
"Ayy, hari ini aku akan meninjau lokasi cafe, kamu mau ikut atau dirumah?"tanya Devan pagi harinya, sambil menyeruput kopi bikinan istrinya.
"Aku dirumah saja, aku mau mulai bekerja, sepertinya tadi malam sudah banyak file yang dikirim ke aku untuk aku edit" jawab Cahya yang sudah sibuk dengan ponselnya.
"Nanti lagi Ayy, jangan memakai ponsel, mata kamu akan cepat lelah, nanti aku belikan laptop, jangan lupa sarapan, aku akan cepat pulang" Devan terburu-buru karena ternyata Renal sudah menunggu.
"Aku berangkat dulu, ingat jangan buka pintu sembarangan, kamu keluar harus menungguku"ujar Devan berpamitan dan mencium kening Cahya.
Setelah suaminya berangkat bekerja, Cahya merapikan baju-baju mereka yang masih ada didalam koper, pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan waktu lama, setelahnya dia bingung harus melakukan apa lagi.
Ting tong
Terdengar bel pintu berbunyi, tapi Cahya ingat pesan Devan untuk tidak sembarangan membukakan pintu, dia lalu melihat lewat door viewer dan terlihatlah Dena disana, Cahya sempat ragu tapi tetap membukakan pintu karena terlihat Dena hanya sendiri dan untung saja memang Dena sendiri.
"Kamu cari siapa?" tanya Dena heran melihat Cahya yang celingukan
"Kamu sendiri kan?" tanya Cahya
"Iya, mau sama siapa lagi?"
"Pacar kamu?"
"Dia ada dirumahnya, aku lagi males ngomongin dia, ini aku capek berdiri, kamu mau ngajak aku masuk tidak?"
"Iya ayo masuk, kamu kan tau sendiri bagaimana laki aku, bisa dihukum 7 hari 7 malam kalau sampai bawa lelaki lain"
Cahya mengajak Dena masuk, dia lalu memperingatkan Dena kalau mau kesini harus sendiri, Dena langsung tiduran di sofa, sepertinya dia sedang lelah.
"Aku sangat capek, sebenarnya aku hampir berniat kembali ke Indonesia, kalau tadi malam aku tidak bertemu kamu, rencananya aku hari ini mau membeli tiket pulang" Dena mulai sesi curhatnya
"Ada apa? selama ini kamu disini kerja atau apa?" tanya Cahya
"Aku ikut pacar aku, dulu kami kenal saat kuliah, dia membawaku kesini untuk dikenalkan dengan orang tuanya, tetapi sepertinya mama nya tidak menyukai ku karena aku tidak kaya"
"Mungkin cuma perasaan kamu" Cahya mencoba untuk menghibur teman lamanya itu.
__ADS_1
"Entahlah, tapi beliau selalu saja cuek terhadapku, tapi James belum mau mengantarku pulang walau aku sudah mengeluh ingin pulang"
"Siapa James?"
"Nama pacar aku"
"Oh, kamu disini sudah berapa lama?"
"Hampir satu bulan"
"Memangnya orang tua kamu tidak marah? kamu pergi jauh dan begitu lama"
"Apa kamu lupa kalau aku sudah tidak punya ibu? dan ayahku sudah menikah lagi, walau aku tidak kekurangan materi tapi ayahku sudah tidak ada waktu untukku lagi"
"Kapan itu terjadi? saat tamat bukan kah tante masih,," Cahya tidak bisa melanjutkan ucapan nya, dia takut menyinggung perasaan teman nya dan takut membuka lukanya kembali.
"Saat aku kuliah mama meninggal, dan tidak lama ayahku langsung menikah lagi" Dena terlihat sedih dan menahan perasaan nya.
Cahya mendekati temannya dan memeluknya, Dena lalu menangis, selama ini dia tidak punya teman bercerita, saat SMK dia hanya berteman dengan Cahya dan anggota grup basket mereka, tapi memasuki kuliah dan mamanya meninggal, dia menjadi pemurung hingga tidak mempunyai teman.
Cahya menceritakan semua yang terjadi saat itu,
"Semua sudah baik-baik saja, kami sudah kembali bersama" ujar Cahya lalu memegang kedua tangan temannya itu.
Mereka bercerita bagaimana kehidupan mereka selama ini, Cahya lalu membuka kulkas ingin memasak untuk mereka makan siang dan sekalian untuk Devan, supaya sepulang Devan bekerja bisa langsung makan.
"Suami kamu pulang jam berapa?" tanya Dena
"Tidak tau, ini hari pertama dia bekerja, kami disini baru 3 hari ini, jadi aku masih penyesuaian"
"Aku pulang dulu ya, takutnya suami kamu pulang nanti malah kamu dapat masalah, aku bisa paham dari cara suami kamu melihatku semalam, dia seperti tidak suka"
"Bukan seperti itu, dia hanya sangat protektif terhadap aku, kamu makan dulu sebelum pulang, ini aku baru mau mulai memasak"
"Tidak Ayya, aku masih ada urusan, tadi aku cuma pergi pamit sebentar, aku nomor ponsel kamu" ujar Dena
__ADS_1
Setelah mereka bertukar nomor ponsel, Dena langsung pergi, dia tidak mau kalau Cahya mendapat masalah karena dia, Dena pikir suami Cahya sangat menekan Cahya, padahal sebenarnya yang dilakukan Devan terhadap Cahya hanya karena dia sangat mencintai Cahya.
Dan benar saja, tidak lama setelah Dena pergi, Devan sudah pulang lagi, entah dia hanya beristirahat dirumah atau memang sudah selesai bekerja untuk hari ini.
Devan mendekati Cahya yang sibuk memasak di dapur, dia langsung memeluk istrinya, dan menanyakan tentang harinya tanpa ada dia di sisinya, Cahya tertawa mendengar ucapan suaminya.
"Kamu berangkat bekerja cuma setengah hari, memang apa yang bisa aku lakukan? tadi aku hanya membereskan baju-baju dan tidak lama Dena datang, jadi aku baru memasak"
"Dia sama pacarnya?"
"Tidak, dia sendiri"
"Ingat ya Ayy, jangan pernah membawa pria lain ma,,," Devan tidak melanjutkan ucapan nya karena Cahya menyuapinya tomat yang sedang di irisnya, Cahya tertawa melihatnya.
"Iya, aku tau tuan Devan suamiku tersayang" ucap Cahya lalu mencium suaminya.
Singa yang mulai terbangun dari tadi tentu saja langsung menyerang Cahya apalagi di pancing duluan.
"Aahhhhhhh" Cahya terus mendesah dengan sentuhan Devan, saat ini dia sudah ada diatas meja dapur dengan Devan yang terus menelusuri leher dan dadanya, tangan Cahya memegangi kepala Devan dan meremas lembut rambut suaminya itu, Devan lalu menggendong istrinya menuju kamar.
Adegan panas terus terjadi, Devan selalu bisa membuat Cahya mabuk kepayang, begitu juga Devan yang sangat merasa ketagihan dengan tubuh istrinya, tubuh yang membuat nya kecanduan hingga tidak bisa dan tidak mau menyentuh tubuh lain bahkan saat Cahya pergi meninggalkannya.
Mereka menyudahi kegiatan panas mereka, setelah mandi bersama mereka kembali menuju dapur, Cahya menyelesaikan memasaknya dan ditemani Devan yang terus melihat ke arah istrinya.
"Ada apa? tidak pernah melihat aku memasak?" tanya Cahya
"Memang tidak pernah, setelah menikah baru kali ini aku melihatmu memasak, dulu sebelum menikah pernah melihat tapi saat itu kamu cuma masak bihun"
Cahya tertawa mendengarnya karena ternyata Devan masih ingat, saat dia menyatakan cinta pada Devan.
"Dari semua hari kenapa hari itu yang kamu ingat?"
"Aku mengingat setiap waktuku bersamamu, tidak banyak yang bisa di ingat karena kebanyakan waktuku habis ditinggal lari oleh orang yang katanya mencintaiku" ujar Devan sarkasme, yang membuat Cahya tersenyum canggung lalu mendekati suaminya yang bersandar pada tembok.
"Maaf, aku akan menebus semua kesalahan ku mulai sekarang, aku janji tidak akan lari lagi apapun yang terjadi" Cahya mendekati Devan lalu menciumnya.
__ADS_1