Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Sogokan


__ADS_3

Setelah pemeriksaan dari "dokter" ganteng sudah selesai setelah sekian lama, membuat sang "dokter" bersedih, Devan meminta maaf pada Cahya, dia sudah melihat kondisinya.


"Ayy, apa sangat menyakitkan?" tanya Devan, dia melihat milik istrinya sedikit lecet.


"Tidak, hanya sakit sedikit" jawab Cahya, karena memang saat ini dia sudah merasa lebih baik tidak sesakit tadi malam atau saat tadi bangun pagi.


Devan terus memaksa istrinya untuk ke dokter agar cepat sembuh, tapi Cahya menolak karena sudah pasti itu memalukan, lagipula ini tidak parah beberapa hari saja pasti dia akan sembuh.


"Sayang, aku sudah diperiksa dokter yang sangat kompeten di bidangnya, kamu tidak perlu khawatir lagi" ujar Cahya sambil tersenyum pada suaminya, Cahya lalu memeluk suaminya erat dan meyakinkan suaminya untuk tidak terlalu khawatir lagi.


Devan ingin menceritakan yang terjadi padanya kemarin, tetapi Cahya menolak nya.


"Aku percaya padamu, dan aku sangat bangga padamu, kamu juga pasti kesakitan disepanjang perjalanan kembali padaku, rasa sakit yang aku derita tidak sebanding dengan rasa sakit yang kamu rasakan, terimakasih karena mengingat diriku" ujar Cahya semakin mempererat pelukannya pada Devan, dia tidak bisa membayangkan kalau sampai Devan tergoda atau kehilangan kesadarannya karena kalah dengan hasratnya.


"Ayy, apa kamu tidak cemburu atau marah?"


"Maksudnya?" Cahya tidak menjawab dan malah bertanya karena dia tidak mengerti maksud suaminya.


"Aku berada dalam ruangan dengan wanita lain, apa kamu tidak berfikir,," Devan tidak bisa melanjutkan ucapan nya karena Cahya sudah menciumnya.


"Aku sangat mencintaimu suamiku sayang" Cahya berbisik ditelinga Devan setelah dia melepaskan ciumannya, Cahya berusaha menjelaskan pada suaminya kalau bukan dia tidak cemburu, tapi semua sudah terjadi, jadi tidak ada yang bisa disesalkan lagi.


"Seperti perkataan ku tadi, aku sangat bangga padamu dan aku sangat mencintaimu, kita hanya harus lebih berhati-hati untuk kedepan nya" tambah Cahya menjelaskan, mereka lalu tidur siang bersama.




"Sayang, Dena akan menikah dan memintaku menjadi Bridesmaids di acara pernikahannya, boleh kan?" tanya Cahya suatu malam saat mereka akan tidur, sudah berapa hari dari kejadian itu, sebenarnya Cahya sudah sembuh, tetapi Devan pikir istrinya belum sembuh jadi tidak pernah meminta jatah malamnya.


"Kapan dan dimana?" tanya Devan memeluk Cahya


"Bulan depan, Dena sudah kembali ke Bandung untuk melangsungkan akad nikah disana, nanti kesini untuk resepsi

__ADS_1


"Apa aku boleh melarang?"


"Tidak!" jawab Cahya lalu naik ke atas tubuh suaminya.


"Apa ini sogokan agar kamu bisa menghadiri pernikahan itu?" tanya Devan


"Sayangku sudah sangat paham rupanya" jawab Cahya tersenyum dengan manisnya.


"Ayy, kamu masih sakit, aku bukan suami jahat yang akan memaksakan kehendaknya, kalau aku nantinya melarangmu, itu karena aku tidak mau terjadi sesuatu padamu"


"Tidak akan terjadi apapun padaku, aku bisa menjaga diriku" ujar Cahya, dia lalu mencium leher Devan, berusaha melakukan apa yang biasa Devan lakukan padanya, tetapi Cahya tidak bisa dan membuat Devan tertawa karena geli.


"Segitu inginnya kamu menghadiri acara itu?" tanya Devan, yang dijawab anggukan kepala oleh Cahya yang sudah menyembunyikan wajahnya di dada Devan karena dia malu dengan yang baru dia lakukan, Devan gemas dan sengaja ingin menjahili istrinya.



"Lakukan lagi, kalau belum berhasil juga kamu membuat tanda dileher ku, maka kamu tidak boleh datang ke acara itu" ujar Devan, Cahya kesal lalu mencubit dada suaminya.


"Aaahhh, sakit Ayy!" teriak Devan, Devan lalu berguling dan sekarang Cahya yang ditindih Devan, Devan mencium mesra istrinya.



"Apa kamu sudah sembuh?" tanya Devan setelah melepaskan ciuman mereka.


"Belum" jawab Cahya, dia mencoba menggoda Devan


"Lalu kenapa kamu melakukan ini padaku?" Devan langsung turun dari tubuh istrinya dan langsung duduk mencoba meredakan nafsunya, saat tidak berhasil dia berniat turun dari ranjang untuk ke kamar mandi mendinginkan diri, tapi belum juga dia turun dari ranjangnya, istrinya sudah duduk dipangkuan nya.


"Ayy, jangan nakal, aku tidak akan bisa menahannya, kamu tau aku tidak kuat dengan sentuhan mu" ucap Devan memelas, dia tidak mau kembali melukai istrinya.


Cahya tidak menjawab, dan mendorong suaminya sampai terlentang, Cahya lalu bermain dengan pedang milik suaminya, mengulum dan menghisap nya, Devan sangat menikmatinya, dia terus menekan kepala istrinya untuk terus memainkan pedangnya, pedang yang sudah berapa hari tidak diasah.


__ADS_1


Devan terus mendesah, Cahya lalu menaiki tubuh suaminya, memasukkan pelan pedang itu ke dalam sarangnya.


"Ayyyy, kamu sudah sembuh?" tanya Devan yang suaranya bergetar karena kenikmatan yang dia rasakan.


Cahya tersenyum dan terus bergerak maju mundur, Devan meraih buah kembar istrinya, melahapnya dengan rakus seolah mengisi dahaganya.


"Aaakkkhhhh, sayang" Cahya mendesah karena merasakan lidah Devan yang memainkan buah kembarnya.



"Malam ini aku akan menghabisi mu, karena tidak mengatakan kalau sudah sembuh" ucap Devan,


Cahya tersenyum mendengarnya, dia lalu terus menggoyang kan pinggulnya, hingga dia mengejang merasakan kenikmatan yang tiada tara, tetapi milik suami nya masih berdiri kokoh menancap dalam milik nya, Cahya berniat melepaskan diri, tapi tubuhnya ditahan Devan.


"Aku bilang apa tadi? aku akan menghabisi mu malam ini" Devan berguling dan sekarang dialah yang bergoyang diatas tubuh istrinya.


"Aaahhhhh sayang" Ucap Cahya terpejam merasakan milik suaminya yang begitu sesak didalam miliknya, rasanya membuat seisi intinya berdenyut nikmat.



"Ayy, tidak sakit kan?" tanya Devan.


Cahya tidak sanggup menjawab karena Devan terus bergerak membuatnya merem melek menikmati nya, setelah berbagai gaya Devan lakukan, Cahya tersenyum penuh permohonan pada suaminya, Devan paham istrinya sudah kelelahan, Devan lalu bergerak cepat hingga kembali menyembur istrinya setelah beberapa hari berpuasa, mereka berpelukan lalu tidur.



Devan tidak meminta tambah karena takut istrinya kesakitan lagi, dia berencana meminta tambah di pagi harinya saat istrinya sudah terbangun, Devan memandangi istrinya yang tertidur lelap.


"Cahaya hidupku, terus lah bersinar disamping ku" Devan lalu mencium kening Cahya lalu ikut tidur.



Pagi harinya Cahya bangun terlebih dahulu, dia mengingat semalam, Cahya heran karena tumben sekali Devan tidak meminta tambah, pikiran Cahya yang selalu over thinking kembali lagi.

__ADS_1


"Apa Devan sudah bosan padaku?" batin Cahya


Cahya terus bergelut dengan pikirannya, hingga Devan juga terbangun, Devan melihat kearah istrinya dan bertanya istrinya kenapa, karena istrinya terlihat melamun, Cahya tidak menjawab apapun tapi Devan sadar ada sesuatu yang dipikirkan istrinya.


__ADS_2