
"Bagaimana bisa Dena bersama kak Reza, dimana mereka bertemu? aku benar-benar tidak menyangka"
Cahya bangun tidur dan langsung memeriksa kembali ponselnya, dia masih sangat antusias melihat foto Reza dan Dena, dia sangat bahagia karena Reza akhirnya bisa melepaskan dirinya dan bahkan sudah memiliki kekasih.
"Kamu benar-benar senang atau hanya pura-pura?, sepertinya kamu kecewa karena Reza sudah tidak menyukai dirimu" Devan sewot melihat Cahya yang terus melihat foto Reza dan Dena
"Kakak Devan sayangku" Cahya menggoda Devan
"Jangan panggil aku seperti itu!" Devan tidak suka dan paling tidak bisa diajak bercanda kalau sedang kesal atau cemburu, Cahya memegang kedua pipi suaminya dan langsung mencium bibirnya tetapi tiba-tiba Cahya berlari ke kamar mandi dan langsung muntah, Devan langsung bergegas memeriksa istrinya
"Ayy, kenapa sayang?" Devan lalu memijat leher belakang Cahya yang masih terus muntah, Devan lalu menggendong istrinya kembali ke ranjang dan memeriksa keningnya,
"Tidak panas, apa tadi malam kamu terlalu banyak makan pedas?"
Cahya hanya menggeleng, Devan mencoba memeluknya tetapi Cahya kembali berlari ke kamar mandi untuk muntah,
"Kenapa Ayy, apa karena aku belum mandi? tapi biasanya juga tidak apa-apa" Devan heran dengan istrinya, sekali lagi Devan mendekati istrinya tetapi kali ini Cahya menahan tubuh Devan dengan tangannya supaya suaminya tidak mendekati nya.
"Jauh-jauh dulu, aku langsung mual mencium aroma tubuhmu"
"Ayy, kenapa ucapan mu begitu menyakitkan?" Devan terus menerus mencoba mendekati istrinya hingga membuat Cahya kesal,
"Menjauh dariku!!" Cahya berteriak dan melemparkan bantal pada Devan, Cahya lalu kembali tiduran.
"Ayy, ayo bersiap dulu, kita mau pulang siang ini"
"Aku masih mau disini" jawab Cahya pelan
Devan lalu menghubungi ibu Retno untuk mengabarkan bahwa mereka belum bisa kembali karena tiba-tiba Cahya sakit
"Cepat bawa ke dokter, mumpung kalian masih di kota, mungkin kemarin dia sangat ketakutan dan shock"
"Tapi dia terlihat biasa dari kemarin ma, kalau takut seharusnya dari kemarin"
"Lebih baik diperiksakan saja biar tahu dia kenapa, lagipula kalian akan segera ke Bandung jadi dia harus dalam kondisi sehat"
Setelah mendapat saran dari mamanya, Devan berusaha membujuk istrinya untuk ke dokter tetapi lagi-lagi Cahya menolaknya,
"Sayang sini, peluk aku" Cahya sudah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat dari Devan
"Aku merasa mengingat sesuatu, ini seperti Dejavu tetapi apa ya? aku lupa" batin Devan sambil sesekali membelai rambut istrinya yang mulai terlihat nyaman dalam pelukannya, tidak seperti tadi yang marah saat dia dekati, Devan lalu memperhatikan istrinya yang hampir memejamkan matanya, tiba-tiba Devan ingat sesuatu dan langsung menciumi istrinya membuat Cahya yang hampir tertidur lagi kembali terbangun
__ADS_1
"Sayyyaanngg, kamu kenapa membangunkan aku, diam dulu,, aku merasa sangat lemas" Cahya bersuara pelan dengan tangannya yang mencoba mendorong wajah suaminya agar sedikit menjauh, Devan menurut dan tidak menciumi istrinya lagi tetapi dia tetap tersenyum lebar dan membawa kepala istrinya kedalam pelukannya, Cahya merasa nyaman dalam dekapan dada bidang suaminya, lama-kelamaan akhirnya dia tertidur.
"Semoga benar apa yang aku pikirkan" batin Devan dan tidak melepaskan tangannya dari memeluk dan membelai rambut istrinya, Devan sangat gembira dengan perasaannya.
"Ayy, apa kamu tau kenapa aku begitu sangat ingin kamu kembali mengandung? itu bukan hanya karena aku menginginkan banyak anak, tetapi yang paling aku inginkan adalah, aku bisa menemanimu, menjaga dan merawat mu saat mengandung, karena aku tidak punya kesempatan itu saat kamu mengandung Rafa" batin Devan dan semakin mempererat pelukannya.
Devan tidak bisa tidur, dia sangat bahagia, walau ini belum pasti karena belum diperiksa tetapi entah kenapa Devan sudah sangat yakin, Devan terus memandangi wajah damai istrinya yang terlelap, membenarkan rambutnya yang menutupi pipinya dan terus menciumi nya secara perlahan karena takut membangunkannya.
Cukup lama Cahya tertidur dalam dekapan suaminya, saat terbangun dia kaget dengan senyuman manis suaminya yang tepat didepan mata nya,
"Ssaayyyaaang, kamu mengagetkanku!! ada apa ini? kenapa kamu tersenyum seperti itu?" Cahya sedikit menjauhkan diri dari suaminya tetapi Devan tidak membiarkan nya
"Sayang, kamu mau makan apa? ini sudah sangat siang untuk disebut sarapan tetapi kita harus sarapan, ayo bangun dulu"
"Aku malas sekali, entah kenapa badanku terasa lemas, aku mau buah mangga, tetapi ini masih sangat pagi"
"Tidak apa-apa sayang, aku akan mencarinya untukmu, sekarang kamu istirahat dulu ya, aku akan segera kembali" Devan sangat senang, dia semakin yakin dengan dugaannya.
Devan melihat di restoran hotel itu tidak ada buah mangga, dia lalu mencari di supermarket, untung saja buah itu ada, dan tidak lupa dia membeli banyak buah yang lain.
Devan langsung bergegas untuk kembali ke hotel, Devan langsung mengupas mangga yang dia beli dan memotongnya kecil-kecil supaya Cahya mudah memakannya
"Ini Ayy makan dulu"
"Tidak ada Ayy, lagipula kalau mentah pasti asam, sekarang makan dulu yang ini nanti agak siang aku carikan"
Cahya makan walau hanya beberapa suap dan langsung tiduran lagi sambil memainkan ponselnya, selama ini Cahya jarang membuka ponselnya, kecuali kalau ada yang menelponnya.
Cahya tertawa membuat Devan menjadi penasaran dan mendekatinya untuk melihat apa yang sedang dilihat istrinya,
"Menjauh dariku!" Cahya kembali mendorong tubuh Devan agar tidak mendekatinya, Devan hanya bisa menurut dan menjauh, karena tidak ada yang bisa dikerjakan akhirnya Devan ketiduran.
Cahya memandangi suaminya lalu mendekat dan masuk dalam pelukan Devan yang tertidur miring, Cahya mengendus dada suaminya membuat Devan terbangun karena geli, Devan langsung memeluk erat Cahya.
"Sayang, ayo kita ke dokter, aku merasa mengingat sesuatu dengan tingkahmu saat ini, waktu itu diawal kehamilan Rafa, kamu juga seperti ini" Devan terus menciumi kepala Cahya
"Aku tidak mau terlalu banyak berharap, kamu juga jangan, nanti kamu kecewa sayang, bisa saja sekarang ini aku hanya sedang masuk angin, maafkan aku karena belum bisa memenuhi keinginanmu" Cahya kembali galau dan menempelkan wajahnya pada dada Devan untuk menutupi kesedihannya.
"Sayang, mau kamu memang sedang mengandung atau hanya masuk angin, tetap saja kamu harus diperiksa, supaya nanti dapat resep dokter"
"Kalau aku hanya masuk angin, aku hanya perlu istirahat" Cahya masih tidak mau ke dokter.
__ADS_1
"Bukankah kita akan segera ke Bandung? kamu harus sehat dulu sebelum berangkat"
"Kenapa kita tidak tinggal disini saja, apa kamu masih ingin membuka cafe di Bandung, memang nya kamu yakin akan bisa mengontrol semuanya, bukankah sudah banyak cabangnya di Jogja?"
"Aku hanya ingin terus berusaha disaat aku masih bisa, saat tua nanti aku hanya ingin di rumah bersamamu, saat itu anak-anak kita sudah besar, mereka akan menemui kita sebulan sekali untuk berkumpul, dan saat itu kita sudah tidak perlu lagi memikirkan lagi masalah keuangan"
"Baiklah, kita ikuti rencana mu, tapi besok ya diperiksa nya, sekarang aku merasa sangat malas, aku hanya ingin tiduran"
Cahya sedikit menjauh dari Devan karena mencoba mengambil ponselnya tetapi ditahan oleh Devan dan tidak mengizinkan istrinya bermain ponsel lagi
"Jangan bermain ponsel lagi, sudah diam bersamaku, karena nanti kamu akan asyik sendiri dan tidak memperdulikan diriku lagi, lagipula apa yang kamu lihat dari tadi sampai kamu tertawa-tawa sendiri?"
"Ada video lucu, anak kecil yang belum ada setahun bermain dengan telur yang akan dimasak oleh mamanya, telur nya hancur semua, jadi anak itu mandi telur mentah"
"Kenapa bisa sampai seperti itu? memangnya kemana kedua orang tuanya?"
"Aku tidak tau, karena tidak dijelaskan di video itu, lagi pula kenapa kamu menanyakan orang tua nya, itu kan hanya video lucu"
"Tetap tidak boleh seperti itu Ayy, telur mentah kan kotor apalagi kulit nya, itu berbahaya untuk bayi, bagaimana kalau tidak sengaja tertelan?"
"Sayang, kenapa kamu menjadi terlalu serius? ini hanya video lucu saja" Cahya melihat kearah suaminya yang terlihat kesal, Cahya lalu duduk di atas tubuh Devan untuk membuat nya tidak kesal lagi,
"Jangan marah, itu hanya candaan, aku tidak akan membiarkan anak ku seperti itu" Cahya lalu tiduran di atas tubuh Devan tetapi tidak melakukan apapun dan hanya tiduran dengan telinga kirinya dia tempelkan pada dada Devan.
"Bolehkah aku melakukan nya Ayy?"
"Biasanya juga tidak pernah izin, kenapa sekarang bertanya dulu, memang kalau aku menolak kamu tidak akan melakukan nya?"
"Aku juga melihat kondisi mu sayang, aku tidak akan memaksa kalau aku tau kamu sedang tidak bisa"
Cahya menciumi dada suaminya membuat Devan semakin gelisah, karena dari tadi istrinya terus menempel pada dadanya, kalau biasanya pasti dia akan langsung menyerang Cahya, tapi dia takut kalau istrinya itu benar sedang awal kehamilan nya, dia tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Kenapa menjadi sangat gerah disini, apa kamu juga gerah sayang?" tanya Cahya lalu membuka bajunya dan kembali duduk di atas tubuh Devan, melihat itu Devan semakin gelisah,
"Aku sangat dingin sekali Ayy, disini kan ada AC, jadi mana mungkin gerah" Devan sudah tidak bisa memalingkan wajahnya dari tubuh istrinya karena Cahya terus menggoda nya dengan membuka semuanya, Devan menelan ludah
"Sayang, kenapa kamu seperti ini, ayo kita kedokter dulu" Devan menutupi wajahnya menggunakan bantal
"Yakin kamu tidak mau?" tanya Cahya dan mulai menggesekkan dadanya pada dada Devan yang sudah terbuka kancingnya karena kelakuannya tadi
"Aakkhhh,, Aayyy, jangan nakal" Devan tidak bisa bertahan lagi, dia langsung melemparkan bantal yang dari tadi dia pegang dan langsung menyerbu buah favorit nya, Cahya tersenyum dan meremas rambut suaminya.
__ADS_1
"Aku semakin yakin kalau kamu sedang hamil Ayy" batin Devan dan terus memainkan buah favoritnya yang ada pada tubuh Cahya.