
Mereka duduk di rerumputan di taman itu, Devan memberikan setangkai bunga mawar
"Memang boleh dipetik?" tanya Cahya
"Boleh, satu setiap pengunjung, itu yang taman sebelah sana"
Devan mulai berbicara serius
"Ayy, kamu masih mencintaiku kan?"
"Apa itu penting?"
"Tentu tidak, karena bagaimanapun perasaan mu sekarang aku tetap tidak akan melepas mu" jawab Devan lalu mendekat ke Cahya dan dia tiduran dengan meletakkan kepalanya di pangkuan Cahya
Awalnya Cahya agak canggung, mereka sudah lama tidak bertemu dan Devan masih menganggap nya sama seperti dulu, seolah tidak ada yang berubah dengan kepergian nya, Cahya menutup mata Devan karena terus memandangnya.
"Ayo pergi dari sini, ini semakin sore"ajak Cahya
"Cium aku dulu" pinta Devan
"Tidak"
"Aku tidak akan pulang kalau kamu tidak mencium ku lebih dulu"
Cahya tidak memperdulikan ucapan Devan dan langsung bangun membuat kepala Devan terbentur
"Ayy, kamu tega banget" ujar Devan sambil memegangi belakang kepalanya,
Cahya tertawa, lucu melihat ekspresi Devan
"Kamu malah tertawa, awas ya nanti" ujar Devan lalu ikut bangun
Cup
Cahya mencium Devan sekilas, Devan kaget tidak menyangka Cahya akan melakukan itu, dia lalu memegangi kepala Cahya dan tidak membiarkan nya menjauh.
Devan mencium Cahya lebih dalam, menumpahkan semua kerinduan nya, Cahya juga terbawa perasaan dan mengalungkan tangan nya di belakang leher Devan, Cahya juga sangat merindukan Devan.
__ADS_1
Cukup lama mereka berciuman, mereka menghentikan aktifitas mereka, mereka berpandangan dan saling tersenyum.
Di perjalanan pulang, Devan menceritakan selama dia ditinggal Cahya, di tahun pertama dia terus bekerja dan selalu menanyakan tentang keberadaan Cahya kepada mamanya, dipertengahan tahun kedua dia mulai tidak konsentrasi bekerja jadi dia keluar dari pekerjaan nya, dia lalu berpamitan kepada mama Cahya karena akan pulang ke Jawa, tapi dia masih sambil terus menanyakan keberadaan Cahya.
Setahun di Jawa dia masih terus merindukan Cahya, akhirnya dia ke Bandung lagi dan terus membujuk mama Cahya untuk memberikan alamat Cahya, tapi yang dia dapat hanya alamat kampus nya, dia mau mencari langsung ke Universitas nya tapi itu sudah cara lama, dan juga dia tidak mau kalau nantinya Cahya akan pura-pura tidak mengenalnya lagi.
Sampai disitu Cahya tersenyum malu mendengar cerita Devan, ingat kejadian saat di Bali.
Devan lalu melanjutkan ceritanya, dia di Jogja sudah setengah tahun terakhir, dia kepikiran ide ini, untuk membuka cafe minuman boba kesukaan Cahya.
"Kenapa kamu baru datang Ayy? cafe itu sudah buka lebih dari 2 bulan"
"Aku memang jarang pergi-pergi, paling kalau teman sekelas yang mengajak, itupun aku belum tentu mau, tugas di kampus sangat banyak, jadi aku menyibukkan diri untuk tugas"
"Kapan kamu lulus?"
"Satu tahun lagi"
"Kenapa masih lama?"
"Tidak lama, setahun itu sebentar, buktinya 3 tahun sudah lewat"
"Kenapa?"
"Sudahlah, hanya pria yang tahu"
"Dasar kamu nya saja yang otaknya kotor"
"Aku pria Ayy, dan aku bukan anak kecil!"
" Biasa dong ngomongnya, kenapa ngegas ke aku?"
"Ke tempat aku ya Ayy"
"Tidak mau! awas saja kalau kamu membawaku selain ke kosan aku sekarang, aku tidak akan mau bertemu kamu lagi"
"Aku mampir ya di kosan kamu"
__ADS_1
"Tidak bisa, itu khusus cewek"
"Mati muda aku kalau lama-lama begini terus"
Cahya tertawa mendengarnya, lalu dia meminta berhenti di dekat Campus nya saja, karena kos-kosan nya didekat sana, Devan mau mengantarnya sampai kosan tapi dilarang
"Tidak boleh Devan, nanti saja besok aku main ke cafe kamu sambil mengerjakan tugas, ada Wi-Fi gratis kan?" Cahya tersenyum lucu mengucapkan nya
"Jangan kan Wi-Fi, tempat sama yang punya nya juga boleh kamu ambil"
"Halah gombal, sudah ya,, bye"
Cahya lalu pulang menuju kos-kosan nya, yang langsung diserbu teman-teman ceweknya yang ngekos di tempat itu juga,
"Ayya, darimana kamu? kenapa tidak cerita kalau sudah punya pacar? kita pikir kamu lesb* karena tidak mau pacaran" ujar Tuti
"Kalian sangat kotor pikiran nya, tapi aku memang mencintaimu Tuti" Cahya lalu mendekatinya dan memeluknya
"Amit-amit, menjauh dari ku" Tuti bercanda dengan Cahya dan mereka tertawa bersama
Setelah Cahya mandi, Tuti masuk ke kamarnya, dan menanyakan semua nya,, Cahya lalu menceritakan semuanya.
"Kamu beneran keren Ayya, aku yang naksir dia tapi kamu yang dapat"
"Coba saja dekati kalau berani"
"Idih takut" jawab Tuti
"Kamu harus berterima kasih sama aku, kalau aku tidak mengajakmu kesana, kamu tidak akan bertemu pacar kamu itu" ujar Tuti
"Siap, besok aku traktir makan disana sepuas kamu mau pesan apa saja boleh"
"Kamu punya banyak uang"
"Aku kan istri yang punya cafe, bebas dong aku mau apa saja disana,, hahaha"Cahya tertawa geli sendiri dengan ucapan nya
"Kacau ni anak, halu nya sungguh luar biasa" jawab Tuti meledek
__ADS_1
Tuti kembali ke kamarnya, lalu Cahya juga bersiap untuk tidur.