Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Kehilangan Momen Kebersamaan


__ADS_3

Devan selesai diobati dan duduk ditepi ranjang tempat dia diobati, Cahya membantu suaminya berganti baju karena yang tadi sobek dan penuh darah, Devan dengan cepat memeluk istrinya yang berdiri didepan nya dan menyisir rambutnya yang acak-acakan menggunakan tangannya.


"Ayy, apa tadi kamu sangat takut?"


"Tentu saja, maaf tadi tidak langsung bergegas menolong dirimu, aku mencari cara supaya aku bisa menolong mu dan bukan merepotkan dirimu disaat seperti itu, aku menelepon polisi tetapi pasti butuh waktu lama untuk mereka sampai, aku ingat kamu mempunyai senjata jadi aku mencarinya terlebih dahulu, lalu aku keluar lewat jendela sesaat sebelum ada yang memeriksa kedalam kamar, untungnya aku tidak ketahuan" Cahya lalu mencium kepala Devan dan membelai lembut rambutnya


"Aku terus berharap agar kamu tidak keluar kamar, tidak apa-apa aku terluka asalkan kamu selamat" Devan mempererat pelukannya, dia ingat kalau istrinya memang sangat pintar, saat kabur dari Habib dulu juga sangat lihai.


"Aku tidak menyangka mempunyai istri yang begitu kuat dan pintar"


Mereka lalu pulang setelah pemeriksaan selesai, Cahya yang masih menyetir dia lalu berhenti disebuah restoran karena mereka belum makan siang


"Ayy, sejak kapan kamu bisa menyetir?"


"Saat aku pergi dan menjadi guru, Joko yang mengajariku"


"Apa?!"


"Kenapa memangnya? harusnya kamu berterima kasih padanya, karena kamu tidak perlu repot-repot mengajariku"


"Lebih baik aku repot kalau tau seperti itu" Devan kesal lalu dengan cepat menggigit ayam yang ada didepannya, Cahya tersenyum melihatnya.


"Biar aku saja yang menyetir" Devan mengulurkan tangannya dan wajahnya masih manyun, mereka sudah selesai makan, Cahya mendekati suaminya menarik kerah kemeja nya, lalu Cahya berjinjit dan mencium suaminya, Devan menahan kepala Cahya dan terus mencium nya, tangan Cahya lalu membuka pintu mobil dan mendorong Devan masuk kedalam mobil

__ADS_1


"Ayy, aku belum selesai!" Cahya tersenyum simpul dan kembali mengecup suaminya tetapi dia langsung menghindar tidak memberi waktu suaminya untuk menahan kepalanya.


Cahya kembali menyetir dengan lihainya membuat Devan makin cemberut,


"Kamu sangat lihai, berapa lama kamu belajar dengan nya?"


Devan terus saja menunjukkan kecemburuannya membayangkan istrinya bersama pria lain berada dalam satu mobil


"Kamu cemburu hanya karena seperti itu? aku selalu membuat jarak dengan pria manapun, tetapi kamu? kamu bahkan menempel pada para wanita yang mendekatimu" ucap Cahya dan menunjukkan wajah membunuhnya pada Devan, melihatnya Devan hanya menelan ludah melihat istrinya


"Aku lupa betapa mengerikannya dirimu kalau sedang marah, maafkan aku sayang ku" Devan lalu mengelus rambut istrinya yang sedang serius menyetir mobil, Devan heran karena mereka bukannya pulang tetapi berhenti disebuah hotel


"Ayy, kamu diam-diam ternyata sudah tidak tahan lagi ya? kenapa kamu terus menunjukkan pesona mu yang tidak ada habis-habisnya?" Devan tersenyum malu-malu


"Tapi boleh saja kalau kamu mau kita tidur dengan kamar terpisah dari Rafa dan mama" Cahya tersenyum lalu memainkan matanya, Devan langsung bangun dan dengan cepat keluar dari mobil lalu menarik tangan Cahya supaya cepat masuk kedalam hotel.


"Ayya, Devan, kalian baik-baik saja?" ibu Retno langsung mendekat saat mereka sampai


"Tidak apa-apa ma, aku hanya sedikit terluka, dengan terus istirahat ditemani istri tercinta ku, pasti akan segera sembuh ma" ucapan Devan mendapat pukulan dari ibu Retno


"Rafa sayang, sedang belajar apa?" Cahya mendekati anaknya yang sedang menulis di sebuah buku


"Aku ada PR menulis cerita, aku menulis tentang mama yang hebat, mama sangat sayang pada Rafa, tapi maaf karena Rafa tidak bisa ikut mama ke Bandung karena kata ayah dan nenek kalau Rafa mau cepat punya adik bayi, Rafa harus tinggal dulu bersama nenek dan kakek, sebenarnya Rafa mau ikut mama, Rafa juga kepengen rawat mama yang sedang sakit supaya cepat sembuh, jadi bisa cepat adik bayinya tumbuh sehat diperut mama"

__ADS_1


Cahya langsung menoleh pada suaminya dengan tatapan matanya yang penuh pisau belati yang siap menyerang suaminya, ibu Retno juga tidak kalah terkejutnya dan hanya tersenyum canggung.


"Rafa istirahat dulu ya, sini mama temani" Cahya merapikan alat tulis Rafa lalu mengusap lembut badan nya supaya Rafa cepat tidur, setelah Rafa tidur, Cahya termenung duduk dipinggir ranjang.


"Ayya, kasihanilah mama yang kesepian, kalau Rafa kalian bawa sudah pasti mama akan sangat kesepian" ibu Retno mendekati Cahya dan mengusap rambutnya


"Ayya anak mama, kamu fokus pada kesembuhan mu dulu, baru setelah itu, tetap saja jangan bawa Rafa" ibu Retno mencoba mencairkan suasana,


"Mama, aku tidak mau Rafa kehilangan momen kebersamaan dengan mamanya,, karena masa kecilnya tidak akan terulang kembali, mereka hanya sebentar bersama kita, nanti saat SMP sudah mulai banyak teman, akan sangat susah bermain dengannya, apalagi saat SMA atau kuliah, aku tidak mau menyia-nyiakan masa kecilnya, aku tau betul rasanya hidup tanpa orang tua" Cahya menahan air matanya, Devan lalu mendekati istrinya dan membawa kedalam dekapannya.


"Maaf Ayy" hanya itu yang bisa diucapkan oleh Devan, dia merasa bersalah pada anak dan istrinya, mungkin ada maksud baik hingga akhirnya Devan memilih tidak membawa Rafa, tetapi untuk Cahya itu akan berbeda karena dia seorang ibu, pasti akan sangat berat berpisah dengan anaknya.


Cahya menangis, dia sebenarnya masih kaget dengan kejadian yang menimpanya tadi dan sekarang ditambah pesan yang penuh rasa haru dari anaknya, akhirnya dia tidak bisa menahan air matanya.


"Kata psikolog, anak yang kurang perhatian dari ayah dan ibunya, mereka akan cenderung menutup diri, membesarkan masalah kecil, mengalami gejolak emosi yang labil, tidak dapat mengontrol emosi sedih, dan itu semua ada padaku,,,, aku tidak mau Rafa menjadi seperti diriku"


Cahya menangis di pelukan suaminya, Devan semakin menyadari betapa beratnya hidup Cahya saat kecil, itulah yang membentuk emosinya menjadi tidak stabil.


Cahya lalu tidur disebelah Rafa, Devan terus memandangi wajah istri dan anaknya, tidak lama ibu Retno juga duduk di samping nya,


"Mama tidak menyangka kalau Ayya menyimpan trauma dan rasa sakit yang begitu dalam, dia sangat lucu waktu kecil dengan pipi chubby nya, saat bermain denganmu juga sangat ceria, ternyata setelah itu dia mengalami kesedihan dan penderitaan yang besar sampai saat remajanya, bahkan sampai sekarang ayahnya tidak pernah bertanggung jawab dan malah terus menyakitinya"


"Ma, apa tidak apa-apa ayah hanya sendiri di rumah?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, memang ayahmu yang meminta seperti ini, tenangkan istri mu dulu, dia pasti sangat kaget dan takut"


__ADS_2