Cahya Mencari Cahaya

Cahya Mencari Cahaya
Bulan Madu


__ADS_3

Habib mendekati Cahya yang masih terlihat lemah itu, dia menangis melihat Cahya, dia meminta maaf,


"Maafkan aku"ucap Habib


"Habib, terimakasih atas segalanya, kalau aku tidak bertemu Devan lebih dulu, bisa saja aku akan menyukai mu, tapi saat ini perasaan mu salah kalau masih terus berharap padaku disaat aku sudah milik orang lain, cintamu dan perjuangan mu sangat berarti, jadi carilah wanita lain yang pantas mendapatkan nya, jangan merasa bersalah karena hal ini, aku tidak menyalahkan mu" ujar Cahya


Habib hanya bisa menggeleng mendengarnya dia masih terus menangis, dia tidak peduli dianggap pria lemah karena pada kenyataannya dia lemah dihadapan Cahya.


"Aku sudah bahagia bersama suami dan anak ku, jadi carilah kebahagian mu, aku mohon jangan terus berharap padaku karena itu hal yang mustahil, kamu hanya akan terus menemui luka, aku terluka fisik, sebentar lagi juga akan sembuh tapi hatimu, aku tau sangat terluka, jadi aku mohon jangan melakukan hal ini lagi"ucap Cahya yang terus memandang ke arah Habib.


Devan berdehem tidak suka melihat istrinya yang terus melihat ke arah Habib, dia dari tadi duduk di bangku pojok ruangan itu, Cahya menoleh dan tersenyum manis pada suaminya, walau bibirnya sangat pucat tapi senyum itu terlihat sangat manis bagi Devan.


Cahya kembali melihat ke arah Habib, dia juga memberikan senyum manisnya pada Habib, tentu saja Habib terpana, dia pikir Cahya akan marah dan kecewa atau bahkan tidak mau bertemu lagi dengan nya.


Habib mulai sadar, Cahya tidak berubah padanya, dia tetap Cahya yang dulu pertama dia kenal, anak manis yang butuh perlindungan, tapi pelindung sebenarnya adalah Devan, dia hanya menggantikan sementara waktu itu, sekarang dia mulai sadar, dia tidak mau senyum itu menghilang dari wajah Cahya, dia juga tidak mau Cahya kembali terluka.


"Terimakasih Ayya, maaf atas semua kesalahan ku, hiduplah berbahagia, kalau sampai sedikit saja kamu terluka, segera hubungi aku" ucap Habib dan langsung keluar dari ruangan itu.


Devan mendekat pada istrinya,


"Apa dia seganteng itu? kenapa kamu memandang nya terus seperti itu, bahkan tersenyum padanya, jangan pernah berikan senyuman mu pada orang lain lagi, cukup buat aku" Devan ngambek karena cemburu.


Cahya hanya tersenyum dia lalu menanyakan tentang Rafa, setelah tau anaknya sudah aman Cahya merasa lega dan meminta minum pada Devan, dia haus karena dari tadi terus berbicara.


"Ayy, jangan pernah melindungi ku lagi apapun yang terjadi" ujar Devan sambil menggenggam tangan istrinya itu lalu mencium tangan istrinya.


"Kita kan suami istri tentu saja harus saling melindungi" jawab Cahya


Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit, Cahya diperbolehkan pulang dan rawat jalan, mereka tidak langsung kembali pulang ke Semarang, mereka tinggal beberapa hari di Jogja biar Cahya benar-benar sembuh dulu, dan rawat jalan dengan dokter yang sama.


Cahya melihat bunga diteras rumah itu masih segar, dia heran karena dia pikir rumah itu akan terbengkalai karena tidak ditinggali.


"Aku menyewa asisten rumah tangga untuk mengurus rumah ini, tiap dua hari sekali dia akan membersihkan rumah dan merawat tanaman" Devan berbicara seolah tau yang dipikirkan istrinya.


Mereka masuk kerumah itu, Cahya tiduran di sofa dan berusaha menelepon anaknya lewat nomor ponsel mertuanya, setelah melepas kangen dan mengobrol bersama anak dan mertuanya, Cahya mematikan ponselnya, dia lalu mencari Devan yang ternyata ada di dapur membuatkan bihun kuah pedas kesukaan nya.


Cahya memeluk suaminya itu dari belakang, Devan berbalik ke arah istrinya,


"Sebentar lagi matang, tunggu ya" ujar Devan lalu mencium kening Cahya.

__ADS_1


Tapi Cahya malah mematikan kompor nya lalu mencium suaminya, sepertinya dia merindukan suaminya itu, tapi lukanya belum sembuh total, masih tidak boleh bergerak sembarangan.


"Ayy, kamu mau apa, kamu masih belum sembuh, jangan menggodaku, aku tidak akan tahan dengan sentuhan mu" ujar Devan menahan hasratnya.


Cahya kembali menyalakan kompor dan tersenyum jahil pada suaminya, lalu duduk menunggu bihun nya, Devan bengong dibuatnya, tapi langsung menuju Cahya dan menciumi istrinya nya itu penuh hasrat, dia sudah berpuasa selama Cahya di Rumah Sakit tapi istrinya itu malah sekarang memancingnya.


"Sayang, bihun nya nanti gosong" ujar Cahya setelah menggigit bibir suaminya agar berhenti menciumnya.


"Kamu kenapa menggodaku?" ujar Devan gemas dan mengacak rambut istrinya.


Cahya hanya nyengir dan tertawa pelan, Devan lalu kembali menuju kompor dan menyajikan bihun buatannya.


Mereka makan bersama sambil mengobrol ringan, Cahya mau Devan segera membawa Rafa, karena masalah Habib sudah selesai, jadi mereka bisa tinggal disini lagi, Cahya ingin melanjutkan kuliahnya lagi.


"Tinggal sebentar lagi sayang, biarkan aku menyelesaikan kuliah ku" pinta Cahya


"Biarkan dulu Rafa tinggal bersama kakek neneknya, aku ingin disini bersamamu berdua, kita bahkan belum berbulan madu setelah pernikahan kita" ucap Devan


"Mau bulan madu apa lagi, tiap hari juga melakukan nya dirumah" jawab Cahya


"Aku ingin kamu terus disamping ku bahkan saat bangun di pagi hari, selama ini aku seperti selingkuhan mu, setelah melakukan itu kamu langsung ke kamar Rafa" Devan mengungkapkan perasaan nya.


"Kamu cemburu sama anak sendiri, bagaimanapun Rafa masih kecil jadi memang aku harus disamping nya" jawab Cahya


"Rafa aman sama kakek nenek nya dan tidak kurang kasih sayang juga, sebentar saja, sekalian kamu menyelesaikan kuliah, kalau disana ada yang selalu menjaganya" ujar Devan


"Baiklah, tapi kita sering kesana menjenguknya ya, dan hanya sampai aku selesai kuliah, setelah itu kita harus bersama lagi" Cahya akhirnya menyetujui kemauan suaminya.




Cahya memulai kuliahnya kembali walau lukanya belum sembuh total, seperti biasa suami nya yang mengantar jemput.


Hari itu sudah lebih dari 2 minggu akhirnya luka Cahya kering, tapi dia tidak memberitahu suaminya, Cahya sendiri ke dokter yang merawatnya sepulang dari kuliah, karena kebetulan hari itu Devan terlambat menjemputnya.


Hari itu kebetulan Devan ada pekerjaan, dia diminta jadi pembicara di suatu Radio karena sukses membuka cafe yang bertema sederhana tapi bisa meraih banyak omset.


__ADS_1


"Apa yang menjadi inspirasi anda membuka cafe murah yang digemari banyak anak muda" tanya host yang mewawancarai nya


"Kekasih ku kabur pada saat itu" jawab Devan


"aaaaahhhhh" seru semua yang ada di ruangan itu


"Apa hubungannya?" tanya host itu lagi



"Aku terus berusaha mencarinya, yang aku tau setelah sekian lama mencari hanya alamat kampusnya, jadi untuk mencari nya aku membuka Cafe dengan menu minuman yang dia suka dengan harapan dia akan kesana" Devan mulai menjelaskan



"Apa kalian sudah bertemu?" tanya host itu



"Tentu saja, kami juga sudah memiliki anak lelaki yang lucu dan kami sedang program lagi, aku menginginkan anak perempuan manis seperti istriku"



"Sungguh sangat manis sekali cerita dibalik suksesnya Cafe ini ya ternyata" ujar host itu.



Setelah beberapa lama akhirnya acara itu selesai, dia langsung menuju rumah karena sudah tau kalau istrinya sudah pulang dulu.



Devan sampai rumah dan langsung mencari istrinya, terdengar bunyi di dapur, Devan langsung kesana untuk memeriksa dan benar saja disanalah istrinya yang sedang memasak.



"Aaayyy" panggil Devan.



Setelah melihat Cahya, Devan kaget melihat istrinya yang sedang berdiri didepan kompor itu.

__ADS_1


__ADS_2