Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Istri Pintar


__ADS_3

Devan membuka pintu rumah, di ikuti istrinya yang menggendong anaknya, hingga tiba-tiba terdengar suara jeritan dan tangisan berasal dari kamar Rafa, Cahya langsung mencari sumber suara, terlihatlah suster itu dengan pakaian yang robek-robek.


"Nyonya, tolong saya!" teriaknya mengiba pada Cahya, suster itu menunjuk pada Devan sementara yang ditunjuk hanya tersenyum sinis karena dia memang tidak melakukan apapun.


Cahya memandang ke suaminya, yang malah memberi ekspresi seolah mencium nya dari jauh, dari dulu suaminya itu memang suka menggodanya.


Cahya lalu membawa Rafa ke kamar dan memberikan nya mainan, dan meminta Rafa menunggu sebentar karena akan membicarakan sesuatu pada ayah dan susternya.


Cahya menutup pintu kamar, Devan terlihat duduk santai di sofa ruang tamu, menanti drama apa yang akan terjadi, Cahya melihat suster itu masih didalam kamar menangis.


Cahya mengambil handuk dan memberikan nya pada suster itu untuk menutupi badan nya, dan menyuruhnya keluar untuk berbicara yang jelas dan baik-baik.


Suster itu berkata telah dilecehkan oleh Devan, Cahya melihat ke arah Devan, yang dilihat malah tidak bisa menahan tawanya lagi yang membuat Cahya ikut tersenyum dan menahan tawanya.


Cahya lalu pura-pura kaget dan berteriak lalu mendekati suaminya, tapi tidak disangka Cahya malah duduk dipangkuan suaminya itu.


"Kamu mau aku menangis dan berteriak kan?" tanya Cahya pada suster itu,


Cahya lalu mencium Devan didepan suster itu, yang dicium tersenyum dan semakin dalam mencium istrinya, Cahya dan Devan lalu tertawa.


Cahya turun dari pangkuan suaminya lalu mendekati suster yang bersimpuh itu, seolah meratapi nasibnya.


Suster itu kaget jadi berhenti menangis melihat reaksi Cahya, sungguh reaksi yang tidak diharapkan suster itu, karena dia berfikir Cahya akan mempercayainya.


"Kamu pikir aku akan percaya padamu, kamu tidak tau apa yang sudah kami lewati, kalau hanya batu kerikil sepertimu, itu sungguh tidak berarti, sekarang enyah dari sini atau aku akan melaporkan mu atas tuduhan palsu" ujar Cahya pada suster itu.


Tapi dasar suster tidak tau diri, sudah ketahuan bukan minta maaf malah bangun dari duduk bersimpuh nya dan mengancam akan berteriak keluar lalu melaporkan ke polisi.


Cahya tenang mendengarnya lalu memperlihatkan kamera CCTV yang ada di kamar Rafa dan depan kamar utama serta ruang tamu.


"Kamu pikir, saat aku melepas anak ku untuk diasuh orang lain, aku tidak melakukan persiapan? aku tadinya berfikir melakukan ini untuk anak ku ternyata dalam hal ini berguna juga"


Suster itu kaget dan tidak menyangka sama sekali, dia lalu kembali bersimpuh dan memegangi tangan Cahya untuk meminta ampun.

__ADS_1


"Kamu kenapa? katanya mau lapor ke polisi, cepat laporkan saja, nanti aku bisa memberimu barang bukti juga"


"Maaf nyonya, ampuni saya" tangis suster itu ketakutan.


"Aku bahkan belum membuka rekaman nya, tapi dengan sikapmu aku tau kamu pasti ingin memfitnah suami ku? apa aku benar?" tanya Cahya


Suster itu dengan pasrah hanya bisa mengangguk.


"Sekarang saat aku masih berbicara baik-baik, pergi dan jangan kembali, kalau kamu kembali aku akan melaporkan mu"


Suster itu langsung pergi, Cahya lalu masuk kamar melihat anaknya, tadi dia meninggalkan nya dengan mainannya dan memberikan earphone ditelinga nya untuk mendengarkan musik kesukaannya, Cahya tidak mau anaknya mendengar hal yang tidak baik diluar tadi.


Cahya membuka earphone anaknya, lalu menggendongnya, Devan juga masuk ke kamar itu dan bertanya heran,


"Ayy, aku tidak lihat ada CCTV diluar" tanya Devan


"Memang tidak ada, hanya ada dikamar Rafa, aku hanya mencoba menakutinya, dan berusaha percaya padamu" Cahya tersenyum manis pada suami nya.


"Istri siapa yang sangat pintar ini?" ujar Devan yang lalu mencium Cahya


"Rafa mau juga" tanya ayahnya


"Tidak, aku bosan main sama ayah seharian" ucap Rafa,


Devan menceritakan semua kejadian para Cahya, dari pagi yang suster itu tidak keluar kamar sama sekali setelah dia marahin.


"Untunglah sekarang dia sudah pergi, tapi bagaimana besok, siapa yang menjaga Rafa? apa aku berhenti kuliah dulu ya, tapi sayang, tinggal satu semester" ucap Cahya pada suaminya


Cahya seperti trauma dengan suster, takut mendapat suster yang membuat masalah lagi.


"Berhenti lebih bagus, tapi aku tau kalau kamu ingin sekali menyelesaikan kuliah mu, jadi selesaikan saja dulu, aku akan menjaga Rafa, urusan Cafe aku bisa menyerahkan pada karyawan, aku hanya harus memantau sesekali" jawab Devan


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Malam nya setelah Rafa tidur Cahya bertanya lagi pada suaminya, apakah tidak apa-apa kalau dia tetap melanjutkan kuliahnya.


"Tidak apa-apa, selama ini kamu mampu merawatnya sambil bekerja, kenapa kamu ragu padaku, aku juga bisa menjaganya"


Cahya selalu ke kamar utama saat Rafa sudah tidur, suaminya butuh asupan bergizi setiap malam sebelum tidur, apalagi kalau bukan menyusu pada istri kesayangan nya itu.


Malam itu Cahya memberi servis lebih pada suaminya, dengan masalah tadi siang, Cahya harus lebih bisa menyenangkan suaminya di ranjang, bagaimanapun juga Devan lelaki normal.


Yang pasti Cahya harus berusaha lebih baik dalam hal melayani suaminya, apapun itu, hasil akhir nya dia sudah berserah, karena dia berfikir, kalau dia sudah melakukan yang terbaik semisal nanti nya ada masalah dengan rumah tangganya, dia tidak akan terlalu menyesalinya karena dia sudah melakukan yang terbaik


Cahya memainkan burung suaminya dengan liarnya, mengulum dan menggigitnya manja, Devan melenguh merasakan kenikmatan, Cahya lalu menyodorkan buah kembarnya, buah yang sangat disukai suaminya itu.


"Devvaannnnnn" Cahya mendesah sesaat setelah Devan mengulum buah nya, sentuhan Devan selalu membuatnya terlena.


Devan membalik tubuh Cahya, dengan rakus terus memakan lahap dua buah itu, dia mulai turun kebawah, mencium pusar Cahya, hingga sampailah lidahnya ke bukit itu, goa berlubang sempit milik istrinya yang membuat nya ketagihan dan tidak bisa tidur kalau belum berkunjung ke dalam nya.


Devan melahap goa itu dengan mulutnya, dan memainkan lidahnya kedalam lubang sempit itu, terdengar Cahya yang terus mendesah, tangannya menekan kepala suaminya agar lebih dalam bermain di goa nya.


"Deevvvaaaannn,,, eeennaakkkk,, aku tidak kuat lagi" bisik Cahya disela ******* nya


Devan mengikuti kemauan istrinya, dengan sekali hentakan, burung nya telah masuk ke gua, ke sarang miliknya satu-satunya.


"Aaaaahhhhh, pelan-pelan,,, kamu kebiasaan" Cahya sedikit kesakitan, Devan melahap buah kembar istrinya bagian kanan dan meremas dengan tangan nya di bagian kiri,, Cahya selalu mabuk kepayang kalau sudah begitu.


Burung Devan maju mundur lalu menggoyangkan dan memainkan goa itu, membuat sensasi nikmat, Cahya sudah sampai puncaknya,


"Devvaaannn,, aaaahhhhh"Cahya kejang dan lemas, Devan ******* bibir istrinya itu sambil memberi waktu istirahat, setelah terdengar nafas istrinya sudah normal, dia langsung memompa istrinya kembali.


Devan terus memompa dan memainkan buah kembar istrinya, Cahya sudah merem melek, dia sudah berkali-kali mencapai puncak, dia sudah lemas tapi tetap menikmati setiap gerakan suaminya.


Tiba waktu Devan bergerak cepat, itu menjadi tanda dia akan mencapai puncak, devan memeluk Cahya erat,


"Aaaakkkhhhh"

__ADS_1


Terdengar suara keduanya berbarengan, suara yang penuh kenikmatan.


__ADS_2