
Selesai makan siang, mereka duduk di depan Televisi, walau mereka tidak menontonnya dan hanya duduk-duduk saja sambil mengobrol, Devan mengajak Cahya membeli laptop, tadi dia mau membelikan tapi takut tidak terpakai kalau tidak sesuai kemauan Cahya.
"Sama saja, bagi aku yang penting bisa dipakai mau kayak bagaimana juga"ujar Cahya
"Sekalian kita keluar, biar kamu tau daerah sini, aku sudah sering ke negara ini untuk menjenguk Renal atau hanya sekedar jalan-jalan untuk menghilangkan stress karena terus bekerja dan mencari kamu selama ini"
Cahya hanya diam mendengarkan suaminya berbicara, tanpa dia sadari dia terus memandangi wajah suaminya itu, Cahya baru sadar kalau selama ini dia sangat egois, dia pergi meninggalkan Devan dengan berbagai alasan yang dia pikir alasan terbaik untuk mereka berpisah, ternyata semua itu salah, karena Devan hanya ingin terus bersama nya.
"Ada apa sayang, kenapa terus melihatku? apa kamu baru sadar kalau suami kamu ini sangat tampan"
"Aku sudah menyadarinya dari dulu, aku hanya berfikir sepertinya aku sedang jatuh cinta lagi"
"Apa maksud kamu ayy, jangan bercanda ya, itu tidak lucu!!" teriak Devan yang tiba-tiba menjadi sedikit emosi.
Cahya tersenyum, dia mendekati suaminya lalu langsung duduk di pangkuannya, mengalungkan tangannya di leher suaminya, Cahya terus memandangi wajah suaminya lalu menciumnya dengan lembut.
"Ayo berangkat, katanya mau membeli laptop" ujar Cahya setelah melepaskan ciumannya
"Bilang dulu kamu jatuh cinta pada siapa?"ujar Devan dan menahan istrinya dalam pangkuannya.
"Rahasia"
"Ayy, aku tidak bisa bercanda masalah ini" suara Devan terdengar tertahan, dia memang lelaki tetapi bukan kah tidak menjadi masalah kalau seorang lelaki menangis, dia sudah sangat menderita dengan selalu ditinggal lari istrinya, dia berusaha setia dengan banyaknya godaan saat istrinya tidak ada di samping nya, tapi walau sekarang istrinya ada disampingnya, dia bisa apa lagi kalau istrinya malah mencintai pria lain.
Kalau Cahya kabur dan melarikan diri darinya, dia masih bisa terus mencarinya karena Cahya masih mencintainya tapi walau berdekatan kalau hatinya sudah bukan miliknya, apa yang bisa Devan lakukan.
Cahya melihat kearah suaminya yang terlihat sangat bersedih, dia tidak tega menjahili suaminya lebih lama, dia memeluk suaminya erat.
"Maafkan aku" Cahya sangat menyadari kalau suaminya trauma dengan seringnya dia melarikan diri darinya.
__ADS_1
"Sayang, aku jatuh cinta lagi padamu, apa tidak boleh?" ujar Cahya tidak berani memandang wajah suaminya, dia takut suaminya marah, dia juga malu karena bersikap manja.
"Kamu membuat ku takut, coba katakan lagi apa yang kamu bilang barusan" Devan lega dan malah dia yang sekarang ingin menjahili istrinya yang malu-malu dengan menyembunyikan wajahnya di dadanya.
Cahya menggeleng dengan semakin mempererat pelukannya agar bisa terus menyembunyikan wajahnya di dada Devan.
"Kamu manis sekali" Devan gemas dan terus menciumi kepala istrinya yang masih terus berada di dadanya.
"Mau sampai kapan kita seperti ini? aku sih tidak keberatan, tapi katanya kita mau membeli laptop" ujar Devan.
Cahya langsung bangun dan berlari ke kamar untuk berganti baju, tidak berani melihat wajah suaminya, dia malu karena menyatakan cinta pada suaminya sendiri, Devan mengejarnya dan langsung menangkapnya kembali dan mendorongnya ke kasur dan langsung menindih istrinya, mereka terus berpandangan, terlihat wajah Cahya yang memerah karena malu, Devan mencium lembut istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu, aku sudah terlalu jatuh kedalam pesona cahaya cintamu, kamu tidak perlu malu padaku, karena cintaku padamu tetap lebih besar" ujar Devan lalu kembali mencium istrinya.
"Aku mau ganti baju dulu, cepat turun, nanti kita kesorean" ujar Cahya berusaha mendorong tubuh suaminya yang masih anteng diatas tubuhnya.
"Ayy, satu ronde dulu, aku janji sebentar" pinta Devan dan tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, Devan langsung melakukan niatnya, Cahya hanya bisa pasrah Karena dia tidak akan mungkin sanggup melawan Devan.
"Mas Devan!" teriak seorang wanita yang sangat anggun mendekati Devan.
"Hay Sari, kamu disini juga?" jawab Devan
"Iya, aku mau membeli laptop baru, kamu mau beli laptop juga? sekalian pilihkan buat aku, pasti mas tau yang terbaik, eh iya ini siapa? manis banget, pasti adiknya ya?" ujar Sari lalu melihat kearah Cahya
"Bukan!" jawab Cahya sedikit keras, dia tidak mau kejadian Sinta terulang kembali.
"Aku istrinya" ujar Cahya lalu menganggukkan kepalanya tanda memberi salam, wanita itu terlihat kaget tapi cepat menguasai mimik wajahnya.
"Salam kenal, maaf ya soalnya masih terlihat sangat muda" jawab Sari merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, banyak kok yang beranggapan begitu" ujar Cahya
"Makanya makan yang banyak biar cepat besar" ujar Devan, dia lalu menanyakan laptop apa yang akan dicari Sari.
"Apa saja, tapi yang harganya cocok untuk kantong anak perantauan,, hehe" jawab Sari
"Samakan saja seperti milikmu" tambah Sari
"Aku membeli untuk istriku, jadi aku membelikan yang terbaik, kami duluan ya, lebih baik kamu minta rekomendasi pada pegawainya, maaf aku langsung ke kasir ya soalnya kami masih ada acara lagi" pamit Devan pada Sari, Cahya hanya mengangguk kan kepalanya pada Sari dan langsung mengikuti suaminya, Devan langsung meminta laptop terbaik pada pegawai toko itu dan langsung membayar di kasir.
"Ayy kamu mau makan apa?" tanya Devan saat mereka sampai ke restoran, Cahya lalu memilih menu, Devan memesan makanan dan tidak disangka saat datang pesanan mereka, banyak sekali pesanan Devan.
"Kamu mengundang siapa kesini? kenapa banyak sekali memesan makanan nya?" tanya Cahya heran.
"Habiskan Ayy, biar kamu cepat bertumbuh, biar tidak selalu dianggap adikku, apa aku terlihat setua itu sampai banyak yang mengira kalau aku ini kakakmu?" ucap Devan kesal.
"Mereka tidak tau kakak Devan sayang, lagipula bukankah kamu dulu ingin sekali aku memanggilmu kakak?"jawab Cahya menggoda suaminya.
"Itu dulu, mulai sekarang panggil aku dengan benar, boleh suami ku, sayangku, atau cintaku, pilih salah satu" ujar Devan
"Nanti lagi deh, aku mau makan dulu yang banyak biar cepat bertumbuh" ujar Cahya sambil tersenyum menggoda suaminya.
"Kita bertemu lagi,, kalau tau begini tadi kita bersama ke sininya, aku langsung gabung ya "ujar Sari yang baru memasuki restoran itu dan langsung duduk disamping Devan.
Seperti biasa Cahya tidak akan langsung mempedulikan hal yang seperti itu, malah Devan yang trauma karena takut Cahya tiba-tiba langsung menghilang tanpa jejak lagi.
"Sari maaf, kami ingin makan berdua saja, meja lain masih banyak yang kosong" usir Devan secara halus
"Tidak apa-apa, langsung makan saja disini, kebetulan mas Devan memesan banyak makanan, kami tidak akan mungkin menghabiskan nya" ujar Cahya
__ADS_1
"Ayyy" panggil Devan merasa horor dengan sikap istrinya.