Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Cuti 40 Hari


__ADS_3

"Ayy, kapan harus periksa lagi ke dokter? aku ingin melihat wajahnya" Devan melihat istrinya yang sedang senam hamil di depan televisi, mengikuti instruktur senam di sebuah channel YouTube.


"Nanti minggu depan" jawab Cahya singkat karena dia sedang focus senam.


"Aku tidak sabar mau lihat dia cowok atau cewek" Devan sudah mendekati Cahya yang sedang duduk di sebuah bola besar sebagai alat bantu senam nya.


"Kenapa kamu senam saat aku bekerja? membuat diriku tidak focus" Devan menyeka keringat Cahya dengan handuk kecil.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Cahya lalu mengambil handuk yang dipegang oleh Devan.


"Iya" jawab Devan singkat lalu dengan cepat menuju buah kembar istrinya yang terbuka bagian atasnya karena Cahya memakai baju olahraga yang sepertinya semakin tidak muat menampung buah kembarnya yang semakin membesar karena sedang hamil yang pastinya sebentar lagi akan menyusui bayinya.


"Sudah tidak muat Ayy, kenapa tidak membeli yang baru? apa perlu aku yang membelikan?" ucap Devan sambil terus membuat tanda merah di buah kembar istrinya yang bahkan bekas semalam juga masih terlihat jelas.


Cahya memegangi pipi Devan dan menjauhkan wajah suaminya itu dari dadanya, Cahya tersenyum lalu mencium lembut suaminya.


"Sayang, bisakah kamu pindah ke ruang kerjamu, aku masih harus menyelesaikan senam ini"


"Tidak mau" jawab Devan singkat dan terus melanjutkan kegiatan yang sangat dia gemari.

__ADS_1


"Yang mengganggu disini itu kamu bukan aku, cepat sayang kembalilah ke ruang kerjamu, nanti aku keburu malas kalau berhenti terlalu lama"


"Setelah selesai aku minta" Devan melihat ke atas agar bisa melihat wajah istrinya yang sedang mendekapnya


"Sayang, bisakah kita kurangi hal itu? tidakkah kita terlalu sering melakukan nya? aku takut kalau kamu akan cepat bosan nantinya" Cahya menciumi kening suaminya.


"Kenapa aku bosan? coba hitung berapa tahun kamu meninggalkan diriku?? saat ini aku hanya mengambil ganti dari semua waktu yang kamu gunakan untuk tidak melayani ku"


Cahya tertawa mendengar ucapan suaminya, dengan gemas lalu menggigit pipi Devan, entah kenapa selama hamil kali ini, Cahya sangat suka menggigit pipi Devan.


"Aku tidak menyangka kalau kamu begitu pendendam sekali" ucap Cahya lalu mengusap lembut pipi Devan yang tadi dia gigit, Devan sudah tidak protes atau kesal ketika istrinya menggigit pipinya, karena sudah terbiasa.


"Sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu lagi, kecuali takdir yang,,, Eeeeehhmmmm" Cahya tidak melanjutkan ucapannya karena Devan tidak akan pernah membiarkan Cahya meneruskan ucapannya.


Devan tau kecemasan Cahya karena semakin mendekati waktu melahirkan, Devan tidak mau istrinya terus berfikir yang bukan-bukan.


"Ayy, sekali lagi kamu berbicara seperti itu,, aku benar-benar akan marah, aku mohon sayang,, jangan selalu berfikiran buruk tentang suatu hal, apa kamu tau aku lebih takut darimu, jadi tolong kamu jangan seperti ini lagi!" Devan memandangi wajah istrinya.


Cahya lalu mengangguk dan mereka berpelukan, Devan belum pernah menemani istrinya melahirkan, dia juga sangat takut kalau terjadi apa-apa pada istrinya, apalagi menurut dokter, bayi dalam kandungan Cahya tumbuh dengan cepat, entah itu kabar baik atau buruk tetapi berat badan dan kondisi tubuh Cahya yang mungil membuatnya belum tentu bisa melahirkan secara normal tetapi Cahya tidak mau untuk melahirkan secara operasi caesar.

__ADS_1


"Sayang, jemput Rafa,, aku sangat merindukannya" Cahya mencoba melepaskan pelukan Devan.


"Rafa belum libur Ayy, nanti kalau sudah libur aku akan menjemputnya" Devan lalu menggendong istrinya ke kamar mandi, karena tidak mungkin istrinya akan melanjutkan senam nya kalau sudah terlalu lama jeda waktu berhenti dari senam yang tadi dia lakukan.


"Senam sama aku saja" bisik Devan saat mereka berada di dalam bathtub kamar mandi.


Mereka berendam di air hangat yang diberi aroma terapi, Cahya menduduki Devan karena itu yang diinginkan oleh suaminya itu, sudah pasti itu bukan hanya duduk seperti biasanya, karena pinggang Devan terus bergoyang keatas membuat Cahya merem melek.


"Aaayyyy,, aaagggghhhh!!" Devan berteriak dengan memegangi pinggiran bathtub sementara Cahya sudah terpejam terbang ke puncak nirwana dengan memegangi dada Devan.


"Kata dokter aku harus sering menengok Dede, jadi aku tidak mungkin mengurangi hal ini" ucap Devan setelah mereka membersihkan diri.


"Tidak disuruh juga kamu sudah begitu, kenapa juga dokter harus mengatakan hal itu padamu" Cahya manyun karena dia tidak bisa mengajukan cuti pada suaminya.


"Nanti aku beri cuti 40 hari saat kamu nifas, tapi setelah itu kamu harus membayar tiga kali lipat" Devan kembali mengulum buah kembar istrinya sesaat sebelum Cahya berhasil memakai handuk mandinya.


Devan sudah tidak pergi bekerja keluar rumah, dia sudah berhasil membuka dua cafe di Bandung, jadi Devan pikir sudah cukup untuk sementara waktu, sekarang dia hanya perlu memantau dari jauh, begitu juga dengan semua usaha dan perkebunan nya.


Hasil kerja kerasnya selama ini tidak menghianati prosesnya yang begitu melelahkan, sebenarnya ada sisi baiknya saat Cahya pergi meninggalkan nya, karena dia menjadi gila kerja dan berbisnis, hingga saat ini uangnya terus mengalir walau dia tidak perlu setiap hari bekerja atau memantau.

__ADS_1


Saat ini Devan bisa leluasa selalu menemani dan berada didekat istrinya tanpa memikirkan masalah keuangan.


__ADS_2