
Cahya sedikit merasa terbebani dengan cinta Devan yang sangat besar itu, dia juga mencintai Devan tapi entah kenapa dia merasa seperti ada dipenjara cinta Devan, mungkin karena umurnya yang masih sangat muda, dia masih ingin bebas dan masih ingin bermain dengan banyak teman.
Setelah kemarahan dan kecemburuan Devan sudah mulai menghilang, Cahya lalu bangun dari duduknya untuk menyiram tanaman bunga nya.
"Kenapa kamu tidak ganti baju dulu?"
"Nanti saja sekalian langsung mandi"
"Ayy, ayo kita menikah" itu lagi yang diucapkan Devan saat mereka bersama
Makanya tadi Cahya tidak menelfon nya untuk menjemput pulang kerja, karena dia tau pasti Devan akan mengatakan itu lagi, dan Cahya tidak tau harus menjawab apa lagi, karena sudah jelas dia belum siap tapi Devan terus mengajaknya untuk menikah.
"Ayy, kita menikah secepatnya!" Devan kembali berbicara karena Cahya tidak menjawabnya, lalu dia mendekati Cahya di depan tanaman bunganya, dia duduk disana sambil memperhatikan Cahya.
"Aku mau kuliah dulu"
"Kamu tetap bisa kuliah walau sudah menikah"
"Aku belum mau, aku mau kuliah dulu"
"Orang tuaku akan segera kesini melamar kamu"
"Aku beneran belum bisa, tolonglah jangan begitu, menikah itu tentang dua orang jadi kamu harus mempertimbangkan keputusan aku juga" Cahya menjawab sedikit kesal
"Aku harus menunggu berapa lama lagi? 3 atau 4 tahun kalau kamu kuliah? itu terlalu lama"
"Tidak lama, kamu bisa bekerja sambil nunggu aku kuliah jadi setelah menikah langsung bisa punya rumah sendiri"
"Kamu mau rumah, sekarang juga bisa aku belikan"
"Maksudnya gimana?"
__ADS_1
"Aku bisa belikan kamu rumah sekarang juga, aku sekarang tinggal di apartemen tapi kalau kamu maunya tinggal di sebuah rumah, aku bisa beli rumah"
Cahya bingung tidak tahu harus alasan apa lagi, dia tidak pernah berfikir Devan sekaya itu, Devan bekerja juga belum terlalu lama, waktu itu belum lama di Bandung dia sudah beli motor, tapi mobil yang dia pake sekarang adalah mobil yang dia pake waktu di Jawa.
"Kamu kayaknya kerja juga seenaknya, uang dari mana?"
"Menikah sama aku, nanti aku ceritakan, yang pasti aku sanggup menghidupi kamu, aku jamin itu, jadi kamu tidak perlu bekerja"
"Ini obrolan macam apa? aku tidak mau menikah sama kamu kalau begitu"
"Kenapa ayy?"
"Kamu anak orang kaya ternyata? nanti mama kamu mendatangiku terus minta kita pisah, jadi sebelum itu mending aku mundur dulu, waktu itu mama kamu marah waktu di Rumah Sakit, aku sudah takut waktu itu"
"Hahaha" Devan tertawa
"Kamu kebanyakan nonton Drakor atau Sinetron?"
"Kenapa pikiran kamu seperti itu? mama aku sudah tau segalanya, dan orang tua aku bukan yang seperti itu, aku bebas pacaran dan menikah sama pilihan aku"
"Waktu kamu lama di Jawa, aku pikir kamu melupakan ku dan menikah di sana"
"Kenapa Kamu tidak menyusul ku, sepertinya cintamu tidak sebesar cintaku"
"Bukan begitu, aku cewek masa ngejar cowok?"
"Kalau aku belum datang juga dari Jawa sepertinya kamu sudah berpaling dari ku dengan cowok yang tadi"
"Jangan asal kalau ngomong, kamu pikir aku serendah itu? kalau memang aku mau sama dia, dari awal dia ngajak pulang bareng, aku pasti mau, tadi benar-benar tidak ada cara lain"
"Kenapa tidak pesan ojek online?"
__ADS_1
"Maaf tidak kepikiran, hehehe" Cahya tertawa malu dan menutup wajahnya.
Devan melihatnya dan jadi gemas, kecemburuannya muncul lagi, dia langsung mendekati Cahya dan memeluknya dari belakang karena Cahya masih menyiram bunga.
"Awas saja kalau kamu berani kayak tadi pulang sama pria lain"
"Kalau pergi boleh ya? kan tidak boleh pulang sama pria lain kalau pergi berarti boleh" ucap Cahya bercanda.
"Boleh saja, tapi saat aku tau, kamu akan langsung habis sama aku sampai tidak bisa pergi kemanapun lagi"
Cahya melepaskan pelukan Devan karena dia sudah selesai menyiram tanaman bunganya, dia mau merapikan selang.
"Van, kamu pulang dulu ya, mama bentar lagi pulang"
"Kenapa memangnya, sudah biasa juga"
"Jangan begitu, aku mohon kamu pulang dulu"
"Cium aku dulu"
"Tadi kan sudah"
"Itu aku, kamu tidak pernah cium aku duluan, kamu tidak mencintaiku ya?"
"Apa cinta itu harus berciuman? cinta itu perasaan, kalau yang kamu mau itu nafsu"
"Pokoknya aku tidak akan pulang kalau kamu belum cium aku"
"Terserah saja"
Cahya menghela nafas lalu duduk lagi di kursi teras, dia lalu memeriksa ponselnya, ada pesan dari Roni yang masih belum percaya dia punya pacar, Cahya lalu menjelaskan kalau selama ini dia LDR.
__ADS_1
Devan memperhatikan Cahya yang serius dengan ponselnya, dia lalu penasaran dengan apa yang dilihat Cahya di ponselnya, dia semakin mendekati Cahya, tapi mama Cahya lalu pulang jadi Devan berhenti, setelah mereka mengobrol sebentar dan ber basa-basi lalu Devan berpamitan untuk pulang.