Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Guling Hidup


__ADS_3

Reza & Dena


๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™


"Bukankah dari awal memang hanya saling memanfaatkan? bahkan awal nya kamu sendiri yang menyerahkan tubuhmu pada Reza? lalu kenapa sekarang kamu begitu marah padanya karena dia masih tidak bisa melupakan Cahya, lalu kenapa kamu menjadi marah juga pada Cahya? dia tidak mempunyai kesalahan apapun padamu" Dena merenung didalam kamar, seperti nya sentuhan Reza dan juga kebaikan nya telah benar-benar membuat Dena jatuh hati padanya.


Dena tidak memberi tahu pada Reza kalau dia dan Cahya sudah sering berkomunikasi,


"Dena,,,, Dena,," Reza memanggilnya


Dena merapikan bajunya dan menghapus air matanya lalu dengan cepat membuka pintu kamar


"Iya, ada apa?"


"Aku akan bekerja keluar kota, seperti nya malam ini tidak pulang, kamu berani di rumah sendiri atau mau aku panggilkan tetangga untuk menemani mu?"


"Aku berani sendiri, kenapa tidak bilang dari kemarin?"


"Ini mendadak, aku berangkat dulu, teman ku sudah menunggu dari tadi" Reza lalu keluar diantar oleh Dena,


"Cantik kali guling hidup punyamu" seloroh temannya yang sudah menunggu dari tadi di atas motor nya, Reza tidak membalas apapun dan hanya memukul bahu temannya lalu melambaikan tangannya pada Dena


Sungguh sangat sakit hati Dena mendengar ucapan dari temannya Reza tadi, dia menutup pintu dan langsung menangis


"Apakah itu yang Reza ceritakan pada teman-temannya, dia menyebut diriku guling tidurnya" Dena terus menangis dan menyesali tindakan nya selama ini, dia sadar kalau sudah merendahkan diri nya sendiri dengan mau ditiduri Reza, bahkan dia yang menyerahkan diri terlebih dahulu.


"Aku pikir dia berbeda, aku mengira dia akan memperlakukan aku sebagai mana dia memperlakukan Ayya, tetapi aku tidak menyadari kalau aku bukan Ayya"


Dena lalu merapikan baju-bajunya dan memasukkannya kedalam koper, dia sudah mengambil keputusan,


"Ini semua salahku, seandainya saja aku tidak mengikuti nafsuku, mungkin aku masih bisa tinggal disini, tetapi sekarang aku sudah tidak bisa lagi, disini aku hanya sebagai penghangat malam nya saja, aku adalah aku, jadi aku tidak mau untuk merubah diriku menjadi seperti Ayya hanya untuk merebut hatinya, kalau dia tidak bisa menerima diriku apa adanya, lebih baik aku pergi"


Dena sudah menyelesaikan berkemas, untuk terakhir kalinya dia memasuki semua ruangan untuk sekedar perpisahan, Dena memasuki kamar yang disiapkan Reza untuk anak Cahya, tetapi dia kaget karena melihat kamar itu sudah banyak perubahan.


Kamar yang tadinya bernuansa anak laki-laki, sekarang telah berubah menjadi nuansa perempuan, Dena lalu mengingat sesuatu,



Flashback



"Apakah kamu tidak bosan terus seperti ini?" tanya Dena suatu malam, sesaat setelah mereka berkebun dan bercocok tanam di atas kasur, Dena berada di dalam pelukan Reza


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Reza lalu mengusap lembut perut Dena yang terlihat mulai membuncit

__ADS_1


"Kapan dia lahir? kemarin kata dokter dia bayi perempuan kan?"


"Iya di USG terlihat jenis kelamin nya perempuan, tetapi itu kadang kalanya tidak bisa menjadi acuan, karena kadang kala yang lahir berbeda dari saat USG"


"Kamu ingin dia perempuan atau laki-laki?"


"Aku menginginkan bayi perempuan, supaya aku mempunyai teman di rumah saat kamu bekerja"


Reza lalu memeluk tubuh Dena dengan erat, mereka lalu tidur karena sebenarnya mereka merasa sangat lelah setelah pertempuran tadi.



Flashback End



Dena tidak bisa menahan air matanya lagi, sebenarnya apa yang dirasakan Reza, dia tidak menunjukkan atau mengatakan padanya bagaimana perasaannya, itu membuat Dena menjadi sering ragu pada Reza.


Dena lalu keluar dari kamar itu dan menuju kamar Reza, sebenarnya selama ini kamar itu menjadi jarang ditempati karena setiap malam Reza tidur bersama Dena


Kasur dikamar Dena lebih luas karena kamar itu awalnya memang di sediakan Reza untuk Cahya, untuk malam-malam indah mereka, walau hal itu cuma khayalan angan-angan Reza yang tidak pernah menjadi kenyataan.




Dena lalu mencoba menelfon Reza, tetapi suara dering ponselnya terdengar, Dena terus mencari ke arah suara ponsel Reza dan saat dia menemukannya di atas meja dapur, dia kaget dengan nama yang tertera di ponsel itu, bahkan sampai membuatnya menjatuhkan ponselnya karena kaget.


Dena menangis dengan kerasnya, tetapi dia dikagetkan dengan terbukanya pintu rumah, Dena langsung berlari kedalam pelukan Reza yang entah kenapa sudah kembali lagi padahal dia baru berangkat.


"Kenapa Dena, apa yang terjadi!" Reza sangat panik melihat Dena yang seperti itu, dia terus berusaha menenangkan Dena


"Aku pulang untuk mengambil ponsel ku yang ketinggalan, kamu kenapa menangis? apa ada yang sakit?"


Dena menggeleng dan terus mempererat pelukannya pada Reza, dia sudah tidak menangis lagi dan lebih tenang, Reza lalu meminta pada Dena untuk duduk dulu karena dia harus menemui temannya yang dari tadi menunggu.


"Duluan saja bro, ada sesuatu yang harus aku urus dulu"


"Gawat Lo Reza, mentang-mentang punya guling secantik itu bahkan sampai tidak mau bekerja" goda temannya dan langsung bergegas pergi setelah selesai berbasa-basi dengan Reza.


"Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Reza duduk disebelah Dena lalu kembali membawa Dena dalam pelukannya


"Kenapa kamu membuat hatiku bimbang? kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu,,," Dena tidak melanjutkan ucapannya karena Reza langsung menciumi wajah nya, Reza paham apa yang akan diucapkan oleh Dena


"Dena, aku tidak mau berbohong padamu dengan mengatakan bahwa aku sudah melupakan Yayang, karena pada kenyataannya aku tidak akan pernah bisa melupakan Yayang, dia akan terus ada didalam hatiku, tetapi aku terus berusaha mengubah perasaan itu, seperti halnya dia menganggap aku adalah kakaknya, aku berusaha mengubah perasaan cintaku padanya, dari perasaan cinta pada wanita menjadi perasaan sayang terhadap adiknya" Reza berhenti berbicara lalu kembali menciumi Dena sebelum kembali berbicara

__ADS_1


"Aku memang belum mencintaimu, tetapi aku terus berusaha, aku mulai terbiasa dengan kehadiran mu, maafkan aku yang sering menyakiti perasaan mu selama ini, aku sadar kamu adalah Dena dengan pesona mu sendiri, aku tidak boleh memaksamu menjadi orang lain, tolong terus temani aku sampai aku mencintaimu" Reza lalu memeluk tubuh Dena dengan erat.


"Kenapa kamu menamai nama ku seperti itu di ponsel mu?"


Reza tertawa mendengar pertanyaan Dena dan dengan gemas mencium Dena


"Guling Hidup Kesayangan" itulah nama yang diberikan Reza pada nomor kontak Dena


"Maafkan aku karena membuat mu berfikir negatif, disini guling hidup artinya teman tidur, dan yang namanya teman tidur kalau hidup ya biasanya pasti menikah terlebih dahulu, maafkan aku kalau membuatmu salah paham, aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan menikahi dirimu setelah kamu melahirkan, aku tadinya mau menyimpan hal ini sebelum waktunya, tetapi kalau tidak aku katakan saat ini, seperti nya akan timbul masalah besar" Reza melihat ke arah koper Dena yang sudah siap berada di depan kamar nya


"Tolong tunggu aku sampai aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku mengalami kejadian yang sama, bukankah kamu yang bilang akan membantuku melupakan Yayang? tetapi mulai sekarang jangan bantu aku melupakannya karena dia adalah adikku, tapi bantulah aku untuk segera mencintaimu"


Dena kembali menangis dan terus memeluk Reza, tapi kali ini tangisannya penuh tangisan kebahagiaan.



Dena mengambil ponselnya dan kembali duduk disebelah Reza, dia lalu menelepon Cahya, untung saja yang ditelpon sudah menyelesaikan acara berkebun mereka.



"Ayya, cantiiikkk kkuuu!" teriak Dena saat melihat Cahya yang sedang makan buah mangga dengan lahap nya, mereka melakukan video call, dari dulu memang selalu seperti itu panggilan Dena pada Cahya


"Apa sih rariweuh pisan (Sibuk banget๐Ÿ’™ bahasa Sunda)? kemarin saja kamu jutek, aku sampai kepikiran" Cahya terus mengunyah mangga


"Maaf Ayya cantik, kamu terlihat kelaparan sekali, apa kamu selesai bekerja keras?" goda Dena pada Cahya


Para pria yang berada disebelah mereka masih diam dan hanya melihat, hingga Reza dulu yang ikut masuk dalam kamera ponsel Dena, Reza tertegun melihat Cahya, matanya mulai berkaca-kaca, lalu tersenyum.


Cahya belum menyadari dan melihat karena dia sibuk mengambil mangga yang sedang dipotong oleh Devan


"Sayang, tolong kupas lagi yang banyak" ucap Cahya pada Devan di sertai senyum imutnya, lalu Cahya kembali melihat ponselnya dan tentu saja dia langsung kaget


"Kak Reeezzaaa!! Cahya berteriak dan bahkan menjatuhkan garpu yang dia pegang, Cahya lalu tersenyum riang dan menyapa Reza


"Kakak apa kabar? sudah punya pacar pasti lupa sama adiknya, benar kan apa kata aku dulu" Cahya manyun benar-benar seperti seorang adik yang sedih dan kesal karena tidak lagi diperhatikan kakaknya yang sudah punya pasangan.


"Yayang, apa kamu sehat?" tanya Reza, dengan cepat Cahya mengangguk, Devan melemparkan bantal yang dari tadi disebelah Cahya agar dia bisa masuk dalam kamera ponsel Cahya, dia sudah kesal dari tadi saat istrinya begitu riang memanggil Reza


"Sudah dulu Ayy, matikan ponselnya, mari lanjutkan acara kita tadi"Devan seperti anak kecil yang cemburu, dia tidak melihat kearah ponsel dan hanya memeluk dan menciumi wajah Cahya, membuat Cahya canggung karena dilihat oleh Dena dan Reza.


"Sudah dulu ya Dena,,, kak Reza, lain kali sambung lagi, bye-bye" Cahya mematikan ponselnya membuat Dena dan Reza tersenyum, tetapi tiba-tiba Reza terdiam dan mengusap wajahnya,


"Apa kamu belum rela?" tanya Dena


"Bukan seperti itu, sangat munafik kalau aku bilang aku tidak sedih, karena pasti ada sedikit kesedihan, tetapi aku benar-benar terus berusaha menganggap nya adikku, kamu juga lihat sendiri, dia begitu riang dan tidak ada kecanggungan melihat ku, dia pasti beranggapan aku benar-benar kakak nya, aku bahagia untuk itu, setidaknya aku ada dihatinya walau hanya sebagai kakak" Reza lalu tersenyum dan mencium Dena.

__ADS_1


__ADS_2