Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Tamparan Untuk Pelakor


__ADS_3

"Bangun sayang, ini sudah sangat siang, tumben kamu telat bangun?" ucap Devan sambil membelai rambut Cahya, istrinya itu menggeliat lalu membuka matanya


Ccuuupppp


Devan langsung mencium istrinya,


"Cepat bangun, mandi dan sarapan, kalau tidak aku akan tidur kembali bersama mu"


Mendengar ucapan suaminya, Cahya langsung duduk dan bangun untuk menuju kamar mandi, Devan tersenyum melihat istrinya.


Devan merasa istrinya terlalu lama bersiap, dia lalu kembali memeriksa istrinya karena dia lama menunggu untuk sarapan


"Ayy, kenapa kamu berdandan?" tanya Devan heran, biasanya istrinya hanya memakai skincare harian saja


"Aku mau ke pertemuan sesama editor"


"Siapa yang mengizinkan kamu pergi"


"Tidak ada, aku bisa pergi sendiri, aku sudah tau tempatnya saat aku pergi bermain bersama Siti"


"Jangan pergi!" teriak Devan


"Kenapa memang nya? kamu bisa pergi sesuka hati tetapi aku tidak boleh"


"Aku suamimu Ayy, kamu harus menurut padaku"


"Aku juga tau, siapa bilang kamu kakekku?"


"Ayyyaaa!"


"Apa?"


"Kenapa kamu membangkang seperti ini?" tanya Devan


"Kamu bilang, kalau aku sedih boleh menangis, kalau kesal boleh marah, jadi kalau sekarang aku mau pergi kenapa tidak boleh? kamu juga pergi bersama perempuan lain bisa, kenapa aku tidak boleh kemana-mana, kamu tidak adil" jawab Cahya lalu kembali memakai lipstik nya.


"Sayang, kapan aku pergi bersama wanita lain, kalau tidak untuk pekerjaan aku tidak pernah"


"Tadi malam apa?" ujar Cahya


"Tadi malam aku mencoba menyelesaikan masalah, lagipula kamu diajak juga tidak mau" jawab Devan sudah mendekati istrinya dan langsung mencium istrinya.


"Devan lepas, lipstik aku nanti luntur lagi" ucap Cahya lalu mendorong Devan


"Memang aku sengaja, kamu kenapa harus berdandan secantik ini? kamu hanya boleh berdandan untukku!" teriak Devan langsung menggendong istrinya dan melemparkan tubuhnya ke ranjang, tidak memberi kesempatan kepada Cahya untuk bangun karena Devan langsung menindihnya.


Cahya sudah selesai berdandan dan menata rambutnya tetapi dia belum memakai baju dan hanya memakai jubah mandi jadi Devan dengan leluasa membuka nya dan langsung menyerang istrinya.

__ADS_1


"Deevvaannn, suuddaahhhh sayyaanggg" rintih Cahya, walau dia masih sedikit cemburu tapi sentuhan suaminya membuat nya mabuk kepayang dan memanggilnya seperti biasa, Devan tidak memperdulikan rintihan istrinya, baginya suara rintihan istrinya adalah perintah untuk terus melakukan aksinya, setelah berulang kali membuat istrinya kejang, Devan menyudahi aksinya.


"Salah siapa kamu sangat cantik, kamu tidak dandan saja aku sudah tidak kuat menahannya apalagi sekarang" ujar Devan memandangi wajah istrinya yang masih berada di bawah kungkungan nya itu, Cahya masih mengatur nafasnya jadi tidak menjawab ucapan suaminya.


"Apa kamu masih marah?" tanya Devan yang sekarang sudah turun dari tubuh istrinya dan merapikan rambut istrinya, Cahya hanya diam dan tidak menjawab, dia merasa lapar jadi akan sarapan, tetapi Devan tidak membiarkan istrinya bangun dan kembali menindihnya.


"Marahlah padaku, tapi jangan mendiamkan diriku" pinta Devan lalu kembali mencium istrinya


"Kamu boleh pergi tapi tidak boleh dandan, dan aku akan menemanimu, sekarang pakailah bajumu aku akan menyiapkan sarapan karena yang tadi pasti sudah dingin" Devan kembali mengecup istrinya lalu bangun menuju dapur setelah memakai baju dan celananya.


Cahya merapikan makeup dan rambutnya lalu memakai baju dan cepat keluar kamar karena dia sangat lapar.


"Ayy, aku bilang jangan dandan"


"Ini hanya tipis sekali, aku akan seperti anak remaja kalau tidak dandan, apa kamu mau nanti dipanggil sebagai kakakku lagi?"


Devan diam dengan ucapan istrinya, dia merasa serba salah,


"Aku bisa menjaga diriku, aku selalu setia dan tidak pernah jelalatan seperti seseorang" ujar Cahya


"Apa barusan kamu menyindirku?" tanya Devan


"Tidak, tapi kalau kamu merasa itu sungguh bagus"


"Aku tidak seperti itu Ayy"


Cahya dan Devan sudah sampai di restoran tempat dimana pertemuan nya, mereka mengenalkan diri satu persatu.


"Wah, editor baru kita sangat cantik, apa kamu berdarah campuran?" tanya seseorang pada Cahya


"Tidak, aku asli Indonesia" jawab Cahya


Devan menunggu di meja yang berbeda, dia tidak terlalu suka berada di perkumpulan orang yang tidak dia kenal.


"Kamu kesini bersama siapa?" tanya rekan nya yang lain, belum Cahya sempat menjawab terdengar bunyi para senior mengucapkan kata sambutan, acara itu hanya pertemuan rutin biasa agar semakin mengenal secara langsung tidak hanya secara online, karena perusahaan mereka bergerak di dua bidang, ada yang online dan offline.


"Heri!" panggil seseorang, reflek Cahya menoleh pada orang yang bernama Heri karena selama ini dia hanya mendengar suaranya saja ditelepon, tanpa sengaja mata mereka bertemu pandang, Cahya langsung mengangguk sebagai tanda salam karena jarak mereka cukup jauh, Heri membalas anggukan Cahya.


Acara hari itu selesai, Cahya ingin menuju meja tempat suaminya berada, tetapi Heri mendekatinya dan mengajaknya berbicara


"Hai Cahya, akhirnya kita bisa bertemu secara langsung" sapa Heri


"Hai juga" balas Cahya


"Kamu mau langsung pulang atau ada perlu lain setelah ini?" tanya Heri


"Masih belum tau" jawab Cahya

__ADS_1


"Mau aku antarkan?" ujar Heri


Dari kejauhan Devan melihat istrinya mengobrol berdua saja sementara yang lain terlihat mulai meninggalkan tempat itu, Devan berjalan cepat mendekati istrinya.


"Sayang, sudah selesai acaranya?" ucap Devan langsung merangkul pinggang istrinya, Cahya menoleh kearah suaminya lalu mengangguk.


"Heri, aku duluan ya, sampai bertemu lagi lain waktu, bye" pamit Cahya pada Heri.


Terlihat sorot mata kecewa di wajah Heri, sudah lama Heri ingin bertemu secara langsung dengan Cahya, sepertinya dia tertarik pada Cahya setelah melihat foto profilnya, tetapi Heri tidak menyangka kalau Cahya sudah mempunyai pasangan.


Devan membawa Cahya kesebuah mall, Devan meminta Cahya untuk berbelanja apapun yang Cahya mau, tetapi Cahya tidak mau karena dia merasa tidak membutuhkan apapun.


"Istri lain membuat suami mereka pusing karena terus berbelanja, kenapa kamu aneh, apa kamu bukan perempuan?" canda Devan tetapi istrinya sedang tidak bisa diajak bercanda.


"Aku mau pulang" pinta Cahya


"Nona Cahya, apa kabar?" sapa seseorang wanita pada Cahya


"Mau apa lagi? jangan ganggu istriku!" teriak Devan pada wanita itu yang tidak lain adalah Sari


"Dev, kartu yang kamu kasih sudah habis saldonya, bisakah kamu mentransfer nya lagi?" Devan tentu kaget karena kartu itu sudah ada ditangan Sari lagi.


"Istrimu juga tidak keberatan, iya kan nona Cahya?"


"Sebenarnya apa mau mu?!" teriak Devan


"Berikan saja sayang, sepertinya dia membutuhkan nya, apa kamu tidak kasian pada pengemis?" ujar Cahya pada Devan


"Apa maksudmu? kamu jangan kurang ajar, apa kamu tidak tau apa yang tadi malam aku dan Devan lalukan?" ucap Sari mencoba memprovokasi Cahya


"Jangan melewati batas Sari, aku tidak akan segan-segan lagi padamu!" teriak Devan pada Sari


"Jangan malu sayang, bukan kah tadi malam kita bersenang-senang?" ujar Sari yang sepertinya urat malunya sudah putus.


Cahya tersenyum seolah mengejek mendengar apa yang Sari ucapkan, dan Sari melihat hal itu, Sari yang tadinya ingin memprovokasi Cahya malah dia sendiri yang tidak bisa menahan emosi lalu menampar Cahya.


"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Devan dan ingin membalas Sari tapi ditahan Cahya.


"Tidak pantas bagi pria memukul wanita"


Plllaakkkk pllaakkk plllaakkkk


Cahya menampar Sari 3 kali


"Itu karena kamu menyakiti suamiku, menyakitiku, dan juga karena kamu tidak sadar diri!" teriak Cahya lalu langsung pergi dari sana dan disusul Devan


"Ayy, lihat aku" ujar Devan menarik tangan istrinya yang terus berjalan, Cahya lalu berhenti, Devan memeriksa pipi istrinya dan mengusapnya lembut.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, ayo cepat pulang" ujar Cahya


__ADS_2