Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Kabar Baik dan Kabar Buruk


__ADS_3

"Tuan Devan, Ratu kembali membuat ulah, kami kecolongan dan tidak mendengar kabar tentang dipercepatnya masa tahanannya, dia menyebarkan video di dalam gubuk waktu itu, tetapi dipotong yang hanya menunjukkan tuan Devan dan Ratu sedang,,,,,," sang pengirim pesan tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena hal itu sangat tidak pantas untuk dikatakan.


Devan langsung menjauh dari istrinya yang sudah tertidur, dia kaget mendapat pesan dari salah satu karyawannya yang bekerja di salah satu perkebunannya,


"Maksudnya apa? tersebar dimana?"


"Ada di media sosial tuan, bahkan dia juga menyertakan akun media sosial tuan"


"Aku bahkan tidak mempunyai akun media sosial apapun"


"Ada tuan, itu akun perusahaan yang dikelola oleh admin menggunakan nama tuan"


"Cepat kendalikan hal itu, jangan sampai aku harus turun tangan sendiri, aku tidak mau istriku sampai mengetahui hal ini, lakukan dengan cepat"


Devan lalu membuka media sosial menggunakan ponsel Cahya, benar saja videonya telah sangat viral dan tersebar, dengan cepat Devan membersihkan notifikasi di ponsel istrinya terutama dari Dena yang ternyata sudah mengetahui hal itu, karena dia memang sangat aktif bersosial media.


Devan sampai tidak bisa tidur untuk terus mencari cara agar penyebaran video itu bisa dihentikan, dia meminta bantuan dari banyak teman-teman dan kenalannya.


"Sayang, kenapa kamu tidak tidur?" Cahya terbangun dan melihat suaminya yang sibuk dengan ponsel dan laptop nya, Devan kaget dan langsung menutup laptop dan menyimpan ponselnya,


"Tidak sayang, ini ada laporan yang harus segera aku selesaikan, aku terlalu sibuk bermain denganmu sampai lupa pekerjaan ku" Devan mencoba menutupi kekagetannya dan langsung mendekati istrinya, Devan memeluk tubuh Cahya supaya istrinya kembali tidur.


"Tidur lagi sayang, ini masih sangat malam" Devan terus berusaha membuat istrinya tidur dengan terus mengusap dan mengelus rambut Cahya.


Setelah Cahya kembali tidur, Devan terus berusaha menyelesaikan masalah yang terjadi, dia tidak mau istrinya mengetahui hal ini, apalagi kalau benar istrinya dalam kondisi mengandung, dia tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.




Cahya bangun dan masih melihat suaminya yang terus berkutat dengan laptopnya, Cahya mendekati suaminya dengan pelan,


"Saaayyanngg, kamu mengagetkanku" Devan dengan cepat kembali menutup laptopnya membuat Cahya agak heran


"Kenapa kamu seperti ketakutan, tadi malam juga seperti itu, aku hanya berfikir karena kamu kaget tapi kenapa sekarang seperti itu lagi?" Cahya curiga dengan tingkah laku suaminya, lalu tiba-tiba langsung bangun dan duduk untuk membuka laptop Devan


"Sayang jangan ya!" Devan kaget dan berteriak lalu menghalangi Cahya yang ingin membuka laptopnya, menarik Cahya dalam pelukannya.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" Cahya menjadi semakin curiga karena Devan begitu erat mendekapnya dalam dadanya,


"Apa kamu bangkrut?" tanya Cahya dan mengangkat kepala nya melihat ke arah Devan, mendengar ucapan istrinya membuat Devan tidak bisa menyembunyikan senyumannya,


"Bagaimana kalau aku bangkrut?" tanya Devan lalu mencium kening istrinya


"Tidak apa-apa, aku akan terus menemanimu, ambil kembali semua kartu yang kamu berikan padaku, lepaskan aku dulu, nanti aku akan mengambilkan untukmu, aku juga mempunyai tabungan hasil saat aku bekerja jadi guru, kamu bisa memakainya untuk memulai kembali usahamu" Cahya berusaha bergerak untuk melepaskan diri, tapi Devan malah terus menciumi wajah istrinya dan tidak melepaskan nya.


"Cepat coba testpack nya, aku sudah sangat penasaran" Devan lalu melepaskan ciuman dan pelukannya.


"Bukankah sekarang bukan itu yang terpenting?" jawab Cahya dan masih turus berusaha untuk membuka laptop Devan.


"Sayang, sayang, jangan ya,, nanti kalau semua sudah selesai aku pasti akan menceritakan padamu" Devan dengan cepat kembali menarik Cahya dalam pelukannya,


"Selalu kamu dan anak-anak kita yang terpenting dalam kehidupanku, mau aku temani ke kamar mandi nya?" Devan mencoba menggendong istrinya,

__ADS_1


"Tidak,,, dasar jorok!" Cahya lalu melepaskan diri dan berjalan cepat menuju kamar mandi.



Cahya dengan perasaan yang sangat berdebar-debar dan memejamkan matanya sebelum benar-benar melihat hasilnya, Cahya lalu keluar dengan wajah sedihnya, Devan paham dan langsung mendekati istrinya untuk berusaha menghiburnya.


"Sayang, jangan bersedih,, kita masih punya banyak waktu untuk terus berusaha" Devan memeluk tubuh Cahya, dia juga sebenarnya merasa kecewa, tetapi perasaan istrinya lebih penting baginya.



"Kamu bangkrut, tapi akan segera mempunyai bayi lagi, kamu pasti akan sangat kerepotan, tapi aku janji tidak akan merepotkan dirimu, dulu juga aku bisa merawatnya sendiri, sekarang kamu focus saja dulu sama pekerjaanmu" Cahya mengangkat kepala nya yang berada dalam dekapan Devan supaya bisa melihat wajah suaminya.


"Apa maksud kamu?" Devan masih belum mengerti, lalu Cahya menunjukkan hasil testpack nya


"Artinya apa?" Devan masih bertanya supaya lebih meyakinkan hatinya,


"Kita akan segera memiliki bayi lagi"


"Sebenarnya aku sudah sangat yakin dari kemarin, tetapi saat ini benar-benar nyata, aku menjadi tidak yakin, sayang,, kamu tidak sedang bercanda padaku kan?"


Cahya tidak menjawab dan hanya kembali masuk dalam dekapan Devan, dia sangat bahagia, awalnya dia pikir tidak akan bisa mengandung lagi.


"Ayo kita segera ke dokter untuk lebih pastinya" Devan lalu kembali membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi, mereka mandi bersama, Devan sudah tidak sabar untuk langsung memeriksakan kehamilan Cahya pada dokter.



"Ini masih sangat pagi, dokter kandungan mungkin belum datang, lagipula ini apa-apaan, aku bisa sendiri" ucap Cahya saat Devan membantunya memakai kancing bajunya


"Jangan kecapean, jangan lakukan apapun, aku yang akan melakukan segalanya" jawab Devan lalu mengambil sisir untuk menyisir rambut istrinya


"Aku sangat menantikan hal ini, apa kamu tau apa yang paling aku nantikan?" Cahya menggeleng, lalu Devan melepaskan pelukannya dan berlutut didepan Cahya, supaya istrinya yang sedang duduk itu bisa melihat wajahnya.


"Aku ingin selalu di sisimu, menjagamu dan merawat mu, dulu aku tidak punya kesempatan itu saat kamu hamil Rafa, saat ini aku akan selalu ada di sampingmu" Devan memegang kedua tangan istrinya lalu menciumnya, Cahya tersenyum bahagia lalu memeluk suaminya.



Mereka sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke dokter kandungan, yang aneh bagi Cahya, kenapa dia tidak sering mual seperti saat dulu hamil Rafa, dan hanya kemarin pagi saja, Cahya menjadi ragu dengan hasil testpack nya.



Mereka lalu mendaftar dan karena mereka datang begitu awal membuat mereka harus menunggu kedatangan dokternya, tetapi ada untungnya juga, karena mereka mendapatkan antrian pertama, dan setelah menunggu sekian lama, akhirnya dokter kandungan yang mereka tunggu telah datang



"Ini masih sangat muda, lalu karena ini kehamilan pertama,,," dokter itu tidak bisa melanjutkan penjelasannya karena Cahya menyelanya,


"Tidak dokter, ini anak kedua"


"Maaf sebelumnya, saya pikir anak pertama karena ibu terlihat masih sangat muda dan terlihat imut"


"Istriku ini vampir dokter, jadi dia terus awet muda" canda Devan yang mendapat cubitan dari istrinya


__ADS_1


"Dokter maaf, kenapa aku merasa seperti biasa, tidak mual atau apapun yang biasanya dialami ibu hamil, hanya kemarin saja, tetapi tadi pagi aku tidak merasakan apapun?" Cahya Bertanya karena dia takut terjadi sesuatu pada kandungannya.


"Itu berarti tubuh ibu kuat, hal ini yang diharapkan oleh semua ibu, karena memang awal kehamilan itu tubuh sedang beradaptasi dengan kehamilannya, biasanya masuk trimester kedua baru tubuh terbiasa dan mulai bisa beraktivitas seperti biasanya, tetapi ibu bisa langsung beradaptasi dengan kehamilan ibu, itu berarti tubuh ibu sangat kuat, jangan terlalu khawatir dan memikirkan hal yang tidak-tidak, ibu hamil itu harus rileks dan selalu bahagia, tidak boleh banyak pikiran, yang terpenting mulai sekarang harus lebih jaga pola makan sehat dan rutin melakukan pemeriksaan"


Mendengar penjelasan dari dokter membuat Cahya sangat lega, tetapi bagi Devan ada hal yang sangat penting yang harus dia tanyakan


"Tidak masalah kan dok, kalau saya terus meminta jatah saya"


Dokter tidak bisa menyembunyikan senyumannya, sementara Cahya sudah sangat malu bukan kepalang, mendengar pertanyaan suaminya.


"Tidak masalah, selama dilakukan dengan perlahan dan tanpa paksaan" Devan tentu saja bertambah lagi rasa bahagia nya.



Devan terus memperlakukan Cahya seperti seorang putri, dia bahkan menggendong istrinya saat melewati tangga yang hanya beberapa anak tangga, membuat Cahya malu karena menjadi pusat perhatian banyak orang, tetapi kebahagiaan mereka harus sedikit terusik



Bbuuuggghhhh



Devan memegangi pipi dan mulutnya yang tiba-tiba dipukul seseorang, Cahya menjerit kaget dengan kejadian yang sangat tiba-tiba, saat mereka melihat pelakunya, mereka lebih kaget lagi



"Habib?!,,, ada apa ini? jangan ganggu kami lagi" Cahya berteriak dan mencoba melindungi suaminya, membuat Habib tertawa


"Cinta boleh, bodoh jangan!!"


"Maksudnya apa?" Cahya tidak mengerti, tetapi Devan paham dengan apa yang dimaksud Habib, Devan berusaha menghalangi Habib yang ingin menceritakan tentang video viral dirinya yang tadi malam tersebar


"Tidak Habib, kamu salah paham, jangan memperkeruh suasana, aku sedang berusaha untuk menyelesaikan masalahnya" Habib marah mendengar penjelasan Devan dan kembali memukul nya, Cahya langsung melerai dan kembali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Lihatlah kelakuan lelaki yang kamu banggakan ini, mungkin ini hanya salah satu yang ketahuan, kita tidak pernah tahu apa yang dia sembunyikan darimu selama ini" Cahya begitu kaget melihat video itu, Devan berusaha untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tetapi Habib terus menghalangi nya.


"Sebenarnya ini apa?" tanya Cahya pada Devan, dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan tidak mendengarkan penjelasan Devan.


"Ayy, itu tidak lengkap, itu video dipotong, pasti orang berpikir yang lain karena itu terpotong, tetapi tidak seperti itu Ayy, aku tidak melakukan hal yang kamu pikirkan" Devan terus berusaha menggapai Cahya tetapi Habib yang datang bersama para pengawal nya menghalangi nya


"Apa kamu yakin? lalu mana video lengkap nya?" tanya Cahya yang mulai berkaca-kaca tapi dia berusaha untuk tidak terpengaruh dan terus mempercayai suaminya, tetapi Devan hanya diam karena dia memang tidak mempunyai video itu, dia bahkan baru tau kalau kejadian itu ternyata direkam.


"Lihat Ayya, dia tidak bisa menjawab apapun, dia tidak punya bukti" ujar Habib yang membuat Cahya tidak bisa menahan lagi air matanya.


"Itu terjadi saat aku pergi meninggalkan nya, jadi itu juga kesalahanku, tidak apa-apa Habib, aku bisa melalui hal ini, terimakasih atas niat baikmu, dan terimakasih masih perhatian padaku, sekarang kamu pulang saja, aku bisa mengurus diriku sendiri" Cahya tersenyum pada Habib dan bahkan memegang tangan Habib untuk menenangkan nya


"Lepaskan tanganmu darinya Ayy!!" teriak Devan yang dari tadi terus ditahan oleh pengawal Habib, tapi saat melihat Cahya memegang tangan Habib membuatnya sangat marah, lalu melawan semua pengawal Habib dan langsung menarik Cahya, setelah mendorong tubuh Habib agar menjauhi istrinya.


"Aku pernah bilang, kalau sampai sedikit saja dia terluka, aku pasti tidak akan tinggal diam!!" teriak Habib


"Jangan pernah mengganggu urusan rumah tangga orang lain!" Devan juga berteriak marah pada Habib dan langsung membawa Cahya masuk ke dalam mobil.


Habib menghalangi jalan, membuat Devan tidak bisa melajukan mobilnya, Cahya hanya terdiam seperti patung, dia masih sangat kaget dengan kejadian ini, dia sangat terpukul melihat video itu, dia juga menyadari ternyata ini yang disembunyikan Devan dari tadi malam, kalau dia masih Cahya yang dulu, dia pasti akan langsung meninggalkan Devan, tapi dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan Devan lagi

__ADS_1



"Ini adalah hukuman buatku karena selalu meninggalkan Devan sejak dulu" Batin Cahya lalu tersenyum kearah Habib dan melambaikan tangannya, Habib terpana melihatnya, tetapi dia sadar kalau Cahya akan tetap bersama Devan, melihat hal itu Habib membalas senyuman Cahya dan juga membalas lambaian tangannya, lalu memberi jalan pada Devan.


__ADS_2