Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Pelakor Kembali


__ADS_3

Sari menangis dipojokan, dia disiksa oleh koki yang selama ini menjadi Sugar Daddy nya, Sari ketahuan saat melancarkan aksinya menjebak Devan


"Kurang baik apa aku padamu? kenapa kamu masih mengharapkan orang lain dan bahkan melakukannya di tempat ku?!" teriak koki itu pada Sari.


"Kamu bahkan dengan lancang memberikan surat pernyataan palsu tentang tuntutan itu, apa kamu pikir Devan itu bodoh? dia bahkan sekarang sudah mencari pengacara terbaik untuk melawan"


Sari kaget mendengarnya karena lagi-lagi rencananya ketahuan, dia sudah tidak tau harus bagaimana lagi.


"Minggu depan adalah hari pertama persidangan, kalau sampai nama baikku tercoreng maka kamulah yang akan jadi tumbalnya, dan ingat,, kalau sampai kamu mengadukan ini semua kepada siapapun, kamu akan hilang dari dunia ini" ancam koki lalu pergi dari sana untuk kembali kerumah istrinya.



Pengacara Devan benar-benar sangat kompeten, dia bisa memenangkan kasus Devan, pengacara itu lalu membuat laporan balasan untuk tuduhan pencemaran nama baik untuk menjerat koki, dan pasal tindakan tidak menyenangkan untuk Sari karena telah menjebak Devan.



"Dasar wanita tidak tau di untung, sekarang malah menyeret nama baik ku dalam masalah!" teriak koki kepada Sari diluar persidangan


Sari tidak menjawab, karena dia juga tidak tau harus berbuat apa lagi, sekarang dia sudah habis dan kehilangan segalanya.



Devan melihat Sari yang ditinggalkannya oleh koki, dia merasa iba, karena bagaimanapun selama ini mereka menjadi partner bisnis.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Devan, Sari menoleh , dia malu melihat Devan tapi dia memang butuh bantuan.


"Bisakah mencarikan tempat tinggal untukku? aku akan membayarnya kembali saat aku sudah punya uang" pinta Sari, Devan memberikan salah satu kartu ATM nya pada Sari


"Ambillah, tidak perlu kamu kembalikan, dan jangan pernah ulangi kesalahan yang sama, dan ingat,, kamu masih harus sidang lagi karena perbuatan mu, mungkin tempat tinggal mu saat ini hanya sementara" ujar Devan lalu pergi dari sana, Devan tidak tega melihat wanita harus tinggal di jalanan apalagi di negara orang, walau jalur hukum tetap berjalan untuk Sari tetapi mengingat mereka dari negara yang sama dan Sari pernah menjadi partner bisnis nya yang saat bekerja sangat kompeten.


Yang Sari lakukan adalah kejahatan karena nafsu dan perasaannya, bukan kejahatan karena pekerjaan, begitulah yang dipikirkan Devan, sepertinya Devan tidak sadar kalau yang menuntut nya kemarin adalah Sari menggunakan nama koki, setelah kepergian Devan, terlihatlah senyum mengerikan dari Sari,

__ADS_1



"Aku dibuang koki sialan itu, tetapi mendapatkan Devan yang lebih segalanya, aku tidak akan pernah melepaskan mu Devan" batin Sari lalu pergi dari sana segera mencari tempat tinggal untuknya, Sari juga berusaha mencari hakim yang akan memvonis nya nanti, sudah pasti dia akan mengorbankan apem nya agar bisa terbebas dari jerat hukum.



Sari mendatangi tempat dimana akan dibuka cafe Devan, semua orang tau apa yang diperbuat Sari tetapi dengan sifat manipulatif nya dia pura-pura menangis dan menyesali perbuatannya dan meminta dimaafkan, karena bahkan Devan saja sudah memaafkannya


"Apa kamu bilang? tidak mungkin tuan Devan memaafkan dirimu!" teriak salah satu pegawai Devan


"Lihatlah ATM ini, lihatlah namanya baik-baik, tadi Devan yang memberikan padaku untuk aku mencari tempat tinggal agar lebih dekat dengan cafe ini, agar memudahkan diriku untuk bekerja" ujar Sari berbohong


Sepertinya mereka langsung percaya melihat ATM atas nama Devan itu, Sari lalu masuk ke kantor Devan, dia mencari alamat apartemen Devan, dia bergerak cepat agar tidak ketahuan yang lain dan takut kalau Devan dan Renal akan datang ketempat itu, Sari langsung pergi dari tempat itu setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.



Cafe Devan sudah hampir jadi, hari itu Devan pamit pada istrinya untuk pergi sebentar memantau finishing cafenya, seperti biasa istrinya selalu tidak mau diajak, Cahya mengantar suaminya berangkat sampai depan pintu tetapi sesaat sebelum dia menutup pintu, ada suara yang memanggilnya.


"Nona jangan takut, aku sudah bertobat" ucap Sari


"Kamu mau apa lagi?" tanya Cahya


"Nona Cahya, aku hanya akan mengembalikan kartu ATM Devan, dia memberikan nya padaku beberapa hari yang lalu, aku sudah menggunakan nya setengah, dia bilang harus dihabiskan saja dan akan segera mentransfer kembali kalau sudah habis, aku juga tidak mengerti apa maksudnya, tetapi aku ingat kalau Devan sudah memiliki istri, tentu aku tidak pantas menerima ini semua, sekarang aku kembalikan" ujar Sari mencoba membuat masalah untuk Devan dan Cahya.


"Kalau memang dia yang memberikan nya, kamu simpan saja" jawab Cahya tenang, dia mencoba menguasai perasaannya.


"Tidak bisa seperti itu nona Cahya, sekarang aku kembalikan pada nona, kalau memang nona mengizinkan aku memakainya, tolong berikan dulu pada Devan lalu biarkan Devan memberikan lagi padaku, dia sudah tau dimana aku tinggal, kalau sudah begitu aku merasa tenang karena sudah dapat izin dari nona, aku berangkat dulu, takut Devan menunggu karena kami sudah janjian, aku sengaja datang kesini tanpa memberitahunya" Sari memaksa memberikan kartu itu ke tangan Cahya lalu langsung pergi dari sana.


Cahya sedikit linglung dan terduduk dia lalu menyimpan kartu ATM itu, dia tidak mau bertanya apapun pada Devan saat ini, Cahya menghubungi Siti dan mengajaknya berjalan-jalan.


Devan pulang kerumah tetapi tidak mendapati istrinya dirumah, Devan sangat panik dan langsung menghubungi istrinya tetapi ponsel istrinya tertinggal dikamar, Devan semakin takut kalau istrinya telah kabur lagi, Devan memeriksa CCTV diluar rumah, betapa kagetnya dia melihat istrinya didatangi Sari.

__ADS_1


Devan marah, niat baiknya pada Sari malah membuatnya kembali bermasalah dengan istrinya, tidak lama Cahya pulang diantar Siti.


"Ayy, kamu dari mana? kenapa tidak bilang dulu padaku?!" Devan sedikit berteriak karena tadi dia sangat panik


"Aku pergi bersama Siti" jawab Cahya singkat, dia tidak membicarakan masalah Sari, begitulah Cahya, dari dulu selalu menahan perasaannya.


"Ayy, apa kamu terluka?" tanya Devan khawatir


"Tidak, sudah dulu aku mau mandi" jawab Cahya lalu berniat masuk kedalam kamar, Devan menarik Cahya ke dalam pelukannya.


"Marahlah kalau kamu mau marah, dan menangis lah kalau kamu mau, jangan selalu dipendam Ayy, aku takut melihatmu seperti ini" ucap Devan semakin mempererat pelukannya, Cahya masih diam, saat Devan ingin melepaskan pelukan nya, Cahya tidak mau melepaskan nya dan terus memeluk Devan.


"Ayy, apa kamu menangis?" tanya Devan yang dijawab gelengan oleh Cahya.


"Ayy, kamu percaya padaku kan? tanya Devan yang mendapat anggukan dari Cahya.


"Kenapa kamu tidak berbicara apapun? apa kamu sakit?"tanya Devan lagi


"Antarkan aku kerumah Sari" ucap Cahya setelah dia melepaskan pelukan nya


"Aku tidak tau Ayy, untuk apa aku tau dimana dia tinggal?"


"Untuk mengembalikan kartu ini" ujar Cahya memberikan kartu itu pada Devan.


"Ayy, kamu salah paham, aku tidak bermaksud apapun, aku hanya berniat menolongnya, bagaimanapun kami pernah bekerja sama, dia tidak mempunyai tempat tinggal, kamu pasti tidak akan tega melihatnya, aku memberikan kartu ini karena aku tidak memegang uang cas saat itu" jelas Devan


"Aku tidak melarang mu menolong siapapun, lanjutkan saja, ini kasihkan lagi padanya, itu yang dia katakan pada ku, dia meminta dirimu untuk memberikan padanya lagi" Cahya meletakkan kartu itu diatas meja dan langsung pergi menuju kamar mandi, belum sempat Cahya menutup pintu kamar mandi itu, Devan ikut masuk dan menahan Cahya saat istrinya itu berniat keluar lagi dari sana.


Devan mencium istrinya, kali ini Cahya tidak menolak walau sedang marah, tapi dia tidak membalas ciuman Devan dan hanya diam saja.


"Ayy, jangan seperti ini!" teriak Devan frustasi, tetapi Cahya tetap tidak memperdulikannya.

__ADS_1


__ADS_2