
"Ayy, besok pagi kita berangkat ke Bandung"
"Aku masih mau disini, aku masih kangen Rafa, nanti kita ke Bandung kalau Rafa sudah mau diajak sekolah di sana, aku masih mencoba mencari cara supaya dia mau ikut"
"Ayy, Rafa disini tidak kekurangan suatu apapun, apa yang kamu khawatirkan?"
"Aku khawatir saat aku tua, aku menyesal karena pada masa kecilnya aku tidak menemaninya, lagipula kenapa kamu tidak berusaha juga, memang kamu tidak mau kita tinggal dalam satu rumah bersama keluarga kecil kita?"
"Bukan seperti itu Ayy, kalau Rafa nya tidak mau kita bisa apa?"
"Aku belum melihatmu berusaha" Cahya menatap suaminya dengan penuh kecurigaan, membuat Devan menjadi salah tingkah
"Apa kamu tidak mau kalau Rafa ikut kita? dari dia lahir kamu tidak pernah bersama nya, kenapa sekarang kamu tidak mau kalau dia tinggal bersama kita? dia itu laki-laki jadi butuh figur pemimpin, butuh kasih sayang dari ayah dan ibunya, karena kasih sayang dari kakek dan neneknya pasti berbeda" Cahya bersedih lalu tidur melingkar dengan memeluk kakinya.
"Ayy, kenapa kamu tidurnya seperti ini, buka kakinya Ayy, aku mau memelukmu"
"Tidak mau, kalau kamu tidak bisa membujuk Rafa untuk ikut bersama kita ke Bandung, aku tidak mau ke Bandung dan tidak mau kamu peluk"
"Ayy, kamu lucu banget kalau lagi ngambek, iiihhh gemesnya" bukannya takut atau kesal karena istrinya ngambek, Devan malah senang melihatnya, dan terus menjahili istrinya, Devan terus mencubit pipi dan berusaha memeluk tubuh Cahya dari belakang
"Aaahhhh,,, awas Devan,, aku geli"
Devan langsung menyibakkan rambut istrinya dan langsung mencium leher istrinya dan membuat tanda merah di sana
"Aaahhhh aaahhh sayang lepas" Cahya menggeliat dan merintih, tangan Cahya terlepas dari memegangi kakinya, Devan melihat itu dan langsung menindih tubuh istrinya.
"Ayo ngambek lagi, kamu sangat lucu" Devan terus menciumi Cahya
Tok tok tok tok
__ADS_1
Cahya langsung bergegas bangun setelah mencubit perut suaminya karena Devan tidak mau melepaskan nya,
"Awas saja kalau nanti tertangkap" ucap Devan
"Ada apa mbak?" tanya Cahya pada asisten rumah tangga yang bekerja di sana
"Ada tamu nyonya muda, mereka datang dari rumah singgah dan ingin menemui tuan Devan"
"Baiklah, akan segera saya sampaikan, terimakasih mbak"
Cahya lalu kembali kedalam dan memberi tahu hal itu pada suaminya, Cahya tidak ikut karena dia merasa tidak mengenal para tamu itu.
"Tuan Devan, kami semua mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuannya selama ini, kami akan kembali ke rumah orang tua kami masing-masing, karena kami sudah menyadari kesalahan kami"
Sebenarnya Devan tidak terlalu ingat pada mereka, tapi Devan hanya mengangguk mengiyakan,
"Tuan Devan, apa masih mengenali gadis yang tuan selamat kan 2 tahun yang lalu? sekarang dia sudah sembuh total dan ingin memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih atas bantuan tuan padanya"
Devan langsung bergegas untuk menyelamatkan istrinya, saat itu di dalam rumah hanya ada dia dan istrinya dan beberapa asisten rumah tangga, Devan berusaha melawan mereka, hingga akhirnya dia bisa dilumpuhkan dan diikat karena komplotan itu membawa senjata tajam dan melukai lengannya.
"Ayy, diam dikamar dan jangan pernah keluar atau membuka pintu" batin Devan terus memohon dalam hati
"Cepat katakan dimana istrimu?" teriak gadis yang tadi memberikan kotak pada Devan, saat Devan tidak menjawab gadis itu menodongkan senjata tajam pada Devan
"Maafkan aku yang pelupa ini, tuan Devan yang terhormat yang sangat terkenal karena ketampanan dan kesetiaan nya pada sang istri, tentu saja pasti akan melindunginya, tetapi kita lihat, apakah istrimu akan melakukan hal yang sama untukmu"
Gadis itu langsung berteriak ditengah ruangan untuk memanggil Cahya,
"Nyonya Devan yang terhormat, panggilan untuk anda, suami tercinta ada sedang terluka, apakah anda akan terus bersembunyi? atau anda mau aku melakukan sesuatu padanya, semisal aku meminta dipuaskan oleh nya yang sangat gagah ini, saat ini tangannya terikat, tapi aku yakin kalau burung nya tetap akan bangun, lagipula aku sangat penasaran, aku dengar suamimu sangat setia, aku ingin mencobanya sekarang, apakah cerita itu benar atau hanya omong kosong" gadis itu lalu memanggil komplotannya yang dari tadi sibuk mencari barang berharga,
__ADS_1
"Rebahkan pria itu, dan pasang semua kamera dari segala sudut, aku akan mulai membuat video, seperti nya kali ini akan sangat menyenangkan, karena pemain prianya sangat tampan, terkenal, kekar dan sudah pasti sangat kaya, aku bisa mendapatkan hal yang aku idamkan sekaligus didalam satu orang,, cepat baringkan dia!!" gadis itu terus berteriak karena Devan terus melawan walau tangannya terikat.
"Ternyata kamu juga sangat kuat, aku benar-benar tidak sabar ingin mencicipi mu,, aauuuummmm!" gadis itu terus mengoceh dan berusaha menggoda Devan yang masih terus bertahan tengkurap tidak mau terlentang, luka di lengannya terus menerus mengeluarkan darah.
"Baiklah, lepaskan saja dia, pasang kamera dengan benar, dan kalian lanjutkan mencari barang berharga, aku akan bermain dulu disini" gadis itu membuka baju dan celana nya, dan langsung duduk di atas tubuh Devan yang tengkurap, Devan langsung menggoncang kan tubuhnya hingga gadis itu terjengkang, dan terbentur lantai membuat nya berteriak marah,
"Tidak perlu jual mahal dan jaga image, sekarang cepat layani aku!" Teriak gadis itu lalu mengangkat kepala Devan dengan menjambak rambutnya, tetapi saat gadis itu akan menyodorkan gunung nya pada mulut Devan, tiba-tiba terdengar teriakan dari para komplotannya, gadis itu langsung bergegas untuk memeriksa, salah satu temannya telah menghilang, tetapi mereka kemudian melanjutkan kegiatan mereka.
"Biarkan saja dia, kita tidak terlalu membutuhkan nya, cepat selesaikan dan jangan ada lagi gangguan untukku!" gadis itu lalu kembali pada Devan
"Maaf ya sayang ku, tadi ada sedikit iklan, tetapi mulai sekarang kita akan membuat film dokumenter supaya anak kita nantinya bisa melihat bagaimana proses pembuatan mereka" gadis itu duduk di atas kepala Devan lalu perlahan dia turun, mengangkat kepala Devan dan dia memajukan duduknya supaya wajah Devan langsung pada inti tubuhnya.
Devan terus mencoba mundur, tetapi gadis itu terus mengejarnya, hingga saat Devan tidak bisa menghindar lagi,
Dddoooorrrrr
Terdengar bunyi tembakan pada salah satu kamera, dan saat gadis itu menoleh, Cahya sudah berdiri didepan pintu dan langsung berlari menjambak rambut gadis itu lalu dengan keras menariknya kuat dan melemparkannya,
"Menjauh dari suamiku!!" teriak Cahya
"Aaaauuuuwwww!!" gadis itu terbentur tembok, teriakan gadis itu terdengar membuat para komplotannya datang untuk melihat situasi, Cahya sudah membantu Devan berdiri dan membuka ikatan nya, senjata api yang tadi di pegang Cahya sudah berpindah dan dipegang oleh Devan yang di arahkan pada gadis itu.
"Satu gerakan saja lalu ketua kalian akan binasa!" teriak Devan, tidak lama polisi baru datang, rumah mereka berada di pegunungan jadi butuh waktu lama untuk bantuan datang, sementara para tetangga rumahnya terletak cukup jauh jadi tidak terdengar ada keributan
Setelah memberikan laporan kepada polisi, Cahya lalu memapah suaminya ke mobil untuk membawanya ke rumah sakit, Devan tidak tau kalau istrinya sudah bisa menyetir mobil,
"Sejak kapan kamu bisa menyetir mobil?" tanya Devan dengan menahan sakit di lengannya, Cahya lalu memberikan sebuah kain dan menyuruh Devan menekan lukanya supaya tidak terus mengeluarkan darah.
"Sudah lama" jawab Cahya singkat lalu dengan cepat melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Kamu juga tadi sangat kuat menarik gadis gila itu, seperti nya selama ini kamu menyembunyikan kekuatan dirimu ya? mungkinkan kamu seorang mata-mata wanita seperti di film-film itu?" tanya Devan, entah serius atau bercanda, tetapi saat Cahya menoleh sekilas dan menunjukkan wajah serius nya membuat Devan langsung terdiam.
"Apa istriku yang sangat imut dan manis ini benar-benar mata-mata, atau semacamnya" batin Devan yang seperti nya mulai ngaco karena kehilangan banyak darah.