Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Trauma Pernikahan


__ADS_3

"Ma, aku mau kuliah tapi di Jogja" Cahya membicarakan masalah kuliah ke mama nya


"Masih ada berapa bulan lagi, kamu pikirkan dulu, disini juga banyak Campus, kenapa harus jauh disana?"


"Kepengen saja ma, biar ganti suasana"


"Devan kemana? sudah berapa hari mama tidak melihatnya, dia tau kan kamu mau kuliah di Jogja?"


"Sibuk kerja ma dia, aku akan bilang nantinya, aku berangkat besok ya ma, aku mau survey dulu kesana dan pilih-pilih dulu campus nya"


"Kenapa mendadak sekali ayya?"


"Tidak ma, aku sudah memikirkan ini lama, kebetulan aku cuti 4 hari dari kerjaan"


"Kamu bisa sendiri? kenapa tidak minta antar Devan?"


"Tidak perlu ma, aku bisa sendiri, lagian dia sibuk bekerja, ya sudah ma, aku mau siap-siap dulu"


Cahya merasa ini waktunya untuk menjauh dari Devan sebelum dia makin sakit, Cahya selalu mengambil kesimpulan sendiri, dia tidak pernah mau bertanya tentang apapun, dia hanya memendam perasaan nya.


Pagi itu dia berangkat, dia tidak memberi tau pada Devan, setelah kepergian nya Devan datang dan berniat untuk menjemputnya.


"Ayya sudah berangkat Van, apa kamu tidak di kasih tau"


"Sepagi ini tan, bukan kah biasanya agak siang?"


"Ayya kan ke Jogja, dia mau kuliah disana, sekarang lagi survey Campus"


"Dia naik apa tan?"


"Naik kereta, sepertinya sudah mulai berangkat keretanya"


"Baik tan, aku pamit dulu"


Devan masuk ke mobil nya, dia meninju kursi jok sampingnya


"Bod**nya aku" Devan menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Cahya


Flashback



Waktu itu di cafe pinggir jalan saat Cahya melihatnya bersama seorang cewek, dia memang sengaja disana agar dilihat Cahya, dia meminta bantuan rekan kerjanya.



Devan pikir dengan begitu, Cahya akan cemburu dan lalu akan datang padanya, tapi ternyata tidak seperti itu yang terjadi sekarang.

__ADS_1



Flashback End



"Waktu kejadian Wati juga awalnya dia hanya diam, kenapa sekarang aku memakai cara ini" Devan frustasi karena kejadian nya menjadi seperti ini, mau menyusul pun tidak bisa karena dia belum lama mulai bekerja, tapi kalau tidak disusul Cahya pasti akan semakin salah paham.


Devan lalu menelfon Cahya, tapi tidak diangkat lalu dia mengirim pesan


"Ayy, kenapa kamu tidak bilang ke aku kalau mau ke Jogja? jawab telepon nya Ayya!"


"Ayy maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu,, aku tidak tau harus mulai dari mana menjelaskan, maafkan aku Ayy"


Pesan itu sudah terbaca tapi belum juga ada jawaban, Devan semakin frustasi melihatnya.


"Tidak perlu minta maaf padaku, aku juga bersalah padamu, maafkan aku,, kamu tidak perlu menungguku lagi, menunggu untuk apapun itu, aku sudah melepas mu"


Pesan dari Cahya yang membuat Devan makin kacau perasaan nya.


"Ayy,,, apa maksud kamu! Sekarang cepat kembali kesini!"


Pesan itu tidak sampai yang berarti ponsel Cahya dimatikan.


Devan tidak tau harus apa, karena kalau menyusul pun akan percuma karena dia tidak tau tujuan Cahya, dia hanya bisa menunggu, sambil menunggu dia membayar lunas rumah yang waktu itu dilihat bersama Cahya, dia menanam banyak bunga-bunga kesukaan Cahya.


"Cuma 4 hari, cuma survey tempat saja, mungkin sekalian main, sepertinya dia lagi banyak pikiran"


Devan tidak menceritakan masalah yang terjadi, dia lalu berpamitan.


Devan terus berusaha menghubungi Cahya dan menjelaskan yang terjadi, tapi tidak ada jawaban apapun.




Hari itu kepulangan Cahya, saat sampai dirumahnya dia melihat mobil Devan terparkir di depan rumahnya, itu berarti di rumah ada Devan, Cahya sebenarnya belum siap menghadapinya langsung tapi dia menguatkan hatinya


"Tenang Ayya, anggap dia hanya seorang teman atau kenalan, jangan marah, jangan sedih, jangan tunjukkan ekspresi apapun, cukup tersenyum seperti selayaknya kamu menghadapi teman mu" batin Cahya



Cahya memasuki rumah dan seperti dugaan nya, ada Devan disana, dia merasa deg-degan, tapi berusaha menutupinya


"Sudah pulang Ayya, kamu mau langsung mandi apa makan dulu, ini ada Devan dari tadi nungguin kamu"


"Aku mandi dulu deh ma, capek banget"

__ADS_1


Cahya lalu menoleh ke Devan, sungguh hatinya sangat deg-degan tapi dia terus berusaha biasa


"Hai Van, sudah lama? ada perlu apa?" Cahya menyapanya dengan ceria tapi kata-katanya sungguh tidak enak didengar untuk seseorang ucapkan pada kekasih nya yang sudah beberapa hari tidak bertemu.



Mama Cahya bangun dari duduknya karena merasa ada yang tidak beres, berusaha memberi ruang agar mereka menyelesaikan masalahnya.



"Mama tidak perlu pergi, temani dia, aku mau mandi dulu"


"Ayy,, maafkan aku, tolong jangan seperti ini" ucap Devan


Cahya hanya tersenyum, dia sudah mau menangis sebenarnya tapi dia menahan nya


"Aku sudah bilang aku sudah melepas mu, jadi kita bukan siapa-siapa lagi, kamu bebas pergi dengan siapapun, sekarang aku sangat capek, aku akan naik dulu"



Mama Cahya memberi kode pada Devan untuk diam dulu, dan membiarkan Cahya untuk naik ke kamarnya,



"Ayya itu dari kecil hidup mandiri, dia tinggal sama kakeknya karena dari kecil tante tinggal untuk merantau, sebenarnya sempat tante bawa merantau, tapi disana dia sakit parah dan hampir nyawanya tidak tertolong"


"Waktu SMP dia dulu jelek, dia gendut dan hitam, dia dihina dan dibully teman-teman nya, tapi dia tidak pernah mengadu pada siapapun, dia selalu memendam perasaan nya, lalu orang tuanya bercerai, dia harus tinggal bersama kakeknya dan harus sambil menjaga adiknya disaat dia juga masih kecil dan butuh kasih sayang"


"Dia juga sepertinya trauma sama pernikahan, dia takut menjadi seperti tante, hidupnya sangat keras dari saat dia kecil, itulah yang membuatnya selalu memendam perasaan nya, dia rendah diri, dia tidak percaya diri dan dia juga sudah biasa ditinggalkan, jadi kehilangan seseorang sudah biasa baginya, karena bahkan ayahnya meninggalkan nya"



Mama Cahya menceritakan tentang Cahya sambil berusaha menahan tangisan nya.



"Maaf tante, aku tidak tau tentang trauma Ayya, dan malah terus mengajaknya menikah, dan aku juga malah melakukan hal yang membuat dia merasa aku meninggalkan nya"


"Sekarang kamu sudah tau, maaf kan atas banyaknya kekurangan Cahya, maafkan tante juga karena membuat nya seperti itu"



"Terimakasih tante, karena sudah menceritakan nya" ucap Devan



"Kamu lebih baik pulang dulu Van, Ayya nya sepertinya masih capek, tidak mungkin bisa diajak berbicara.

__ADS_1


__ADS_2