
"Kalau aku kesini tiap hari memang kamu tidak bosan" tanya Cahya
"Pertanyaan apa itu? kamu selesai kuliah kita harus langsung menikah, dan itu berarti kita akan terus bersama, apa kamu merasa akan bosan padaku?" Devan balik bertanya
"Kenapa langsung menikah?"
"Mau alasan apa lagi?"
"Dari tadi aku tanya malah dibales tanya juga, aku kan mau bekerja dulu" Cahya manyun
"Tidak ada kerja-kerja"
"Aku akan bosan nantinya"
"Tidak akan, awal nikah kamu akan terus bermain dengan ku, lalu kamu hamil dan melahirkan, tapi jangan khawatir karena kamu harus tetap mengajak ku bermain sambil mengurus anak-anak kita nanti, jadi kamu tidak akan bosan"
"Apa itu, aku belum siap punya anak, aku masih pengen main"
"Aku sudah semakin tua Ayy"
Cahya tertawa mendengarnya
"Pokoknya sekarang sudah tidak ada alasan lagi, sudah cukup aku menurutimu selama ini" ujar Devan
Cahya hanya diam, karena memang selama ini dia selalu menghindari Devan dengan banyak alasan, dia belum siap dinikahi Devan, dia juga sempat takut akan pernikahan karena dia melihat mama nya yang berpisah dengan ayahnya.
Devan mau kedalam dulu untuk memeriksa sesuatu, dia meminta Cahya menunggu, setelah itu akan mengantar pulang.
Cukup lama Devan didalam kantornya, Cahya menunggu sambil bermain ponsel, lalu ada dua pengunjung cowok yang duduk di depan nya
"Hai, disini kosong, boleh kami duduk disini?"
Cahya tidak bisa menolak atau meng iya kan, dia hanya diam saja
"Boleh kenalan tidak? kamu semester berapa?" tanya salah satu dari mereka
"Sombong banget ini cewek mentang-mentang cantik, belum kenal kita ya?" salah satunya mulai mendekati Cahya
"Menjauh dari sini!" Teriak Cahya, tapi cowok itu terus mendekat,
Cahya menjadi ketakutan dan teriak memanggil Devan, dan Devan langsung datang lalu menarik cowok itu menjauh dari Cahya, Devan lalu melindungi Cahya di belakangnya
"Pergi kalian dari sini, jangan ganggu dia, dia istriku"
Mereka lalu pergi, Devan memeriksa Cahya, apa ada yang terluka, tapi Cahya menggeleng dia hanya kaget karena tiba-tiba cowok itu mendekat.
Devan lalu mengantar Cahya pulang
Besoknya Cahya kuliah seperti biasa dan saat jam kosong dia dan Tuti ke kantin, tanpa sengaja dia bertemu dengan dua cowok yang kemarin
"Ternyata kamu kuliah disini? kenapa kemarin kamu berlagak jadi istri orang"
"Siapa mereka Ayya" tanya Tuti, Cahya hanya menggeleng
"Cocok ini, bisa Double date, kebetulan kita juga berdua"
"Jauhi mereka" Habib datang dan melindungi Cahya
"Hebat banget ya kamu, dimana-mana ada yang menjaga" ejek mereka ke Cahya
"Ambil saja itu cewek, kemarin ada yang mengaku suaminya, dan sekarang kamu juga sok jagoan"
__ADS_1
Cahya marah mendengarnya, saat dia akan teriak tiba-tiba mulutnya di tutup Tuti menggunakan tangan nya
"Sabar Ayya, jangan cari masalah"
Habib menanyakan keadaan mereka, karena mereka tidak kenapa-napa, lalu mereka masuk kembali ke kelas karena masih ada kelas lagi.
Cahya mengirimkan pesan pada Devan kalau hari ini tidak akan datang ke cafe
"Mau aku culik lagi?" balasan Devan
"Aku beneran capek banget, aku pengen tidur dirumah"
"Aku jemput, nanti kamu bisa tidur dirumah aku"
"Ya sudah aku ke cafe saja nanti, tapi sebentar" Cahya kesal, hari ini dia kedatangan tamu bulanan, dia sakit perut, dan tadi dibikin kesel sama dua cowok tidak dikenal itu lagi jadi bawaan pengen marah-marah.
Cahya langsung ke cafe Devan, tidak bersama Tuti karena dia janjian sama pacarnya, jadi Cahya sendiri menuju kesana, sampai sana dia meletakkan kepalanya di meja dan dia memegangi perutnya.
"Kenapa Ayy?" tanya Devan
"Aku sakit perut, makanya tadi aku bilang mau langsung pulang"
"Ayo kita periksa ke dokter"
"Tidak perlu, ini sudah biasa tiap bulan nya, aku hanya perlu tiduran"
"Ayo aku antar pulang"
Devan tidak menjawab, dia berpamitan pada karyawan nya, lalu membawa Cahya masuk ke mobilnya
"Tidak perlu berlebihan, aku masih bisa jalan" ujar Cahya saat Devan mau memapahnya
"Tolonglah Van, kita mau kemana? aku lagi sakit!"
"Istirahat dirumah aku, biar aku bisa merawat mu"
"Sudah dibilang ini biasa untuk cewek, tidak perlu merawat ku segala, ayo ketempat aku saja"
Devan tidak memperdulikan dan terus melajukan mobilnya, dia berhenti di sebuah minimarket, satu plastik besar yang dia bawa, entah apa isinya, Cahya tidak terlalu memperdulikan, dia terus memegangi perutnya, tidak lama mereka sampai tapi Cahya tidak mau turun?
"Aku mau pulang" ujar Cahya
"Iya ayo pulang, ini sudah sampai rumah" jawab Devan
"Jangan bercanda, perut aku sakit banget"
"Mau aku gendong?"
"Tidak Devan, cepat antarkan aku ke kos-kosan, aku bisa habis lagi kalau masuk kesana"
"Aku bisa apa Ayy, kamu nya juga lagi gitu, kamu itu otaknya sangat kotor ternyata?"
__ADS_1
Cahya kesal mendengarnya, dan tak membalas, dia lalu tiduran melingkar di jok mobil
"Kalau kamu tidak cepat, aku gendong ya"
Tapi Cahya masih tidak menjawab juga lalu dia mendekati Cahya dan akan menggendong nya tapi Cahya tidak mau, akhirnya dia masuk juga berjalan sendiri, dia langsung tiduran di sofa
"Tidur di kamar Ayy"
"Tidak, aku mau disini saja, tolong biarkan aku sendiri dulu" ucap Cahya lalu berusaha tidur dan tidak lama dia tertidur juga.
Saat bangun cahya kaget karena sudah ada di dalam kamar dan yang lebih kaget lagi, Devan tidur di sebelahnya, dengan tangan Devan memeluk perutnya.
Diluar terdengar suara seseorang, Cahya panik lalu dia membangunkan Devan tapi tidak bangun juga, sementara suara itu semakin mendekat dan mengetuk pintu kamar
"Van, kamu tidur didalam? kok pintu depan tumben tidak dikunci?"
Cahya makin panik, karena Devan tidak juga bangun, tapi tangan nya terus melingkar di perutnya tidak bisa dilepaskan.
Tiba-tiba gagang pintu mulai bergerak, lalu Cahya menghadap Devan dan menutupi tubuhnya dengan selimut, dia mencoba bersembunyi.
Yang tidak Cahya sadari ternyata Devan tidak tidur, Devan tersenyum melihat tingkah Cahya, saat pintu terbuka Devan juga pura-pura tidur.
"Van, kamu tidur?" ternyata itu mamahnya Devan, tapi karena buru-buru kaki Cahya tidak tertutupi dan terlihat oleh mama Devan(ibu Retno)
"Kalian harus menikah kalau sudah seperti ini" ujar ibu Retno yang membuat mata Cahya membulat dan langsung mendorong Devan kuat-kuat agar mereka berjauhan, dia lalu bangun dan dia meringis karena perutnya masih sakit, tapi dia menahan nya.
"Tante apa kabar? tante jangan salah paham dulu, ini tidak seperti yang terlihat, aku sakit tan, tadi Devan yang memaksa aku kesini" Cahya panik dan dia langsung menarik Devan bangun
"Ini tante tanya Devan nya langsung, kita tidak ngapa-ngapain kok,, iya kan?" Cahya lalu menoleh ke Devan
"Kalian satu kasur bersama dan satu selimut bersama, harus dikatakan apa lagi, tidak akan ada yang percaya ucapan mu" ujar bu Retno
Cahya langsung turun dari kasur, merapikan rambutnya dan lalu menunduk, seperti anak kecil yang ketahuan nakal.
"Apa benar Van, apa yang dikatakan Cahya?" tanya bu Retno pada anaknya
Devan pura-pura bersedih,
"Ayya tidak mau menikah ma, padahal aku sudah menyerahkan segalanya bahkan ragaku seutuhnya"
__ADS_1