu yang menerangi jalan ku selama ini dengan banyak bantuan mu, sungguh sangat terimakasih, cepat lupakanlah aku"
Devan membawa Cahya pergi dari sana, tinggal lah Habib dan neneknya, Habib berteriak frustasi karena ditinggalkan Cahya.
Dari kecil Habib tinggal bersama neneknya, Orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan nya, hanya neneknya yang selalu memanjakan nya.
Cahya seperti tidak tega mendengar teriakan Habib, dia menoleh dan menangis melihat ke arah villa, dia ingat akan semua kebaikan Habib dari awal bertemu, seharusnya dulu dia tidak terlalu bergantung pada Habib hingga membuat Habib selalu berusaha melindunginya.
__ADS_1
Tapi untuk terus terpenjara disana tentu Cahya juga tidak mau, dia sudah memiliki Devan dan bayi mereka.