
Cahya masih berada di rumah neneknya Habib, subuh itu dia terbangun, karena sudah terbiasa bangun subuh, tapi karena dirumah orang lain, dia tidak tau harus apa.
Cahya lalu keluar kamar, dia melihat sekitar dan mendengar ada suara, dia lalu mendekati sumber suara yang ternyata adalah dapur, terlihat seorang ibu setengah baya sedang mempersiapkan sarapan.
"Ada yang bisa dibantu ibu?" tanya Cahya
Ibu itu kaget, dan langsung menoleh,
"Tidak perlu neng, panggil saja saya bibi, saya yang bekerja disini"
"Mau bikin sarapan apa bi?"
"Nasi goreng kesukaan mas Habib"
"Aku yang bikin ya bi, bibi bisa mengerjakan yang lain" ujar Cahya
Sarapan sudah siap, Habib dan neneknya keluar dari kamar masing-masing, terlihat Cahya yang sedang menyiram tanaman.
"Ayya, kamu ngapain, sudah sini masuk" ujar Habib
"Iya bentar ini sedikit lagi selesai"
Mereka lalu makan bersama, Habib merasa nasi goreng kali ini berbeda, dia bahkan nambah, neneknya juga berkomentar kalau nasi goreng pagi ini sangat enak, setelah mereka selesai sarapan bibi membereskan meja.
"Bibi besok masak nasi gorengnya yang kayak barusan ya" ujar Habib
"Maaf mas, nasi goreng yang ini dimasak sama neng nya" bibi menjawab sambil melihat ke arah Cahya.
Cahya lalu tersenyum canggung,
"Maaf ya, aku tidak izin dulu tadi ke dapur, aku biasa terbangun lebih pagi" jawab Cahya
"Besok bikin lagi ya" pinta Habib
"Hari ini aku berangkat ke Bandung, aku tidak boleh merepotkan kamu dan nenek lama-lama"
Terlihat raut sedih Habib, neneknya menyadari itu
"Kamu jangan terburu-buru, disini saja dulu, apa kamu tidak betah?" ujar nenek Habib
"Bukan begitu nek, disini sangat nyaman hanya saja aku harus cepat ke Bandung"
Habib dan neneknya tidak bisa menahan Cahya, lalu siang itu Habib mengantar Cahya ke stasiun, karena Cahya tidak mau langsung diantar Habib ke Bandung, dia ingin naik kereta saja.
Setelah mengantar Cahya, lalu Habib ke kampusnya, dia tidak masuk kelas pertama tapi masih ada kelas berikutnya, ternyata Devan menunggunya di depan kampus, terlihat Devan yang acak-acakan seperti nya dari kemarin bingung mencari Cahya sampai tidak memperdulikan diri sendiri.
__ADS_1
"Mana Ayya" Devan langsung mendekati Habib
"Buat apa aku memberitahumu, dia istriku jadi tentu bersamaku" jawab Habib menantang
Devan mendengarnya sudah tentu langsung marah dan memukul nya
"Jangan sembarangan, dia hanya milikku!" Teriak Devan
Habib tertawa mendengarnya, tapi dia merasa ada yang aneh, kalau Devan kebingungan seperti ini mencari Cahya, apa mungkin Devan benar mendua.
"Jangan jadi pengecut, disini kamu merasa memiliki Cahya tadi ditempat lain dengan yang lain juga, Cahya bukan mainan, kalau kamu tidak sanggup menjaga dan membahagiakan nya, aku yang akan melakukan itu!" teriak Habib dan akan pergi dari sana, tapi langsung ditahan Devan
"Apa maksud kamu? aku hanya mencintai Cahya, dan aku hanya selalu bersamanya, sekarang cepat katakan dimana Cahya?"
"Kamu tidak tau malu ya? setelah menyakiti Cahya, dan bersama yang lain kamu masih ingin mencarinya?"
"Aku tidak pernah bersama yang lain, semua hanya salah paham!"
"Apa kamu yakin? baiklah aku hanya memberimu satu kesempatan ini, kalau kamu menyakiti nya lagi, aku akan membawanya pergi jauh,, sekarang ini Cahya berangkat ke Bandung"
Habib akhirnya memberi tahu kemana Cahya pergi, dia memang juga mencintai Cahya tapi melihat Devan seperti itu dan melihat kondisi Cahya dia memberi kesempatan mereka memperbaiki masalah mereka, kalau memang Devan mendua sudah pasti Cahya tidak mau bersama Devan, saat itu baru dia akan maju, Habib sungguh tulus mencintai Cahya.
Devan langsung pergi setelah mengucapkan terimakasih ke Habib, dia langsung menuju Bandung, kalau ke stasiun pasti kereta sudah berangkat, jadi dia langsung ke Bandung menggunakan mobilnya.
Menjelang malam Devan juga sampai, dan langsung menanyakan dimana Cahya
"Tante, Ayya dimana? dia sudah sampai kan?"
"Sebenarnya ada apa Devan, tante merasa ada yang aneh dengan Cahya"
"Nanti kami jelaskan, sekarang Ayya dimana? apa dikamar nya?" tanya Devan yang langsung dijawab anggukan oleh mamanya Cahya, dia langsung menuju kamar Cahya.
Devan langsung masuk kamar Cahya, saat itu Cahya sedang duduk di meja belajarnya sambil melihat ponselnya, dia kaget dan langsung berdiri yang langsung dipeluk Devan, tapi Cahya langsung mendorongnya
"Jangan sentuh aku"
"Ayy, kamu salah paham" Devan berusaha menjelaskan, dia sudah yakin kalau yang menemui Cahya waktu itu pasti Wati.
"Tidak mungkin, pergi dari sini!,,, Maaamaaaa" Cahya histeris dan memanggil mamanya, tapi tidak lama Cahya lalu pingsan lagi.
Devan kaget dan langsung menggendong Cahya untuk dibawa ke Rumah Sakit
"Ayya kenapa Devan?!" tanya mama Cahya panik
"Pingsan tan, aku akan membawanya ke Rumah Sakit"
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa?"
Mereka lalu membawa Cahya masuk ke mobil Devan dan langsung menuju Rumah Sakit.
"Kehamilan nya masih sangat muda baru sekitar 2 minggu, sepertinya dia mengalami masalah berat hingga membuatnya tertekan, tolong jaga perasaan nya agar tidak mengganggu janin nya" ucap Dokter yang menangani Cahya
"Apa maksudnya Devan, kenapa Ayya hamil?"
"Maaf tan"
"Kenapa kalian begitu sembrono"
"Ini salah aku tan, aku yang memaksanya, aku tidak tau cara apalagi yang bisa aku lakukan, Ayya terus lari dariku dan tidak kunjung mau menikah, aku hanya berfikir cara ini, maaf tante"
"Tante sangat kecewa, sekarang kalian harus cepat menikah"
"Iya tante, tentu saja, memang itu yang aku inginkan"
"Kamu ya, tidak tau aturan"
"Maaf, tapi aku melakukan nya karena yakin Ayya mencintaiku, dia hanya belum siap menikah, dia beneran trauma menikah seperti yang tante bilang, tapi kalau sudah seperti ini dia pasti mau menikah, aku akan menjaganya tan, aku janji akan selalu menemaninya menghadapi trauma nya itu"
Mama Cahya tidak bisa menjawab apapun lagi, dan hanya geleng-geleng kepala.
Mereka lalu menemui Cahya yang ternyata sudah siuman, dia masih tidak mau menemui Devan, untuk menghindari hal yang tidak di inginkan, Devan lalu keluar dari ruangan.
"Ayya, kamu kenapa, tidak baik seperti itu, kasian bayi kamu"
Cahya tidak menjawab, dan menutupi wajahnya dengan selimut, lalu menangis.
"Ayya, kamu selalu saja memendam perasaan mu, cerita sama mama ada apa?"
Cahya masih tidak menjawab, dia tiba-tiba lari ke kamar mandi dan muntah-muntah.
"Yang kuat Ayya, ini demi bayi kalian"
"Ini bukan bayi nya, ini hanya bayiku, suruh dia pergi, atau aku yang akan pergi"
"Ayya, kalau ada masalah bicarakan dan selesaikan, jangan selalu lari, apa yang kamu pikirkan belum tentu itu kenyataannya"
"Sudah ma, aku tidak mendengar apapun lagi, aku sangat capek ma, aku mau pulang dan tidur"
"Disini dulu Ayy, besok pagi baru kita pulang, sekarang kamu istirahat dulu, mama akan menemui Devan"
Mama Cahya lalu menemui Devan yang duduk di kursi luar ruangan, terlihat Devan yang sangat acak-acakan, Devan lalu menceritakan semuanya, dan memperlihatkan video saat dia dipukul Wati, Devan membuktikan dirinya tidak bersalah, sekarang dia akan menuntut Wati secepatnya, karena hal itu sudah sangat menyakiti Cahya.
__ADS_1