Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Ayya, Ayya, Ayya


__ADS_3

"Mama, ma" Rafa membangunkan mamanya yang masih tertidur pulas, malah ayahnya yang terbangun


"Ada apa Rafa sayang? sini sama ayah dulu, seperti nya mama sedang sangat lelah"


"Ayah, kapan kita pulang? aku ingin bermain bola bersama kakek"


"Kita tunggu mama bangun dulu, setelah itu kita makan langsung kita pulang kalau belum kemalaman, kalau sudah terlalu malam, kita pulangnya besok pagi, sekarang Rafa mau ikut nenek ke supermarket apa tidak? tadi nenek menunggu Rafa bangun untuk mengajak Rafa berbelanja"


"Mau ayah, sekarang nenek dimana?"


"Ada di kamar sebelah, ayo ayah antar" Devan lalu menggendong anaknya dan membawanya pada ibu Retno


"Ma, ini Rafa sudah bangun, nanti pulang dari supermarket jangan dulu langsung ke kamar aku, ajak dulu Rafa bermain, takutnya aku belum selesai berkembang biak" bisik Devan pada ibu Retno


"Aaawwhhhh,, aduh" Devan memegangi bahunya karena di geplak oleh ibu Retno


"Tidak tau malu, sudah sana pergi!" teriak ibu Retno


"Ayah kenapa Nek? kenapa dipukul?" tanya Rafa yang keheranan melihat ayahnya yang dipukul neneknya


"Tidak sayang, tadi bahu ayahmu sakit jadi nenek mencoba memijitnya dengan keras supaya cepat sembuh"


"Iya benar kata nenek, sekarang ayah istirahat dulu ya, selamat bersenang-senang bersama nenek" Devan mencium kening Rafa lalu dengan cepat pergi dari sana menuju kamar nya.


Dilihatnya Cahya yang masih terlelap, tidak biasanya dia tidur siang selama ini, karena waktu sudah menunjukkan hampir sore, Devan berusaha membangun kan istrinya, cara yang dia lakukan kali ini sangat tidak wajar


"Aaaakkkhhhh,,,!" Cahya terbangun dengan nafas tersengal-sengal dan merasakan sesuatu di bagian bawahnya, Cahya langsung melihat ke arah bawahnya,


"Aaaauuuuwwww sayang, kamu mengagetkanku" Cahya meremas lembut rambut Devan dan terus merintih, Devan sangat pintar membuat nya melayang-layang di atas awan


"Kenapa caramu membangunkan ku begitu aneh, aaakkhhhh sayang!" Cahya menekan kepala suaminya, entah sudah berapa lama Devan memainkan miliknya saat dia tertidur karena saat ini dia sudah langsung mengejang.


"Sayang, kamu sangat nyenyak sekali sampai melupakan ku, kamu bermimpi apa?" Devan sudah merangkak naik keatas tubuh istrinya dan sekarang dia minum dulu karena kehausan, minum susu alami milik istrinya yang selalu bisa menyegarkan dahaganya


"Sayaaannngg, dimana Rafa? nanti dia melihat kita,, aakkhhh" Cahya terus dibuat mendesis dan merintih, semakin hari Devan semakin ganas mencumbu nya membuat nya selalu mabuk kepayang dengan semua kejutan-kejutan nikmat dari suaminya, Cahya kembali mengejang dengan permainan suaminya.


Devan langsung memeluknya, sepertinya dia juga ingin diservis oleh istrinya karena tidak langsung menggoyang istrinya, Cahya paham maksud suaminya, dia langsung bangun dan membuka celana suaminya.


Adegan demi adegan mereka lakukan hingga Cahya ambruk di atas tubuh Devan dengan nafas yang masih tidak beraturan, Cahya sadar milik suaminya masih kokoh berdiri didalam miliknya, Cahya memanyunkan bibirnya seolah memohon pada suaminya


"Tidak sayang, tidak akan pernah aku lepaskan dirimu" Devan menarik istrinya dalam pelukannya, Devan terus menghentakkan pinggulnya ke atas, Cahya merintih ditelinga Devan, rintihan demi rintihan yang terdengar sangat merdu ditelinga Devan,


"Ssaayyyaaang, aahhhhhh" Cahya kewalahan karena Devan terus menghentakkan pinggulnya ke atas seolah menembus inti tubuh Cahya dengan hebatnya yang dari tadi berada di atas tubuh Devan, Cahya menggigit telinga Devan dan terus meremas rambut Devan membuat Devan semakin bergairah


"Ooohhhh,,, aaaakkkhhhh,, apa lagi ini sayangku? kenapa sangat nikmat" bisikan Cahya bagai bensin yang menyulut gairah Devan terus semakin bertambah


Setelah sekian lama, akhirnya Cahya kembali terkulai lemas di atas tubuh Devan, saat Cahya kembali sadar dia merengek karena milik Devan masih tetap kokoh berdiri tegak didalam inti tubuhnya

__ADS_1


"Sayaaannngg, mau sampai kkaappaann??? aaaaaaaa, suuuddaahhh" Cahya terus merengek dengan muka memelas nya yang malah selalu membuat Devan gemas karena Cahya semakin terlihat imut


"Sampai ajal menjemput ku,


Ku selalu mencintamu


Menyayangmu


Engkau tulang rusukku" Devan menjawab dengan nyanyian walau nafasnya terdengar berat karena miliknya masih menancap di dalam inti tubuh istrinya


"Sayang, kamu ini bisa-bisanya bercanda, sudah ya?" Cahya berusaha bergerak untuk melepaskan diri, tetapi tentu saja seperti biasanya, Devan tidak akan pernah melepaskan nya, Devan bangun dan kali ini Cahya yang berada di bawah nya, Devan menatap istrinya yang terlihat sangat lemas terkulai, tetapi terlihat begitu menggairahkan dengan dada nya yang naik turun mengatur nafasnya, Devan langsung menyerbu buah kembar istrinya,


"Aaaakkkhhhh!!" Cahya merintih keras karena lagi-lagi harus menerima kenikmatan dari suaminya, Cahya meremas rambut suaminya untuk sekedar mencari penopang rasa nikmat yang tiada henti Devan berikan untuknya.


Setelah cukup lama akhirnya benih itu keluar dan memenuhi lahan Cahya, setelah terlihat istrinya bisa mengatur nafasnya, Devan lalu menggendong istrinya ke kamar mandi, Cahya yang merasa sangat lemas hanya terdiam di bathtub, Devan dengan telaten membersihkan tubuh istrinya dan sesekali masih mengambil kesempatan dengan menciumi nya dibeberapa bagian, Cahya hanya bisa pasrah menerima setiap apa yang dilakukan suaminya.


Selesai mandi, Devan membuatkan susu coklat hangat untuk istrinya, tidak lama terdengar suara pintu diketuk, Devan langsung membuka nya karena itu adalah layanan kamar yang dia pesan untuk mengantarkan makan malam mereka.


"Rafa dimana? mungkin dia belum makan"


"Tadi pergi sama mama, seperti nya belum pulang, sebentar aku periksa dulu" Devan lalu melihat ke kamar sebelah


"Mereka belum pulang Ayy, mau ditelpon?" Cahya lalu mengangguk


"Mama,,, Rafa sama nenek pulang duluan, mama istirahat dulu ya, kata nenek kalau mama banyak istirahat nanti pulang nya akan bawa adik bayi, bye-bye mama,, aku mau makan es krim dulu,, eeemmuuaacchhh" Rafa lalu membuka es krim nya setelah memberikan ponsel pada neneknya,


Setelah mendengar suara anaknya, Cahya baru mulai makan, karena terlalu lapar dan lelah membuat Cahya hanya focus pada makanannya dan tidak memperhatikan Devan yang terus melihat kearah nya,


"Ayy,,, apa kamu masih ingin membawa Rafa ke Bandung?"


"Tentu saja sayang"


"Aku takut kamu kelelahan mengurus nya"


"Yang dulu memaksaku untuk segera mengandung siapa ya? seperti nya aku lupa, lalu kenapa sekarang orang itu tidak mau merawat anaknya sendiri?"


"Bukan seperti itu Ayy, tidak ada sedikitpun niat di hatiku untuk tidak mau merawat Rafa, aku hanya sadar kalau kondisi kamu berbeda, kamu harus focus dulu sayang pada kesembuhan mu"


"Sekarang coba dipikir baik-baik Devan sayangku, Rafa sudah jelas ada, dan dia anak kandung kita, lalu karena kita mengharapkan kehadiran anak lagi, kita menitipkan nya terus bersama nenek dan kakeknya, ini berarti kita bersikap tidak adil pada Rafa?"


"Baiklah, kita akan membawa Rafa, tetapi aku tidak bisa dan tidak mau memaksa nya kalau memang dia tidak mau, tetapi aku juga janji tidak akan lagi mempengaruhi nya, kali ini benar-benar atas kemauannya sendiri"


Cahya lalu mengangguk menyetujui.



Tidak biasanya Cahya membuka akun media sosial nya, tanpa sengaja dia melihat foto Dena dan Reza yang berada di sebuah rumah dengan latar belakang daerah yang tidak asing untuknya.

__ADS_1


Cahya kaget lalu mengirimkan pesan lewat DM


"Dena, ini kamu kan? kenapa kamu ada di sana?"


"Jangan ikut campur urusan ku"


Balasan dari Dena membuat nya lebih kaget karena Dena seperti tidak menyukainya


"Kamu kenapa Dena? apa ada yang salah?"


"Tidak ada, aku bahagia di sini, jangan usik kebahagiaan kami"


"Dena, siapa yang mau mengusik dirimu? aku ikut senang dan bahagia kalau kamu bahagia, kamu tidak tahu betapa khawatir nya aku padamu, hiduplah berbahagia bersama kak Reza, aku sangat bahagia melihat kalian bersama"


"Kamu yakin?"


"Apa maksud kamu? tentu saja sangat yakin karena aku tau begitu baiknya kak Reza, dia pasti akan selalu membahagiakan dirimu"


"Ayya, boleh aku meminta nomor ponsel kamu?"


"Baiklah nanti aku kirim, sekarang sudah dulu ya, bayi besar ku sudah sangat manja, kamu pasti paham,, hahaha,, bye Dena"



Setelah menyudahi berkirim pesan pada Dena, Cahya dengan antusias menceritakan nya pada Devan,


"Akhirnya kakak dan sahabatku bersama, aku sangat bahagia, kapan-kapan kita menemui mereka ya sayang?"


"Kamu mau menemui mereka atau menemui Reza?" Devan cemburu dan seperti biasa, kalau cemburu dia akan langsung menghabisi istrinya.



Cahya sudah biasa, walau dia kelelahan dan kewalahan dia juga tetap menikmati nya.


"Aku hanya mencintai mu sayang, suamiku yang paling perkasa, paling baik, setia, dan paling segalanya" Cahya berbisik ditelinga suaminya yang sedang memeluknya erat setelah pelepasannya.



"Semoga kita semua hidup berbahagia" batin Cahya dan terus memeluk tubuh suaminya dengan erat.



POV Reza & Dena


"Dena, kenapa kamu terus meminta ini itu, belanja ditempat mahal, tidak mau belajar memasak,, kenapa kamu tidak bisa seperti Yayang yang bisa segalanya? belajarlah sedikit dari dia"


"Aku bukan Ayya!!!" Dena marah dan berteriak lalu masuk kedalam kamar nya.

__ADS_1


"Ayya, Ayya, Ayya, setiap saat hanya dia yang kamu ingat, aku sudah menyerahkan dan memberikan segalanya, aku juga sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi kamu terus seperti ini, sampai kapan kamu akan terus seperti ini Reza?"


__ADS_2