
Flashback
Heri mengajak Sari ke apartemen kakak nya, saat itu Heri belum tau apa maksud kedatangan Sari di sekitaran apartemen nya.
Mereka lulusan dari universitas yang sama dan berasal dari desa yang sama juga, jadi mereka sangat akrab, mereka mengobrol dan menceritakan hidup mereka masing-masing hingga tanpa sengaja Sari melihat layar laptop Heri, dia merasa mengenal wallpaper di laptopnya Heri.
"Cahya" ucap Sari melihatnya, Heri merasa heran karena Sari mengenal Cahya.
"Heri, kamu itu bukankah sangat dingin ke perempuan? aku yang secantik dan sexy begini saja dulu kamu tolak, kita berfikir kamu itu homo" ujar Sari
"Sembarangan saja, aku sangat normal, aku hanya tidak mau terikat hubungan dengan siapapun" jawab Heri sambil terus memandangi foto Cahya yang ada di laptopnya.
"Lalu Cahya, kapan dan bagaimana kamu mengenalnya? apa kamu juga tau kalau dia sudah mempunyai suami?" tanya Sari
"Dia editor baru untuk novel online ditempat ku bekerja, entah kenapa aku langsung tertarik begitu melihat fotonya yang sedang tersenyum, begitu teduh, manis dan terasa nyaman saat aku melihatnya" jawab Heri tetapi langsung menunjukkan wajah sedihnya.
"Ternyata kita dipertemukan agar kita saling membantu" ucap Sari yang membuat Heri merasa heran.
Sari mengatakan semua tentang dia yang menyukai Devan, dengan dibumbui sedikit kebohongan khas dari Sari.
"Jadi maksudmu Devan berselingkuh denganmu tapi tetap tidak mau melepaskan Cahya?" tanya Heri
"Iya begitulah, dia juga lebih memilih Cahya, hanya karena merasa kasian pada istrinya itu, bukankah kalau seperti itu malah kasian ke cahya karena Devan sudah tidak mencintai istrinya itu lagi, memang sekarang Devan menjadi dingin padaku tetapi tetap saja aku tidak bisa melupakan saat-saat manis kita bersama"
Sari sungguh pemain drama yang sangat berbakat, hingga mendengar hal itu membuat Heri geram, dia awalnya ingin mengubur perasaan nya terhadap Cahya karena Cahya terlihat bahagia dengan suaminya.
"Kita harus menyelamatkan Cahya" ucap Sari seolah perhatian pada Cahya.
Saat itu Sari akan pulang dan diantar oleh Heri, tanpa sengaja mereka melihat Devan di minimarket dan dengan spontan mereka merencanakan hal itu.
Flashback End
Cahya masih diam tapi terus berurai air mata, Devan menceritakan yang sebenarnya tetapi siapa yang akan percaya, bukti yang Cahya lihat sangatlah jelas.
Cahya duduk dan menghapus air matanya, dia lalu menelfon Heri karena dia mendapat foto itu dari Heri,
"Iya Cahya, kamu pasti sudah melihatnya, apa kamu perlu bantuan untuk keluar dari sana?" tanya Heri khawatir
"Tidak, apa kamu bisa kesini bersama Sari?"
"Baik, nanti aku akan menjemput nya dulu"
"Ayy, apa yang ingin kamu lakukan? kenapa kamu mengundang mereka?" tanya Devan
Cahya tidak menjawab, dia terus menghapus air matanya yang tidak kunjung mau berhenti mengalir.
Melihat foto-foto itu membuat Cahya kembali mengingat masalah kartu ATM, Cahya yang memang sebenarnya tidak bisa menerima alasan Devan memberikan kartu ATM nya pada Sari, membuat Cahya kembali berfikir buruk, selama ini Cahya hanya berusaha mengubur perasaan tidak percaya nya pada alasan Devan hanya karena tidak mau masalah itu berlarut-larut.
Sekarang ditambah dengan foto-foto itu membuat Cahya semakin yakin kalau Sari spesial bagi Devan, Cahya masih tetap dengan sifat nya yang selalu menyimpulkan masalah sendiri.
Ting tong ting tong
Cahya langsung bangun membukakan pintu walau ditahan dan dilarang Devan, terlihatlah senyum Sari yang berkembang dan Heri dengan wajahnya yang menghawatirkan Cahya, mereka lalu masuk dan duduk diruang tamu, Devan sepertinya malas dengan drama ini, dia masuk kedalam kamar.
"Sari, masuklah ke kamar itu, aku dan Heri akan pergi" ucap Cahya lalu mengajak Heri pergi.
__ADS_1
Sari sangat senang karena rencananya semudah ini berhasil, Sari langsung masuk kedalam kamar, Devan kaget melihatnya dan langsung bangun dari duduknya dan berjalan mendekat ke pintu
"Apa yang kamu lakukan disini?!" teriak Devan
"Istrimu yang menyuruh ku masuk"
"Tidak mungkin!" teriak Devan, yang langsung mendorong Sari dan ingin membuka pintu tetapi pintu itu terkunci dari luar, Devan terus berusaha menggedor pintu kamar itu, tetapi tidak ada yang mendengarnya karena Cahya sudah pergi bersama Heri.
Devan tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya, bisa-bisanya memasukkan perempuan lain kedalam kamar mereka.
"Sepertinya istrimu merestui kita, ayolah sayang jangan buang-buang waktu lagi" ujar Sari lalu membuka bajunya.
Devan membuang muka dan terus menendang pintu, hingga dia ingat menyimpan senjata api di lemari, Devan mengambil senjata api nya lalu dia menembaki gagang pintu, hingga pintu itu terbuka, Devan dengan marah mencari istrinya.
Tetapi Cahya tidak ditemukan dimanapun di setiap ruangan, Devan lalu kembali ke kamar, mengacungkan senjata api itu pada Sari
"Dimana istriku!?" teriak Devan, Sari ketakutan melihat amarah Devan
"Aku tidak tau, dia menyuruhku masuk ke sini dan aku tidak tau lagi" jawab Sari gemetaran karena Devan terus mengacungkan senjata api itu ke arah nya.
"Pakai kembali bajumu, cepat keluar dari sini!" perintah Devan yang langsung dituruti Sari, Devan terus menodongkan senjata apinya, bahkan sampai diluar apartemen nya hingga membuat para penghuni di apartemen itu berteriak ketakutan, tapi Devan tidak perduli, dia hanya terus berusaha mencari istrinya dan menjauhkan Sari darinya.
Karena keributan itu, Polisi datang dan menangkap Devan, Cahya tidak mengetahuinya karena dia pergi kerumah Siti, tadi dia meminta Heri untuk mengantarkan nya kesana.
Cahya berfikir Sari spesial untuk Devan jadi dia membiarkan Sari mengandung anak Devan karena Devan sudah sangat ingin memiliki anak lagi, tetapi dia tidak sanggup melihat suaminya berduaan dengan perempuan lain jadi dia pergi.
"Apa? kenapa bisa?" tanya Cahya heran, kenapa bisa polisi terlibat karena Cahya pikir Sari dan Devan saling menyukai.
Mereka langsung menuju kantor polisi, Sari menangis dijadikan saksi, sedangkan Devan sudah dijebloskan ke penjara, Cahya langsung menemui Suaminya.
Devan terlihat marah melihat istrinya, dia memegang jeruji besi dan berteriak pada istrinya
"Apa lagi yang coba kamu lakukan?!" Devan terlihat sangat marah membuat Cahya sedikit takut karena tidak pernah melihat suaminya seperti itu.
"Aku, aku pikir kalian" ucap Cahya pelan
"Apalagi yang sekarang kamu pikirkan, tidak cukupkah kamu dari dulu selalu berfikiran sempit dan tidak pernah mau menerima penjelasan dari ku?!" Devan terus berteriak sambil terus mengguncang jeruji besi.
Tidak lama ada polisi yang membukakan pintu sel itu, Devan lalu keluar dan langsung memeluk istrinya dengan erat, tadi dia sangat takut kalau istrinya akan kembali meninggalkan nya.
Devan terbukti tidak bersalah, dan senjata yang dia gunakan juga dimiliki secara resmi, Devan hanya dikenai Denda karena membuat keributan walau itu dia lakukan untuk melindungi dirinya sendiri tetapi aturan tetap harus dipatuhi, Sari yang sekarang ditangkap bersama Heri karena menyebarkan konten kebohongan.
"Apa maksudnya?" tanya Cahya pada polisi
Polisi menunjukkan video Devan dan Sari saat di minimarket dan terlihat lah kejadian yang sebenarnya, Devan tadi meminta video CCTV itu untuk di jadikan bukti, karena Sari tadi menuduh Devan akan melakukan pelecehan padanya, tapi dengan video itu jelas terlihat kalau Devan tidak mungkin melakukan tuduhan yang ditujukan padanya.
Sari tidak mengatakan yang sebenarnya, Sari tentu sangat malu karena dia menggoda seorang pria tetapi ditolak mentah-mentah, dan bahkan sampai terjadi keributan seperti ini.
Cahya mendekati Heri,
__ADS_1
"Ini maksudnya apa? kenapa kamu terlibat juga?" tanya Cahya
"Sari bilang kamu tidak bahagia hidup bersama suami mu, aku hanya berniat menolong mu, maafkan aku Cahya" jawab Heri lalu melihat kearah Devan
"Maafkan aku, aku tidak mencari tau yang sebenarnya lebih dulu dan langsung mempercayai ucapan nya" Heri merasa bersalah, dia sekarang melihat betapa Devan sangat mencintai istrinya.
Devan membayar denda yang tidak sedikit, Cahya melihat nya dengan perasaan malu dan juga merasa sangat bersalah, Devan juga membebaskan Heri dengan jaminan karena Devan sadar kalau Heri hanya terhasut omongan Sari, tetapi untuk Sari, Devan sudah tidak sudi membantu nya lagi, mereka lalu keluar dari kantor polisi setelah semua masalah selesai.
"Kamu memang tidak pernah membuat ku pusing dengan banyak permintaan mu, kamu juga tidak suka berbelanja dan tidak meminta apapun, tetapi tetap saja uangku selalu kamu habiskan dengan kelakuan konyol mu" ujar Devan pada Cahya yang dari tadi tertunduk malu
"Mas Devan yang sabar ya, adik manis yang selalu mas banggakan berbuat ulah lagi" ujar Renal membuat Cahya semakin malu mendengarnya, Heri lalu berpamitan untuk pergi lebih dulu.
"Ayya" panggil Devan pada istrinya yang terus menunduk
"Iya" jawab Cahya pelan
"Apa sudah cukup permainanmu kali ini?" tanya Devan sarkasme lalu memegang dagu istrinya dan mengangkatnya agar melihat ke arahnya
"Maaf" hanya itu yang bisa Cahya katakan.
Devan tidak tau harus marah atau lega, Devan lega karena kali ini istrinya dengan cepat kembali padanya, tetapi dia juga masih marah dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Kamu pikir, kamu sedang syuting film India dengan judul Chori Chori Chupke Chupke, atau kamu terinspirasi dari film itu?" ujar Devan gemas dengan kelakuan istrinya, Cahya tersenyum malu dan mencoba melepaskan tangan Devan dari dagunya.
"Kan aku pikir,,,,,,"
Ucapan Cahya dipotong Devan dengan menutup mulut Cahya dengan jari telunjuk nya
"Mulai sekarang kamu tidak usah berfikir lagi, karena setiap kamu berfikir pasti selalu salah dan menjadi masalah besar" ujar Devan yang membuat Cahya manyun
"Iya maaf, sekarang ayo pulang" ajak Cahya
"Aku tidak mau tinggal disana lagi, ada jejak wanita gila itu dikamar kita" jawab Devan
"Memang kalian sempat melakukan hal itu?" ucap Cahya menutup mulut nya
"Kalau iya bukankah itu yang kamu inginkan!?" ujar Devan kembali marah
"Kalau begitu keluarkan Sari, bagaimana kalau dia sudah mengandung anakmu?" jawab Cahya lalu kembali menoleh ke arah kantor polisi.
"Aku rasa otak istriku ini agak miring, sudah ayo pergi dari sini" Devan langsung menarik tangan istrinya pergi dari sana.
"Devan, Sari bagaimana?" tanya Cahya lagi
"Ayya Cahya yang lemot istriku sayang, dan yang selalu saja membuat masalah, aku tidak menyentuhnya sedikitpun, kalau aku menyentuhnya, kamu pikir kita akan berada disini sekarang?" jawab Devan semakin kesal.
Sari melihat kepergian mereka dari jendela, dia sadar tidak akan ada cara apapun untuk bisa mendapatkan Devan, Sari dibebaskan oleh hakim yang sekarang menjadi sugar daddy nya yang datang menjamin dirinya, walau itu berarti Sari harus bertahan dengan terus menjadi budak nafsu sang hakim dan teman-temannya.
Heri ternyata belum pergi, dia masih melihat mereka dari kejauhan,
"Aku tau Cahya berbeda dan spesial, Devan saja tidak mampu melepaskan nya bahkan saat di berikan yang terlihat lebih dari Cahya, pasti Devan sudah tau apa keistimewaan Cahya hingga dia tidak bisa berpaling"
__ADS_1